Monday, February 12, 2018

S-E-A G-A-M-E-S


Langit Manchester kehilangan warnanya. Tertutup kabut musim dingin bulan Desember. Sementara sisa salju semalam masih menutupi trotoar jalan, membuatku agak lebih hati-hati dalam melangkah. Salah sedikit bisa jatuh berdebam ke aspal karena licin. Di pagi yang dingin ini Aku kebagian tugas mengantar Arsa ke sekolah. Ayahnya tidak bisa mengantar karena harus ke kampus. Sedang ibunya pagi-pagi buta sudah berangkat kerja.
Arsa terdaftar di Claremont Primary School kelas nursery atau setingkat PAUD usia tiga tahun. Di sekolah Arsalah Aku mengenang kembali masa kecilku khususnya setelah menyaksikan murid-murid disitu bermain pasir, naik turun seluncuran, duduk di ayunan, dan memanjat lingkaran sebentuk bola raksasa. Pengalaman anak-anak itu sama sekali tidak pernah Aku lewati dalam hidupku sebab pre-school dan Taman Kanak-kanak tidak dijumpai keberadaanya di kampungku. Satu-satunya sekolah yang ada wujudnya adalah SD Negeri 178/II yang pada tahun 1999 berganti nama menjadi SD Negeri 87/VIII setelah kabupaten Tebo resmi bercerai dengan kabupaten Bungo oleh sebab pemekaran.
Meski demikian, sungguh Aku tidak iri karena masa pra sekolahku sudah dipenuhi dengan petualangan hebat. Kegiatan bermain pasirku langsung di pulaunya yaitu di Pulau Bungin yang terbentang luas di tepi Batanghari. Jika air Batanghari surut, Aku dan kawan-kawan bermain seluncuran diatas tebing landai di tepinya. Tebing itu dipenuhi oleh lumpur hasil endapan ketika air Batanghari pasang yang ketika disiram dengan air permukaannya akan menjadi licin. Sangat pas untuk bermain seluncuran. Ayunanku juga ayunan alami menggunakan akar kayu yang menjuntai tepi Batanghari. Kami bergelantungan bak tarzan, melayang-layang, lalu terjun ke sungai. Sedangkan kegiatan memanjatku adalah memanjat pohon-pohon yang menjulang tinggi; pohon duku, mangga, rambutan, kelapa, jambu, dan segala macam pohon yang tumbuh di kampungku.
Namun tidak bisa Aku pungkiri bahwa saat kecil dulu Aku sangat ingin bersekolah. Di suatu pagi Aku khusyuk menatap ke arah anak-anak berseragam putih merah yang sedang bermain bola kasti di seberang jalan rumahku. Kebetulan rumahku berada tepat di depan SD. Dalam permainan kasti itu kulihat seorang anak melempar bola kemudian disambut dengan pukulan meleset oleh temannya yang berdiri di tengah lapangan. Anak-anak yang lain kemudian berebut mengambil bola yang jatuh untuk dilemparkan ke si pemukul yang berlari kencang menyelamatkan diri.
Di pagi yang lain Aku melihat barisan rapi dari kejauhan di halaman muka SD namun berantakan bila ku lihat dari balik pagar. Kali ini mereka mengenakan topi merah putih dengan gambar burung kuning tanpa kepala dengan posisi menukik ke bawah. Kelak, setelah memegang sendiri topi itu Aku baru sadar ternyata kepala burung itu adalah buku berwarna putih.
Barangkali Mak mengawasi rutinitas pagiku ini dan mencium aroma ketertarikanku yang sangat besar terhadap dunia sekolah. Suatu hari, tanpa Aku duga sebelumnya, Mak mengajakku ke sekolah. Aku tidak tahu apa maksudnya. Pikirku saat itu mungkin Mak hendak bertemu dengan salah satu guru disana untuk keperluan yang Aku tidak paham. Namun ternyata Mak ingin memasukkanku ke sekolah. Di ruangan kantor kepala sekolah, Aku dan Mak duduk berdampingan menghadap Pak Syarifudin, kepala sekolah SD ku. Setelah berbincang panjang lebar Pak Syarifudin akhirnya menolak permintaan Mak. Alasannya adalah umurku baru enam tahun sedangkan usia masuk sekolah paling sedikit tujuh tahun.
"Tolonglah pak..." Ucap Mak memelas.
"Beni ini sudah sangat ingin bersekolah. Kasian lihatnya tiap pagi duduk di depan rumah  menyaksikan anak-anak lain sekolah"
Dengan penuh keberatan, Pak Syarifudin menjawab.
"Bukan tidak mau bu. Beni ini masih kecil, belum waktunya bersekolah. Otaknya belum berkembang betul. Nanti dia kesulitan mencerna pelajaran. Kalau tinggal kelas kan tidak elok. Jadi tunggulah dulu setahun lagi".
Aku lihat wajah Mak berubah dari tadinya sangat antusias menjadi lesu penuh kekecewaan. Aku juga kecewa mendengarnya padahal Aku sudah memakai sepatu putihku hari itu. Sepatu kesayangan yang hanya Aku kenakan bila ke pasar Tebo. Mak memegang tanganku dan menuntunku menuju pintu keluar kantor. Tak ada lagi kata yang keluar dari mulut kami berdua sampai kembali ke rumah.
Meski gagal bersekolah Mak tidak membiarkan hasrat belajarku terbuang sia-sia. Setiap malam selepas Isya, Mak selalu mengambil buku bacaan dan mengajarkanku abjad. Aku menjadi tahu jika yang tegak berdiri seperti menara Eifel itu disebut ‘A’ sedangkan yang bunting adalah 'b'. Setelah belajar beberapa bulan Aku pun berani praktek di depan umum, tepatnya di rumah kakak Mak, Mak Wo Zoi. Kata Mak Wo adalah singkatan dari kata Mak Tuo yang dalam Bahasa Indonesianya adalah Mak Tua. Sedangkan Zoi adalah bentuk pendek dari Zoiyyah, nama lengkap Mak Wo. Mak Wo Zoi dipanggil Mak Wo karena dia anak paling tua dari sebelas orang anak Nyai Muna. Dalam hukum kekerabatan di kampungku seorang bibi seperti Mak Wo tidak hanya berposisi sebagai bibi tetapi juga sebagai ibu bagi keponakannya.
Mak Wo adalah di antara segelintir orang yang memiliki televisi di kampung. Hobi Pak Wo Zul – suaminya, Zulwahidin – terhadap acara olah raga mulai dari sepak bola, volly, tinju, hingga sepak takraw membuat Mak Wo rela mengumpulkan uang hasil menyadap karet demi bisa membeli kotak gambar itu. Saking maniaknya, Pak Wo tak pernah melewati perhelatan olahraga nasional maupun internasional selagi acara tersebut ditayangkan di televisi. Sea Games XVIII 1995 yang disiarkan secara exclusive oleh TVRI adalah salah satunya.
 Acara olahraga dua tahunan masyarakat Asia Tenggara ini diadakan di Thailand tepatnya di Chiang Mai dari tanggal 9 Desember sampai 17 Desember 1995. Hampir setiap hari khususnya dari sore sampai malam rumah Pak Wo penuh sesak oleh penonton. Mereka yang pagi-pagi ke kebun menjadikan ritual menonton pertandingan olahraga Sea Games sebagai obat penawar lelah. Aku juga hampir setiap saat hadir disitu menemani Pak Wo. Disamping rumah kami berdekatan, Pak Wo mengajakku tidak lain karena dia tidak memiliki anak. Sudah sekitar tujuh belas tahun Tuhan belum mengabulkan doa Pak Wo dan Mak Wo untuk memiliki seorang buah  hati.
Jika orang-orang fokus ke petarungan olah raga yang tersaji, fokusku agak berbeda. Aku mencoba memenangi pertarungan lain antara diriku dengan running text yang ada di TV. Entah  mengapa Aku selalu ketinggalan alias gagal membaca semua text yang ada. Menurutku orang yang di dalam TV membuatnya terlalu ngebut sehingga baru saja Aku memulai  mengeja, kata yang dieja sudah sampai  ke ujung dan menghilang. Begitu terus hingga hanya dihitung jari kata yang berhasil Aku tangkap dan itu biasanya yang pendek-pendek seperti D A N atau D I.
Meski demikian Aku tidak pernah lupa dengan kata Sea Games sebab kata ini selalu di tampilkan di layar televisi ketika ada replay atau break. Suatu kali Aku berhasil mengejanya diam diam dari S, E, A, G, A, M, E, hingga S lagi. Saking antusiasnya akan pencapaianku ini, tanpa sadar Aku baca tulisan itu dengan lantang hingga suaraku terdengar oleh orang-orang yang sedang menonton. Sontak saja mereka tertawa karena cara Aku membacanya bukan SI GEIMS melainkan S-E-A G-A-M-E-S dengan ejaan Indonesia. Mulai hari itu mereka memanggilku S-E-A G-A-M-E-S.
Sejatinya Aku belum menerima sepenuhnya ajaran mereka bahwa cara membaca Sea Games adalah SI GEIMS bukan S-E-A G-A-M-E-S versiku. Sudah nyata-nyata kata ini berawal dengan S, diikuti oleh E dan diakhiri oleh A yang bila digabung menjadi SEA. GAMES pun begitu. Eja saja dari G sampai huruf terakhir yaitu S Maka bacaan yang  sebenarnya adalah GAMES bukan GEIMS. Meski tak terima, Aku diam saja. Membantah mereka sama saja bunuh diri. Aku sendiri sedangkan mereka berpuluh-puluh.
Aku menjadi bahan olokan terkini mereka. Setiap kali  menonton televisi ada saja yang memanggilku S-E-A G-A-M-E-S. Yang paling suka menyebutku dengan kata itu adalah Datok Mat Petai. Nama aslinya adalah Muhammad. Iya hanya Muhammad. Tidak ada nama lanjutannya lagi seperti di negara barat yang biasanya memiliki nama tengah dan akhir. Bagi orang tua Datok Mat, Muhammad saja sudah cukup. Nama tak perlu panjang-panjang. Toh nanti menjadi pendek sendiri bila dipanggil. Muhammad contohnya. Betapa agung nama ini. Nama seorang rasul yang amat mulia. Meski demikian tidak ada masyarakat kampungku yang berkenan memanggil pemilik nama Muhammad secara utuh. Bagi kami ‘Mat’ sudah bisa membuat pemiliknya menoleh jika dipanggil.
 Muhammad tidak hanya korban satu-satunya nama yang indah menjadi singkatan. Mahmud dipanggil 'Mut', Abdullah 'Bdul' atau 'Dolah', Aisyah 'Esah', Mardiah 'Yah', Zuhdi 'Judi', dan Husni 'Sni'. Pemilik nama tidak hanya menderita dalam pemendekan nama saja melainkan juga embel-embel yang menjadi ciri khas orangnya. Datok Mat Petai misalnya. Dia ditambahkan Petai sebab sangat rajin menjajakan petai di sekeliling kampung. Maka lengketlah kata petai padanya. Sni dipanggil Sni Kutung, kutung berarti terpotong, karena salah satu jarinya ada yang terpotong. Manaf dipaggil manaf kurap karena sewaktu SD pernah kena kurap. Rizal dipanggil Jal Pendek karena badannya pendek. Muhammad yang lain dipanggil Mat Itam sebab kulitnya berwarna hitam. Penamaan seperti ini untuk keefektifan  komunikasi juga agar tidak salah orang. Sebab nama-nama di kampungku itu-itu saja. Dari Mahmud, Muhammad, Ahmad, Zulaiha, Abdul Manaf, Abdul Manan, Abdurrahman, dan semua jenis Abdul. Agar tidak salah orang dan bingung maka ditambahlah fitur yang menghubungkan sebuah nama dengan bentuk orangnya. Juga, nama-nama gaul ala barat belum laku  di kalangan orang tua mereka dulu sebagaimana saat ini. Tidak ada diantara Datok dan nenek di kampungku memiliki nama Jessica, Franky, Steve, atau Robert. Muhammad dan Siti lah nama yang digemari.
Kembali ke Datok Mat Petai. Dia adalah orang yang pertama dan paling utama Aku hindari bila bertemu. Teriakan S-E-A G-A-M-E-S nya amat khas dan menggangguku. Biasanya, setelah memanggilku dia tertawa terbahak-bahak.  Maka dari itu bila bersua dengannya di jalan, Aku pura-pura tidak tau. Sebisa mungkin Aku lari. Saat nonton tv di rumah Pak Wo tempat dudukku harus jauh darinya agar tidak tersiksa batinku. Yang tidak bisa Aku hindari adalah ketika berjualan sayur-mayur hasil dari kebun Mak Wo atau Nyai Muna. Biasanya siang-siang kira-kira jam 3 Aku bersepeda menjual apa saja yang diberikan kepadaku. Kadang bayam, ubi, katu, ketela, petai, kabau, jering, segala jenis sayur pokoknya. Sebagai seorang pedagang, tentu Aku harus melintasi segala penjuru kampung agar banyak yang melirik  dan membeli. Semakin ramai  suatu tempat semakin bagus prospekku untuk menghabiskan barang dagangan.
Kampung baruh hilir, hilir artinya di hilir sungai Batanghari, adalah salah satu tempat yang strategis. Banyak warung dan pohon mangga besar tempat orang ngumpul bertukar cerita. Salah satu warung yang ramai adalah warungnya Datok Mat Petai. Disitu pula biasanya pelanggan-pelanggan setiaku stand-by. Saat teriakanku menjajakan dagangan terdengar, Datok Mat Petai biasanya memanggil dan memintaku berhenti. Tentu saja dengan S-E-A G-A-M-E-S khasnya yang disertai dengan gelak terbahak. Ketika Aku singgah kadang banyak yang beli. Termasuk Datok Mat Petai. Namun kadang dia hanya iseng saja. Pura-pura hendak membeli padahal ingin menertawakanku dengan apa lagi selain S-E-A G-A-M-E-S.
Lama-lama tak tahan juga Aku akan ejekan Datok Mat Petai yang kian hari kian menjadi-jadi itu. Bagiku tetap saja bahwa bacaan SEA GAMES adalah S-E-A G-A-M-E-S bukan SI GEIMS. Bagaimana mungkin barisan huruf yang begitu jelas itu bisa berubah bunyinya ketika dibaca. Akhirnya kutanyakan pada Pak Wo perihal ini. Mengapa sampai hati bacaan SEA GAMES dikhianati oleh Datok Mat Petai dan kawan-kawan.
"Memang Bahasa Inggris begitu. Lain di tulis lain di baca." Jawab Pak Wo suatu ketika. Aku jadi mengerti ternyata SEA GAMES itu menggunakan bahasa yang disebut Bahasa Inggris.
Setelah duduk di bangku sekolah, Aku menjadi semakin penasaran dengan Bahasa Inggris. Terlebih lagi Bahasa Inggris tidak diajarkan di sekolahku. Maka untuk memenuhi rasa ingin tahuku, pernah Aku ke kampung baruh ke rumah Nyai Muna mencari contoh lain dari bahasa yang kuanggap aneh ini tepatnya di buku tulis Busu. Busu adalah panggilan untuk anak paling bungsu nenek yang sedang duduk di bangku MTs atau Madrasah Tsanawiyah. Karena MTs tingkatan sekolah yang tinggi menurutku, barangkali banyak pelajaran Bahasa Inggrisnya.
Sesampai di rumah Nyai Muna Aku langsung menuju kamar Busu yang letaknya disamping ruang tamu. Busu tidak disana. Mungkin masih bermain diluar dengan temannya. Buku tulis Busu  tersusun rapi diatas meja. Aku ambil satu dan kubuka.  Tidak ada kata yang dari bahasa yang kucari. Aku ambil lagi buku yang lainnya. Kali ini kulitnya bergambar seorang wanita yang tengah tersenyum  manis. Dia kukenal dengan nama PARAMITHA RUSADY.
Tepat di belakang artis yang punya tahi lalat dibawah bibir kanannya itu, di tengah-tengah kulit buku, Aku menemukan apa yang Aku cari: serangkai goresan pena bertuliskan I LOVE YOU. Tulisannya miring seperti kapal sarat penumpang. Di bawahnya, tertulis dua baris kata lain secara mendatar:

NO TIME
FOR LOVE


Sekali lagi kubaca sejujur-jujurnya tanpa ada yang dikhianati. Seperti apa ia ditulis seperti itu juga Aku baca.

Friday, December 22, 2017

Senyuman Yang Tak Terlupakan


Aku dan Mak tergopoh-gopoh. Mak menjinjing seember cucian di tangan kanannya sementara tangan kirinya membawa ember sabun. Aku sendiri berjuang dengan sebuah jerigen air 5 liter yang kujinjing dengan kedua tanganku. Kami berdua baru saja dari sungai Batanghari untuk melaksanakan hajat hidup sehari-hari; mandi, mencuci pakaian, mencuci piring, dan tentu saja mengambil air minum untuk dimasak.
Sungai Batanghari merupakan denyut nadi kehidupan bagi keluarga, masyarakat kampung, dan hampir setiap kepala di kabupatenku khususnya mereka yang tinggal di pinggiran sungai terpanjang di Sumatera ini. Kepadanya kami pergi jika haus. Di dalamnya kami mencari ikan jika lapar. Dengan airnya kami  membersihkan diri dan segala harta benda yang kami punya. Ke sisinya kami membuang kotoran mulai dari kotoran manusia sampai kotoran yang dibuat oleh manusia seperti sampah plastik. Pentingya peran sungai Batanghari bagi hidup kami adalah hal yang wajar sebab sumur masih menjadi simbol kekayaan dan WC masih menjadi sarana kemewahan.
Mak memintaku yang berjalan di belakangnya untuk mempercepat langkah. Dia khawatir hari yang spesial ini akan terlewatkan atau Aku terlambat. Kami menyusuri jalan setapak di belakang rumah Pak Wo. Jalan ini adalah akses utama dari dan ke sungai Batanghari bagi orang-orang di darat di sekitar rumahku. Jalannya tidak besar apalagi terang. Hanya bekas pijakan kaki saja yang lama-lama mematikan rumput kemudian meyerupai jalan. Di sepanjang jalan masih semak belukar yang diberi nama oleh tetua kampung Lebung Kalang. Penamaan ini bukan tanpa alasan. Lebung Kalang memiliki beberapa lobang besar berlumpur tempat kerbau berkubang atau mandi. Bentuk Lebung Kalang pun menyerupai lobang, berlereng seperti tempat orang main skateboard atau seperti kolong yang di belah tengahnya.
Di musim hujan Lebung Kalang berisi penuh dengan air yang membuat pohon-pohon rengas besar tinggi yang ada sekitarnya seolah tenggelam. Jika ingin ke sungai Batanghari kami harus memakai perahu untuk mencapai seberang Lebung Kalang sebab air Lebung Kalang bisa menyebabkan merah-merah dan gatal di kulit karena terkontaminasi dengan pohon rengas. Kata Kalang sendiri merujuk kepada situasi ketika air surut dan mengering. Kondisi ini membuat ikan kalang terperangkap di kubangan kerbau yang ada disana sebab hanya kubangan kerbaulah yang masih ada airnya. Biasanya situasi ini mengundang banyak orang untuk menangkap ikan-ikan kalang itu.
Sesampai di rumah Aku dan Mak meletakkan semua barang. Jerigen Aku tarok di dapur begitu juga dengan ember sabun dan cucian. Semuanya duduk manis berjejer di dapur kami yang masih berlantai tanah itu. Mak segera menuju kamar dan keluar dengan sepasang pakaian. Baju putih dan celana merah. Dengan gerak cepat dia mengenakan baju yang telah lama kuidamankan itu. Bajuku yang terjurai lalu diselipkannya ke dalam celana merahku. Kutatap kaca di depanku. Penampilanku tampak berseri. Ada rasa bahagia, bangga, puas, bercampur aduk menjadi satu yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata ketika mengenakan seragam merah putih itu.
Mak membuka lemari di depanku kemudian meraih kaleng cekung berbentuk oval yang ketika dibuka mengeluarkan bau harum semerbak. Aku ambil tutupnya sementara Mak mencelupkan jari telunjuknya ke dalam kaleng yang berisi sesuatu berbentuk lilin namun lembut itu. Warnanya hijau seperti sabun cuci batang. Mak ambil secuil lalu mengacak-acak rambutku hingga membuatku kesulitan membaca M-I-N-Y-A-K R-A-M-B-U-T L-A-V-E-N-D-E-R yang tertulis di tutup kaleng yang sedang ku genggam. Setelah itu Mak membagi rambutku dengan sisir. 3/4 ke arah kanan dan 1/4 nya lagi ke kiri dengan garis pembatas lurus di antara keduanya. Aku lihat ke kaca rambutku berubah menjadi hitam legam. Mengkilap. Sama mengkilapnya dengan keningku yang juga kebagian usapan tangan Mak.
SDN 178/II disesaki oleh pasukan merah putih. Ada yang bertopi ada yang telanjang kepala. Ada yang bajunya dimasukkan ke dalam celana ada juga yang dibiarkan terjurai keluar. Di sekolah Aku duduk di bangku barisan depan.  Biar cepat menangkap pelajaran kata Mak. Soal pelajaran mengeja aku tidak perlu risau karena Aku sudah pandai membaca. Buah dari didikan Mak di rumah dan praktekku di rumah Pak Wo.
Selama jam pelajaran seringkali kulihat Mak berdiri di jendela sekolah, menyaksikanku menimba ilmu. Bibirnya tak henti-hentinya tersenyum. Senyuman yang dulu belum bisa Aku mengerti. Kini setelah bertahun-tahun berlalu aku menyadari kalau itu adalah senyum kebanggaan. Mak lega, anak pertamanya akhirnya sekolah juga setelah satu tahun menunggu. Tak pernah kulupa senyum Mak itu hingga hari ini.


Thursday, October 26, 2017

"Macam Mana Suara Ungka, Nak?"



Pendidikan memang tidak diragukan lagi merupakan alat paling besar efeknya dalam mengubah kehidupan umat manusia. Namun, pendidikan tidak hanya didapat dibangku sekolah saja. Setiap jengkal planet bumi ini sejatinya menawarkan pendidikan bagi penghuninya. Jika tidak percaya, tanyakan saja pada nenekku, seorang wanita buta huruf yang telah mengubah hidupku dan masyarakat kampungku.
Dia dipanggil Muna, singkatan dari nama lengkapnya, Maimunah. Nyai, begitu kami di desa Teluk Langkap memanggil nenek, menikah di usia belia yaitu enam belas tahun. Tidak ada istilah child marriage di kampungku sebab seorang gaids yang telah pandai mencuci piring, menanak nasi, mengembala kerbau, atau membantu orang tua di sawah sudah dianggap mampu serta pas untuk membina rumah tangga. Lagian, berlama-lama melajang juga tidak ada gunanya. Sekolah formal tidak ada. Jika mau sekolah, mesti bersepeda menempuh semak-semak ke pasar Tebo yang waktu tempuhnya bisa lebih dari dua jam. Jadi, menikah sudah barang tentu sebuah pilihan yang logis untuk mengisi waktu kosong.
Sekolah kehidupan telah merubah Nyai Muna. Dia yang tidak bisa baca tulis itu jarang ditemui di rumahnya. Selalu saja dipanggil masyarakat kampung untuk membantu ibu-ibu hamil tua mengeluarkan anaknya dari perut. Kehebatan Nyai Muna dalam aktivitas perbidanan dimata masyarakat desa Teluk Langkap tidak disangsikan lagi. Telah berpuluh-puluh bayi yang berhasil mendarat ke dunia dalam keadaan segar bugar, termasuk aku sendiri dan belasan sepupuku. Semua dari kami lahir dengan selamat, sehat wal afiat tidak kurang satu apapun.
Aku  dilahirkan di sebuah rumah panggung khas orang Melayu yang tidak begitu besar, hanya sekitar 6x10 meter persegi saja. Rumah itu dimiliki oleh Nyai Muna dan kakekku, Datuk Hasan. Dibawah rumah Nyai tercacak tiang-tiang tinggi dari kayu bulian sebagai bentuk pertahanan diri dari dua tamu yang kerap datang meski tidak diundang: serbuan air Sungai Batanghari saat musim hujan dan harimau lapar yang mencari pengisi perut.
Kata Mak, panggilanku untuk Ibuku, setelah beberapa bulan aku dikirim ke dunia, Ayah membawaku merantau jauh ke tempat yang tidak dihuni manusia, yaitu hutan belantara yang terletak di seberang kampung. Kami menamakannya Talang. Talang berjarak sekitar 14 km dari kampungku. Untuk mencapai Talang tidak mudah. Jalannya hanya tanah kuning dengan lobang-lobang besar yang berubah menjadi kolam lumpur jika diguyur hujan. Kalau sudah begini biasanya sepeda motor akan sulit menempuh. Bannya bisa terbenam di dalam tanah liat yang sangat lengket itu. Maka masuk akal jika Ayah selalu membuka sandalnya setiap kali pulang pergi ke Talang biar bisa dengan mudah mendorong sepeda motor dengan kedua kakinya dalam kubangan lumpur itu.
Bermodalkan tekad untuk memiliki masa depan yang lebih baik, atau kata Ayah agar aku bisa bersekolah tinggi esok hari, kami bertiga mesti pindah ke Talang. Kami harus menaklukkan rimba liar dan megasingkan diri dari hiruk pikuk manusia. Visi Ayah adalah beberapa tahun ke depan ketika aku sudah di bangku sekolah, rimba ini telah menjadi kebun karet keluarga. Tiap tetes getahnya diharapkan bisa mengongkosi pendidikanku, menyambung impian Ayah yang dulu putus sekolah.
Dalam hutan belantara itu Ayah mendirikan sebuah pondok kecil berukuran 3x2 alias 3 meter panjang dan dua meter lebar. Rumah keluarga pertama kami ini berdinding papan dan beratapkan daun rumbia dengan tiang-tiang yang menjulang tinggi agar beruang atau harimau sumatera tidak mengusik tidur kami. Untuk penerangan hanya ada lampu minyak tanah sebab listrik belum ada. Jangankan di tengah hutan begini, di kampungku saja aliran listrik masih belum sampai.
Pondok kami adalah pondok yang terasing. Tidak ada tetangga, tidak ada lingkungan social. Yang ada hanyalah rimba raya dengan segala macam penghuninya. Inilah yang membuat Mak ketakutan setiap malam jumat karena pada malam itu hanya ada Mak dan Aku di pondok. Ayah pulang ke kampung setiap sore kamis. Tidak bisa mengikutsertakan Aku dan Mak sebab sepeda motornya sudah penuh sesak oleh hasil hutan yang akan dijual kepada masyarakat kampungku dan masyarakat kampung tetangga. Jadi tinggalah Mak dan Aku di dalam pondok yang terpencil di tengah rimba liar itu. Suara-suara aneh di dalam rimba yang bunyinya macam-macam yang tidak pernah ditemui di desa, membuat bulu kuduk merinding. Untuk menjaga keselamatan kami berdua, biasanya Mak langsung mengunci pintu erat-erat bila hari sudah mulai gelap. Air wudhu untuk sholat Isya sudah lebih dulu Mak ambil di sungai. Dibawa ke pondok ketika berwudhu untuk sholat Maghrib.
Hasil hutan yang Ayah jual beragam; petai, jering, kabau, buah tampui, buah cempedak, daging hasil jerat seperti daging kancil, daging rusa, daging kijang, daging napuh, daging burung kuau, sampai buah durian daun. Uang hasil dari penjualan ini kemudian dibelikan ke kebutuhan pokok sehari-hari seperti beras, minyak makan, garam, gula, bawang, dan kebutuhan dapur lainnya. Selain untuk keperluan dunia, Ayah kembali ke kampung di setiap sore kamis juga untuk keperluan akhirat. Sudah menjadi prinsip Ayah kalau laki-laki tidak boleh meninggalkan sholat Jumat. Ayah baru kembali lagi ke Talang sore Jumat untuk bersatu kembali dengan Aku dan Mak.
Waktu terus berjalan, bibit karet yang Ayah tanam kini sudah mulai meninggi, sama seperti Aku yang sudah bukan bayi lagi. Ini artinya kami bertiga tidak perlu lagi menginap jauh dari keramaian sebab dalam kondisi demikian kebun sudah bisa ditinggalkan. Hanya saja Ayah harus rajin-rajin mengecek dan mengawasinya beberapa hari dalam seminggu sebab gajah-gajah liar yang berasal dari Taman Nasional Bukit Tigapuluh sering melancong kesana dan memakan atau memijak tanaman karet yang ada.
Kami bertiga beranak tidak tinggal di rumah Nyai Muna sekembali dari Talang. Ayah mengajak Aku dan Mak tinggal di sebuah toko kecil tepat di samping kanan rumah Nyai. Toko itu mulanya tempat berdagang Datuk Hasan. Karena kehabisan modal terpaksa ditutup. Sejak saat itulah tokonya tak berpenghuni.
Selang beberapa tahun, akhirnya pada tahun 1995 rumah yang Ayah bangun di darat - sebutan untuk lokasi daerah hunian baru di tepi jalan Padang Lamo yang pada waktu itu sedang diperbaiki - sudah siap untuk di huni. Kami pun pindah lagi. Rumah baruku tidak begitu besar dan belum benar-benar jadi. Lantainya masih tanah. Dinding belum dilapisi dengan semen. Masih bata merah. Jendela belum ada daun pintunya. Hanya ditutupi dengan papan yang dipaku saja. Untuk sekedar berlindung dari panas dan hujan, rumah kami sudah cukup layak untuk dihuni.
Pengalamanku beberapa tahun di dalam hutan memberikan bakat yang tidak dimiliki oleh anak-anak lainnya di kampungku. Aku dengan lihai dan fasih bisa meniru beberapa suara binatang di hutan seperti suara ungka, harimau, dan beruk. Tak heran jika setiap kali aku dibawa pulang, kaum kerabatku, paman dan bibi sambil menggendongku kadang bertanya "Macam mana suara ungka nak?". Dengan lihainya aku melolong "uuk...uuk..uuk.." Dan mereka pun tertawa terbahak.