Friday, October 3, 2014

Hari Ini Setahun Silam

Semua pakaian sudah Aku masukkan ke dalam koper. Dua lembar celana jeans, satu potong baju batik plus satu kemeja kotak dan sepasang kaos oblong sudah tersusun rapi. Petualangan yang akan Aku mulai sudah lebih dari siap. Siap mental dan siap bekal. 

Dering hp yang tergeletak diatas meja sedikit mengganggu konsentrasiku di depan cermin. Penasaran dengan waktu, aku lemparkan tatapanku ke jam tangan kesayangan; jarum panjangnya mengarah ke angka 12 dengan jarum pendek yang merangsek ke angka tujuh.

“Hmmm…pagi sekali Ibu Dewi ini menelpon” gumamku dalam hati.

“Halo Assalamualaikum Bu…” Aku mencoba menyapa dengan sopan.

“Beni…kamu sudah siap?” suara diujung telpon itu langsung menyerang tanpa basa basi.

“Sudah bu” jawabku sekenanya dengan kemeja yang belum terkancing. Aku masih belum mengerti maksud dari pertanyaan itu.

“Ok…ibu sudah di bandara. Cepat kesini sekarang!”

“Baik bu. Baik!” Aku tiba-tiba gugup tak karuan.

Ada apa Ibu Dewi menungguku di bandara? Aku bertanya-tanya sendiri.

Dengan sigap Aku kancingkan semua anak baju. Minyak rambut Aku poles seadanya ke kepala dan rambut Aku sisir acak-acakan dengan tangan.

Sesampai di bandara Aku terselamatkan oleh amukan seseorang yang sedang bosan menunggu. Untung saja dia tidak langsung merobek-robek mukaku dan memilih untuk menahan murkanya. Mungkin ini effect dari kehadiran kedua orang tuaku. Wajah Ibu Dewi yang semula asam bak limau nipis berubah manis seperti madu saat mengetahui bahwa dua orang di sampingku adalah Ayah dan Mak.

“Ibu juga berangkat ke Jakarta menemani Beni. Pesawat kita sama, jam 9” Ibu Dewi menyapa dengan lembut. Matanya tidak lagi merah.

Satu jam menunggu, panggilan boarding pun menggema. Aku bersiap mengangkat koper dan menyalami Ayah dan Mak. Ibu dewi juga sudah tampak tidak sabar untuk terbang. lambaian penuh haru dari Ayah dan Mak mengiringi langkahku ke dalam bandara. Rasa sedihku kutahan saja dan tidak kuperlihatkan kepada mereka berdua. Aku tidak mau mereka semakin tersiksa karena akan kehilangan anaknya untuk 4 bulan ke depan.

Pramugari tersenyum ceria menyapa semua penumpang sebelum pesawat lepas landas meninggalkan tanah Jambi. Sekitar satu jam diombang ambing angin akhirnya pesawat kami tiba juga di tujuan, langit Jakarta. 

Dari jendela pesawat kulihat tata kota Jakarta yang semrawut. Ada yang berbentuk benang kusut menggumpal. Aku kira itu adalah tumpukan sampah dan bahan rongsokan. Ada juga yang menyerupa kolam air warna-warni. Mungkin itu waduk. Ada pula yang bentuknya seperti jalan besar berwarna gelap. Untuk yang ini aku yakin, itu adalah sungai-sungai coklat yang mengaliri ibu kota negara. Di sudut lain gedung-gedung dan rumah-rumah saling berhimpitan seperti saling sikut.

Pesawat yang seharusnya sudah menyentuh aspal tiba-tiba berpusing-pusing di langit. Aku heran penumpang lain pun penuh tanya. Ada apa gerangan burung besi yang kami tumpangi belum juga menghempaskan badannya ke tanah.

“Para penumpang yang terhormat. Kami masih menunggu instruksi dari Bandara Soekarno Hatta untuk mendarat. Saat ini bandara sedang dipenuhi oleh pesawat yang hendak take-off dan landing.” Pilot pesawat mengumumkan lewat pengeras suara.   

“Jakarta memang kaya raya” pikirku. Jalanan selalu dipenuhi oleh kendaraan yang hilir mudik. Bandarapun sudah tidak sanggup lagi menampung membludaknya pesawat yang hendak lalu-lalang.

Kota Jakarta yang tadi tampak olehku tiba-tiba lenyap, digantikan oleh gumpalan awan putih. Pesawat kini sudah berada di ketinggian yang lebih dari beberapa menit yang lalu. Sementara itu Ibu Dewi masih saja tenggelam dalam pelukan pagi. Matanya terpejam dan mulutnya ternganga. Sungguh beruntung hidupmu Bu Dewi. Semua hal kau jalani seolah tanpa beban. Pesawat tidak jadi lepas landaspun tidak mengundang masalah bagimu.

Aku tolehkan lagi kepalaku ke jendela. Awan putih yang tadi sedikit kini bertambah banyak. Aku pun tak tahu lagi apakah itu adalah awan yang sama dengan yang kulihat sebelumnya. Aku memilih tidak peduli tentang itu. Aku pusatkan pikiranku ke pertemuan pertama dengan teman-teman yang selama ini kukenal di  Facebook. Aku penasaran dengan semua hal tentang mereka. Apakah paras, bentuk tubuh, dan tingkah laku mereka sama dengan apa yang sejauh ini kuamati di Facebook? Atau jangan-jangan ada diantara mereka yang memasang foto palsu agar menjadi kejutan bagi yang lain? Aku tidak tahu. sungguh.

Anganku juga tertujukan ke kakak-kakak senior yang akan melatih dan membinaku. Aku penasaran apakah mereka ganas? Kalau iya apakah itu sungguhan? Atau hanya sandiwara usang untuk ‘menakut-nakuti’ junior. Untuk hal ini aku sedikit was-was. Aku dengan segala sifat keras kepala dan insting membangkangku boleh jadi menyulut amarah. Aku tidak membawa peci hitam sesuai yang mereka isntruksikan. Alasannya aku akan mendapatkan satu buah peci hitam dari attire-ku – baju persatuan – nanti. Jadi aku menganggap mubazir untuk membeli dan membawa peci hitam dari Jambi. Aku juga tidak membawa baju putih polos dan sepotong dasi dengan alasan yang sangat sederhana, aku akan membelinya di Jakarta.

Meskipun berpotensi mendatangkan bala kepadaku, aku memilih untuk tidak begitu takut dengan tetek-bengek perlengkapan tadi. Yang paling aku khawatirkan adalah, nanti sewaktu semua peserta sudah berkumpul, bakat apa yang akan aku pertunjukkan? Sungguh pertanyaan ini sangat menyiksa. Pada saat seleksi di Jambi tempo hari aku bisa menyiasatinya dengan menghapal pantun adat Melayu Jambi. Syukur diterima dengan baik karena ternyata para juri menganggapnya unik mengingat tidak banyak anak muda yang peduli dengan pantun Melayu Jambi. Aku pun lolos dari lubang jarum. Apakah strategi sama akan ampuh di depan kakak-kakak senior nanti? Akankah mereka memintaku bernyanyi atau menari yang mana ke dua hal ini sangat aku hindari dalam hidup? Suaraku fals dan tidak bernada sedangkan tubuhku tegap seperti papan. Entahlah. Semoga saja mereka paham bahwa aku memang tidak memiliki bakat seni.

Pesawat yang aku tumpangi sudah mendapatkan gilirannya untuk menyentuh bumi. Aku kembali ke posisi duduk sempurna dan mengencangkan ikat pinggang. Selang beberapa menit aku pun sudah di darat. Tampak olehku barisan pesawat yang terparkir di setiap sudut bandara.

Sesaat keluar dari bandara aku mengeluarkan hp dari kantong. Ada beberapa pesan masuk. Diantaranya berisikan kesepakatan semua teman-teman untuk bertemu di suatu tempat di bandara yang bernama Red Corner. Tak lama bediri di depan pintu keluar yang tak jauh dari Red Corner, aku disapa oleh dua orang anak muda. Yang satunya kurus tinggi berambut lurus dan yang satunya lagi berambut ikal dengan paras mirip selebriti. Setelah berkenalan ternyata yang kurus itu Yani dan yang serupa artis itu Rizki. Untuk nama terkahir ini aku tidak terkejut karena dari foto profilenya di facebook dia memang terlihat rupawan. Yani yang membuatku tersentak. Dari fotonya aku mengira dia adalah seorang pria yang pendek dan sedikit gemuk. Namun kenyataannya sebaliknya.

Mereka membaawaku ke suatu ruangan. Disana telah berkumpul beberapa teman. Ada Danti yang di foto profilnya terlihat cantik. Ketika bertatap muka langsung tidak ada yang berubah. Hanya style dan bahasanya saja yang sangat kental  Jakarta. Diantara mereka ada juga Ilin. Wanita yang berasal dari Riau ini sedikit berbeda dari fotonya. Ternyata posturnya lebih besar dari yang kukira. Ada juga Wenny dari Palembang. Cewek dari provinsi tetanggaku ini ternyata pendiam! Berbeda sekali dengan yang aku temukan di media sosial selama ini dimana dia sangat aktif. Saat berkumpul bersama aku tidak melihat keaktifan yang biasanya dia tunjukkan di dunia maya. Terakhir ada Bang Ocep. Pria Kalimantan ini semula aku anggap orang yang tidak banyak bicara karena usianya yang cukup dewasa. Tapi ternyata aku salah. Dia rupanya pria yang baik dan asyik.

Pertemuan pertama itu ternyata adalah sebuah awal dari serangkaian pengalaman hebat yang kami tempuh bersama di Australia dan Indonesia. Lebih dari empat bulan kami habiskan bersama yang semuanya menyesakkan dada bila diingat. Hari ini, 3 Oktober 2014, genap sudah satu tahun kami dipertemukan. Entah bila masanya lagi kami akan berkumpul bersama secara lengkap 18 orang. Boleh jadi perkumpulan di AIYEP (Pertukaran Pemuda Indonesia Australia) dahulu merupakan kesempatan pertama dan terkahir.