Wednesday, June 4, 2014

Seputar Beasiswa LPDP



Kuliah di luar negeri menjadi impian bagi semua orang, termasuk saya. Betapa tidak, dengan belajar di negeri orang kita tidak hanya bisa memperdalam bahasa asing tetapi juga berkesempatan untuk merasakan uniknya budaya negara tujuan. Lantas, apakah belajar di luar negeri mungkin bagi seluruh rakyat Indonesia? Mungkin!

Ada dua cara yang bisa ditempuh untuk kuliah di luar negeri. Bagi yang punya dompet tebal bisa belajar kesana melalui biaya sendiri. Namun bagi yang kere seperti saya tidak ada jalan lain kecuali mencari beasiswa. Berbicara tentang beasiswa, terdapat banyak sekali beasiswa yang ditawarkan kepada para pelajar Indonesia. Tinggal pilih. Mau belajar di Amerika ada Beasiswa Fulbright dan USaid Prestasi, ke Jerman ada DAAD, ke Inggris ada Chevening, ke Australia ada ADS, dan kemana saja ada LPDP. Lho, kenapa LPDP bisa kemana saja?

Basiswa LPDP adalah beasiswa dari pemerintah RI yang dikelola oleh Kementerian Keuangan. Dana beasiswa ini melimpah sehingga tidak mengenal kuota. Beasiswa-beasiswa yang ada biasanya terbatas kepada sejumlah nomor peserta. Beasiswa ke New Zealand contohnya yang hanya merekrut 50 orang. Jika yang mendaftar 5000 orang maka siap-siaplah yang 4.950 gigit jari. Lain halnya dengan LPDP. Jika ada yang mendaftar 1000 orang dan 500 diantaranya sesuai dengan kriteria yang mereka inginkan, maka 500 orang tersebut akan diberikan beasiswa. Enak kan? Berita bagusnya tidak sampai disitu. Masih ada lagi. LPDP juga tidak membatasi negara tujuan. Penerima beasiswa bisa kuliah dimanapun yang dia inginkan. Kalau mau kuliah di Jerman, ok. Kuliah di Amerika pun dibiyayai. Karena uang beasiswa ini banyak, kita tidak perlu khawatir dengan biaya perkuliahan yang mahal. Seberapa mahalpun itu akan dibayari oleh LPDP! 

Beasiswa LPDP agak sedikit berbeda dengan beasiswa yang umumnya dilamar oleh pemburu beasiswa di Indonesia. Pihak pemberi beasiswa seperti Fulbright misalnya selain membiayai perkuliahan sampai selesai, ia juga mendaftarkan si penerima ke kampus-kampus di Amerika. Kendala bahasa pun mereka tanggulangi dengan memberikan pelatihan Bahasa Inggris diikuti dengan tes TOEFL. LPDP tidak seperti itu. LPDP hanya memberikan beasiswa. Masalah pendaftaran kuliah di universitas dan memilih negara tujuan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penerima beasiswa. Setelah dinyatakan lulus beasiswa, si penerima akan diberikan tenggat waktu satu tahun untuk mendaftar di universitas yang dia inginkan. Setelah diterima dia bisa melapor ke LPDP kemuadian LPDP akan memproses keberangkatan dan pembayaran uang kuliah. Tapi jika dalam tempo waktu satu tahun itu belum juga diterima di universitas tujuan maka secara otomatis beasiswanya hangus.

Tahap perekrutan LPDP
Untuk melamar beasiswa LPDP sangat mudah. Kita tinggal mengunjungi websitenya lpdp dan mendaftar secara online. Ada beberapa kolom yang harus kita isi berkaitan dengan daftar riwayat hidup kita. Jadi saran saya di list dulu semua prestasi, riwayat pekerjaan, seminar, pelatihan, pengalaman penelitian, dan riwayat pendidikan agar tidak kelabakan saat mendaftar. Setelah semua data terisi, kita diminta untuk mengapload beberapa dokumen pendukung seperti ijazah terakhir, transkrip nilai, CV, Surat Rekomendasi, Surat Pernyataan (format disediakan), sertifikat bahasa TOEFL/IELTS, Letter of Acceptance (jika sudah ada), dan tiga essay. Essay yang mereka minta adalah Peranku Bagi Indonesia, Sukses Terbesar Dalam Hidupku, dan Rencana Studi. Untuk melihat punya saya bisa di klik langsung di masing-masing essay diatas.

Menurut hemat saya tiga essay diatas memiliki andil besar dalam meluluskan kita. Oleh karena itu tulislah essaynya semenarik mungkin. Tapi ingat, jangan coba-coba memanipulasi atau berbohong karena mereka akan tahu. Kalau sudah begitu, hampir dipastikan kita tidak akan dapat beasiswanya.

Setelah semua proses pendaftaran dilewati kita tinggal menunggu panggilan wawancara. Wawancara hanya diberikan kepada peserta yang lolos seleksi bahan saja. Mereka yang tidak ada panggilan wawancara berarti bahannya tidak lulus. Masa penantian wawancara sekitar 1-2 bulan. Tidak lama memang mengingat LPDP memproses bahan empat kali dalam setahun. 

Wawancara berlangsung di beberapa tempat, diantaranya Medan, Jogjakarta, Banjarmasin, dan beberapa daerah lainnya (list lengkap bisa di cek langsung di website lpdp www.lpdp.depkeu.go.id). Saya sendiri kemarin wawancara di Jakarta. Sengaja saya pilih Jakarta karena ketiadaan penerbangan dari Jambi ke Medan. Lagipula kalau melalui darat akan memakan waktu berhari-hari. Jadi saya realistis saja dengan memilih Jakarta. Biaya keberangkatan dan akomodasi selama wawancara tidak ditanggungg oleh pihak LPDP. Jadi menabunglah dari jauh-jauh hari sebagaimana yang saya lakukan. 

Di Jakarta, wawancara dilaksanakan di Komplek Kementerian Keuangan di Jln. DR. Wahidin. Banyak yang terkecoh oleh lokasi wawancara ini termasuk saya. Sebagai informasi, gedung wawancaranya bukan di gedung utama Kementerian Keuangan melainkan di gedung seberang jalannya. Kemarin kami wawancara di gedung RM. Notohamiprodjo dan Leader Group Discussion (LGD) di gedung AA. Maramis yang terletak tepat disebelahnya. Dua gedung ini tepat di depan gedung Otoritas Jasa Keuangan. Hanya jalan raya yang memisahkan mereka. Saran saya, tanya saja kepada satpam disana jika kesulitan mencari dua gedung ini. Mereka akan senang hati membantu.
 

Fase wawancara 
Peserta akan diwawancara oleh 2 orang professor dan satu orang psikolog. Mereka bertiga akan bergantian mengeroyok. Wawancara berlangsung sekitar 45 menit, kadang lebih sedikit kadang kurang. Tergantung pewawancaranya mau berapa lama. Saya sendiri kemarin sekitar 20-30 menit. Pertanyaan wawancaranya beragam dari latar belakang pendidikan, negara tujuaan, dan pengalaman kerja. Intinya mereka ingin tahu siapa kita sebenarnya dan pantas tidak kita diberikan beasiswa. Saya kemarin ditanya tamat dari mana, mau kuliah dimana, mengapa mengambil kampus itu, sudah ada kontak belum dengan kampus tujuan, mengapa tidak di kampus lain, pekerjaan di Jambi apa, dan mengapa kami harus memberikan beasiswa kepada kamu. Nah, pertanyaan terakhir ini yang saya tunggu-tunggu karena itu merupakan kesempatan saya berpromosi. Saya jawab semua pertanyaan dengan jujur dan apa adanya tanpa sedikit pun berbohong. Karena percuma saja jika kita berbohong karena ada psikolog di depan kita. Sekali ketahuan maka pupuslah harapan. Ketika saya ditanya mengapa saya tidak kuliah di eropa saja, saya jawab karena saya tidak punya sertifikat IELTS. Saya juga menambahkan kalau saya tidak punya uang untuk mengambil tes IELTS yang lebih dari dua juta itu. Intinya terbuka, jujur, dan tidak gugup karena khawatir diterima atau tidak. Anggap saja kita lagi ngobrol santai dengan orang-orang sukses dari jarak dekat. Persoalan diterima atau tidak itukan urusan Allah. Tugas kita hanya berusaha sebaiknya-baiknya saja.

Leader Group Discussion
LGD ini adalah diskusi santai yang berlangsungn sekitar 20 menit. Kita diberikan satu bacaan mengenai permasalahan yang ada di Indonesia. Tulisan tersebut disudahi dengan sebuah pertanyaan. Pertanyaannya satu saja tidak banyak. Nah, setelah selesai membaca mulailah diskusinya. Moderator, notulen, dan segala tetek bengeknya kita tentukan sendiri. Dua orang penilai yang duduk di ujung meja menyerahkan sepenuhnya kepada forum. Mereka focus menilai saja. Poin-poin yang mereka nilai pun masih misteri. Jika seseorang di forum tersebut dominan boleh jadi itu merupakan nilai positif bagi tim penilai atau bahkan bernilai negatif. Jalan terbaik adalah menjadi diri sendiri saja. Kita pun harus ingat bahwa itu merupakan sebuah forum diskusi bukan forum debat. Tentu dua istilah ini sangat berbeda pengapliasiannya. Oh iya, LGD terdiri dari sekitar sepuluh orang. Kadang lebih sedikit kadang kurang  sedikit.

Kalau wawancara dan LGD sudah selesai berarti selesai pulalah perjuangan kita sebagai manusia. Selebihnya urusan Allah lagi yang memutuskan apakah kita berhak mendapatkan beasiswa itu atau ditangguhkannya untuk sementara waktu. Bagi yang lulus patutlah bersyukur. Namun bagi yang belum, yakinlah Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih baik dari itu. Jadi bersabar saja dan terus tingkatkan kualitas. Salam sukses! :)


Rencana Studi



Jurusan sastra Inggris tidak hanya tidak tersedia di kabupaten saya tetapi juga masih merupakan jurusan yang tidak begitu digemari oleh sebagian besar pelajar di provinsi jambi. Institut Agama Islam Negeri Sulthan Thaha Saifudin Jambi (IAIN STS Jambi) adalah satu-satunya institusi pedidikan tinggi di provinsi Jambi yang menawarkan jurusan sastra Inggris strata satu. Fakta ini tidak dapat tidak membuat jurusan Sastra Inggris IAIN STS Jambi memiliki peran yang sangat vital dalam menciptakan akademisi yang kompeten dalam bidang sastra Inggris. Akan tetapi, saat ini jurusan sastra Inggris IAIN STS Jambi hanya memiliki dua orang dosen tetap yang memiliki latar belakang pendidikan strata dua sastra Inggris. Walaupun ada beberapa dosen lain yang memiliki latar belakang sastra Inggris, namun sebagian besar mereka masih berpendidikan strata satu. Oleh karena itu saya berkeinginan untuk membantu jurusan sastra Inggris IAIN STS Jambi berkembang dengan memperoleh gelar master sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, sastra Inggris, di National University of Singapore. 
Saya sangat suka mengajar karena  bagi saya profesi sebagai pengajar itu adalah profesi yang sangat mulia. Dengan mengajar saya tidak hanya bisa mengamalkan ilmu yang saya peroleh tetapi saya berperan aktif dalam mencerdaskan anak bangsa. Adalah suatu kebahagiaan yang tak terhingga ketika saya melihat ilmu yang saya ajarkan kepada anak murid saya membawanya ke puncak keberhasilan. Tahun lalu saya diberikan kepercayaan untuk mengajar TOEFL di jurusan Sastra Inggris IAIN STS Jambi. Sebetulnya saya juga ingin mengajar mata kuliah sastra Inggris, akan tetapi mengingat saya tidak memiliki gelar strata dua rencana itu masih jauh dari kenyataan. Oleh karena itu, memperoleh gelar master dalam bidang sastra Inggris akan sangat membantu saya meningkatkan kemampuan akademis agar mahasiswa yang saya ajarkan memiliki pengetahuan yang lebih baik dalam kajian sastra Inggris.
Motivasi sata untuk melanjutkan kuliah master jurusan sastra Inggris salah satunya adalah saya ingin melanjutkan penelitan strata satu saya.  Srikpsi saya bertemakan pengaruh perang saudara di Amerika terhadap penanaman nilai-nilai feminis kepada perempuan. Saya juga ingin memperdalam kajian saya terhadap beberapa mata kuliah yang diantaranya adalah Women Novelists, Literature and the Environment, dan Writing in the Aftermath. Mata kuliah Women Novelists akan memungkinkan saya mengkaji karya-karya sastra yang ditulis oleh novelis-novelis perempuan untuk lebih memahami pengalaman psikologis mereka dan dampaknya terhadap politik, sosial dan budaya. Sedangkan Literature and the Environment akan memungkinkan saya menelusuri kembali dan mengkaji karya-karya sastra yang berhubungan dengan lingkungan hidup. Pengetahuan ini akan saya jadikan sebagai upaya untuk lebih berkontribusi pada kelestarian lingkungan hidup. Adapun Writing in the Aftermath akan menjadikan saya lebih memahami pengaruh trauma sejarah yang dialami oleh seorang novelis terhadap karya sastra yang ia lahirkan. Saya ingin mengkaji lebih dalam lagi karya-karya sastra pra kemerdekaan Indonesia untuk lebih memahami sejarah dan berkontribusi agar hal yang sama tidak terjadi lagi di masa yang akan datang.
Tidak ada yang lebih mengkhawatirkan saya selain ketiadaan pilihan jurusan di kampus di kabupaten saya khususnya jurusan bahasa dan sastra Inggris. Dengan keadaan dunia yang semakin terbuka dan terhubung kemampuan menguasai bahasa Inggris merupakan salah satu skill yang harus dimiliki oleh generasi muda di daerah saya. Sudah banyak dari mereka yang harus mengubur mimpi untuk menguasai bahasa Inggris disebabkan oleh realita ini. Oleh karena itu saya berambisi untuk mewujudkan impian mereka mempelajari bahasa Inggris dekat dengan tempat tinggal mereka. Sehingga orang tua mereka tidak perlu lagi khawatir karena tidak memiliki biaya untuk menguliahkan anak mereka di Kota Jambi. Untuk mewujudkan impian ini saya tahu saya harus banyak belajar dan menimba pengalaman. Oleh karena itulah saya ingin melanjutkan kuliah di National University of Singapore. Saya yakin dengan belajar di kampus kelas dunia ini saya akan berkesempatan untuk merasakan sistem pendidikan, kurikulum, dan metode pengajaran kelas dunia pula yang nantinya akan sangat bermanfaat dalam mewujudkan impian saya di dunia akademis.
Saya memiliki dua rencana untuk masa depan saya. Rencana jangka pendek saya adalah saya akan menjadi dosen di jurusan sastra Inggris IAIN STS Jambi setelah selesai studi strata dua. sedangkan rencana jangka panjang saya adalah menjadi seorang professor dan membantu membuka berbagai pilihan jurusan perkuliahan khususnya jurusan sastra Inggris di kampus di kabupaten saya. Semoga Allah SWT selalu meridhoi setiap langkah hidup saya dalam mewujudkan dua impian ini. Amin.


Peranku Bagi Indonesia



Alam telah lama menjadi ladang mata pencaharian masyarakat di daerahku. Dari kakek buyut sampai generasiku hampir semuanya menggantungkan hidup pada alam, khususnya hutan. Namun hutan di daerahku kini sudah tidak rimbun seperti dulu lagi. Tatkala aku melintasi tempat-tempat yang dulu aku lalui, aku menemukan tumpukan balok kayu tersusun di tepi jalan. Perusahaan perkebunan dan pertambangan bertebaran. Truk-truk pembawa batu bara berkeliaran. Entah siapa yang meraup keuntungan dari semua ini, yang jelas masyarakat di daerahku tetap hidup dalam kekurangan. Hutan habis, mata pencaharian pun musnah. Kemiskinan kini siap menjangkau generasi muda daerahku.

Realita ini menyadarkanku akan pentingnya pendidikan bagi generasi muda di daerahku. Mungkin tidak berlebihan jika aku menganggap bahwa pendidikan adalah salah satu jalan yang tepat untuk lepas dari cengkraman kemiskinan. Aku percaya jika generasi muda di daerahku memiliki latar belakang pendidikan yang mumpuni mereka akan berhenti menggantungkan hidup kepada alam. Mereka bisa bekerja di berbagai sektor sesuai dengan kualifikasi mereka masing-masing.

Namun sayangnya saat ini hanya ada dua perguruan tinggi yang ada di kabupatenku yaitu STAI dan STIE. Hal ini tak jarang membuat mereka urung kuliah. Belum lagi dengan kenyataan bahwa sebagian besar generasi muda di daerahku tidak memiliki dua hal yang sangat fundamental bagi masa depan mereka, yaitu keberanian bermimpi besar dan semangat kerja keras. Untuk memberikan teladan, aku selalu memotivasi diri agar selalu menjadi inspirasi. Ketika kebanyakan orang tua di daerahku khawatir anaknya gila jika bercita-cita terlalu tinggi, aku berhasil membuktikan bahwa impian besar tidaklah mustahil untuk diwujudkan selagi mau bekerja keras. Alhamdulillah, kepergianku ke beberapa negara dan daerah di Indonesia sedikit banyak telah membuka mata mereka. 

Aku juga selalu ingin memotivasi orang-orang yang dilanda kegagalan dalam hidup serta memiliki lembaran kelam di masa lalu. Aku tahu betul bagaimana perasaan orang-orang tersebut karena aku pernah mengalaminya sendiri. Oleh karena itu aku tidak henti-hentinya membagikan pengalamanku bangkit dari keterpurukan kepada mahasiswa, anak murid, teman, dan orang disekitarku. Saat ini aku sedang menulis sebuah novel yang bertemakan perjalanan hidupku dalam bangkit dari kegagalan dan meraih impian besar. Aku berharap ada penerbit yang mau menerbitkan novel ini nantinya agar bermanfaat bagi seluruh rakyat Indonesia. Aku sangat yakin pemuda-pemudi Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi individu brilian yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia selagi mereka memiliki karakter pemimpi dan pekerja keras.

Semangat kerja keras dalam menggapai sesuatu adalah hal yang harus aku tularkan kepada generasi muda Indonesia khususnya mereka yang di daerahku. Tidak banyak memang yang memiliki semangat ini. Sebagian besar mereka telah terlanjur diracuni oleh realita yang ada yang mana uang merupakan syarat mutlak penentu kesuksesan. Adalah hal biasa di daerahku jika mengetahui seseorang menjadi Pegawai Negeri Sipil, polisi, atau tentara, dengan menyediakan uang puluhan bahkan ratusan juta rupiah. 

Aku tidak mau pola pikir seperti ini berubah menjadi karakter. Untuk itulah, aku memasukkan arti pentingnya bermimpi besar dan semangat kerja keras ke dalam materi khutbah Jumat setiap kali aku dipercaya menjadi khotib di kampungku. Selain itu aku juga sering mengumpulkan mahasiswa daerahku yang kuliah di jambi dan mendatangi beberapa sekolah di kecamatanku. Aku lakukan itu untuk memberi motivasi bahwa anak petani karet miskin sepertiku bisa meraih impian besar dengan bekerja keras. 

Aku sadari aku belum memiliki ilmu dan pengalaman yang banyak untuk menciptakan suatu perubahan besar bagi negeri ini. Apa yang aku punya hanyalah semangat dan skill Bahasa Inggris. Meskipun demikian, aku selalu mencoba untuk memberikan yang terbaik yang aku bisa. Sewaktu aku duduk di bangku kuliah dulu, aku mengajarkan Bahasa Inggris secara gratis kepada anak-anak di kampungku ketika libur kuliah. Bagiku itu adalah tanggung jawabku sebagai satu-satunya orang yang bisa berbahasa Inggris di desaku.

Sebelum aku menamatkan kuliah, aku bersama tiga orang teman mendirikan Amec, sebuah kursus bahasa Inggris dengan biaya terjangkau. Saat itu kami sudah menyewa ruko dua lantai untuk tempat kursus kami. Namun karena beberapa hal, Amec hanya bertahan beberapa bulan saja. Sebagai gantinya, aku membuka kursus Bahasa Inggris yang aku beri nama Ikhlas. Kursus ini berpondasikan keikhlasan. Setiap orang bisa belajar Bahasa Inggris dengan membayar semampunya saja. 

Harapanku ketika aku tua nanti adalah aku ingin melihat Indonesia sebagai bangsa yang maju, terdidik, dan sejahtera yang menjaga kelestarian alam semesta. Aku akan berjuang untuk berkontribusi mewujudkan cita-cita ini dengan mendidik dan menginspirasi orang-orang disekitarku dan generasi muda di daerahku. Semoga Allah SWT selalu menuntun langkahku. Amin.




Sukses Terbesar Dalam Hidupku



“Sudahlah Beni, jangan bercita-cita terlalu tinggi, nanti gila. Kalau gila, siapa yang akan men gurusmu?” cetus pamanku sewaktu kumpul keluarga di hari raya. “Hey teman-teman, kalau kalian ingin melihat teman kita gila setelah selesai kuliah nanti, Beni lah orangnya!” teriak seorang kawan di depan beberapa teman kelas. Keraguan bernada sinis ini adalah segelintir contoh dari sekian banyak orang-orang yang menyangsikan impianku untuk menjejakkan kaki ke negeri Paman Sam, Amerika Serikat. 

Jika mereka ragu dengan impianku, itu wajar. Siapa pula yang percaya dengan impian seorang berandal yang tidak lulus Ujian Akhir Nasional? Seorang bocah tengik yang menghabiskan waktu 3 tahun di bangku Sekolah Menengah Atas hanya untuk bermain-main seperi anak TK? “Ijazah Paket C kok mau ke Amerika! ada-ada saja!” Timpal seorang teman yang lain. 

Tragedi tidak lulus UAN itu tak dipungkiri merupakan sebuah tamparan keras tepat di wajahku. Untung saja, Aku memilih tidak bunuh diri ketika tahu bahwa Aku tidak lulus UAN. Sebaliknya, Aku mencoba untuk bersabar dan meresapi semua dosaku kepada orang tuaku selama 3 tahun menjalani sekolah jauh dari mereka. Mereka yang pontang-panting menyadap pohon karet di kampung untuk menyekolahkanku telah Aku khianati begitu keji.

Untuk mengobati luka hati mereka, Aku terpaksa anggukkan kepala ketika Ayah menganjurkanku untuk kuliah yang berbau Bahasa Inggris. Jurusan yang satu ini bukan saja sebuah tragedi mengingat kemampuanku lebih mengkilap di Bahasa Arab, tetapi juga menjadi aktor utama yang menguburkan impianku menjadi seorang pengacara kondang. Ridhollah fi ridhol walidain wa sukhtullah fi shukhtil walidain” Ridho orang tua adalah ridhonya Allah. Hadits yang kudapatkan sewaktu mondok di pesantren dulu inilah yang menjadi penyemangatku dalam menatap masa depan dengan Bahasa Inggris.

Hari pertama masuk kuliah, Aku digegerkan oleh beberapa teman yang mendekatiku dengan berbahasa Inggris. Aku juga terpaksa memperkenalkan diri di kelas menggunakan Bahasa Indonesia. “wah, gawat ini” cetusku dalam hati. “aku bakalan menjadi lulusan terakhir di kelas ini nantinya” tambahku dengan nada pasrah. 

Aku sadar betul posisiku waktu itu. Studyku diibaratkan perjalanan Jambi - Jakarta, teman-teman seangkatanku sudah sampai di Palembang sedangkan Aku masih di Jambi. Kalau kecepatanku sama dengan kecepatan mereka, otomatis mereka akan tiba duluan di Jakarta. Aku harus memiliki kecepatan di atas rata-rata kecepatan mereka supaya bisa finish bersama atau bahkan lebih dulu. Untuk memperoleh kecepatan super tersebut Aku harus memiliki pelumas motivasi yang bisa menghasilkan tenaga dahsyat. Setelah berpikir panjang memilah dan memilih akhirnya Aku menemukan ‘pelumasnya’. Aku set sebuah impian gila, yaitu belajar di negeri Pak Obama, Amerika Serikat. Aku bertekad membayar hutang air mata orang tuaku di masa silam dengan senyuman manis melepas anaknya berangkat ke Amerika. Disamping itu, impian itu juga akan Aku jadikan sumber motivasi dan inspirasi bagi teman-teman dari daerahku supaya bermimpi besar.

Ternyata ada untungnya juga hobi begadang menonton pertandingan sepak bola. Motto Adidas Impossible is Nothing menjadi doping efektif dalam menghadapi berbagai rintangan dalam meraih impian ke Amerika. Saat sebagian besar teman sekelas kursus Bahasa Inggris dengan salah satu dosenku, Aku terpaksa mengurungkan niat untuk bergabung menimba ilmu karena ketiadaan biaya. Karena Impopssible is nothing, Aku pergi ke toko buku loak untuk membeli sebuah majalah Bahasa Inggris bekas. Setiap hari kuterjemahkan majalah tersebut lembar demi lembar. Alhasil, walaupun tidak ikut kursus dengan dosen tersebut, tapi Aku berhasil mendapat nilai A di mata kuliah Vocabulary Building yang di ajarkannya. Hal ini bermakna sangat spesial mengingat beberapa teman yang ikut kursus mendapatkan nilai di bawah nilaiku. 

Impian gila itu membawa banyak berkah. Semangat super dahsyat yang dihasilkannya akhirnya berbuah manis juga. Aku berhasil juara 3 dan juara 1 dalam debat Bahasa Inggris di kampus sebelum mewakili kampusku ke pentas debat nasional. Selain itu Aku juga berhasil menyabet juara 2 dalam lomba baca puisi di kampus. Namun yang paling istimewa adalah impianku ke Amerika akhirnya terwujud! Adalah beasiswa IELSP dari IIEF yang membawa kakiku ke negeri super power itu. 

Aku cium tangan ke dua orang tuaku dengan isak tertahan kala mereka hendak melepas keberangkatanku di Bandara Sulthan Thaha Saifudin Jambi. Betapa haru bercampur bahagianya hari itu. Senyum kebanggaan tak henti-hentinya terukir di kedua bibir Ayah dan Ibu. Panggilan petugas bandara untuk segera memasuki pesawat akhirnya memisahkan kami. Dengan langkah berat kutinggalkan mereka berdua. Terlihat jelas olehku deraian air mata bahagia mengalir deras di pipi Ibuku tercinta sewaktu kulambaikan tanganku berjalan memasuki pesawat.