Tuesday, August 2, 2016

Eid in Yemen Supposedly as Joyful as in Trafalgar Square

“How’s this for a selfie?! Londoners of all faiths and backgrounds celebrating Eid in Trafalgar Square,” tweetedSadiq Khan, the Mayor of London, alongside a selfie with veteran TV presenter, Konnie Huq.
Khan, along with thousands others, thronged Trafalgar Square last week to share in the joy of the Muslim feast of Eid. This year’s celebration was even more exciting as it was filled with a variety of activities, bazaars, food festivals, art exhibitions, and different children’s activities. The festival was celebrated not only by Muslims, but also by people of different faiths. They were submerged in enjoyment and happiness, regardless of their religious beliefs.
Eid is indeed a moment of joy and happiness in Islamic traditions. But unfortunately, not everyone has the privilege of celebrating Eid with enjoyment. In other parts of the world, large numbers of people continue to struggle with a variety of problems due to the ongoing conflicts in their countries. Yemen is a prime example. Since 2014, Yemeni smiles have become increasingly wry as the conflict deepens between the country’s interim President, Abd Rabbuh Mansur Hadi, and the Houthi rebels.
The Houthis rejected Hadi’s decision to divide Yemen into six federal states and, as a result, war ensued. There are too many parties vying for attention in Yemen. The rebel Houthis are allied to the former President, Ali Abdullah Saleh. Their opponent is a Saudi-led military coalition comprised of different Arab governments, including some Gulf States, Morocco, Jordan, and others. Meanwhile, the US and the UK provide intelligence and logistics to the military coalition.
Frequently, these war actors bombard schools, destroy hospitals, devastate residential housing, disrupt markets, and even turn houses of worship into rubble. They do not care about the lives of the Yemeni people.
As witnessed throughout history, war is always detrimental to those who do not participate. In the context of Yemen, the worst consequences are faced by innocent individuals; those who have no interest in anything other than a peaceful life in their own homes without being forced to leave due to war. According to a UNHCR report published on 30 June, 178,720 people have been forced to leave Yemen to flee the seemingly endless conflict. Amnesty International recordedan even higher number, more than 2.4 million. These individuals have fled to various countries in the Middle East and East Africa. Oman, Saudi Arabia, and Sudan are among nations that have so far become major destinations for displaced citizens.
Many do not choose to flee to European countries, as is the case with Syrian refugees. This can be attributed to the fact that the distance between Yemen and Europe is great, unlike Syria, which borders Turkey. Journeys of thousands of kilometers are very risky. Moreover, fleeing to Europe incurs significant costs. Tickets costing hundreds of pounds are beyond the budgets of Yemenis; many of whom (47%)live on less than $2 per day.
Although some have managed to reach Europe, many remain stranded in Greece where their fates are unclear. Moving to other European countries, as some have from Syria, is very difficult due to the policies in those countries. Consequently, Yemeni refugees in Greece are faced with difficult choices; remain in unfriendly Greece or return to their war-torn homeland.
Both of these options carry potential risks. It is no secret that Greece has long struggled with a financial crisis that means it cannot provide suitable shelter nor employment to refugees. The country finds it hard to offer services to its native populations, let alone refugees.
The second option, returning to Yemen, is likely to be a death sentence. Sooner or later they will be killed by bullets or crushed under the wreckage of buildings hit by missiles. Their lives are of no value to those involved in the war. In excess of 3000 individuals have become victims of Yemeni war, including 700 children and 83% of the Yemenis are indire need of humanitarian aid, including food, water, shelter, and sanitation. Consequently, those who have become refugees are afraid to return to their homes.
Presently, Yemenis are likely to die slowly or live in poverty as a consequence of the ongoing war. Yemen ranks 11th among the most food insecure countries. One in three Yemenis live in a state of acute hunger. Half of children aremalnourished, and one in ten will die before the age of five. Should the refugees decide to return home, hunger and poverty will certainly increase.
The Yemenis who do not live in London could not celebrate Eid with the same euphoria and happiness as did those in London. The ongoing conflict battering their country has forced them to celebrate Eid amidst a sea of espionage, death and the rain of bullets.
Peace in Yemen should be on the agenda of the international community. Yemenis are entitled to celebrate Eid with a burst of laughter; just like those in Trafalgar Square.
This article is also published by International Policy Digest at: http://intpolicydigest.org/2016/07/14/eid-in-yemen-supposedly-as-joyful-as-in-trafalgar-square/

Perayaan Idul Fitri di Yaman Semestinya Semeriah di Trafalgar Square



"How’s this for a selfie! Londoners of all faiths and backgrounds celebrating Eid in Trafalgar Square." Cuit Sadiq Khan, walikota London, di akun Twitternya lengkap dengan foto selfie bersama seorang presenter TV kawakan, Konnie Huq.

Sadiq Khan bersama ribuan manusia lainnya pada tanggal 9 Juli lalu memadati Trafalgar Square untuk berbagi kebahagiaan hari raya umat Islam, Idul Fitri. Untuk menambah kemeriahan, festival Idul Fitri di Trafalgar Square juga diisi dengan beragam kegiatan. Ada penampilan music, festival makanan, bazar, pameran seni, dan berbagai aktifitas untuk anak-anak.[1] Eid Festival di Trafalgar Square tidak hanya diikuti oleh umat Islam saja tetapi juga orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Semuanya tenggelam dalam tawa tak peduli agama dan kepercayaan apa yang mereka anut.

Idul Fitri memang momen berbagi kebahagiaan dalam tradisi umat islam. Namun sayangnya, tidak semua umat islam bisa merayakan Idul Fitri dengan penuh canda tawa layaknya mereka yang di Trafalgar Square. Di belahan bumi lain, yaitu di Yaman, jutaan warga disana masih bergelut dengan banyak persoalan hidup yang getir akibat dari konflik yang belum juga usai.

Senyum rakyat Yaman semakin kecut sejak tahun 2014 tepatnya pasca konflik antara Abdrabu Mansur Hadi, presiden sementara Yaman, dan para pemberontak The Houthi atau Ansarullah semakin menjadi-jadi. Saat itu para pemberontak The Houthi menolak keputusan Mr. Hadi umembagi Yaman kedalam enam negara federasi.[2] Perang pun tak bisa dihindari.

Ada terlalu banyak pihak yang saling sikut di Yaman. Rombongan pemberontak The Huthi yang berhaluan Syiah Zayidism bersekutu dengan mantan presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh. Lawan mereka adalah koalisi militer pimpinan Arab Saudi yang beranggotakan United Arab Emirates, Egypt, Bahrain, Kuwait, Qatar, Morocco, Jordan dan Sudan. Amerika Serikat dan Britania Raya sendiri berperan sebagai penyedia informasi intelijen dan logistic bagi koalisi militer ini.[3]

Para begundal perang diatas membombardir sekolah-sekolah, menghancurkan rumah sakit, memporak-porandakan perumahan warga, mengacaukan pasar, dan bahkan merubah rumah-rumah ibadah menjadi puing-puing. Peduli apa mereka dengan kehidupan rakyat Yaman. Kepentingan mereka jauh lebih berharga dari apapun.

Sebagaimana yang telah disaksikan oleh sejarah, perang selalu merugikan mereka yang tidak ikut andil. Dalam konteks Yaman, pihak yang dirugikan tentu saja rakyat jelata. Mereka yang tidak punya kepentingan apa-apa selain hidup rukun damai di tanah kelahiran mereka sendiri harus terusir gara-gara perang. UNHCR melaporkan, per 30 Juni 2016 terdapat 178.280 orang yang terpaksa meninggalkan Yaman untuk menghindari konflik yang tak berkesudahan itu.[4] Data yang dirilis oleh Amnesty International lebih banyak lagi yaitu 2.4 juta.[5] Manusia-manusia tak bersalah ini lari menyelamatkan diri ke berbagai negara di Timur Tengah dan Afrika Timur. Oman, Arab Saudi, Djibouti, Somalia, Ethiopia, dan Sudan adalah diantara negara yang sejauh ini menjadi tujuan utama pengungsian mereka.[6]

Para pengungsi Yaman tidak banyak yang menyelamatkan diri ke negara-negara eropa sebagaimana yang dilakukan oleh pengungsi dari Suriah. Alasannya adalah jarak antara Yaman dan benua eropa terlalu jauh berbeda dengan Suriah yang berbatasan langsung dengan Turki. Perjalanan jauh beribu-ribu kilometer tentu saja beresiko. Tidak itu saja, melarikan diri ke Eropa membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tiket pesawat yang seharga ratusan poundsterling hamper mustahil terbeli oleh masyarakat Yaman yang 47 persennya hidup dengan uang kurang dari $2 per hari.[7]

Meskipun ada beberapa diantara mereka yang berhasil mencapai negara eropa, tetapi kebanyakan masih terdampar di Yunani. Itupun dengan nasib yang belum jelas. Pindah ke negara eropa lainnya mengikuti jejak pengungsi yang berasal dari Suriah masih terhalang oleh kebijakan bagi-bagi pengungsi negara Eropa. Banyak negara eropa yang hingga kini terlihat enggan untuk menambah kuota pengungsi dengan berbagai macam pertimbangan.[8] Alhasil, pengungsi Yaman yang ada di Yunani dihadapkan dengan pilihan sulit: tetap tinggal di Yunani atau kembali ke kampong halaman di Yaman.

Kedua pilihan ini memiliki resiko yang pahit. Menetap di Yunani sama saja bersiap-siap menjadi gelandangan dengan status pengangguran. Sudah bukan rahasia lagi kalau pemerintah Yunani telah lama berjibaku dengan krisis ekonomi yang membuat mereka tidak bisa menyediakan tempat tinggal layak huni atau lapangan kerja yang memadai untuk para pengungsi. Memberikan pelayanan yang baik kepada rakyat Yunani saja mereka keteteran apalagi harus menyediakan sumber penghidupan baru bagi para pengungsi.

Opsi kedua, yaitu kembali ke Yaman, sama saja dengan menyerahkan diri hidup-hidup. Cepat atau lambat mereka akan mati tertembus peluru atau hancur tertimbun reruntuhan bangunan akibat hantaman rudal yang bisa datang kapan saja. Nyawa mereka tidak ada harganya bagi para begajul-begajul perang itu. Sudah lebih dari 3000 kepala yang menjadi korban keganasan mereka termasuk 700 diantaranya adalah anak-anak. Tidak cukup sampai disitu, saat ini 83% rakyat Yaman sangat membutuhkan bantuan kemanusian seperti makanan, air, tempat tinggal, dan sanitasi.[9] Fakta ini tentu saja jauh dari kata menyenangkan bagi pengungsi Yaman untuk kembali ke kampong halaman mereka.

Rakyat Yaman saat ini memliki ‘peluang’ mati secara perlahan dan kemiskinan absolut yang sangat tinggi buah dari perang yang melanda negeri di selatan jazirah Arab itu. Yaman adalah negara yang menempati urutan  ke 11 sebagai negara yang paling tidak aman dalam hal makanan yang membuat satu dari tiga warga Yaman hidup dalam keadaan lapar yang akut. Mereka tidak memiliki akses ke makanan bernutrisi apalagi gaya hidup yang sehat.[10] Nasib anak-anak Yaman pun tidak begitu baik. Separoh anak di Yaman kurang gizi dimana kurang dari 1 dari 10 anak yang berhasil mencapai usia 5 tahun.[11] Bila para pengungsi-pengungsi tadi banyak yang memutuskan kembali ke Yaman, sudah bisa dipastikan jumlah manusia yang hidup dalam kelaparan disana akan bertambah.

Euforia perayaan Idul Fitri di Trafalgar Square boleh saja menggema hingga ke langit. Mereka yang hadir pun tidak dilarang untuk menikmati tiap-tiap makanan dan hiburan yang tersedia. Tapi satu hal yang perlu sama-sama kita perhatikan, yaitu Idul Fitri tahun ini tidak bisa dirayakan secara meriah di Yaman. Masyarakat Yaman tidak bisa menikmati Idul Fitri layaknya kita disini. Konflik yang melanda negara mereka membuat mereka terpaksa untuk berlebaran dalam intaian maut dan hujan peluru.

Perdamaian di Yaman harus menjadi agenda serius pemerintah dunia. Walaubagaimanapun, Rakyat Yaman berhak untuk merayakan Idul Fitri dengan luapan canda tawa layaknya mereka yang hadir di Trafalgar Square.

Dunia ini memang hanya tempat bermain-main saja…

Aku tak mampu menahan haru setelah menonton video ini. Suara anak kecil yang merdu itu, bait-bait shalawat yang menggetarkan hati, baju putih, peci haji, kain sarung, semuanya mengingatkanku akan masa kecilku di pesantren.

Biasanya pada setiap perayaan Maulid Nabi ata Isra’ Mi’raj, TOA yang berada di kantor asrama tak pernah stop dalam meramaikan pesantrenku dengan gema shalawat seperti ini. Dari pagi bermacam-macam lantunan shalawat nabi diputar silih berganti sampai kami semua berkumpul di aula pesantren untuk merayakan acara inti.

Shalawat seperti ini juga sering diputar pada hari minggu, menemani kegiatan bersih-bersih kami. Sudah menjadi budaya di pesantrenku dimana tiap-tiap hari minggu selepas senam dan muhadtsah – percakapan bahasa Arab – kami semua turun ke bawah asrama untuk menyisir semua sampah yang ada. Rutinitas seperti ini dikontrol oleh ustadz pembina asrama masing-masing.

Kalau difikir-fikir hidup ini kadang memang aneh. Kita terkadang tidak suka melakukan sesuatu. Tapi ketika sesuatu itu sudah  berlalu kita merindukannya. Atau sering juga kita tidak begitu menganggap penting beberapa hal yang kita lalui dalam hidup. Ketika momen tersebut sudah terlewati kita ingin mengulangnya lagi. Aku sendiri sangat merasakan yang seperti ini. Dulu sewaktu di pesantren kadang aku malas ikut bersih-bersih lingkungan asrama. Selain sudah capek sehabis olahraga, hari minggu adalah hari istirahat dari jadwal pesantren yang terlalu padat. Bayangkan saja, dari hari senin sampai sabtu kami mesti mengikuti banyak kegiatan baik itu kegiatan belajar mengajar di kelas, sholat 5 waktu berjamaah di masjid, membaca berbagai macam kitab di malam jumat, muhadhoroh – latihan pidato – pada malam sabtu, dan membaca kitab Burdah pas malam minggu. Semua kegiatan ini non-stop dari jam 4.30 subuh sampai lebih kurang jam 10 malam. Hanya sore selepas Ashar saja kami punya waktu luang untuk mandi. Itupun kalau tidak punya kelas habis Ashar.  Yang paling tidak aku sukai – aku yakin teman-teman lain juga tidak suka – adalah banyaknya pengumuman dan hukuman sehabis kegiatan malam jumat, malam sabtu, dan malam minggu. Pokoknya ada saja informasi yang ingin disampaikan oleh kakak pengurus. Tentang kebersihan asrama, asrama yang tidak di kunci, peraturan masuk masjid yang baru, perubahan jam mandi, dan banyak lagi yang mereka sampaikan.

Yang paling menjengkelkan tentu saja soal hukuman. Panas dingin sekujur badan rasanya kalau kakak pengurus sudah memegang selembar kertas di depan kami. Kertas itu bukan sembarang kertas. Padanya terdapat nama-nama ‘tersangka’ yang akan dijatuhi hukuman. Tindak criminal mereka pun bermacam-macam. Tidur sewaktu membaca yasin, terlambat masuk masjid, berbicara saat wirid, tidak memasukkan jemuran ke dalam asrama pas malam hari, berbicara menggunakan bahasa Indonesia dengan teman – pada hari tertentu ada kebijakan di pesantrenku untuk berbicara hanya pakai bahasa Arab - , mandi terlalu lama, tidur larut malam, atau keluar pagar tanpa izin. Semuanya dipanggil satu-per satu ke depan untuk dihukum; di rotan, disuruh ruku’ setengah jam, disuruh sujud satu jam, push up beberapa kali, mandi air comberan, berendam dalam air beberapa jam, sampai di botak. Yang terakhir ini merupakan jenis hukuman yang amat sangat tidak diinginkan. Bau busuk air comberan bisa hilang setelah mandi. Kepala botak? Tiga bulan di bully kawan!

Sekarang aku baru sadar ternyata dulu aku menganggap semua kegiatan dan aneka ragam hukuman di pesantren itu hal biasa. Tidak ada yang special dari itu semua. Yang ada malahan kadang bikin hati jengkel. Kini apa yang aku rasakan? Aku merindukan itu semua! Ingin rasanya aku putar lagi waktu ke belakang agar bisa kembali ke masa itu untuk mengulang semuanya. Tapi itu mustahil dilakukan. Hanya mengenang saja yang bisa kulakukan.

Tidak salah memang jika ada yang bilang kalau waktu itu kejam. Ia memberikan cerita kepada umat manusia namun setelahnya cerita itu akan lenyap tinggal kenangan. Tak ada lagi kesempatan untuk mengulangnya lagi walaupun hanya sedetik. Cerita tinggal cerita. Tokoh di dalamnya terus maju ke masa depan berpisah dengan cerita itu selama-lamanya.

Lalu apa sejatinya arti hidup ini. Apakah hidup hanya seputar menulis cerita untuk dikenang? Bagiku, sepertinya, memang begitu adanya. Hidup adalah sebuah antologi yang berisi banyak cerita. Tapi sayangnya seluruh cerita dalam antologi itu tidak terbukukan. Kisah-kisahnya hanya mengendap di dalam kepala, kemudian hilang dibawa oleh badan yang dilimus tanah.

Menderitalah mereka yang diberi peluang umur teramat panjang sehingga punya banyak cerita dalam hidupnya. Batinnya akan tersayat tatkala lembaran-lembaran cerita itu secara otomatis bergonta-ganti di kepalanya. Air matanya akan basah mengenang anaknya yang sudah tiada, ibu bapaknya yang sudah mendahuluinya, suami/istrinya yang tidak lagi di dunia, kawan kerabat yang semuanya sudah di alam baka, dan perjalanan hidupnya yang berlalu begitu cepat. Dia akan merasa dunia ini sepi tak berpenghuni meskipun di sekelilingnya banyak anak-anak kecil berlari. Dia akan membayangkan maut punya dua wajah; rupawan dan menakutkan. Rupawan bila dia ingat hidupnya yang sebatang kara. Menakutkan karena tidak tahu entah apa yang akan dia temui di alam sana.

Video shalawat ini telah berhasil membuka kembali sebuah lembaran cerita yang telah lama terendap di dalam antologi kehidupanku. Tak ada yang dapat aku perbuat kecuali menahan sesak di dada. Tak ada kata yang bisa terucap kecuali hanya kata rindu. Dan tak ada yang bisa kulakukan untuk menghibur diri selain meresapi surat Al-Asr. Dunia ini memang hanya tempat bermain-main saja…

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
الحديد ٢٠


Etnik Muslim Rohingnya Berhak Menikmati Hak Dasar Mereka


Article 2 dari The Universal Declaration of Human Rights keluaran PBB yang dikumandangkan di Paris tanggal 10 December 1948 silam mengegaskan bahwa semua manusia memiliki hak atas ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik, asal kebangsaan, property, kelahiran, atau status lainnya.[1] Namun sayangnya tidak semua manusia yang bisa merasakan butir-butir hak dasar yang dirumuskan PBB ini. Kelompok Rohingnya adalah salah satunya.

Terlahir sebagai seorang Rohingnya di tanah Burma dianggap sebagai kesalahan besar, aib, dan dosa keji yang mesti dipikul. Saudara senegara benci, pemerintah pun tidak suka. Konsekuensinya sudah jelas. masyarakat Rohingnya menjadi bulan-bulanan segala macam bentuk ketidakadilan; tinggal di negara bagian Rakhine yang bentuknya seperti ghetto, tidak boleh menetap di tanah kelahiran sendiri tanpa izin tertulis dari pemerintah, tidak diakui sebagai etnik yang sah dari 135 etnik resmi di Myanmar, tidak dianggap sebagai warga negara Myanmar, dan tentu saja tidak boleh berkecimpung di dunia politik seperti mengikuti pemilihan umum.[2] Sebab musababnya hanya satu, mereka etnik Rohingnya. Kulit mereka tidak putih layaknya penduduk Myanmar lainnya dan agama mereka bukan Budha.

Meskipun sejarawan masih berdebat soal asal muasal etnik Rohingnya apakah mereka memang suku asli negara bagian Rakhine atau migran dari Bengal pada masa pemerintah colonial Inggris, satu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa etnik Muslim Rohingnya telah ratusan tahun mendiami tanah Myanmar. Hal ini dibuktikan oleh sebuah sensus yang diadakan oleh pemerintah colonial Inggris dimana pada tahun 1891 terdapat sekitar 58.255 muslim yang tinggal di Arakan.[3] Arakan adalah nama lama negara bagian Rakhine ketika negeri ratu Elizabeth masih berkuasa di Myanmar. Kini populasi etnik Muslim Rohingnya terus tergerus. Bahkan di Aung Mingalar, sebuah area ghetto di ibukota negara bagian Rakhine, Sittwe, hanya tersisa 4000 orang etnik muslim Rohingnya.[4] Penurunan populasi ini disebabkan oleh negara bagian Rakhine tidak bersahabat lagi dengan etnik muslim Rohingnya sehingga dengan berat hati etnik muslim Rohingnya harus bercerai dengan tanah leluhurya.

Meninggalkan negara bagian Rakhine adalah sebuah keharusan bagi etnik muslim Rohingnya. Atau lebih tepatnya merupakan sebuah kewaijban. Bila tidak dilakukan, sama saja degan menyerahkan diri hidup-hidup kepada orang-orang Budha yang tidak pernah bosan memusuhi mereka. Sejarah tidak pernah bohong. Kekejian terhadap etnik muslim Rohingnya pada tahun 2012 lalu misalnya, telah menewaskan ratusan orang. Ironisnya, perbuatan tak berperikemanusiaan ini didukung dan didalangi oleh banyak tokoh  agama Budha yang ada disana melalui ceramah-ceramah agama berbau chauvinisme.[5] Jualan mereka kepada pengikutnya adalah, bila etnik muslim Rohingnya tidak ditumpas, Myanmar akan menjelma menjadi negara muslim dan kedudukan mereka sebagai kelompok mayoritas akan berubah menjadi minoritas. Tentu saja klaim ini hanya bualan yang tidak berdasar.

Salah satu tokoh terkemuka agama budha yang paling aktif dalam menyebarkan benih kebencian terhadap etnik muslim Rohingnya di Myanmar adalah biksu Ashin Wirathu. Ketua gerakan 969, sebuah kelompok kontroversial berhaluan agama budha di Myanmar, menganggap islam sebagai ancaman terbesar bagi Myanmar. Oleh karena itu perkembangannya harus ditekan dengan cara membuat kehidupan pemeluknya tidak nyaman. Strategi yang dipakai oleh Wirathu adalah mendesak pemeluk agama budha untuk memboycott pertokoan orang muslim, melarang perkawinan antara etnik Rohingnya dan umat budha, dan menyebut masjid sebagai ‘basis musuh’.[6] Masuk akal bila banyak pihak menyebut Wirathu ‘Bin Ladennya Burma’.[7]

‘Jerih payah’ biksu Ashin Wirathu dan kawan-kawan dalam mengganggu ketentreman hidup  etnik muslim Rohingnya di Myanmar berbuah hasil. Selain banyak yang telah mereka bantai hidup-hidup, ribuan lainnya berhasil mereka usir keluar dari rumah-rumah mereka. Orang-orang tak berdosa ini rela bertaruh nyawa menyeberangi lautan mencari tempat berlindung. Tak tanggung-tanggung, jumlah ‘boat people’ – sematan untuk etnik Muslim Rohingnya yang menyelamatkan diri dari Myanmar melalui jalur laut – per tiga bulan awal 2015 saja sudah mencapai 25.000 orang.[8] Tentu saja angka ini sekarang sudah merangkak naik.

Sayangnya, berhasil keluar dari Myanmar tidak serta merta mengakhiri nasib naas yang dialami oleh etnik muslim Rohingnya. Cerita duka mereka beranjut dengan plot yang berbeda. 100 orang dilaporkan mati di Indonesia[9] dan 200 tewas dalam perjalanan menuju Malaysia[10]. Angka ini adalah angka yang diketahui saja. Ada banyak nyawa yang telah hilang ditelan ombak lautan yang tentu saja tidak tercatat.

Selama ini etnik Muslim Rohingnya yang mencari tempat berlindung banyak diantara mereka yang ditendang kesana kemari oleh negara tujuan.  Malaysia, Indonesia, atau Thailand bergiliran menolak mereka masuk dengan berbagai macam alasan.[11] Yang berhasil mencapai tiga negara ini juga tidak bernasib mujur. Mereka tidak mendapatkan tempat tinggal permanen dan harus berpuas diri berdiam di camp pengungsian dengan pasokan air dan makanan yang terbatas.[12]

Etnik Muslim Rohingnya yang coba-coba memasuki Australia nasibnya lebih mengenaskan lagi. Oleh pihak negeri kangguru banyak dari mereka tidak disambut sebagai pengungsi yang butuh pertolongan melainkan segerombolan pendatang illegal. Oleh karena itu ‘kelompok manusia yang paling teraniaya di muka bumi’[13] ini dikirim ke camp-camp penahanan di pulau-pulau terpencil di Fasifik dengan perlakuan yang kadang tidak manusiawi. Mereka yang ditahan di Pulau Manus misalnya, harus terisolasi dari dunia luar dengan pergerakan dan komunikasi yang dibatasi. Tidak sampai disitu, mereka juga tidak diberikan pasokan makanan yang cukup, tidak memiliki dokter gigi selama 15 bulan, tidak diberi kesempatan untuk berbincang dengan anggota keluarga, dan barang-barang mereka seringkali disita.[14] Perlakuan tidak manusiawi ini tidak hanya keji tetapi juga, dan yang lebih penting lagi, merupakan pengkhianatan besar Australia terhadap perjanjian yang mereka teken sendiri yaitu UN refugee convention.

Pemerintah Myanmar secara sengaja membatasi perkembangan etnik muslim Rohingnya melalui kebijakan-kebijakan resmi negara. Etnik muslim Rohingnya yang tinggal di Rakhine tidak diperkenankan memiliki lebih dari dua anak. Pasangan muda yang ingin menikah harus meminta izin dulu dari pemerintah.[15]

Kembalinya Myanmar ke system demokrasi dengan terpilihnya Aung San Suu Kyi sebagai konselor Myanmar sepertinya juga tidak membawa angin segar kepada etnik muslim Rohingnya. Pemenang nobel perdamaian itu bahkan tetap menolak memanggil etnik Rohingnya dengan kata Rohingnya karena mereka tidak dianggap warga negara Myanmar.[16] Bukan itu saja orang nomor satu Myanmar itu geram bukan main ketika mengetahui wartawan BBC yang mewawancarinya pada program BBC Today, Mishal Husain, adalah seorang muslim.[17] Sikap diskriminatif dan racist seperti ini tentu saja membuat banyak pihak mempertanyakan kepantasan Aung San Suu Kyi menyandang gelar sebagai pemenang nobel perdamaian. Semestinya seorang pemenang nobel perdamaian aktif memprakarsai perdamaian dan menghilangkan sentiment negative terhadap golongan-golongan tertentu.

Apa yang menimpa etnik muslim Rohingnya di Myanmar adalah pembersihan etnik[18] dan genosida[19]. Sudah saatnya pemerintah dunia bersatu untuk menekan pemerintah Myanmar agar menghentikan perlakuan diskriminasi terhadap mereka. Hak-hak dasar manusia sebagaimana yang ditulis PBB harus dirasakan oleh seluruh penduduk bumi tak terkecuali etnik muslim Rohingnya.