Thursday, January 17, 2019

#tenyearscallenge


Saat ini Facebook sedang dilanda demam nostalgia berjudul #tenyearscallenge. Foto-foto tahun 2009 disandingkan dengan foto 2019 untuk melihat perubahan apa saja yang telah terjadi pada diri peng-upload foto. Saya sendiri sempat tergoda untuk melakukan hal serupa tapi kemudian mengurungkan niat. Alasannya? Foto-foto saya di zaman terdahulu mayoritas tanpa ekspresi. Maklum, masih mengidap sindrom tidak PD depan kamera. Hehe…

Tapi, dalam edisi kali ini saya tidak akan panjang lebar membahas muka datar saya ketika dijepret tukang foto. Tidak juga saya akan membebani pembaca dengan tuntutan melihat foto-foto culun saya tahun 2009 dulu. Saya hanya ingin mengenang satu decade perjalanan dua akun media yang  sering saya gunakan. Ya, pada tahun 2019 ini genap sudah 10 tahun usia blog ini dan akun Facebook saya.

Keduanya memiliki latar belakang yang berbeda perihal mengapa mereka dilahirkan. Adapun blog ini berlatar belakang ekonomi. Saat itu, sebagai mahasiswa kere, saya tergoda dengan ide yang sedang booming yaitu menghasilkan uang melalui blog. Caranya mirip dengan media lainnya yaitu konten yang kita sediakan di blog mesti dibaca oleh banyak orang. Singkatnya, blog kita harus memiliki pengunjung harian yang banyak agar perusahaan mau memasang iklannya di blog kita. Tapi sialnya saya tidak tahu harus diisi dengan apa blog saya pada waktu itu. Jika diisi dengan tulisan malangnya saya belum bisa menulis dengan baik, benar, apalagi panjang lebar. Karir kepenulisan saya masih berumur satu tahun semenjak masuk ke IAIN STS Jambi. Itu pun cuma sebatas menulis makalah. Atau lebih tepatnya lagi meng-copy-paste makalah orang atau buku orang. Alhasil, untuk memuat tulisan karya sendiri pastinya saya tidak bisa.

Pikir punya pikir, saya mendapatkan ide. Saya masukkan saja makalah saya ke blog ini. Makalah yang copy-paste tadi tentunya. Harapan saya amat muluk, siapa tahu ada 20.000.000 penduduk Indonesia yang mengakses makalah ini. Dengan begitu saya bisa kebanjiran iklan. Harapan ini harapan semu tentu saja. Sebab, siapa pula yang mau merujuk makalah KW yang kualitas dan kredibilitasnya masih berada di level anak SMP yang jarang berangkat ke sekolah.

Saya tidak kehabisan akal. Dan bahkan lebih termotivasi untuk mengejar online fulus. Saya pun melakukan hal yang lebih tidak terpuji lagi. Apa itu? Saya copy-paste artikel-artikel di Kaskus kemudian saya masukkan ke blog saya. Ini tidak terpuji karena saya tidak mencantumkan sumber aslinya. Tapi tetap saja tidak berhasil menjadikan saya pemuda kaya berkat blog sebagaimana yang dibahas di dalam buku-buku motivasi itu.

Postingan perdana di blog.

Tahun berlalu, bulan berganti. Saya akhirnya lupa dengan iming-iming uang hasil ngeblog. Saya pasrah. Atau lebih tepatnya menyerah. Kesimpulan saya adalah memang saya tidak berbakat dalam dunia mata pencaharian melalui blog. Tapi, ternyata Tuhan memiliki rencana lain. Tahun 2012 saya berkenalan dengan pemuda Sabang yang kece badai yang prestasi dan reputasinya sudah berada di jajaran para ‘wali’. Dia adalah bang Hijrah Saputra. Kami berkenalan ketika berlayar keliling Indonesia Timur dalam program Sail Morotai 2012.

Ceritanya bermula ketika saya mengutarakan keinginan untuk backpacking ke Malaysia. Kebetulan bang Hijrah sudah pernah kesana. Bang Hijrah kemudian bilang bahwa saya tidak perlu mengumpulkan uang agar bisa ke Malaysia. “Ada program gratis kesana asalkan punya blog. Saya sendiri pernah ikut.” katanya. Saya amat tertarik karena saya memang punya blog walaupun sudah lama vacuum.

Selama di kapal saya satu grup dengan bang Hijrah dan satu tempat homestay di Ternate. 

Desember 2012 bang Hijrah menghubungi saya bahwa program tersebut, My Selangor Story, sudah buka. Dan saya pun ikut menyumbang tulisan. Sebulan berlalu para finalis diumumkan. Alhamdulillah, saya dan bang Hijrah termasuk ke dalam daftar 18 finalis dari Indonesia dan Malaysia. Kami pun diberangkatkan ke Malaysia, nginap di hotel berbintang, menyantap makanan lezat, dan hilir mudik mengunjungi beberapa tempat wisata di sekitaran Selangor. Berita baiknya adalah semuanya gratis tis tis tis…

Selama program My Selangor Story 2013 saya juga 'dipasangkan' dengan bang Hijrah sehingga kami selalu sekamar hotel. Beruntungnya.

Grup foto dengan finalis lain.

Briefing di mall Wholesale City.

Belum afdol kalo belum foto di mari.
Itu cerita singkat tentang blog ini. Tentang akun Facebook saya lain lagi. Di 2009 ke bawah warnet-warnet di Kota Jambi yang jumlahnya masih hitungan jari pada waktu itu belum disesaki oleh Facebookers. Friendster masih primadona dengan fitur testimony dan latar belakang foto pribadinya. Namun dalam waktu singkat Facebook berhasil merebut hati Friendster maniak termasuk saya. Alasannya adalah Facebook punya fitur yang lebih canggih dibandingkan Friendster seperti fitur chatting dan komen-komenan. Saya pun bermigrasi ke Facebook dan melupakan Friendster. Dan kini Friendster sudah tiada, musnah digilas pesaing.

Postingan Facebook pertama.

Dalam rentang waktu 10 tahun banyak pelajaran sekaligus manfaat yang saya petik dari blog ini dan Facebook. Putellaking.blogspot.com telah mengajarkan saya arti sebuah perjuangan dan rencana Tuhan. Bahwa dalam berjuang haruslah jujur kepada diri sendiri sebab ketidakjujuran menyulitkan kita meraih keberhasilan. Dan ketika kita merencakan sesuatu namun belum berhasil, kadang Tuhan punya rencana lain yang tidak kalah indahnya. Blog ini memang tidak mewujudkan impian saya menjadi mahasiswa berduit, tapi dia membawa saya meraih impian lain yaitu berangkat ke Malaysia. Lebih dari itu, blog ini juga menjadi saksi perjalanan dunia menulis saya. Dari yang sebelumnya tidak bisa menulis dengan baik ke level sekarang yang  alhamdulillah sudah bisa menulis artikel koran dan jurnal. Walaupun kualitasnya belum super-super amat.

Bagaimana dengan Facebook? Hmm…selain mendapatkan dan merapatkan persahabatan dengan kolega-kolega dunia maya, hikmah lain dari Facebook yang saya dapatkan barangkali ini: “Terlalu banyak kau menghabiskan waktuku.” Hehe…

Anyway, selamat ulang decade putellaking.blogspot.com dan Facebook Muhammad Beni Saputra. Semoga Google dan Facebook tidak cepat bangkrut. Amin.

Salam,

#tenyearscallenge



Wednesday, January 9, 2019

Euro-trip


Sebelum berangkat ke Manchester saya diberikan masukan oleh seorang kenalan yang dulunya belajar di Belanda, “Ben,” katanya. “Nanti kalau kamu udah di Inggris, jangan lupa jalan-jalan keliling Eropa. Sayang kalau gak jalan. Mumpung disana. Saya aja sekarang agak nyesal kenapa dulu hanya mengunjungi Belgia dan Perancis. Sebenarnya saya punya kesempatan untuk bepergian ke banyak negara namun semua itu tidak saya lakukan. Karena ya…saya terlalu khawatir tidak bisa menyelesaikan studi dengan baik jika jalan-jalan terus. Padahal faktanya tidak begitu. Asal dapat mengatur waktu semuanya bisa dilakukan.” Jujur saja, saya Cuma mengangguk tanpa makna. Dengan kata lain apa yang dia sampaikan hanya sampai di telinga. Sedikitpun tidak menarik perhatian saya.

Diskusi di grup WA juga serupa. Beberapa calon mahasiswa seangkatan saya sibuk membahas tentang visa Schengen. Saat itu saya tidak tahu apa itu Schengen. Baru kemudian ngeh setelah membaca keseluruhan chat mereka. Visa Schengen itu rupanya visa untuk memasuki daratan Eropa. Secara politik Inggris tidak berbagi visa dengan negara Eropa lainnya alias negeri Ratu Elizabeth punya visa tersendiri. Jadi meskipun mahasiswa internasional sudah mengantongi visa Inggris tidak serta merta mahasiswa tersebut bisa secara bebas menginjakkan kaki ke benua biru. Harus mengajukan visa Schengen dulu baru diizinkan. Beda halnya dengan mahasiwa yang belajar di Belanda atau Jerman, misalnya. Mereka bebas hilir mudik di negara-negara yang tergabung ke dalam visa Schengen. Ada 26 negara Eropa yang menggunakan visa Schengen, yaitu Austria, Belgium, Czech Republic, Denmark, Estonia, Finland, France, Germany, Greece, Hungary, Iceland, Italy, Latvia, Liechtenstein, Lithuania, Luxembourg, Malta, Netherlands, Norway, Poland, Portugal, Slovakia, Slovenia, Spain, Sweden, and Switzerland.

Kembali ke diskusi tadi. Beberapa diantara teman angkatan sudah mengantongi visa Schengen dari kedubes Belanda di Jakarta. Beberapa yang lain berencana mengajukan segera. Dan beberapa lagi tertarik untuk mencoba. Saya? masih tidak tertarik.  

Alasan ketidaktertarikan saya beragam. Pertama, saya masih idealis dengan misi saya ke Inggris bahwa saya kesana bukan untuk haha hihi jalan-jalan menghambur-hamburkan uang negara melainkan untuk belajar. Belajar dengan sangat serius agar saya bisa merealisasikan semua impian saya. supaya saya bisa mengubah dunia yang karut marut ini. Adapun alasan kedua adalah, saya dilanda rasa takut bercampur khawatir yang kadarnya sudah akut. Ya, dada saya tidak berhenti berdebar mengenang nasib di rantau orang kelak. Ditengah kepercayaan diri saya yang menyentuh langit, tidak bisa saya sembunyikan jika saya rapuh. Saya kadang atau seringkali dihantui rasa takut jika saya tidak bisa belajar secara optimal. Atau pelajaran terlalu sulit untuk dicerna. Atau dosennya pelit nilai. Atau kampusnya punya standar terlalu tinggi. Atau saya mendadak begok. Dan atau-atau lainnya. Jadi, pendirian saya kokoh, sekokoh batang jering di sebelah rumah orang tua saya, bahwa saya tidak tertarik dengan ide jalan-jalan di daratan eropa. Jangan ajak saya. Jangan goda saya. saya mau belajar! I want to change the world!

Waktu berlalu dan tibalah masanya saya berangkat ke Manchester setelah melalui drama ketinggalan pesawat gara-gara kabut asap. Pesawat Etihad yang saya tumpangi sempat oleng ketika mendarat dan hampir saja terjungkir gara-gara angin kencang. Meski begitu, kedatangan saya di Manchester masih dengan idealisme yang sama yaitu saya akan kuliah sungguh-sungguh, jika bisa menjadi lulusan terbaik, dan tentu saja tidak ada agenda melancang-melancong. Akan tetapi, bukan manusia namanya bila tidak berubah. Sebab manusia itu memiliki sifat baharu sebagaimana yang diterangkan di dalam kitab-kitab Tauhid. Dan setiap yang baharu pasti berubah. Hanya Tuhan saja yang tetap tidak berubah-ubah.

September 2015 Jambi dilanda kabut asap hebat.

Semua penerbangan di cancel termasuk pesawat yang akan saya tumpangi, GA. 135.

Padahal saya sudah diantar oleh keluarga. Turut serta yang mengantar ke Jambi Datuk saya yang berpulang ke hadhirat Allah 4 bulan setelah kepulangan saya ke tanah air. Al fatihah.
Akhirnya ke Jakarta melalui Palembang.

Dan alhamdulilllah dapat tiket pengganti dari Etihad sestelah negosiasi alot dan sedikit bertegang leher.

Transit di Abu Dhabi.

Sampai di Abu Dhabi.

Ready for Manchester.

Manchester, I'm coming!

Penerbangan panjang.

Alhamdulillah sampai.

Foto dulu biar afdol.
Sisi rapuh di dalam diri secara perlahan tapi pasti akhirnya tereskploitasi oleh kekuatan-kekuatan luar yang tak dapat dibendung. Kekuatan-kekuatan tersebut berasal dari berbagai macam sumber. Sumber pertama adalah studi saya sendiri. Kala itu ada pertemuan dengan Eithne Quinn, supervisor akademik saya. Turut serta dalam pertemuan itu beberapa mahasiswa lain baik mahasiswa Inggris asli maupun mahasiswa dari negara lain. Eithne mengumpulkan kami untuk  memberikan penjelasan segala tetek-bengek perkuliahan yang akan kami lalui setahun ke depan. Dalam pertemuan itu saya masih dengan semangat yang melimpah ruah ingin menjadi mahasiswa teladan yang focus 10.000% ke perkuliahan. Bahkan saya sempat sedikit menceritakan ambisi akademis saya yang disusul dengan penjabaran singkat mengenai latar belakang saya sebagai mahasiswa yang belanja sehari-harinya dipenuhi negara atau dalam kata lain: mahasiswa terpilih untuk mendapatkan beasiswa bergengsi dari pemerintah Republik Indonesia, sebuah ceritera yang  belakangan saya sadari sebagai kekonyolan bercampur narsistik yang substansinya tidak nyambung dan alurnya tidak penting. Tapi memang saat itu level PD saya sedang tinggi-tingginya.

Semuanya turun drastis setelah menjalani beberapa bulan kuliah; tugas menumpuk, yang macam ragamnya beraneka. Ragam pertama mereka menyebutnya essay. Apa itu essay saya juga tidak tahu saat itu. Atau lebih tepatnya belum begitu menguasai. Essay dibatasi dengan jumlah kata. Harus tidak kurang dari 6000. Mesti menulis sesuatu yang belum ditulis orang, dengan topik yang saya sendiri belum paham. Jadilah saya seperti mahasiswa teladan betulan. Rajin berkunjung ke perpustakaan untuk membawa pulang buku-buku yang tebalnya bisa dijadikan bantal tidur. Buku-buku tersebut mesti dibaca secara teliti dan malang nasib saya terlalu banyak buku yang harus dilahap. Saking paniknya pernah saya mengantri di depan Domino’s Pizza, ‘warung’ pizza depan kampus sambil membaca sebuah buku tentang komunitas hip-hop di Amerika. Pernah juga saya membaca buku sampai habis kemudian baca lagi pelan-pelan. Hasilnya? Saya masih tidak paham!

Belajar apa itu essay dan bagaimana cara bikinnya. No, ini bikin essay beneran lho!

Too much to read.

I cannot keep calm.

Reading list yang menyiksa.

Ragam kedua adalah dinamika di dalam kelas. Bagi saya waktu itu, paparan dosen sepanjang ‘tali baruak’ bukan membuat saya paham melainkan bingung. Bingung karena ada banyak hal yang baru saya ketahui dan banyak hal yang belum saya mengerti. Yang paling menyiksa adalah kelas diskusi. Tidak tanggung-tanggung kelas diskusi porsinya paling lama. 3 jam! Selama 180 menit saya harus ikut andil dalam pembahasan topik-topik yang sama sekali baru bagi saya dengan menggunakan bahasa Inggris yang tentu saja mesti akademis. Celakanya, di kelas tersebut hanya saya yang berkulit kelam. Selebihnya berkulit terang berambut pirang. Dan 95 persen dari mereka anak sana alias orang Inggris. Dalam diskusi tentu saja mereka amat lancar meskipun kadang berbelok-belok dari topik utama. Skill tersebutlah yang tidak saya punya. Bahasa Inggris saya masih standar betul belum bisa ngeles sana ngeles sini ketika otak saya macet. Alhasil, 3 bulan pertama saya berkali-kali berbicara dalam hati, ‘Ngapain saya jauh-jauh belajar kesini. Kenapa saya gak kuliah di Indonesia saja kemarin…’ Huuh….

Dr. Andrew Fearnley yang sangat akademis dan menguasai apa yang diajarkannya.
Bersama teman-teman sekelas dan Dr. Michelle Coghlan dalam presentasi project akhir mata kuliah Ocuppy Everything di rumahnya.
Beban belajar yang super menyiksa ini berhasil membuat saya lebih rapuh. Idealisme ‘I want to change the world,’ perlahan tapi pasti berubah menjadi ‘I want to have my previous world’.

Sumber kedua, adalah sepak bola. Ya, ini tidak salah ketik, memang sepak bola. Kehidupan mahasiswa Indonesia di Manchester amat erat kaitannya dengan sepak bola. Bahkan mereka memiliki klub tersendiri yaitu ‘Uler Kubis’. Apa filosofi dibalik nama tersebut saya tidak tahu. Tapi yang jelas saya tidak mau ketinggalan rombongan, segera saya bergabung. Dalam perhelatan pertandingan persahabatan antar sesama anggota Uler Kubis yang diadakan seminggu sekali di Platt Lane (kompleks latihan sepak bola bekas akademi Manchester City) saya mendengar banyak cerita indah dari para senior. Tentang apa lagi kalau bukan petualangan  mereka di benua Eropa. Saking getolnya mereka jalan-jalan bahkan ada yang berseloroh begini, “kuliah itu jangan sampai mengganggu jadwal main bola. Jangan juga mengganggu jadwal jalan-jalan,” Yang ngomong begitu bukanlah mahasiswa biasa. Mereka pada umumnya mahasiswa hebat yang rata-rata penerima beasiswa. Dan saya pun semakin rapuh.

Uler Kubis players in action.




Saya hancur betulan ketika berkenalan dengan dua orang mahasiswa S3 yang dua-duanya masih sangat muda. Mahasiswa pertama adalah Media Wahyudi Askar, seumuran saya, anak Minang, mantan pentolan mahasiswa UGM, dan punya segudang prestasi. Satunya lagi Zulfikar Rakhmat, seorang difabel, berusia 23 tahun, punya reputasi internasional, pernah masuk Metro TV, dan kolumnis The Huffington Post! Pokoknya mereka berdua keren abis seabis-abisnya. Saat bincang-bincang ringan dengan mereka berdua di kediaman saya, mereka berbagi cerita tentang pengalaman mereka keliling Eropa. Indah betul cerita mereka. Membuat saya tidak nyaman lagi duduk. Pengen cepat-cepat ngambil koper, beli tiket, kemudian ke  bandara biar bisa ikut merasakan apa yang mereka ceritakan.

Bersama dua doktor muda (satunya 'akan'), Media dan Zulfikar.
Interaksi kompleks saya dengan kehidupan akademis dan social di bulan-bulan pertama di Manchester memperkenalkan saya ke dua kata: euro-trip. Dinamika kehidupan kampus yang lumayan menyiksa, kekeliruan saya dalam menilai diri sendiri, PD yang overdosis, membawa saya ke satu muara kehidupan baru meninggalkan idealisme kayangan saya sebelumnya. Muara itu apalagi jika bukan euro-trip. Ya, saya butuh jalan-jalan. Soal mengubah dunia, nanti saya pikirkan lagi  selepas pulang dari Eropa.

Saya, Media, dan Zulfikar sudah sepakat: di awal tahun 2016 kami akan jalan-jalan keliling Eropa bertiga.


Monday, February 12, 2018

S-E-A G-A-M-E-S


Langit Manchester kehilangan warnanya. Tertutup kabut musim dingin bulan Desember. Sementara sisa salju semalam masih menutupi trotoar jalan, membuatku agak lebih hati-hati dalam melangkah. Salah sedikit bisa jatuh berdebam ke aspal karena licin. Di pagi yang dingin ini Aku kebagian tugas mengantar Arsa ke sekolah. Ayahnya tidak bisa mengantar karena harus ke kampus. Sedang ibunya pagi-pagi buta sudah berangkat kerja.
Arsa terdaftar di Claremont Primary School kelas nursery atau setingkat PAUD usia tiga tahun. Di sekolah Arsalah Aku mengenang kembali masa kecilku khususnya setelah menyaksikan murid-murid disitu bermain pasir, naik turun seluncuran, duduk di ayunan, dan memanjat lingkaran sebentuk bola raksasa. Pengalaman anak-anak itu sama sekali tidak pernah Aku lewati dalam hidupku sebab pre-school dan Taman Kanak-kanak tidak dijumpai keberadaanya di kampungku. Satu-satunya sekolah yang ada wujudnya adalah SD Negeri 178/II yang pada tahun 1999 berganti nama menjadi SD Negeri 87/VIII setelah kabupaten Tebo resmi bercerai dengan kabupaten Bungo oleh sebab pemekaran.
Meski demikian, sungguh Aku tidak iri karena masa pra sekolahku sudah dipenuhi dengan petualangan hebat. Kegiatan bermain pasirku langsung di pulaunya yaitu di Pulau Bungin yang terbentang luas di tepi Batanghari. Jika air Batanghari surut, Aku dan kawan-kawan bermain seluncuran diatas tebing landai di tepinya. Tebing itu dipenuhi oleh lumpur hasil endapan ketika air Batanghari pasang yang ketika disiram dengan air permukaannya akan menjadi licin. Sangat pas untuk bermain seluncuran. Ayunanku juga ayunan alami menggunakan akar kayu yang menjuntai tepi Batanghari. Kami bergelantungan bak tarzan, melayang-layang, lalu terjun ke sungai. Sedangkan kegiatan memanjatku adalah memanjat pohon-pohon yang menjulang tinggi; pohon duku, mangga, rambutan, kelapa, jambu, dan segala macam pohon yang tumbuh di kampungku.
Namun tidak bisa Aku pungkiri bahwa saat kecil dulu Aku sangat ingin bersekolah. Di suatu pagi Aku khusyuk menatap ke arah anak-anak berseragam putih merah yang sedang bermain bola kasti di seberang jalan rumahku. Kebetulan rumahku berada tepat di depan SD. Dalam permainan kasti itu kulihat seorang anak melempar bola kemudian disambut dengan pukulan meleset oleh temannya yang berdiri di tengah lapangan. Anak-anak yang lain kemudian berebut mengambil bola yang jatuh untuk dilemparkan ke si pemukul yang berlari kencang menyelamatkan diri.
Di pagi yang lain Aku melihat barisan rapi dari kejauhan di halaman muka SD namun berantakan bila ku lihat dari balik pagar. Kali ini mereka mengenakan topi merah putih dengan gambar burung kuning tanpa kepala dengan posisi menukik ke bawah. Kelak, setelah memegang sendiri topi itu Aku baru sadar ternyata kepala burung itu adalah buku berwarna putih.
Barangkali Mak mengawasi rutinitas pagiku ini dan mencium aroma ketertarikanku yang sangat besar terhadap dunia sekolah. Suatu hari, tanpa Aku duga sebelumnya, Mak mengajakku ke sekolah. Aku tidak tahu apa maksudnya. Pikirku saat itu mungkin Mak hendak bertemu dengan salah satu guru disana untuk keperluan yang Aku tidak paham. Namun ternyata Mak ingin memasukkanku ke sekolah. Di ruangan kantor kepala sekolah, Aku dan Mak duduk berdampingan menghadap Pak Syarifudin, kepala sekolah SD ku. Setelah berbincang panjang lebar Pak Syarifudin akhirnya menolak permintaan Mak. Alasannya adalah umurku baru enam tahun sedangkan usia masuk sekolah paling sedikit tujuh tahun.
"Tolonglah pak..." Ucap Mak memelas.
"Beni ini sudah sangat ingin bersekolah. Kasian lihatnya tiap pagi duduk di depan rumah  menyaksikan anak-anak lain sekolah"
Dengan penuh keberatan, Pak Syarifudin menjawab.
"Bukan tidak mau bu. Beni ini masih kecil, belum waktunya bersekolah. Otaknya belum berkembang betul. Nanti dia kesulitan mencerna pelajaran. Kalau tinggal kelas kan tidak elok. Jadi tunggulah dulu setahun lagi".
Aku lihat wajah Mak berubah dari tadinya sangat antusias menjadi lesu penuh kekecewaan. Aku juga kecewa mendengarnya padahal Aku sudah memakai sepatu putihku hari itu. Sepatu kesayangan yang hanya Aku kenakan bila ke pasar Tebo. Mak memegang tanganku dan menuntunku menuju pintu keluar kantor. Tak ada lagi kata yang keluar dari mulut kami berdua sampai kembali ke rumah.
Meski gagal bersekolah Mak tidak membiarkan hasrat belajarku terbuang sia-sia. Setiap malam selepas Isya, Mak selalu mengambil buku bacaan dan mengajarkanku abjad. Aku menjadi tahu jika yang tegak berdiri seperti menara Eifel itu disebut ‘A’ sedangkan yang bunting adalah 'b'. Setelah belajar beberapa bulan Aku pun berani praktek di depan umum, tepatnya di rumah kakak Mak, Mak Wo Zoi. Kata Mak Wo adalah singkatan dari kata Mak Tuo yang dalam Bahasa Indonesianya adalah Mak Tua. Sedangkan Zoi adalah bentuk pendek dari Zoiyyah, nama lengkap Mak Wo. Mak Wo Zoi dipanggil Mak Wo karena dia anak paling tua dari sebelas orang anak Nyai Muna. Dalam hukum kekerabatan di kampungku seorang bibi seperti Mak Wo tidak hanya berposisi sebagai bibi tetapi juga sebagai ibu bagi keponakannya.
Mak Wo adalah di antara segelintir orang yang memiliki televisi di kampung. Hobi Pak Wo Zul – suaminya, Zulwahidin – terhadap acara olah raga mulai dari sepak bola, volly, tinju, hingga sepak takraw membuat Mak Wo rela mengumpulkan uang hasil menyadap karet demi bisa membeli kotak gambar itu. Saking maniaknya, Pak Wo tak pernah melewati perhelatan olahraga nasional maupun internasional selagi acara tersebut ditayangkan di televisi. Sea Games XVIII 1995 yang disiarkan secara exclusive oleh TVRI adalah salah satunya.
 Acara olahraga dua tahunan masyarakat Asia Tenggara ini diadakan di Thailand tepatnya di Chiang Mai dari tanggal 9 Desember sampai 17 Desember 1995. Hampir setiap hari khususnya dari sore sampai malam rumah Pak Wo penuh sesak oleh penonton. Mereka yang pagi-pagi ke kebun menjadikan ritual menonton pertandingan olahraga Sea Games sebagai obat penawar lelah. Aku juga hampir setiap saat hadir disitu menemani Pak Wo. Disamping rumah kami berdekatan, Pak Wo mengajakku tidak lain karena dia tidak memiliki anak. Sudah sekitar tujuh belas tahun Tuhan belum mengabulkan doa Pak Wo dan Mak Wo untuk memiliki seorang buah  hati.
Jika orang-orang fokus ke petarungan olah raga yang tersaji, fokusku agak berbeda. Aku mencoba memenangi pertarungan lain antara diriku dengan running text yang ada di TV. Entah  mengapa Aku selalu ketinggalan alias gagal membaca semua text yang ada. Menurutku orang yang di dalam TV membuatnya terlalu ngebut sehingga baru saja Aku memulai  mengeja, kata yang dieja sudah sampai  ke ujung dan menghilang. Begitu terus hingga hanya dihitung jari kata yang berhasil Aku tangkap dan itu biasanya yang pendek-pendek seperti D A N atau D I.
Meski demikian Aku tidak pernah lupa dengan kata Sea Games sebab kata ini selalu di tampilkan di layar televisi ketika ada replay atau break. Suatu kali Aku berhasil mengejanya diam diam dari S, E, A, G, A, M, E, hingga S lagi. Saking antusiasnya akan pencapaianku ini, tanpa sadar Aku baca tulisan itu dengan lantang hingga suaraku terdengar oleh orang-orang yang sedang menonton. Sontak saja mereka tertawa karena cara Aku membacanya bukan SI GEIMS melainkan S-E-A G-A-M-E-S dengan ejaan Indonesia. Mulai hari itu mereka memanggilku S-E-A G-A-M-E-S.
Sejatinya Aku belum menerima sepenuhnya ajaran mereka bahwa cara membaca Sea Games adalah SI GEIMS bukan S-E-A G-A-M-E-S versiku. Sudah nyata-nyata kata ini berawal dengan S, diikuti oleh E dan diakhiri oleh A yang bila digabung menjadi SEA. GAMES pun begitu. Eja saja dari G sampai huruf terakhir yaitu S Maka bacaan yang  sebenarnya adalah GAMES bukan GEIMS. Meski tak terima, Aku diam saja. Membantah mereka sama saja bunuh diri. Aku sendiri sedangkan mereka berpuluh-puluh.
Aku menjadi bahan olokan terkini mereka. Setiap kali  menonton televisi ada saja yang memanggilku S-E-A G-A-M-E-S. Yang paling suka menyebutku dengan kata itu adalah Datok Mat Petai. Nama aslinya adalah Muhammad. Iya hanya Muhammad. Tidak ada nama lanjutannya lagi seperti di negara barat yang biasanya memiliki nama tengah dan akhir. Bagi orang tua Datok Mat, Muhammad saja sudah cukup. Nama tak perlu panjang-panjang. Toh nanti menjadi pendek sendiri bila dipanggil. Muhammad contohnya. Betapa agung nama ini. Nama seorang rasul yang amat mulia. Meski demikian tidak ada masyarakat kampungku yang berkenan memanggil pemilik nama Muhammad secara utuh. Bagi kami ‘Mat’ sudah bisa membuat pemiliknya menoleh jika dipanggil.
 Muhammad tidak hanya korban satu-satunya nama yang indah menjadi singkatan. Mahmud dipanggil 'Mut', Abdullah 'Bdul' atau 'Dolah', Aisyah 'Esah', Mardiah 'Yah', Zuhdi 'Judi', dan Husni 'Sni'. Pemilik nama tidak hanya menderita dalam pemendekan nama saja melainkan juga embel-embel yang menjadi ciri khas orangnya. Datok Mat Petai misalnya. Dia ditambahkan Petai sebab sangat rajin menjajakan petai di sekeliling kampung. Maka lengketlah kata petai padanya. Sni dipanggil Sni Kutung, kutung berarti terpotong, karena salah satu jarinya ada yang terpotong. Manaf dipaggil manaf kurap karena sewaktu SD pernah kena kurap. Rizal dipanggil Jal Pendek karena badannya pendek. Muhammad yang lain dipanggil Mat Itam sebab kulitnya berwarna hitam. Penamaan seperti ini untuk keefektifan  komunikasi juga agar tidak salah orang. Sebab nama-nama di kampungku itu-itu saja. Dari Mahmud, Muhammad, Ahmad, Zulaiha, Abdul Manaf, Abdul Manan, Abdurrahman, dan semua jenis Abdul. Agar tidak salah orang dan bingung maka ditambahlah fitur yang menghubungkan sebuah nama dengan bentuk orangnya. Juga, nama-nama gaul ala barat belum laku  di kalangan orang tua mereka dulu sebagaimana saat ini. Tidak ada diantara Datok dan nenek di kampungku memiliki nama Jessica, Franky, Steve, atau Robert. Muhammad dan Siti lah nama yang digemari.
Kembali ke Datok Mat Petai. Dia adalah orang yang pertama dan paling utama Aku hindari bila bertemu. Teriakan S-E-A G-A-M-E-S nya amat khas dan menggangguku. Biasanya, setelah memanggilku dia tertawa terbahak-bahak.  Maka dari itu bila bersua dengannya di jalan, Aku pura-pura tidak tau. Sebisa mungkin Aku lari. Saat nonton tv di rumah Pak Wo tempat dudukku harus jauh darinya agar tidak tersiksa batinku. Yang tidak bisa Aku hindari adalah ketika berjualan sayur-mayur hasil dari kebun Mak Wo atau Nyai Muna. Biasanya siang-siang kira-kira jam 3 Aku bersepeda menjual apa saja yang diberikan kepadaku. Kadang bayam, ubi, katu, ketela, petai, kabau, jering, segala jenis sayur pokoknya. Sebagai seorang pedagang, tentu Aku harus melintasi segala penjuru kampung agar banyak yang melirik  dan membeli. Semakin ramai  suatu tempat semakin bagus prospekku untuk menghabiskan barang dagangan.
Kampung baruh hilir, hilir artinya di hilir sungai Batanghari, adalah salah satu tempat yang strategis. Banyak warung dan pohon mangga besar tempat orang ngumpul bertukar cerita. Salah satu warung yang ramai adalah warungnya Datok Mat Petai. Disitu pula biasanya pelanggan-pelanggan setiaku stand-by. Saat teriakanku menjajakan dagangan terdengar, Datok Mat Petai biasanya memanggil dan memintaku berhenti. Tentu saja dengan S-E-A G-A-M-E-S khasnya yang disertai dengan gelak terbahak. Ketika Aku singgah kadang banyak yang beli. Termasuk Datok Mat Petai. Namun kadang dia hanya iseng saja. Pura-pura hendak membeli padahal ingin menertawakanku dengan apa lagi selain S-E-A G-A-M-E-S.
Lama-lama tak tahan juga Aku akan ejekan Datok Mat Petai yang kian hari kian menjadi-jadi itu. Bagiku tetap saja bahwa bacaan SEA GAMES adalah S-E-A G-A-M-E-S bukan SI GEIMS. Bagaimana mungkin barisan huruf yang begitu jelas itu bisa berubah bunyinya ketika dibaca. Akhirnya kutanyakan pada Pak Wo perihal ini. Mengapa sampai hati bacaan SEA GAMES dikhianati oleh Datok Mat Petai dan kawan-kawan.
"Memang Bahasa Inggris begitu. Lain di tulis lain di baca." Jawab Pak Wo suatu ketika. Aku jadi mengerti ternyata SEA GAMES itu menggunakan bahasa yang disebut Bahasa Inggris.
Setelah duduk di bangku sekolah, Aku menjadi semakin penasaran dengan Bahasa Inggris. Terlebih lagi Bahasa Inggris tidak diajarkan di sekolahku. Maka untuk memenuhi rasa ingin tahuku, pernah Aku ke kampung baruh ke rumah Nyai Muna mencari contoh lain dari bahasa yang kuanggap aneh ini tepatnya di buku tulis Busu. Busu adalah panggilan untuk anak paling bungsu nenek yang sedang duduk di bangku MTs atau Madrasah Tsanawiyah. Karena MTs tingkatan sekolah yang tinggi menurutku, barangkali banyak pelajaran Bahasa Inggrisnya.
Sesampai di rumah Nyai Muna Aku langsung menuju kamar Busu yang letaknya disamping ruang tamu. Busu tidak disana. Mungkin masih bermain diluar dengan temannya. Buku tulis Busu  tersusun rapi diatas meja. Aku ambil satu dan kubuka.  Tidak ada kata yang dari bahasa yang kucari. Aku ambil lagi buku yang lainnya. Kali ini kulitnya bergambar seorang wanita yang tengah tersenyum  manis. Dia kukenal dengan nama PARAMITHA RUSADY.
Tepat di belakang artis yang punya tahi lalat dibawah bibir kanannya itu, di tengah-tengah kulit buku, Aku menemukan apa yang Aku cari: serangkai goresan pena bertuliskan I LOVE YOU. Tulisannya miring seperti kapal sarat penumpang. Di bawahnya, tertulis dua baris kata lain secara mendatar:

NO TIME
FOR LOVE


Sekali lagi kubaca sejujur-jujurnya tanpa ada yang dikhianati. Seperti apa ia ditulis seperti itu juga Aku baca.