Friday, December 22, 2017

Senyuman Yang Tak Terlupakan


Aku dan Mak tergopoh-gopoh. Mak menjinjing seember cucian di tangan kanannya sementara tangan kirinya membawa ember sabun. Aku sendiri berjuang dengan sebuah jerigen air 5 liter yang kujinjing dengan kedua tanganku. Kami berdua baru saja dari sungai Batanghari untuk melaksanakan hajat hidup sehari-hari; mandi, mencuci pakaian, mencuci piring, dan tentu saja mengambil air minum untuk dimasak.
Sungai Batanghari merupakan denyut nadi kehidupan bagi keluarga, masyarakat kampung, dan hampir setiap kepala di kabupatenku khususnya mereka yang tinggal di pinggiran sungai terpanjang di Sumatera ini. Kepadanya kami pergi jika haus. Di dalamnya kami mencari ikan jika lapar. Dengan airnya kami  membersihkan diri dan segala harta benda yang kami punya. Ke sisinya kami membuang kotoran mulai dari kotoran manusia sampai kotoran yang dibuat oleh manusia seperti sampah plastik. Pentingya peran sungai Batanghari bagi hidup kami adalah hal yang wajar sebab sumur masih menjadi simbol kekayaan dan WC masih menjadi sarana kemewahan.
Mak memintaku yang berjalan di belakangnya untuk mempercepat langkah. Dia khawatir hari yang spesial ini akan terlewatkan atau Aku terlambat. Kami menyusuri jalan setapak di belakang rumah Pak Wo. Jalan ini adalah akses utama dari dan ke sungai Batanghari bagi orang-orang di darat di sekitar rumahku. Jalannya tidak besar apalagi terang. Hanya bekas pijakan kaki saja yang lama-lama mematikan rumput kemudian meyerupai jalan. Di sepanjang jalan masih semak belukar yang diberi nama oleh tetua kampung Lebung Kalang. Penamaan ini bukan tanpa alasan. Lebung Kalang memiliki beberapa lobang besar berlumpur tempat kerbau berkubang atau mandi. Bentuk Lebung Kalang pun menyerupai lobang, berlereng seperti tempat orang main skateboard atau seperti kolong yang di belah tengahnya.
Di musim hujan Lebung Kalang berisi penuh dengan air yang membuat pohon-pohon rengas besar tinggi yang ada sekitarnya seolah tenggelam. Jika ingin ke sungai Batanghari kami harus memakai perahu untuk mencapai seberang Lebung Kalang sebab air Lebung Kalang bisa menyebabkan merah-merah dan gatal di kulit karena terkontaminasi dengan pohon rengas. Kata Kalang sendiri merujuk kepada situasi ketika air surut dan mengering. Kondisi ini membuat ikan kalang terperangkap di kubangan kerbau yang ada disana sebab hanya kubangan kerbaulah yang masih ada airnya. Biasanya situasi ini mengundang banyak orang untuk menangkap ikan-ikan kalang itu.
Sesampai di rumah Aku dan Mak meletakkan semua barang. Jerigen Aku tarok di dapur begitu juga dengan ember sabun dan cucian. Semuanya duduk manis berjejer di dapur kami yang masih berlantai tanah itu. Mak segera menuju kamar dan keluar dengan sepasang pakaian. Baju putih dan celana merah. Dengan gerak cepat dia mengenakan baju yang telah lama kuidamankan itu. Bajuku yang terjurai lalu diselipkannya ke dalam celana merahku. Kutatap kaca di depanku. Penampilanku tampak berseri. Ada rasa bahagia, bangga, puas, bercampur aduk menjadi satu yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata ketika mengenakan seragam merah putih itu.
Mak membuka lemari di depanku kemudian meraih kaleng cekung berbentuk oval yang ketika dibuka mengeluarkan bau harum semerbak. Aku ambil tutupnya sementara Mak mencelupkan jari telunjuknya ke dalam kaleng yang berisi sesuatu berbentuk lilin namun lembut itu. Warnanya hijau seperti sabun cuci batang. Mak ambil secuil lalu mengacak-acak rambutku hingga membuatku kesulitan membaca M-I-N-Y-A-K R-A-M-B-U-T L-A-V-E-N-D-E-R yang tertulis di tutup kaleng yang sedang ku genggam. Setelah itu Mak membagi rambutku dengan sisir. 3/4 ke arah kanan dan 1/4 nya lagi ke kiri dengan garis pembatas lurus di antara keduanya. Aku lihat ke kaca rambutku berubah menjadi hitam legam. Mengkilap. Sama mengkilapnya dengan keningku yang juga kebagian usapan tangan Mak.
SDN 178/II disesaki oleh pasukan merah putih. Ada yang bertopi ada yang telanjang kepala. Ada yang bajunya dimasukkan ke dalam celana ada juga yang dibiarkan terjurai keluar. Di sekolah Aku duduk di bangku barisan depan.  Biar cepat menangkap pelajaran kata Mak. Soal pelajaran mengeja aku tidak perlu risau karena Aku sudah pandai membaca. Buah dari didikan Mak di rumah dan praktekku di rumah Pak Wo.
Selama jam pelajaran seringkali kulihat Mak berdiri di jendela sekolah, menyaksikanku menimba ilmu. Bibirnya tak henti-hentinya tersenyum. Senyuman yang dulu belum bisa Aku mengerti. Kini setelah bertahun-tahun berlalu aku menyadari kalau itu adalah senyum kebanggaan. Mak lega, anak pertamanya akhirnya sekolah juga setelah satu tahun menunggu. Tak pernah kulupa senyum Mak itu hingga hari ini.


Thursday, October 26, 2017

"Macam Mana Suara Ungka, Nak?"



Pendidikan memang tidak diragukan lagi merupakan alat paling besar efeknya dalam mengubah kehidupan umat manusia. Namun, pendidikan tidak hanya didapat dibangku sekolah saja. Setiap jengkal planet bumi ini sejatinya menawarkan pendidikan bagi penghuninya. Jika tidak percaya, tanyakan saja pada nenekku, seorang wanita buta huruf yang telah mengubah hidupku dan masyarakat kampungku.
Dia dipanggil Muna, singkatan dari nama lengkapnya, Maimunah. Nyai, begitu kami di desa Teluk Langkap memanggil nenek, menikah di usia belia yaitu enam belas tahun. Tidak ada istilah child marriage di kampungku sebab seorang gaids yang telah pandai mencuci piring, menanak nasi, mengembala kerbau, atau membantu orang tua di sawah sudah dianggap mampu serta pas untuk membina rumah tangga. Lagian, berlama-lama melajang juga tidak ada gunanya. Sekolah formal tidak ada. Jika mau sekolah, mesti bersepeda menempuh semak-semak ke pasar Tebo yang waktu tempuhnya bisa lebih dari dua jam. Jadi, menikah sudah barang tentu sebuah pilihan yang logis untuk mengisi waktu kosong.
Sekolah kehidupan telah merubah Nyai Muna. Dia yang tidak bisa baca tulis itu jarang ditemui di rumahnya. Selalu saja dipanggil masyarakat kampung untuk membantu ibu-ibu hamil tua mengeluarkan anaknya dari perut. Kehebatan Nyai Muna dalam aktivitas perbidanan dimata masyarakat desa Teluk Langkap tidak disangsikan lagi. Telah berpuluh-puluh bayi yang berhasil mendarat ke dunia dalam keadaan segar bugar, termasuk aku sendiri dan belasan sepupuku. Semua dari kami lahir dengan selamat, sehat wal afiat tidak kurang satu apapun.
Aku  dilahirkan di sebuah rumah panggung khas orang Melayu yang tidak begitu besar, hanya sekitar 6x10 meter persegi saja. Rumah itu dimiliki oleh Nyai Muna dan kakekku, Datuk Hasan. Dibawah rumah Nyai tercacak tiang-tiang tinggi dari kayu bulian sebagai bentuk pertahanan diri dari dua tamu yang kerap datang meski tidak diundang: serbuan air Sungai Batanghari saat musim hujan dan harimau lapar yang mencari pengisi perut.
Kata Mak, panggilanku untuk Ibuku, setelah beberapa bulan aku dikirim ke dunia, Ayah membawaku merantau jauh ke tempat yang tidak dihuni manusia, yaitu hutan belantara yang terletak di seberang kampung. Kami menamakannya Talang. Talang berjarak sekitar 14 km dari kampungku. Untuk mencapai Talang tidak mudah. Jalannya hanya tanah kuning dengan lobang-lobang besar yang berubah menjadi kolam lumpur jika diguyur hujan. Kalau sudah begini biasanya sepeda motor akan sulit menempuh. Bannya bisa terbenam di dalam tanah liat yang sangat lengket itu. Maka masuk akal jika Ayah selalu membuka sandalnya setiap kali pulang pergi ke Talang biar bisa dengan mudah mendorong sepeda motor dengan kedua kakinya dalam kubangan lumpur itu.
Bermodalkan tekad untuk memiliki masa depan yang lebih baik, atau kata Ayah agar aku bisa bersekolah tinggi esok hari, kami bertiga mesti pindah ke Talang. Kami harus menaklukkan rimba liar dan megasingkan diri dari hiruk pikuk manusia. Visi Ayah adalah beberapa tahun ke depan ketika aku sudah di bangku sekolah, rimba ini telah menjadi kebun karet keluarga. Tiap tetes getahnya diharapkan bisa mengongkosi pendidikanku, menyambung impian Ayah yang dulu putus sekolah.
Dalam hutan belantara itu Ayah mendirikan sebuah pondok kecil berukuran 3x2 alias 3 meter panjang dan dua meter lebar. Rumah keluarga pertama kami ini berdinding papan dan beratapkan daun rumbia dengan tiang-tiang yang menjulang tinggi agar beruang atau harimau sumatera tidak mengusik tidur kami. Untuk penerangan hanya ada lampu minyak tanah sebab listrik belum ada. Jangankan di tengah hutan begini, di kampungku saja aliran listrik masih belum sampai.
Pondok kami adalah pondok yang terasing. Tidak ada tetangga, tidak ada lingkungan social. Yang ada hanyalah rimba raya dengan segala macam penghuninya. Inilah yang membuat Mak ketakutan setiap malam jumat karena pada malam itu hanya ada Mak dan Aku di pondok. Ayah pulang ke kampung setiap sore kamis. Tidak bisa mengikutsertakan Aku dan Mak sebab sepeda motornya sudah penuh sesak oleh hasil hutan yang akan dijual kepada masyarakat kampungku dan masyarakat kampung tetangga. Jadi tinggalah Mak dan Aku di dalam pondok yang terpencil di tengah rimba liar itu. Suara-suara aneh di dalam rimba yang bunyinya macam-macam yang tidak pernah ditemui di desa, membuat bulu kuduk merinding. Untuk menjaga keselamatan kami berdua, biasanya Mak langsung mengunci pintu erat-erat bila hari sudah mulai gelap. Air wudhu untuk sholat Isya sudah lebih dulu Mak ambil di sungai. Dibawa ke pondok ketika berwudhu untuk sholat Maghrib.
Hasil hutan yang Ayah jual beragam; petai, jering, kabau, buah tampui, buah cempedak, daging hasil jerat seperti daging kancil, daging rusa, daging kijang, daging napuh, daging burung kuau, sampai buah durian daun. Uang hasil dari penjualan ini kemudian dibelikan ke kebutuhan pokok sehari-hari seperti beras, minyak makan, garam, gula, bawang, dan kebutuhan dapur lainnya. Selain untuk keperluan dunia, Ayah kembali ke kampung di setiap sore kamis juga untuk keperluan akhirat. Sudah menjadi prinsip Ayah kalau laki-laki tidak boleh meninggalkan sholat Jumat. Ayah baru kembali lagi ke Talang sore Jumat untuk bersatu kembali dengan Aku dan Mak.
Waktu terus berjalan, bibit karet yang Ayah tanam kini sudah mulai meninggi, sama seperti Aku yang sudah bukan bayi lagi. Ini artinya kami bertiga tidak perlu lagi menginap jauh dari keramaian sebab dalam kondisi demikian kebun sudah bisa ditinggalkan. Hanya saja Ayah harus rajin-rajin mengecek dan mengawasinya beberapa hari dalam seminggu sebab gajah-gajah liar yang berasal dari Taman Nasional Bukit Tigapuluh sering melancong kesana dan memakan atau memijak tanaman karet yang ada.
Kami bertiga beranak tidak tinggal di rumah Nyai Muna sekembali dari Talang. Ayah mengajak Aku dan Mak tinggal di sebuah toko kecil tepat di samping kanan rumah Nyai. Toko itu mulanya tempat berdagang Datuk Hasan. Karena kehabisan modal terpaksa ditutup. Sejak saat itulah tokonya tak berpenghuni.
Selang beberapa tahun, akhirnya pada tahun 1995 rumah yang Ayah bangun di darat - sebutan untuk lokasi daerah hunian baru di tepi jalan Padang Lamo yang pada waktu itu sedang diperbaiki - sudah siap untuk di huni. Kami pun pindah lagi. Rumah baruku tidak begitu besar dan belum benar-benar jadi. Lantainya masih tanah. Dinding belum dilapisi dengan semen. Masih bata merah. Jendela belum ada daun pintunya. Hanya ditutupi dengan papan yang dipaku saja. Untuk sekedar berlindung dari panas dan hujan, rumah kami sudah cukup layak untuk dihuni.
Pengalamanku beberapa tahun di dalam hutan memberikan bakat yang tidak dimiliki oleh anak-anak lainnya di kampungku. Aku dengan lihai dan fasih bisa meniru beberapa suara binatang di hutan seperti suara ungka, harimau, dan beruk. Tak heran jika setiap kali aku dibawa pulang, kaum kerabatku, paman dan bibi sambil menggendongku kadang bertanya "Macam mana suara ungka nak?". Dengan lihainya aku melolong "uuk...uuk..uuk.." Dan mereka pun tertawa terbahak.





















Wednesday, October 25, 2017

‘Are You Gonna Miss Me?’


‘Are you gonna miss me?’ Tanyaku pada Arsa yang tengah mengambil beberapa buku di raknya untuk dibawa ke sekolah.
'No, I'm not!' Jawabnya ketus.
Arsa memang pandai meniympan perasaan dalam-dalam dilubuk hatinya. Itulah yang membuatku kasihan untuk meninggalkan adikku selama tinggal satu tahun di Manchester itu. Ayah ibunya, Pak Zen dan Mbak Mira, sedang berhaji. Sekarang Aku pula yang harus meninggalkan dia. Untuk sementara waktu Arsa diurus oleh Uni Media dan Uda Munas. Mereka berdua adalah sepasang suami istri yang sedang S3 di Manchester, sama seperti Pak Zen. Keputusan Pak Zen menitipkan Arsa dan kakaknya, Andrea, kepada Uda Munas dan Uni Media adalah agar mereka berdua memliiki teman main. Arsa bisa bermain dengan anak laki-laki Uda Munas, Sean sedangkan Andrea bisa bermain dengan Sachio, anak perempuan tertua pasangan asal Sumatera Barat itu.
Kupeluk Arsa dari belakang. Namun Arsa tetap tidak bergeming seolah tidak merasa sedih sama sekali akan perpisahan kami. Seketika air mataku jatuh berderai mengenai sweater yang dikenakan oleh Arsa. Terkenang olehku momen-momen seru yang kami lewati bersama. Belanja jajanan di Asda sambil makan coklat pas pulangnya. Bercerita seru saat berangkat ke sekolah di pagi hari. Selfie bersama di kamar sambil memasang wajah monster. Bertarung ala Spiderman. Ah, banyak sekali kenagan yang telah terukir. Tak mampu rasanya berpisah dengan adik sekaligus sahabatku itu. 
           Diluar sana tampak jelas kalau musim gugur telah mengintip, pertanda Summer di Manchester akan segera berakhir. Dedaunan yang semula berwarna hijau segar kini sudah mulai menua. Tak lama lagi daun-daun itu akan berubah menjadi kuning, merah, kemudian, jatuh berguguran..menyajikan pemandangan indah nan menyejuk mata. Tumpahan dedaunannya menjadikan taman-taman berwarna warni bak negeri dongeng yang berubah menjadi nyata.
Ujung musim panas ini menandakan akhir dari petualangan intelektualku di negeri Ratu Elizabeth, Inggris. Aku tidak akan mendaptakan belaian angin segar musim gugur yang sejuknya dapat memulihkan pikiran yang kalut. Pun Aku tidak perlu lagi dibalut jaket tebal setiap kali keluar rumah sebab di pagi yang sedikit mendung ini Aku akan terbang jauh ke tenggara kembali ke pelukan ibu pertiwi. Ah..waktu seperti punya kaki untuk berlari. Rasanya baru kemarin Aku tergopoh-gopoh menenteng kopor di bandara Manchester. Hari ini Aku sudah melakukan hal yang sama lagi. Tapi bukan sebagai tamu melainkan sebagai orang yang akan pergi.
Sembari menyusuri jalanan kota Manchester yang tak begitu padat, kukenang kembali lika-liku perjalanan hidupku yang terdiri dari lembaran-lembaran cerita. Setiap lembarnya kuisi dengan semangat yang tak kenal patah, demi mencapai impian terbesar hidupku. Mimpi yang besar itu kemudian menghadiahkan beragam cerita hebat, mengantarkan kakiku hingga ke lima benua; Amerika, Australia, Asia, Eropa, dan Afrika. Di setiap benua Aku disuguhkan pengalaman-pengalaman yang tak terlupakan. Berdiri khidmat menyaksikan bentangan luar biasa The Grand Canyon di Arizona, menaiki ferry dimuka The Opera House di kota Sydney, duduk bersimpuh didepan menara kembar Petronas di Kuala Lumpur, menonton sepak bola di Old Trafford di Manchester, dan menaiki onta menyusuri gurun Sahara di Maroko. Plus Aku juga menjelajahi daratan Eropa, dari Oslo trus ke timur sampai Budapest bersama dengan sahabat karib yang juga seorang pejuang mimpi,  Zulfikar. Fikar adalah seorang difabel yang berkali-kali dipatahkan semangatnya dalam mewujudkan impian ke Inggris. Dunia menjadi saksi betapa celaan mereka yang ragu dulu adalah sesuatu yang salah sebab Fikar saat ini sudah hampir menyelesaikan studi S3nya di Manchester.
Lembaran cerita hidupku tidak semuanya ditulis bertintakan emas. Ada juga yang menggunakan tinta biasa yang kabur karena tetesan air mata. Air mata itu berguguran karena mimpi menuntut perjuangan. Mimpiku adalah mimpi yang dirajut dengan benang-benang kegagalan. Mimpiku adalah mimpi yang dihidupkan melalui medan jalan berkerikil tajam yang beberapa kali membuatku jatuh, terluka, dan merintih. Mimpiku adalah mimpi yang diragukan hingga memaksaku selalu menutup telinga dari nada-nada sumbang penggugur semangat.
Aku ditakdirkan Tuhan untuk terlahir sebagai anak desa dengan segala keindahan masa kecil yang tercipta dan semangat yang menggelora di dada. Aku ingin membuktikan bahwa anak kampung tidak semuanya kampungan. Anak desa tidak boleh selamanya dipandang sebelah mata. Api semangat ini terus kupelihara agar tidak padam. Panasnya selalu terasa di dalam aliran darahku dimanapun Aku berada, menjadi penggerak jiwa dan ragaku dalam menapaki lika-liku perjalanan hidup.
Jalan hidup yang telah Aku pilih adalah jalan mimpi yang kuisi dengan semangat perjuangan yang tak pernah mati. Jalan ini tidak hanya menuntut perjuangan tetapi juga pengorbanan. Begitulah hidup. Begitulah mimpi. Selalu menuntut harga untuk setiap keberhasilan yang diperoleh.
Busku telah sampai di bandara. Itu artinya Sebentar lagi Aku akan kembali ke tanah air. Cerita hidupku yang sampai ke lima benua ini mestilah Aku bagi dengan saudaraku di tanah air. Agar apa yang Aku dapat bisa bermanfaat bagi orang banyak. Syukur-syukur jika banyak generasi bangsa yang mengikuti jejak langkahku, berpetualang ke berbagai penjuru dunia, menimba ilmu dan pengalaman demi kebaikan tanah air tercinta di masa yang akan datang. Sebagai negara yang besar, Indonesia harus diisi dengan insan-insan muda yang punya semangat tinggi, cukup ilmu, dan kenyang pengalaman agar Indonesia dapat berdiri sama tinggi dengan bangsa lain. Bila perlu Indonesia berdirinya harus lebih tinggi lagi hingga ke atas awan.
Inilah cerita hidupku, seorang anak desa biasa yang memilih untuk hidup sebagai seorang pemimpi. Kupersembahkan cerita hidupku ini buat negeriku, Indonesia.


       Muhammad Beni Saputra
     Manchester, 6 September 2016