Sunday, June 30, 2019

Aku Akan Terus Berjuang





Hari-hari yang mendebarkan akhirnya usai. Tepatnya subuh ini Aku diberi kabar yang telah lama Aku tunggu. Setelah membuka mata Aku bergegas bangkit dari kasur menuju meja TV. Disana tergeletak HP Nokia kesayanganku. Tanpa banyak basa-basi Aku langsung mengecek email. Benar saja ada satu email yang masuk. Jantungku mulai berdebar. Aku buka email itu dan kubaca.




Begitulah bunyinya. Aku tercenung. Sekujur tubuhku lunglai. Kusandarkan badanku ke dinding kemudian Aku baca kembali email itu. Kalau-kalau mataku salah tangkap di email itu. Tapi apa hendak dikata isinya memang betul-betul begitu. Mataku tidak silap.


Dengan tubuh yang masih lemas aku berdiri. Kuletakkan HPku kembali ke tempatnya semula dan bergegas ke kamar mandi. Sholat subuhku mendadak lebih khusyuk dari biasanya.

Hari itu hari Minggu. Seperti orang makan gaji lainnya aku tidak masuk kerja. Untunglah. Aku tidak perlu memaksa diri bermanis-manis muka di hadapan teman-teman kerja padahal hatiku hancur lebur. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri sembari menganalisis keadaan.

Hari Minggu itu kuhabiskan di rumah bercengkrama dengan Aisha anakku dan istriku tersayang. Tawa Aisha yang lepas membuatku sedikit bersemangat. Seolah-olah anakku yang baru punya gigi tiga pasang itu bergumam kepadaku, “Don't worry about a thing, 'Cause every little thing gonna be alright”, persis seperti alunan suara Bob Marley.

Ketika istriku memasak di dapur Aku kebagian menemani Aisha bermain ditengah perasaanku masih galau seputar mimpiku yang belum tercapai itu. Aisha usianya hampir genap delapan bulan. Dan dia tengah asyik-asyiknya belajar berdiri. Hari itu dia beberapa kali mencoba berdiri dengan kaki yang masih belum  terlalu kokoh. Sesekali dia hampir jatuh tapi dengan menjaga keseimbangan dia berhasil tetap tegak. Tidak jauh dari tempatnya berdiri ada sebuah kaleng roti. Dia ingin menjangkau kaleng itu. Tapi tidak berhasil. Aisha pun jatuh dengan keningnya mencium lantai. Dia menangis sebentar kemudian beranjak lagi ke tempat lain dan mencoba menjangkau benda lain  lagi. Kepalanya pun terbentur lagi. Dalam pengamatanku tak dapat Aku hitung entah berapa kali dia terjatuh dan terbentur. Tapi Aisha tidak pernah berhenti mencoba apa yang dia ingin coba. Dan dia juga tidak pernah jera mencapai sesuatu yang ingin dia capai.

Aisha merupakan contoh sekaligus sumber motivasi yang hebat bagiku. Ada banyak pelajaran yang dapat aku ambil darinya bahwa tidak ada yang namanya kegagalan. Ketika terjatuh, menangislah seperti Aisha. Tapi jangan berlama-lama. Air mata harus cepat kering dan perjuangan mesti terus dilanjutkan. Tak kusangka pelajaran yang amat berharga ini, yang esensinya sudah hampir hilang dari hidupku, aku dapatkan kembali dari anakku yang belum bisa berbicara itu.

Harus aku akui jika kegagalan mendapatkan beasiswa S3 Australia Awards amat membekas di hatiku. Meski demikian, cerita pahit ini juga memberikan hikmah yang besar. Karena upayaku belum berhasil Aku menjadi bisa melihat diriku bukan dari kacamata diriku. Barangkali selama ini, dan mungkin itu tercermin di essay beasiswa yang aku tulis, aku terlalu percaya diri. Terlalu menganggap diriku besar dengan semua yang aku capai selama ini. Mungkin Aku terlalu yakin jika beasiswa S3 akan Aku dapatkan dengan mudah karena Aku, tentu saja menurut pendapatku sendiri, sudah pantas mendapatkannya sebab Aku adalah too good to be rejected. Setidaknya Aku sudah membuktikannya dengan meraih beberapa beasiswa di masa lalu. Ah, terlalu pede-nya diriku...

Kegagalan ini tiba-tiba mengecutkan semangatku dengan menampilkan gambar menakutkan bagi masa depanku. Aku menjadi memikirkan hal-hal yang tidak perlu yang berdasarkan kemungkinan-kemungkinan yang banyak di antaranya negatif. Tapi aku bertekad melawan semua itu. Aku harus kuat. Aku harus memofuskan pikiran kepada kemungkinan-kemungkinan positif. Satu pintu yang tertutup tidak berarti tidak ada lagi pintu yang terbuka. Masih banyak pintu-pintu lain yang bisa aku ketuk dan masuki. Kalaupun semua pintu itu tidak terbuka untukku bukanlah berarti itu akhir dari hidupku. Teka teki kehidupan penuh kejutan yang tentu saja punya kabar baik. Yang paling penting bagi diriku adalah terus berusaha memperbaiki diri agar bisa menjadi pribadi yang berkualitas. Dengan semua usaha itu Aku yakin Allah akan memberikan masa depan  yang terbaik.

Kegagalan ini membuatku menyadari banyak hal yang tak pernah terpikirkan selama ini. Dan Aku sudah bertekad untuk memperbaiki keadaan demi mencapai impianku. Aku harus ‘melupakan’ kejayaan di masa lalu dan memulai segala sesuatunya dari nol. Aku harus memperbaiki cara pandangku terhadap diriku, lebih-lebih terhadap apa yang sudah Aku capai selama ini. Aku harus menempatkan kakiku kembali ke tanah seperti tahun-tahun terdahulu ketika Aku belum pernah mencapai impian-impianku. Aku harus mengembalikan mentalku yang dulu yang selalu ingin berjuang di tengah keraguan. Aku harus menurunkan egoku yang kadang melihat diriku terlalu besar dan penting. Aku harus meresapi pesan-pesan motivasi yang Aku sampaikan kepada orang-orang bahwa kegagalan itu adalah bagian dari keberhasilan. Aku harus menjadi seorang Beni yang baru dengan semangat Beni yang dulu.

Hari ini aku tegaskan bahwa Aku tidak akan menangis pilu karena kegagalan ini. Aku akan terus berjuang karena Aku yakin my time will come!

CBM B22
June 30, 2019
8.09 am

Thursday, January 17, 2019

#tenyearscallenge


Saat ini Facebook sedang dilanda demam nostalgia berjudul #tenyearscallenge. Foto-foto tahun 2009 disandingkan dengan foto 2019 untuk melihat perubahan apa saja yang telah terjadi pada diri peng-upload foto. Saya sendiri sempat tergoda untuk melakukan hal serupa tapi kemudian mengurungkan niat. Alasannya? Foto-foto saya di zaman terdahulu mayoritas tanpa ekspresi. Maklum, masih mengidap sindrom tidak PD depan kamera. Hehe…

Tapi, dalam edisi kali ini saya tidak akan panjang lebar membahas muka datar saya ketika dijepret tukang foto. Tidak juga saya akan membebani pembaca dengan tuntutan melihat foto-foto culun saya tahun 2009 dulu. Saya hanya ingin mengenang satu decade perjalanan dua akun media yang  sering saya gunakan. Ya, pada tahun 2019 ini genap sudah 10 tahun usia blog ini dan akun Facebook saya.

Keduanya memiliki latar belakang yang berbeda perihal mengapa mereka dilahirkan. Adapun blog ini berlatar belakang ekonomi. Saat itu, sebagai mahasiswa kere, saya tergoda dengan ide yang sedang booming yaitu menghasilkan uang melalui blog. Caranya mirip dengan media lainnya yaitu konten yang kita sediakan di blog mesti dibaca oleh banyak orang. Singkatnya, blog kita harus memiliki pengunjung harian yang banyak agar perusahaan mau memasang iklannya di blog kita. Tapi sialnya saya tidak tahu harus diisi dengan apa blog saya pada waktu itu. Jika diisi dengan tulisan malangnya saya belum bisa menulis dengan baik, benar, apalagi panjang lebar. Karir kepenulisan saya masih berumur satu tahun semenjak masuk ke IAIN STS Jambi. Itu pun cuma sebatas menulis makalah. Atau lebih tepatnya lagi meng-copy-paste makalah orang atau buku orang. Alhasil, untuk memuat tulisan karya sendiri pastinya saya tidak bisa.

Pikir punya pikir, saya mendapatkan ide. Saya masukkan saja makalah saya ke blog ini. Makalah yang copy-paste tadi tentunya. Harapan saya amat muluk, siapa tahu ada 20.000.000 penduduk Indonesia yang mengakses makalah ini. Dengan begitu saya bisa kebanjiran iklan. Harapan ini harapan semu tentu saja. Sebab, siapa pula yang mau merujuk makalah KW yang kualitas dan kredibilitasnya masih berada di level anak SMP yang jarang berangkat ke sekolah.

Saya tidak kehabisan akal. Dan bahkan lebih termotivasi untuk mengejar online fulus. Saya pun melakukan hal yang lebih tidak terpuji lagi. Apa itu? Saya copy-paste artikel-artikel di Kaskus kemudian saya masukkan ke blog saya. Ini tidak terpuji karena saya tidak mencantumkan sumber aslinya. Tapi tetap saja tidak berhasil menjadikan saya pemuda kaya berkat blog sebagaimana yang dibahas di dalam buku-buku motivasi itu.

Postingan perdana di blog.

Tahun berlalu, bulan berganti. Saya akhirnya lupa dengan iming-iming uang hasil ngeblog. Saya pasrah. Atau lebih tepatnya menyerah. Kesimpulan saya adalah memang saya tidak berbakat dalam dunia mata pencaharian melalui blog. Tapi, ternyata Tuhan memiliki rencana lain. Tahun 2012 saya berkenalan dengan pemuda Sabang yang kece badai yang prestasi dan reputasinya sudah berada di jajaran para ‘wali’. Dia adalah bang Hijrah Saputra. Kami berkenalan ketika berlayar keliling Indonesia Timur dalam program Sail Morotai 2012.

Ceritanya bermula ketika saya mengutarakan keinginan untuk backpacking ke Malaysia. Kebetulan bang Hijrah sudah pernah kesana. Bang Hijrah kemudian bilang bahwa saya tidak perlu mengumpulkan uang agar bisa ke Malaysia. “Ada program gratis kesana asalkan punya blog. Saya sendiri pernah ikut.” katanya. Saya amat tertarik karena saya memang punya blog walaupun sudah lama vacuum.

Selama di kapal saya satu grup dengan bang Hijrah dan satu tempat homestay di Ternate. 

Desember 2012 bang Hijrah menghubungi saya bahwa program tersebut, My Selangor Story, sudah buka. Dan saya pun ikut menyumbang tulisan. Sebulan berlalu para finalis diumumkan. Alhamdulillah, saya dan bang Hijrah termasuk ke dalam daftar 18 finalis dari Indonesia dan Malaysia. Kami pun diberangkatkan ke Malaysia, nginap di hotel berbintang, menyantap makanan lezat, dan hilir mudik mengunjungi beberapa tempat wisata di sekitaran Selangor. Berita baiknya adalah semuanya gratis tis tis tis…

Selama program My Selangor Story 2013 saya juga 'dipasangkan' dengan bang Hijrah sehingga kami selalu sekamar hotel. Beruntungnya.

Grup foto dengan finalis lain.

Briefing di mall Wholesale City.

Belum afdol kalo belum foto di mari.
Itu cerita singkat tentang blog ini. Tentang akun Facebook saya lain lagi. Di 2009 ke bawah warnet-warnet di Kota Jambi yang jumlahnya masih hitungan jari pada waktu itu belum disesaki oleh Facebookers. Friendster masih primadona dengan fitur testimony dan latar belakang foto pribadinya. Namun dalam waktu singkat Facebook berhasil merebut hati Friendster maniak termasuk saya. Alasannya adalah Facebook punya fitur yang lebih canggih dibandingkan Friendster seperti fitur chatting dan komen-komenan. Saya pun bermigrasi ke Facebook dan melupakan Friendster. Dan kini Friendster sudah tiada, musnah digilas pesaing.

Postingan Facebook pertama.

Dalam rentang waktu 10 tahun banyak pelajaran sekaligus manfaat yang saya petik dari blog ini dan Facebook. Putellaking.blogspot.com telah mengajarkan saya arti sebuah perjuangan dan rencana Tuhan. Bahwa dalam berjuang haruslah jujur kepada diri sendiri sebab ketidakjujuran menyulitkan kita meraih keberhasilan. Dan ketika kita merencakan sesuatu namun belum berhasil, kadang Tuhan punya rencana lain yang tidak kalah indahnya. Blog ini memang tidak mewujudkan impian saya menjadi mahasiswa berduit, tapi dia membawa saya meraih impian lain yaitu berangkat ke Malaysia. Lebih dari itu, blog ini juga menjadi saksi perjalanan dunia menulis saya. Dari yang sebelumnya tidak bisa menulis dengan baik ke level sekarang yang  alhamdulillah sudah bisa menulis artikel koran dan jurnal. Walaupun kualitasnya belum super-super amat.

Bagaimana dengan Facebook? Hmm…selain mendapatkan dan merapatkan persahabatan dengan kolega-kolega dunia maya, hikmah lain dari Facebook yang saya dapatkan barangkali ini: “Terlalu banyak kau menghabiskan waktuku.” Hehe…

Anyway, selamat ulang decade putellaking.blogspot.com dan Facebook Muhammad Beni Saputra. Semoga Google dan Facebook tidak cepat bangkrut. Amin.

Salam,

#tenyearscallenge



Wednesday, January 9, 2019

Euro-trip


Sebelum berangkat ke Manchester saya diberikan masukan oleh seorang kenalan yang dulunya belajar di Belanda, “Ben,” katanya. “Nanti kalau kamu udah di Inggris, jangan lupa jalan-jalan keliling Eropa. Sayang kalau gak jalan. Mumpung disana. Saya aja sekarang agak nyesal kenapa dulu hanya mengunjungi Belgia dan Perancis. Sebenarnya saya punya kesempatan untuk bepergian ke banyak negara namun semua itu tidak saya lakukan. Karena ya…saya terlalu khawatir tidak bisa menyelesaikan studi dengan baik jika jalan-jalan terus. Padahal faktanya tidak begitu. Asal dapat mengatur waktu semuanya bisa dilakukan.” Jujur saja, saya Cuma mengangguk tanpa makna. Dengan kata lain apa yang dia sampaikan hanya sampai di telinga. Sedikitpun tidak menarik perhatian saya.

Diskusi di grup WA juga serupa. Beberapa calon mahasiswa seangkatan saya sibuk membahas tentang visa Schengen. Saat itu saya tidak tahu apa itu Schengen. Baru kemudian ngeh setelah membaca keseluruhan chat mereka. Visa Schengen itu rupanya visa untuk memasuki daratan Eropa. Secara politik Inggris tidak berbagi visa dengan negara Eropa lainnya alias negeri Ratu Elizabeth punya visa tersendiri. Jadi meskipun mahasiswa internasional sudah mengantongi visa Inggris tidak serta merta mahasiswa tersebut bisa secara bebas menginjakkan kaki ke benua biru. Harus mengajukan visa Schengen dulu baru diizinkan. Beda halnya dengan mahasiwa yang belajar di Belanda atau Jerman, misalnya. Mereka bebas hilir mudik di negara-negara yang tergabung ke dalam visa Schengen. Ada 26 negara Eropa yang menggunakan visa Schengen, yaitu Austria, Belgium, Czech Republic, Denmark, Estonia, Finland, France, Germany, Greece, Hungary, Iceland, Italy, Latvia, Liechtenstein, Lithuania, Luxembourg, Malta, Netherlands, Norway, Poland, Portugal, Slovakia, Slovenia, Spain, Sweden, and Switzerland.

Kembali ke diskusi tadi. Beberapa diantara teman angkatan sudah mengantongi visa Schengen dari kedubes Belanda di Jakarta. Beberapa yang lain berencana mengajukan segera. Dan beberapa lagi tertarik untuk mencoba. Saya? masih tidak tertarik.  

Alasan ketidaktertarikan saya beragam. Pertama, saya masih idealis dengan misi saya ke Inggris bahwa saya kesana bukan untuk haha hihi jalan-jalan menghambur-hamburkan uang negara melainkan untuk belajar. Belajar dengan sangat serius agar saya bisa merealisasikan semua impian saya. supaya saya bisa mengubah dunia yang karut marut ini. Adapun alasan kedua adalah, saya dilanda rasa takut bercampur khawatir yang kadarnya sudah akut. Ya, dada saya tidak berhenti berdebar mengenang nasib di rantau orang kelak. Ditengah kepercayaan diri saya yang menyentuh langit, tidak bisa saya sembunyikan jika saya rapuh. Saya kadang atau seringkali dihantui rasa takut jika saya tidak bisa belajar secara optimal. Atau pelajaran terlalu sulit untuk dicerna. Atau dosennya pelit nilai. Atau kampusnya punya standar terlalu tinggi. Atau saya mendadak begok. Dan atau-atau lainnya. Jadi, pendirian saya kokoh, sekokoh batang jering di sebelah rumah orang tua saya, bahwa saya tidak tertarik dengan ide jalan-jalan di daratan eropa. Jangan ajak saya. Jangan goda saya. saya mau belajar! I want to change the world!

Waktu berlalu dan tibalah masanya saya berangkat ke Manchester setelah melalui drama ketinggalan pesawat gara-gara kabut asap. Pesawat Etihad yang saya tumpangi sempat oleng ketika mendarat dan hampir saja terjungkir gara-gara angin kencang. Meski begitu, kedatangan saya di Manchester masih dengan idealisme yang sama yaitu saya akan kuliah sungguh-sungguh, jika bisa menjadi lulusan terbaik, dan tentu saja tidak ada agenda melancang-melancong. Akan tetapi, bukan manusia namanya bila tidak berubah. Sebab manusia itu memiliki sifat baharu sebagaimana yang diterangkan di dalam kitab-kitab Tauhid. Dan setiap yang baharu pasti berubah. Hanya Tuhan saja yang tetap tidak berubah-ubah.

September 2015 Jambi dilanda kabut asap hebat.

Semua penerbangan di cancel termasuk pesawat yang akan saya tumpangi, GA. 135.

Padahal saya sudah diantar oleh keluarga. Turut serta yang mengantar ke Jambi Datuk saya yang berpulang ke hadhirat Allah 4 bulan setelah kepulangan saya ke tanah air. Al fatihah.
Akhirnya ke Jakarta melalui Palembang.

Dan alhamdulilllah dapat tiket pengganti dari Etihad sestelah negosiasi alot dan sedikit bertegang leher.

Transit di Abu Dhabi.

Sampai di Abu Dhabi.

Ready for Manchester.

Manchester, I'm coming!

Penerbangan panjang.

Alhamdulillah sampai.

Foto dulu biar afdol.
Sisi rapuh di dalam diri secara perlahan tapi pasti akhirnya tereskploitasi oleh kekuatan-kekuatan luar yang tak dapat dibendung. Kekuatan-kekuatan tersebut berasal dari berbagai macam sumber. Sumber pertama adalah studi saya sendiri. Kala itu ada pertemuan dengan Eithne Quinn, supervisor akademik saya. Turut serta dalam pertemuan itu beberapa mahasiswa lain baik mahasiswa Inggris asli maupun mahasiswa dari negara lain. Eithne mengumpulkan kami untuk  memberikan penjelasan segala tetek-bengek perkuliahan yang akan kami lalui setahun ke depan. Dalam pertemuan itu saya masih dengan semangat yang melimpah ruah ingin menjadi mahasiswa teladan yang focus 10.000% ke perkuliahan. Bahkan saya sempat sedikit menceritakan ambisi akademis saya yang disusul dengan penjabaran singkat mengenai latar belakang saya sebagai mahasiswa yang belanja sehari-harinya dipenuhi negara atau dalam kata lain: mahasiswa terpilih untuk mendapatkan beasiswa bergengsi dari pemerintah Republik Indonesia, sebuah ceritera yang  belakangan saya sadari sebagai kekonyolan bercampur narsistik yang substansinya tidak nyambung dan alurnya tidak penting. Tapi memang saat itu level PD saya sedang tinggi-tingginya.

Semuanya turun drastis setelah menjalani beberapa bulan kuliah; tugas menumpuk, yang macam ragamnya beraneka. Ragam pertama mereka menyebutnya essay. Apa itu essay saya juga tidak tahu saat itu. Atau lebih tepatnya belum begitu menguasai. Essay dibatasi dengan jumlah kata. Harus tidak kurang dari 6000. Mesti menulis sesuatu yang belum ditulis orang, dengan topik yang saya sendiri belum paham. Jadilah saya seperti mahasiswa teladan betulan. Rajin berkunjung ke perpustakaan untuk membawa pulang buku-buku yang tebalnya bisa dijadikan bantal tidur. Buku-buku tersebut mesti dibaca secara teliti dan malang nasib saya terlalu banyak buku yang harus dilahap. Saking paniknya pernah saya mengantri di depan Domino’s Pizza, ‘warung’ pizza depan kampus sambil membaca sebuah buku tentang komunitas hip-hop di Amerika. Pernah juga saya membaca buku sampai habis kemudian baca lagi pelan-pelan. Hasilnya? Saya masih tidak paham!

Belajar apa itu essay dan bagaimana cara bikinnya. No, ini bikin essay beneran lho!

Too much to read.

I cannot keep calm.

Reading list yang menyiksa.

Ragam kedua adalah dinamika di dalam kelas. Bagi saya waktu itu, paparan dosen sepanjang ‘tali baruak’ bukan membuat saya paham melainkan bingung. Bingung karena ada banyak hal yang baru saya ketahui dan banyak hal yang belum saya mengerti. Yang paling menyiksa adalah kelas diskusi. Tidak tanggung-tanggung kelas diskusi porsinya paling lama. 3 jam! Selama 180 menit saya harus ikut andil dalam pembahasan topik-topik yang sama sekali baru bagi saya dengan menggunakan bahasa Inggris yang tentu saja mesti akademis. Celakanya, di kelas tersebut hanya saya yang berkulit kelam. Selebihnya berkulit terang berambut pirang. Dan 95 persen dari mereka anak sana alias orang Inggris. Dalam diskusi tentu saja mereka amat lancar meskipun kadang berbelok-belok dari topik utama. Skill tersebutlah yang tidak saya punya. Bahasa Inggris saya masih standar betul belum bisa ngeles sana ngeles sini ketika otak saya macet. Alhasil, 3 bulan pertama saya berkali-kali berbicara dalam hati, ‘Ngapain saya jauh-jauh belajar kesini. Kenapa saya gak kuliah di Indonesia saja kemarin…’ Huuh….

Dr. Andrew Fearnley yang sangat akademis dan menguasai apa yang diajarkannya.
Bersama teman-teman sekelas dan Dr. Michelle Coghlan dalam presentasi project akhir mata kuliah Ocuppy Everything di rumahnya.
Beban belajar yang super menyiksa ini berhasil membuat saya lebih rapuh. Idealisme ‘I want to change the world,’ perlahan tapi pasti berubah menjadi ‘I want to have my previous world’.

Sumber kedua, adalah sepak bola. Ya, ini tidak salah ketik, memang sepak bola. Kehidupan mahasiswa Indonesia di Manchester amat erat kaitannya dengan sepak bola. Bahkan mereka memiliki klub tersendiri yaitu ‘Uler Kubis’. Apa filosofi dibalik nama tersebut saya tidak tahu. Tapi yang jelas saya tidak mau ketinggalan rombongan, segera saya bergabung. Dalam perhelatan pertandingan persahabatan antar sesama anggota Uler Kubis yang diadakan seminggu sekali di Platt Lane (kompleks latihan sepak bola bekas akademi Manchester City) saya mendengar banyak cerita indah dari para senior. Tentang apa lagi kalau bukan petualangan  mereka di benua Eropa. Saking getolnya mereka jalan-jalan bahkan ada yang berseloroh begini, “kuliah itu jangan sampai mengganggu jadwal main bola. Jangan juga mengganggu jadwal jalan-jalan,” Yang ngomong begitu bukanlah mahasiswa biasa. Mereka pada umumnya mahasiswa hebat yang rata-rata penerima beasiswa. Dan saya pun semakin rapuh.

Uler Kubis players in action.




Saya hancur betulan ketika berkenalan dengan dua orang mahasiswa S3 yang dua-duanya masih sangat muda. Mahasiswa pertama adalah Media Wahyudi Askar, seumuran saya, anak Minang, mantan pentolan mahasiswa UGM, dan punya segudang prestasi. Satunya lagi Zulfikar Rakhmat, seorang difabel, berusia 23 tahun, punya reputasi internasional, pernah masuk Metro TV, dan kolumnis The Huffington Post! Pokoknya mereka berdua keren abis seabis-abisnya. Saat bincang-bincang ringan dengan mereka berdua di kediaman saya, mereka berbagi cerita tentang pengalaman mereka keliling Eropa. Indah betul cerita mereka. Membuat saya tidak nyaman lagi duduk. Pengen cepat-cepat ngambil koper, beli tiket, kemudian ke  bandara biar bisa ikut merasakan apa yang mereka ceritakan.

Bersama dua doktor muda (satunya 'akan'), Media dan Zulfikar.
Interaksi kompleks saya dengan kehidupan akademis dan social di bulan-bulan pertama di Manchester memperkenalkan saya ke dua kata: euro-trip. Dinamika kehidupan kampus yang lumayan menyiksa, kekeliruan saya dalam menilai diri sendiri, PD yang overdosis, membawa saya ke satu muara kehidupan baru meninggalkan idealisme kayangan saya sebelumnya. Muara itu apalagi jika bukan euro-trip. Ya, saya butuh jalan-jalan. Soal mengubah dunia, nanti saya pikirkan lagi  selepas pulang dari Eropa.

Saya, Media, dan Zulfikar sudah sepakat: di awal tahun 2016 kami akan jalan-jalan keliling Eropa bertiga.