Saturday, October 19, 2013

Jerat Hari ke Empat


Hai pembaca semua apa kabar? Masih semangat untuk membaca postingan saya? Pasti semangat dong ya. Kali ini saya ingin bercerita tentang hari ke empat saya di Sydney.
Sepanjang hari ini kami hanya di ruangan saja mendengarkan beberapa materi. Tapi, disela-sela penyekapan, kami juga dikunjungi oleh beberapa orang penting. Nah loe, spesial kan kami? Hehe…

Baiklah, mari kita mulai saja. Di pagi hari kami diwawancara oleh salah satu coordinator AIYEP satu persatu tentang tempat tinggal (homestay) dan pekerjaan kami untuk minggu depan. Hasil wawancaranya bervariasi. Ada yang tinggal jauh dari pusat kota Sydney, namun ada juga yang hanya 10 menit perjalanan naik kereta. Tempat kerja pun beragam. Ada yang di sekolah, radio, sampai di tempat yang paling keren, zoo. Peserta yang kebagian kerja di kebun binatang ini tidak lain adalah saya sendiri. Betapa senangya hatiku saat mengetahui kenyataan ini (apaan sih? haha). 



View dari Taronga Zoo
Setelah selesai diinterogasi, kami menuju kafe untuk makan siang. Nah, makan siang kali ini sedikit spesial dari yang sebelum-sebelumnya. Kali ini kami akan mendapatkan makanan sesuai dengan yang kami request sehari sebelumnya. Waktu itu kami diberikan selembar kertas yang dipenuhi dengan daftar makanan. Petakanya adalah, lembaran tersebut hanya berisi nama makanan saja tanpa disertai dengan gambarnya. Jadi kami meraba-raba saja dalam memilih makanan yang kami inginkan. Syukur-syukur makanan yang kami pilih tidak hanya namanya saja yang keren tetapi yang paling penting juga bersahabat dengan perut. Maklum dari kecil sudah terbiasa dengan sambal terasi.

Satu persatu dari kami bergiliran mendapatkan makanan. Si Danti, seorang wanita cantik dari Samarinda tanpa pikir panjang mulai menyantap pesanannya. Tempo hari dia memesan makanan yang bernama Lasagna. Dari namanya sudah ketahuan kalau makanan ini bukan berasal dari Madura atau Tapanuli. Saya juga tidak tahu persis dari mana asalnya. Yang jelas Danti terlihat sangat menikmati santap siangya. 

Lasagna
Lain Danti, lain pula Jasmal. Pria pendiam yang berasal dari Utara Pulau Halmahera ini nampaknya menjadi korban dari kertas daftar makanan tak bergambar tempo hari. Entah apa yang ada dibenaknya waktu itu sehingga ia begitu tersiksa hari ini. Di depannya sudah terhidang sepiring sayuran yang dalam keadaan tanpa embel-embel apapun. Dari kejauhan saya bisa menebak kalau dia memilih ‘salad’ tempo hari. Baru sesuap dua, Jasmal sudah menyerah. Dia kelihatan sangat terkejut dan syok. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak melanjutkan makan siangnya. Kasihan temanku yang satu ini.

Salad
Selesai makan siang, kami segera kembali menuju ruangan. Keadaan kampung tengah kami pun beragam. Bagi yang mendapatkan makanan sesuai selera, jalannya agak cepat dan bersemangat. Lain halnya dengan yang salah pilih menu. Mereka berjalan sedikit gontai tak terarah karena membawa perut kosong yang menyiksa. 

Di kelas, kami dihujani materi tentang media dari salah satu petinggi ABC (Australia Broadcasting Channel) dan tentang AIYEP (Australia-Indonesia Youth Exchange Program) dari beberapa alumni yang berasal dari Australia. 

Sesaat sebelum materi dimulai, kami disuguhi oleh pemandangan langit yang tak biasa. Kondisi langit siang ini sedikit mendung dengan gumpalan awan berwarna kemerah-merahan. Awalnya kami terheran-heran ketika melihat fenomena alam ini. Setelah bertanya kepada Deane, coordinator kami, ternyata gumpalan awan merah tersebut berasal dari kebakaran hutan yang berlangsung tidak jauh dari kota Sydney. Kebakaran hutan memang menjadi momok tersendiri bagi Australia di waktu musim panas. Oke, sekian dulu untuk hari ini. Tunggu sambungan berikutnya. 




Ndeso tapi Penting



Tak terasa sudah tiga hari mondar-mandir di kampung Bule’, Sydney. Tiga hari disini setidaknya telah membuat saya dan teman-teman sedikit terbiasa dengan pola hidup masyarakat Sydney. Jika di awal kedatangan kami enggan menggunakan tisu saat selesai buang hajat, sekarang sudah mulai berdamai. Atau jika di hari pertama lutut kami terasa copot karena harus  jalan kaki setiap kali ingin bepergian, sekarang ayunan langkah pun sudah mulai stabil. Ya beginilah kota Sydney. Walaupun besar tapi tidak punya ojek dan angkot seperti di Indonesia. Ini tugas pembaca nih untuk membuka bisnis angkot dan ojek di Sydney. Siapa tahu mujur.

Di hari ke tiga ini kami berkunjung ke salah satu departemen penting di Australia, yaitu Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) atau departemen perdagangan dan hubungan luar negeri-nya Australia. Disana kami sudah ditunggu oleh Direktur DFAT, Ms. Virginia Greville dan beberapa orang-orang penting lainnya. Keren kan?

Kami menyebut kunjungan seperti hari ini dengan sebutan ‘Courtesy Call’ atau bisa diartikan dengan kunjungan kehormatan. Dilihat dari namanya kami memang menjadi tamu terhormat hari ini, jauh lebih terhormat dari anggota dewan yang (katanya) terhormat. 

Sebelum berangkat ke pertemuan penting ini, kami semua sepakat untuk memakai baju batik yang seragam. Alasannya adalah supaya kami memiliki keserasian dan keserasan. Yang lebih penting lagi agar masing-masing kami memiliki kadar aura yang sama karena kami sangat menjunjung tinggi equality atau kesamarataan. 

Kami membicarakan banyak hal di pertemuan tadi. Mulai dari politik, ekonomi, budaya, sampai ke Danau Ranau di Sumatera Selatan. Pokonya semua topic kami libas habis walaupun kadang-kadang ngawur.
Pertemuan meja bundar yang berjalan sekitar satu jam itu kami ikuti dengan sangat khusyuk dan berwibawa. Cara duduk kami tegap dengan senyuman yang selalu mekar. Tangan kami selalu stand by diatas meja atau pangkuan. Mata aktif walaupun sayu karena serangan kantuk yang amat dahsyat. Pokoknya kami praktekkan semua ilmu duduk yang diajarkan oleh kakak-kakak senior sewaktu Pre Departure Training (PDT) beberapa hari yang lalu. 

Pemberian Kenang-kenangan kepada Pimpinan DFAT
Foto Bersama
Setelah satu jam yang dipenuhi rasa kantuk luar biasa berlalu, kami bersiap melakukan kegiatan berikutnya. Kegiatan yang satu ini sangat dinanti-nanti oleh setiap kepala di grup saya. Karena kegiatan inilah rasa kantuk kami terusir secara otomatis. Mau tau apa kegiatannya? Keliling Sydney Harbour! 

Sydney Harbour adalah suatu area tepi laut dimana Sydney Bridge dan Opera House berada. Letaknya tidak jauh dari gedung DFAT yang baru saja kami kunjungi. Kira-kira 10 menit berjalan kaki kita sudah bisa jebret-jebret.

Angin berhembus sedikit kencang ketika mata kami hendak sampai ke tepi laut. Dari sana kami sudah bisa melihat Sydney Bridge yang berdiri dengan gagahnya. Sinar matahari yang terik membuat jembatan ini semakin jelas terlihat kekokohannya. Tidak menunggu lama, kami masing-masing mengeluarkan kamera dan sibuk jebret-jebret. Ada yang langsung membuat kontrak pemotretan dengan seorang teman pilihannya. Kontrak itu adalah jika yang satunya ingin berfoto, yang lain harus bersedia menjadi fotografernya. Jika sudah selesai, giliran yang motret tadi di depan kamera dan difoto. Begitulah seterusnya sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Ini dia Sydney Bridge!
Disini juga ada 'pengamen'
No komen deh.
Setelah bosan berpotret-potret ria dengan latar belakang Sydney Bridge, kami berjalan menuju target selanjutnya, yaitu Opera House. Kalo saya sih menyebutnya rumah siput karena arsitekturnya mirip siput. Semakin dekat kami ke Opera House semakin banyak foto yang dihasilkan. Walaupun terkadang terkesan ndeso (yang mana hal ini dapat diidentifikasi dari reaksi kami yang heboh dan kadang mengundang tawa orang sekitar), kami tidak peduli mengingat ke-18 kami adalah orang-orang penting yang baru saja selesai mewakili Indonesia dalam pertemuan kenegaraan resmi dengan Australia. 

Kami mengelilingi Opera House satu putaran sebelum mengarah ke dermaga untuk berkeliling Sydney Harbour menggunakan kapal ferry. Di kapal ini kami bisa lebih leluasa melihat keunikan arsitektur Sydney Bridge dan Opera House dari berbagai sudut. Ferry kami berangkat melewati Opera House menuju suatu pemukiman tepi pantai super mahal dan mewah bernama Manly. Disana terdapat satu pantai yang cukup terkenal di Sydney, Manly Beach namanya.

Sibuk nih.

Rileks dulu.

Penampakan Opera House dari dekat.

Sydney Bridge dan Opera House dari tengah laut.

Pemandangan yang spektakuler.
Di pantai Manly inilah kami harus menahan iman sebagai seorang lelaki sejati. Bagaimana tidak, pemandangan yang selama ini biasanya hanya dilihat di depan layar, kini tersuguh tak bersekat di depan mata. Benar-benar cobaan yang amat sangat berat bagi kami semua. Tapi Alhamdulillah, kami bisa mengatasi cobaan ini dengan sukses hingga kembali lagi ke tempat penginapan kami, YHA. Bersambung…