Thursday, October 26, 2017

"Macam Mana Suara Ungka, Nak?"



Pendidikan memang tidak diragukan lagi merupakan alat paling besar efeknya dalam mengubah kehidupan umat manusia. Namun, pendidikan tidak hanya didapat dibangku sekolah saja. Setiap jengkal planet bumi ini sejatinya menawarkan pendidikan bagi penghuninya. Jika tidak percaya, tanyakan saja pada nenekku, seorang wanita buta huruf yang telah mengubah hidupku dan masyarakat kampungku.
Dia dipanggil Muna, singkatan dari nama lengkapnya, Maimunah. Nyai, begitu kami di desa Teluk Langkap memanggil nenek, menikah di usia belia yaitu enam belas tahun. Tidak ada istilah child marriage di kampungku sebab seorang gaids yang telah pandai mencuci piring, menanak nasi, mengembala kerbau, atau membantu orang tua di sawah sudah dianggap mampu serta pas untuk membina rumah tangga. Lagian, berlama-lama melajang juga tidak ada gunanya. Sekolah formal tidak ada. Jika mau sekolah, mesti bersepeda menempuh semak-semak ke pasar Tebo yang waktu tempuhnya bisa lebih dari dua jam. Jadi, menikah sudah barang tentu sebuah pilihan yang logis untuk mengisi waktu kosong.
Sekolah kehidupan telah merubah Nyai Muna. Dia yang tidak bisa baca tulis itu jarang ditemui di rumahnya. Selalu saja dipanggil masyarakat kampung untuk membantu ibu-ibu hamil tua mengeluarkan anaknya dari perut. Kehebatan Nyai Muna dalam aktivitas perbidanan dimata masyarakat desa Teluk Langkap tidak disangsikan lagi. Telah berpuluh-puluh bayi yang berhasil mendarat ke dunia dalam keadaan segar bugar, termasuk aku sendiri dan belasan sepupuku. Semua dari kami lahir dengan selamat, sehat wal afiat tidak kurang satu apapun.
Aku  dilahirkan di sebuah rumah panggung khas orang Melayu yang tidak begitu besar, hanya sekitar 6x10 meter persegi saja. Rumah itu dimiliki oleh Nyai Muna dan kakekku, Datuk Hasan. Dibawah rumah Nyai tercacak tiang-tiang tinggi dari kayu bulian sebagai bentuk pertahanan diri dari dua tamu yang kerap datang meski tidak diundang: serbuan air Sungai Batanghari saat musim hujan dan harimau lapar yang mencari pengisi perut.
Kata Mak, panggilanku untuk Ibuku, setelah beberapa bulan aku dikirim ke dunia, Ayah membawaku merantau jauh ke tempat yang tidak dihuni manusia, yaitu hutan belantara yang terletak di seberang kampung. Kami menamakannya Talang. Talang berjarak sekitar 14 km dari kampungku. Untuk mencapai Talang tidak mudah. Jalannya hanya tanah kuning dengan lobang-lobang besar yang berubah menjadi kolam lumpur jika diguyur hujan. Kalau sudah begini biasanya sepeda motor akan sulit menempuh. Bannya bisa terbenam di dalam tanah liat yang sangat lengket itu. Maka masuk akal jika Ayah selalu membuka sandalnya setiap kali pulang pergi ke Talang biar bisa dengan mudah mendorong sepeda motor dengan kedua kakinya dalam kubangan lumpur itu.
Bermodalkan tekad untuk memiliki masa depan yang lebih baik, atau kata Ayah agar aku bisa bersekolah tinggi esok hari, kami bertiga mesti pindah ke Talang. Kami harus menaklukkan rimba liar dan megasingkan diri dari hiruk pikuk manusia. Visi Ayah adalah beberapa tahun ke depan ketika aku sudah di bangku sekolah, rimba ini telah menjadi kebun karet keluarga. Tiap tetes getahnya diharapkan bisa mengongkosi pendidikanku, menyambung impian Ayah yang dulu putus sekolah.
Dalam hutan belantara itu Ayah mendirikan sebuah pondok kecil berukuran 3x2 alias 3 meter panjang dan dua meter lebar. Rumah keluarga pertama kami ini berdinding papan dan beratapkan daun rumbia dengan tiang-tiang yang menjulang tinggi agar beruang atau harimau sumatera tidak mengusik tidur kami. Untuk penerangan hanya ada lampu minyak tanah sebab listrik belum ada. Jangankan di tengah hutan begini, di kampungku saja aliran listrik masih belum sampai.
Pondok kami adalah pondok yang terasing. Tidak ada tetangga, tidak ada lingkungan social. Yang ada hanyalah rimba raya dengan segala macam penghuninya. Inilah yang membuat Mak ketakutan setiap malam jumat karena pada malam itu hanya ada Mak dan Aku di pondok. Ayah pulang ke kampung setiap sore kamis. Tidak bisa mengikutsertakan Aku dan Mak sebab sepeda motornya sudah penuh sesak oleh hasil hutan yang akan dijual kepada masyarakat kampungku dan masyarakat kampung tetangga. Jadi tinggalah Mak dan Aku di dalam pondok yang terpencil di tengah rimba liar itu. Suara-suara aneh di dalam rimba yang bunyinya macam-macam yang tidak pernah ditemui di desa, membuat bulu kuduk merinding. Untuk menjaga keselamatan kami berdua, biasanya Mak langsung mengunci pintu erat-erat bila hari sudah mulai gelap. Air wudhu untuk sholat Isya sudah lebih dulu Mak ambil di sungai. Dibawa ke pondok ketika berwudhu untuk sholat Maghrib.
Hasil hutan yang Ayah jual beragam; petai, jering, kabau, buah tampui, buah cempedak, daging hasil jerat seperti daging kancil, daging rusa, daging kijang, daging napuh, daging burung kuau, sampai buah durian daun. Uang hasil dari penjualan ini kemudian dibelikan ke kebutuhan pokok sehari-hari seperti beras, minyak makan, garam, gula, bawang, dan kebutuhan dapur lainnya. Selain untuk keperluan dunia, Ayah kembali ke kampung di setiap sore kamis juga untuk keperluan akhirat. Sudah menjadi prinsip Ayah kalau laki-laki tidak boleh meninggalkan sholat Jumat. Ayah baru kembali lagi ke Talang sore Jumat untuk bersatu kembali dengan Aku dan Mak.
Waktu terus berjalan, bibit karet yang Ayah tanam kini sudah mulai meninggi, sama seperti Aku yang sudah bukan bayi lagi. Ini artinya kami bertiga tidak perlu lagi menginap jauh dari keramaian sebab dalam kondisi demikian kebun sudah bisa ditinggalkan. Hanya saja Ayah harus rajin-rajin mengecek dan mengawasinya beberapa hari dalam seminggu sebab gajah-gajah liar yang berasal dari Taman Nasional Bukit Tigapuluh sering melancong kesana dan memakan atau memijak tanaman karet yang ada.
Kami bertiga beranak tidak tinggal di rumah Nyai Muna sekembali dari Talang. Ayah mengajak Aku dan Mak tinggal di sebuah toko kecil tepat di samping kanan rumah Nyai. Toko itu mulanya tempat berdagang Datuk Hasan. Karena kehabisan modal terpaksa ditutup. Sejak saat itulah tokonya tak berpenghuni.
Selang beberapa tahun, akhirnya pada tahun 1995 rumah yang Ayah bangun di darat - sebutan untuk lokasi daerah hunian baru di tepi jalan Padang Lamo yang pada waktu itu sedang diperbaiki - sudah siap untuk di huni. Kami pun pindah lagi. Rumah baruku tidak begitu besar dan belum benar-benar jadi. Lantainya masih tanah. Dinding belum dilapisi dengan semen. Masih bata merah. Jendela belum ada daun pintunya. Hanya ditutupi dengan papan yang dipaku saja. Untuk sekedar berlindung dari panas dan hujan, rumah kami sudah cukup layak untuk dihuni.
Pengalamanku beberapa tahun di dalam hutan memberikan bakat yang tidak dimiliki oleh anak-anak lainnya di kampungku. Aku dengan lihai dan fasih bisa meniru beberapa suara binatang di hutan seperti suara ungka, harimau, dan beruk. Tak heran jika setiap kali aku dibawa pulang, kaum kerabatku, paman dan bibi sambil menggendongku kadang bertanya "Macam mana suara ungka nak?". Dengan lihainya aku melolong "uuk...uuk..uuk.." Dan mereka pun tertawa terbahak.





















Wednesday, October 25, 2017

‘Are You Gonna Miss Me?’


‘Are you gonna miss me?’ Tanyaku pada Arsa yang tengah mengambil beberapa buku di raknya untuk dibawa ke sekolah.
'No, I'm not!' Jawabnya ketus.
Arsa memang pandai meniympan perasaan dalam-dalam dilubuk hatinya. Itulah yang membuatku kasihan untuk meninggalkan adikku selama tinggal satu tahun di Manchester itu. Ayah ibunya, Pak Zen dan Mbak Mira, sedang berhaji. Sekarang Aku pula yang harus meninggalkan dia. Untuk sementara waktu Arsa diurus oleh Uni Media dan Uda Munas. Mereka berdua adalah sepasang suami istri yang sedang S3 di Manchester, sama seperti Pak Zen. Keputusan Pak Zen menitipkan Arsa dan kakaknya, Andrea, kepada Uda Munas dan Uni Media adalah agar mereka berdua memliiki teman main. Arsa bisa bermain dengan anak laki-laki Uda Munas, Sean sedangkan Andrea bisa bermain dengan Sachio, anak perempuan tertua pasangan asal Sumatera Barat itu.
Kupeluk Arsa dari belakang. Namun Arsa tetap tidak bergeming seolah tidak merasa sedih sama sekali akan perpisahan kami. Seketika air mataku jatuh berderai mengenai sweater yang dikenakan oleh Arsa. Terkenang olehku momen-momen seru yang kami lewati bersama. Belanja jajanan di Asda sambil makan coklat pas pulangnya. Bercerita seru saat berangkat ke sekolah di pagi hari. Selfie bersama di kamar sambil memasang wajah monster. Bertarung ala Spiderman. Ah, banyak sekali kenagan yang telah terukir. Tak mampu rasanya berpisah dengan adik sekaligus sahabatku itu. 
           Diluar sana tampak jelas kalau musim gugur telah mengintip, pertanda Summer di Manchester akan segera berakhir. Dedaunan yang semula berwarna hijau segar kini sudah mulai menua. Tak lama lagi daun-daun itu akan berubah menjadi kuning, merah, kemudian, jatuh berguguran..menyajikan pemandangan indah nan menyejuk mata. Tumpahan dedaunannya menjadikan taman-taman berwarna warni bak negeri dongeng yang berubah menjadi nyata.
Ujung musim panas ini menandakan akhir dari petualangan intelektualku di negeri Ratu Elizabeth, Inggris. Aku tidak akan mendaptakan belaian angin segar musim gugur yang sejuknya dapat memulihkan pikiran yang kalut. Pun Aku tidak perlu lagi dibalut jaket tebal setiap kali keluar rumah sebab di pagi yang sedikit mendung ini Aku akan terbang jauh ke tenggara kembali ke pelukan ibu pertiwi. Ah..waktu seperti punya kaki untuk berlari. Rasanya baru kemarin Aku tergopoh-gopoh menenteng kopor di bandara Manchester. Hari ini Aku sudah melakukan hal yang sama lagi. Tapi bukan sebagai tamu melainkan sebagai orang yang akan pergi.
Sembari menyusuri jalanan kota Manchester yang tak begitu padat, kukenang kembali lika-liku perjalanan hidupku yang terdiri dari lembaran-lembaran cerita. Setiap lembarnya kuisi dengan semangat yang tak kenal patah, demi mencapai impian terbesar hidupku. Mimpi yang besar itu kemudian menghadiahkan beragam cerita hebat, mengantarkan kakiku hingga ke lima benua; Amerika, Australia, Asia, Eropa, dan Afrika. Di setiap benua Aku disuguhkan pengalaman-pengalaman yang tak terlupakan. Berdiri khidmat menyaksikan bentangan luar biasa The Grand Canyon di Arizona, menaiki ferry dimuka The Opera House di kota Sydney, duduk bersimpuh didepan menara kembar Petronas di Kuala Lumpur, menonton sepak bola di Old Trafford di Manchester, dan menaiki onta menyusuri gurun Sahara di Maroko. Plus Aku juga menjelajahi daratan Eropa, dari Oslo trus ke timur sampai Budapest bersama dengan sahabat karib yang juga seorang pejuang mimpi,  Zulfikar. Fikar adalah seorang difabel yang berkali-kali dipatahkan semangatnya dalam mewujudkan impian ke Inggris. Dunia menjadi saksi betapa celaan mereka yang ragu dulu adalah sesuatu yang salah sebab Fikar saat ini sudah hampir menyelesaikan studi S3nya di Manchester.
Lembaran cerita hidupku tidak semuanya ditulis bertintakan emas. Ada juga yang menggunakan tinta biasa yang kabur karena tetesan air mata. Air mata itu berguguran karena mimpi menuntut perjuangan. Mimpiku adalah mimpi yang dirajut dengan benang-benang kegagalan. Mimpiku adalah mimpi yang dihidupkan melalui medan jalan berkerikil tajam yang beberapa kali membuatku jatuh, terluka, dan merintih. Mimpiku adalah mimpi yang diragukan hingga memaksaku selalu menutup telinga dari nada-nada sumbang penggugur semangat.
Aku ditakdirkan Tuhan untuk terlahir sebagai anak desa dengan segala keindahan masa kecil yang tercipta dan semangat yang menggelora di dada. Aku ingin membuktikan bahwa anak kampung tidak semuanya kampungan. Anak desa tidak boleh selamanya dipandang sebelah mata. Api semangat ini terus kupelihara agar tidak padam. Panasnya selalu terasa di dalam aliran darahku dimanapun Aku berada, menjadi penggerak jiwa dan ragaku dalam menapaki lika-liku perjalanan hidup.
Jalan hidup yang telah Aku pilih adalah jalan mimpi yang kuisi dengan semangat perjuangan yang tak pernah mati. Jalan ini tidak hanya menuntut perjuangan tetapi juga pengorbanan. Begitulah hidup. Begitulah mimpi. Selalu menuntut harga untuk setiap keberhasilan yang diperoleh.
Busku telah sampai di bandara. Itu artinya Sebentar lagi Aku akan kembali ke tanah air. Cerita hidupku yang sampai ke lima benua ini mestilah Aku bagi dengan saudaraku di tanah air. Agar apa yang Aku dapat bisa bermanfaat bagi orang banyak. Syukur-syukur jika banyak generasi bangsa yang mengikuti jejak langkahku, berpetualang ke berbagai penjuru dunia, menimba ilmu dan pengalaman demi kebaikan tanah air tercinta di masa yang akan datang. Sebagai negara yang besar, Indonesia harus diisi dengan insan-insan muda yang punya semangat tinggi, cukup ilmu, dan kenyang pengalaman agar Indonesia dapat berdiri sama tinggi dengan bangsa lain. Bila perlu Indonesia berdirinya harus lebih tinggi lagi hingga ke atas awan.
Inilah cerita hidupku, seorang anak desa biasa yang memilih untuk hidup sebagai seorang pemimpi. Kupersembahkan cerita hidupku ini buat negeriku, Indonesia.


       Muhammad Beni Saputra
     Manchester, 6 September 2016




Saturday, January 28, 2017

Hadza Min Fadhli Rabbii





Jantungku berdegup keras seolah mau keluar dari rongga dada. Mataku terbelalak menatap layar komputer dengan mulut yang menganga. Apa yang aku lihat seakan mimpi. Aku sama sekali tak menduga akan mendapatkannya secepat ini. Padahal taksiranku, mereka akan mengabariku akhir bulan ini.

“I am delighted to make you an unconditional offer of a place on the above taught course.” Begitu bunyi kalimat pembuka dari surat itu. cukup membuatku panas dingin. Kutarik nafas dalam untuk menenangkan diri. Sejenak, beberapa pertanyaan langsung menyasar diriku sendiri. “Aku? Aku diterima di The University of Manchester? Benarkah ini?”

Bibirku kini tersenyum lebar. Ingin rasanya aku tertawa sekeras yang aku bisa. Ingin rasanya aku katakan pada dunia jika impianku untuk belajar di perguruan tinggi berkelas akan segera terwujud. Hati ini…terasa berbunga…ada perasaan yang amat sulit untuk dikisahkan. seperti saat pertama jatuh cinta dulu. Sensasi bahagia yang kurasakan sangat berbeda dengan yang telah sudah. Sebuah perasaan yang mengundang khayalan untuk menginjakkan kaki ke tanah yang pernah ditapaki oleh Cristiano Ronaldo, David Beckham, Ruud Van Nistelrooy, dan tentu saja Sir Alex Ferguson. Ya, aku menyukai Manchester United. Atau lebih tepatnya aku fan MU sebelum Beckham ke Real Madrid. Ketika dia hijrah ke Spanyol hatiku dibawanya hingga sekarang terpatri erat dengan Los Blancos.





Aku dan Manchester sepertinya telah lama masuk dalam rencana Allah. Bahkan mungkin telah menjadi rahasiaNya yang baru aku tahu sekarang. Dulu, sewaktu mendaftar beasiswa lpdp aku sama sekali tidak mengharapkan Manchester. Banyak sekali kekurangan yang kurasa ada pada diriku waktu itu hingga untuk membaca namanya saja aku tidak berani apalagi mendaftar.

Saat aku dalam proses mendaftar lpdp, aku mencari-cari kampus yang tidak mensyaratkan ielts yang ada dalam list lpdp. Pendek cerita, sampailah aku pada dua pilihan: Universiti Kebangsaan Malaysia dan National University of Singapore. Dua universitas ini masih menerima TOEFL ITP seperti yang kubaca di websitenya. Kutimbang-timbang kampus mana yang hendak aku tulis di lembaran pendaftaran. “Nama pertama terlalu ‘kecil’ pikirku”. “Ah, aku ambil yang kedua saja. NUS kan universitas terbaik nomor satu Asia dan peringkat 22 dunia!” cetusku setengah tidak yakin.

Ketika semua proses pendaftaran online selesai, sampailah pada fase wawancara. Dalam wawancara tersebut aku ditanya.

“kamu mau kuliah dimana?”

“Singapura pak. Di NUS” jawabku pendek.

“kenapa memilih NUS” professor yang tengah mewawancaraiku menagih alasan.

“sebenarnya pak saya tidak berminat untuk kuliah di Singapura. Saya mau ke Inggris. Tapi karena saya tidak punya IELTS ya terpaksa saya memilih NUS mengingat NUS masih menerima TOEFL ITP” dengan nada lemah ku utarakan.

“oh begitu…” jawabnya pendek.

Wawancara terus berlangsung dengan beberapa pertanyaan tambahan. Tatkala interview memasuki detik-detik akhir professor tadi berujar.

“Kamu kuliah ke Inggris saja. cari jalan untuk tes IELTS dan kuliah tahun ini juga (2014). Nanti setelah selesai masternya kembali lagi kesini dan langsung lanjut S3”

Wajahku berbinar. Hatiku berkecamuk. Di satu sisi aku senang karena kalimat terakhir dari professor itu bisa ditafsirkan sebagai bentuk kelulusan. Namun di sisi lain aku menyimpan kecemasan. Bukan apa-apa. Selama ini aku hanya sering mendengar namanya saja. Membaca soalnya saja aku belum pernah. Dan jadilah IELTS gunung tertinggi yang hendak aku daki.

Sepulang ke Jambi aku langsung mengunjungi Datuk Google untuk menanyakan semua tentang IELTS dari buku-buku yang bisa di download gratis sampai tempat dan biaya tes.

Hasilnya cukup mencengangkan. Aku diberikannya beberapa buku bagus lengkap dengan file audionya dan tentu saja tempat dan biaya tes. Rata-rata tempat yang rutin mengadakan tes terletak di Jakarta sedangkan di tempatku tinggal hasilnya nihil. Tidak ada satupun tempat tes IELTS. Mengenai biaya menjadi persoalan tersendiri bagiku. $195 belum termasuk akomodasi ke Jakarta! Duit dari mana!  

Pada tahap awal belajar IELTS aku merasa kesulitan. Format soalnya yang beragam cukup membuatku frustasi. Aku beranggapan sulit rasanya bagiku untukku menembus universitas besar di Inggris sebab dari penelusuranku rata-rata universitas disana meminta nilai ielts 7 untuk jurusan Sastra Inggris termasuk the University of Manchester. Untuk Manchester bahkan lebih menantang lagi karena mereka meminta nilai writing yang tidak boleh dibawah 7. hanya ada sekitar 5 saja kampus yang memiliki standar 6.5.

Dengan semua tantangan ini aku memilih untuk melakukan yang terbaik yang aku bisa. Aku mulai berhemat agar bisa berangkat ke Jakarta untuk tes IELTS. Aku juga mulai mendisiplinkan diri lebih ketat lagi. Kualokasikan waktu untuk belajar IELTS setiap hari, membaca bacaan dalam Bahasa Inggris lebih giat dan mencari arti kata-kata Bahasa Inggris yang aku tidak tahu artinya.

Setelah 5 bulan berlalu, menjual sepeda, menamatkan ke 13 buku ielts yang dikeluarkan Cambridge plus beberapa buku lainnya, menghabiskan setumpuk kertas untuk latihan writing, aku pun breangkat ke Jakarta.

Alhamdulillah, perjuanganku terbayar lunas dengan nilai ielts 7! Yang lebih spesial lagi adalah nilai wiritngku juga 7. Mulailah aku menghapus highlight merah the University of Manchester di list kampus lpdp. Aku memang telah membuat highlight pada nama-nama kampus dalam lits tersebut. Merah artinya butuh nilai ielts 7, kuning 6.5, dan hijau 6.

Meski tengah mendapatkan berita bagus, aku masih belum berani mengaku bahwa aku penerima beasiswa lpdp. Aku masih memiliki tantangan berikutnya yaitu diterima di kampus luar negeri. the University of Manchester telah masuk dalam list universitas yang akan aku lamar bersamaan dengan the University of Glasgow dan Lancaster University. Sejatinya aku mau mendaftar ke 5 sampai 10 kampus di Inggris. Aku was-was dengan peluangku ke negeri Ratu Elizabeth itu. Mungkin saja tidak ada kampus yang mau denganku. Namun agen pendidikan yang mengurus pendaftaranku meminta 3 saja dulu. Karena itulah aku hanya menyodorkan tiga kampus itu.

Aku sudah memikirkan semuanya, kemungkinan terbaik dan terburuk. Untuk the University of Manchester dan the University of Glasgow aku memilih jurusan American Studies sedangkan untuk Lancaster University aku mengambil English Language Literature. Jurusan American Studies memang cabang ilmu yang betul-betul ingin aku dalami. Latar belakang pendidikanku, pengalaman, dan minatku sangat cocok dengan jurusan satu ini. Namun permasalahannya adalah, sewaktu mendaftar lpdp aku memilih Literary Studies yang notabene sedikit berbeda dengan American Studies. Jika nama yang terakhir focus ke semua hal tentang Amerika termasuk bidang sastranya, nah nama pertama lebih ke mengkaji karya-karya sastra orang inggris. Itulah mengapa aku  melamar dua-duanya untuk mengantisipasi kalau-kalau lpdp tidak boleh aku pindah jurusan. Harapanku tetap. Aku diperbolehkan pindah kampus dan jurusan.

Soal pindah kampus ini cukup membuatku berkeringat dingin. Rumor yang beredar sangatlah mengkhawatirkanku. Semua orang yang kutanya seolah bersepakat bahwa untuk mengajukan perpindahan kampus ke lpdp rating kampus tujuan haruslah diatas kampus sebelumnya. Nah, mengingat posisi NUS yang amat mentereng, kalau begitu aku tidak punya pilihan lain lagi selain mendaftar ke kampus-kampus seperti Harvard, Cambridge, atau Oxford. Bukannya pesimis tidak diterima disana, aku mencoba realistis saja dengan diriku. Siapa aku untuk diterima di kampus beken itu?

Dari pada terus-terusan dihantui kegalauan, aku memilih untuk masa bodoh saja. asumsiku, mustahil rasanya lpdp menolak perpindahanku selagi alasannya logis dan kampus tujuanku masuk dalam list mereka. Aku juga sudah menempuh semua proses lpdp mulai fase wawancara sampai PK atau Pra Keberangkatan. Toh, untuk apa mereka membuat list kampus itu jika mereka sendiri melarang awardee untuk kuliah disana kan? Juga, amat kejam rasanya jika mereka menggagalkan beasiswa seseorang yang telah mereka seleksi dan dinyatakan lulus gara-gara yang bersangkutan mau pindah kampus. Kan tidak ada jaminan seseorang bisa diterima di kampus impiannya. Namun kalau nantinya permohonan pindahku benar-benar ditolak, aku sudah mempersiapkan keikhlasan. Aku akan menganggap itu memang yang terbaik untukku dari Allah.

Untuk diterima di kampus luar negeri, calon mahasiswa mesti memiliki personal statemen yang bagus. Kalimat itu aku baca di sebuah blog di internet. Mulailah aku membuat karangan personal statement. Lebih kurang sebulan lebih aku baru bisa menyelesaikan dua personal statemen. Satunya untuk jurusan American Studies sedangkan yang satunya lagi untuk English Language and Literature. Agar bahasa inggrisnya tidak ada yang salah dan isinya menarik, aku mengirimkan personal statmenku ke temanku di amerika dan Australia sebelum mengumpulkannya ke universitas tujuanku.

Waktupun berlalu, aku berangkat ke Manchester, dan alhamdulillah sekarang sudah resmi menjadi alumni the University of Manchester. Alhamdulillah ‘alaa kulli ni’matillah. Hadza min fadhli rabbii.









Thursday, January 26, 2017

Ayam Berkokok di Atas Genteng



Persahabatanku yang berakhir dengan Safran membuatku gonta-ganti kawan. Pernah berteman dengan Sulaiman, seorang guru besar bidang kajian memikat burung puyuh. Atau dalam bahasa kampungku disebut nyucup. Maksud kedekatanku dengannya adalah untuk menyerap ilmu yang dia miliki. Dibawanyalah aku menjelajahi kebun ubi, kebun jagung, kebun ketela, dan segala semak belukar yang ada di kampong dalam rangka mencari sarang burung puyuh. Jalan mesti mengendap-endap, posisi tubuh membungkuk, dan mata harus selalu terfokus ke tanah. Menengadah ke langit sebentar saja langsung membuat murka Sulaiman. Baginya itu pertanda tidak sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.

Tidak lama aku menjadi murid Sulaiman. Bukan karena tidak tahan dengan metode belajarnya yang mirip latihan perang gerilya. Tapi karena burung puyuh pilih kasih. Tak pernah sekalipun cucupku mereka kunjungi. Berbeda dengan cucup Sulaiman yang seolah memiliki minyak pegasih. Mudah saja memikat berekor-ekor puyuh. Tanpa kabar berita aku tidak datang lagi ke rumah sulaiman. Cukup sudah masa belajarku dengannya.

Kawanku yang lain adalah adik ayahku, Pak Cik Kancil. Dia diberi nama kancil sebab sewaktu kecil tubuhnya kecil serupa kancil. Tingkahnya juga liar tak ubahnya seperti kancil. Seringkali berangkat ke sekolah namun tidak sampai ke sekolah. Dia singgah dulu di Lebung Kalang, semak belukar di belakang rumahku, sampai lonceng pulang sekolah dibunyikan. Hajatnya di lebung kalang tak lain tak bukan untuk menyalurkan minat dan bakat yang terpendam di dalam sanubarinya: menembak burung dengan ketapel. Sebenarnya skill ketapel pak cik kancil tidak hebat-hebat amat. Buktinya dia belum punya koleksi burung satupun. Barangkali yang membuatnya betah menyusuri lebung kalang adalah dorongan jiwa petualangannya. Sensasi yang tidak dia dapatkan dengan duduk berlama-lama di dalam kelas.

Karena jarang masuk sekolah tentu saja guru muntab. Tak tanggung-tanggung tiga kali dia tidak diizinkan naik kelas. Rekornya hanya kalah dari safran. Akan tetapi Pak cik kancil santai saja meski harus bersamaan tamat denganku. Baginya sekolah hanya rutinitas biasa. Tak akan berpengaruh bagi hidupnya kelak. Toh dia juga tidak punya cita-cita jadi guru atau jadi pegawai. Tujuan hidupnya hanya motong getah atau nyadap karet di kebun datuk yang ada di talang. Itu saja. Tak perlu ijazah apalagi sekolah setinggi langit. Sederhana sekali pemikiran pak cikku itu.

Jiwa petualang pak cik kancil menular kepadaku setelah kami resmi sekawan-sekelas di kelas enam. Suatu waktu selepas pulang sekolah dia mengajakku ke payo lebar, sebuah sawah di seberang kampong. Dinamakan payo lebar sebab sawah itu luas sekali, seluas mata memandang. Disana kami berdua menajur alias memancing ikan di sawah.

Tekniknya adalah membuat pancing dengan tangkai pendek kira-kira sepanjang lengan orang dewasa sekitar 20 puluh buah atau lebih. Tangkainya hanya bisa terbuat dari ranting pohon temahar karena ranting temahar bisa mengapung diatas air. Tajur-tajur yang telah diberikan kail dengan umpan cacing tanah disebarkan di sepanjang sawah. Aku dan pak cik kancil memonitor dari atas pondok sambil menyedot rokok Hero yang kami temukan di jalan ketika menuju sawah. Merokok untuk pertama kali itu ternyata tak enak. Bikin batuk. Asapnya bau. Tapi entah setan apa yang merasuki tubuhku, rokok yang ada dijariku membuatku tiba-tiba merasa jadi seorang pria dewasa nan tampan rupawan. Gaul seperti koboi yang tengah menunggang kuda sebagaimana yang ditayangkan di televisi.

‘Ayam berkokok diatas genteng, tak merokok tak ganteng’ kata pak cik kancil diiringi dengan tawa terbahak kami berdua.

Tajur-tajur yang kami pasang ada yang menukik ke bawah. Itu pertanda ikan besar. Bisa juga belut. Kalau lagi sial itu bisa saja ular! Tantangan mengecek tajur selain berhati-hati dengan ular mesti juga siap sedia digigit lintah. Apalagi di payo lebar lintahnya terkenal dengan ukurannya yang besar. Aku sendiri pernah mendapatkan lintah sebesar telunjuk orang dewasa menempel di kudukku. Banyak betul darahnya waktu itu. Namun demi ikan kepuyu, sepat, dan ruan, yang jumlahnya amat banyak aku memilih untuk tidak mengenal kata jera. Hari-hari berikutnya aku tetap saja kesana dan ke sawah lainnya di kampungku. Pergi pagi Minggu membawa tajur seikat, pulang ketika maghrib dengan ikan-ikan yang bergelayutan di tangan. What a life!


Wednesday, January 25, 2017

Dan, Persahabatan Itu pun Berakhir



Malam itu, sesuai janji siangnya di sekolah, selesai ngaji di rumah Pak Poden Aku langsung ke rumah safran. Soal Safran ini perlu aku ceritakan sedikit.

Dia adalah teman sekelasku yang gemarnya duduk di belakang. Paling sudut. Jika ada yang lebih belakang dari itu Safran akan mundur. Baju Safran tidak pernah dimasukkan ke dalam. Katanya tidak gaul. Rambutnya memiliki gaya remaja terkini. Belah dua. Tren yang aku coba adopsi tetapi digagalkan Mak sebab menurutnya itu gaya orang tidak sekolah. Gaya anak sekolah hanya ke samping kiri atau lebih baik lagi ke samping kanan. Sebab nabi suka makan dengan tangan kanan ucap mak suatu ketika.

Perbedaan mencolok antara aku, teman-teman sekolahku, dan Safran adalah postur tubuh Safran yang kekar berotot walaupun pendek. Dia adalah binaraga alami. Tidak pernah ke Gym, mendengar nama Gym, makan daging cuma setahun dua kali yaitu ketika Idul Adha dan Idul fitri, dan jika menggoreng telor seringkali bagi dua dengan adiknya. Olahraganya adalah angkat berat yang dia tekuni dari kecil. Sebelum masuk SD bahkan. Mula-mula dia hanya mengumpulkan batok-batok berisi getah cair hasil sadapan orang tuanya. Lama-lama memikul getah yang beratnya berpuluh-puluh kilo. Di kampungku tidak ada istilah child labor karena selain konsep itu tidak ada, kami juga tidak mengerti Bahasa Inggris.

Faktor lain yang membuat Safran ditakuti adalah, barangkali, karena umurnya. Dia sudah empat belas tahun! berbeda dengan kami yang rata-rata sepuluh tahun. Lagipula Safran sudah masuk kategori tuo tengganai di SD 178/II. Di struktur organisasi masjid kampungku posisinya bisa disejajarkan dengan mudim - penjaga masjid - yang sudah bertugas lintas generasi. Tak perduli siapa presidennya mudim tetaplah Datuk Refen Kumis. Jadi wajar saja jika Safran mesti dianggap terhormat mengingat masa baktinya kepada sekolah yang tiada tanding itu. Lebih tepatnya Safran telah mengabdi selama delapan tahun. padahal waktu itu kami baru kelas empat.

Safran sangat istiqomah meski tiap tahun tinggal kelas. Setiap tahun! Bahkan di kelas satu Safran mencetak sejarah. Tinggal kelas dua tahun berturut-turut. Selain jarang masuk Safran juga selalu gagal menghitung dari satu sampai dua puluh. Barulah tahun kedua bisa. Tapi membaca bermasalah. Jangankan mengeja, abjad saja hilang timbul dalam ingatannya. Wali kelas satu iba juga melihat nasib Safran. Maka dengan penuh kebijaksanaan dia dinaikkan ke kelas dua. Namun di kelas dua jalan hidup Safran pun tidak mulus. Dia mesti transit dulu setahun sebelum sampai ke kelas tiga, dan begitulah seterusnya.

Datanglah aku ke rumah Safran untuk memenuhi undangan keikutsertaan dalam sebuah misi rahasia binaan Safran. Entah misi apa itu aku tidak tahu. Untuk memuluskan operasi aku mesti mengantongi izin dari Mak dulu. Kuambil buku tulis, sebatang pensil, kemudian berjalan manis kearah Mak yang baru selesai Sholat Isya.

“Mak, aku izin ke rumah Eva ya? Belajar kelompok”.

“Jangan lama-lama!” itu saja jawaban Mak. Jangan harap dengan nada penuh kelembutan. Menggertak! Mak memang konsisten dengan prinsip hidupnya dalam mendidik anak.

“Pantang bagiku lembut-lembut dengan anak. Manja mereka nanti!” hasil sadapanku dari jendela rumah suatu siang tatkala Mak sedang bercerita dengan Mak Wo.

Aku dan Mak adalah kombinasi sempurna yang bisa disebut simbiosis mutualisme dalam versi lain. Versi keluargaku sendiri tentunya. Aku nakal, susah diatur. Pas sekali dengan karakter Mak yang keras. Lemari pakaianku pernah dibuang Mak keluar rumah dengan ultimatum: “pergi dari rumah ini!” Salahku sepele saja, sepele bagiku tentunya, yaitu meniru kata-kata Mak ketika dia memarahiku. Kuambil baju yang berserakan beberapa, tidak semua, lemarinya kubiarkan tergeletak, lalu aku merantau. Tidak jauh hanya ke rumah nenek. Seminggu aku disana. Kebetulan waktu itu liburan caturwulan ke dua.

Dalam pengasinganku, berharap betul Mak datang menjemput, mengelus kepalaku, biarlah tidak memeluk sebab Mak memelukku hanya waktu aku bayi saja, sambil bercucuran air mata kemudian berkata:

“Ayo anakku sayang kita pulang. Sudah rindu betul Mak kepadamu” Aih manisnya. Sekali lagi jangan harap! Lama-lama malahan aku yang bosan di rumah nenek sebab tidak ada tv. Saat aku pulang ke rumah apa kalimat pertama Mak?

“Kenapa cuma sebentar merantaunya? Lama-lama lah sedikit. Tidak enak kan jauh dari rumah?” Mak benar. Mak menang. Aku diam. Selalu tak berkutik dihadapan mak.

Kebersihan diri adalah prioritas nomor satu Mak. Maka wajar jika mandi di sungai, tubuhku menjadi bulan-bulanan. Baginya semua daki yang ada di leher, ketiak, dada, dan punggung harus dibasmi dengan sabut kelapa. Merah semua badanku. Di rumah pun ada peraturan ketat. Setelah bangun tidur, kelambu, alas kasur, dan bantal harus dirapikan. Wajib hukumnya. Sepulang sekolah baju harus diganti. Haram hukumnya pergi main dengan masih memakai seragam sekolah. Bisa menyebabkan petaka.

Safran mengajakku berjalan ke simpang desa dan mengambil beberapa buah batu kerikil yang berserakan di tepi jalan. Batu-batu itu kemudian dilemparkannya ke atap rumah orang. Dia cekikikan mendengar bunyi genteng pecah sambil berlari. Aku terbirit-birit di belakangnya. Bahagia memang aneh. Dia menyuruhku melakukan hal yang sama ke rumah yang berbeda. Demi solidaritas pertemenan dan sensasi kebahagiaan yang baru saja Safran rasakan, tanpa pikir panjang aku lontarkan tiga buah batu. Tepat sasaran. Berderau suara genteng pecah. Girangnya hatiku. Sial bin malang, ternyata beberapa orang membuntuti kami. Safran tertangkap. Aku berhasil lari menyusuri got samping lapangan bola.

Rupa-rupanya aku juga tak bisa lari dari bala. Sesampai di rumah, mak sudah menunggu dengan sapu lidi yang ada tangkai kayunya. Adalah Safran yang buka mulut hingga secepat kilat kabar keterlibatanku sampai ke telinga Mak. Aku lari ke belakang rumah. Mak mengejarku. Terpojok, akhirnya Aku masuk ke kandang ayam karena pikirku disana paling aman. Mak tidak bisa masuk sebab pintunya hanya bisa mengakomodasi ayam dan anak kecil saja.

“Keluar kamu, keluar!” Di juluk-juluknya aku dengan tangkai sapu itu.

Tidak tahan juga lama-lama disana. Kedinginan karena bajuku masih basah. Lagian mustahil aku tidur diatas tai ayam sebanyak itu. Dengan rasa takut menggunung, Aku kembali ke rumah menyerahkan telingaku kepada mak. Dua-duanya merah seperti buah jambu air yang masak. Telapak tanganku pun merah, penuh dengan bekas sapu lidi. Mak bilang itu ganjaran tangan yang jahil.

Entah siapa intelnya, mak jadi tau semua ceritaku dengan Safran. Soal main perahu, naik mobil Hino, sampai soal maling tiga ekor ayam jantan ibu Nir sebagai pelampiasan balas dendam Safran ke mantan wali kelasnya yang suka menarik rambut di dekat telinganya itu.
Malam naas itu menjadi sebuah akhir dari persahabatanku dengan Safran. Arahan Mak sudah jelas, jika Aku masih berkawan dengannya malapetaka besar akan dating kepadaku. Tidak berani aku mengambil resiko.