Thursday, March 17, 2016

Maafkan Aku, Bujang…


Diatas jembatan papan itu melintas seorang anak. Kulitnya putih, memakai baju teluk belango berwarna krem, kopiah hitam, dan sarung Sutra Samarinda. Dia berjalan menunduk, pelan, dengan mendekap sebuah kitab kuning di dada. Aku penasaran. Sebab, selama setahun ke belakang  batang hidungnya baru hari ini kelihatan.

Selidik punya selidik, ternyata dia santri baru. Baru saja pindah dari sebuah SMP di kampungya. Barangkali, kasusnya sama denganku yang dipaksa oleh orang tua kesini untuk menimba ilmu akhirat.

Ternyata tidak! Setelah kami bertukar nama dan cerita, keberadaannya di pesantren atas dasar kemauannya sendiri. Tidak seorang pun yang menyuruh. Aku kagum dengan sosok pendiam bernama Bujang ini. Tekadnya dalam menuntut ilmu agama secara sukarela boleh lah menjadi tauladan bagi mereka yang saban malam menangis, rindu akan ibu bapak. Atau mereka yang merengek-rengek di depan orang tua minta dikembalikan ke desa.

Satu tahun sekandang denganku di penjara suci, tak banyak cerita lagi di antara kami. Geng kami berbeda. Dia terdaftar sebagai anggota aktif di geng ‘ulama’ – sebutan kami untuk santri yang level alimnya sudah ‘melampaui’ batas, sedang aku terdaftar di grup ‘mohabbatein’ –  sebuah grup santri yang hidupnya sedari dini sudah terkontaminasi oleh yang namanya asmara. Anggota mohabbatein bercirikan rambut mengkilap, parfum dengan wangi semerbak, dan hobi bermain bola. Ciri terkahir dari golongan ini adalah rajin berkirim surat. Dengan siapa lagi kalau bukan dengan santriwati.

Kelas tiga Tsanawiyah menjadi awal dari babak baru. Tanpa bujukan siapapun Aku dan Bujang masing-masing sepakat untuk duduk sebangku. Pas di pojok depan kanan kelas. Hanya berjarak beberapa jari saja dari meja guru. Mulai hari itu resmilah kami menjadi sepasang sahabat karib. Melebur ke dalam dunia masing-masing. Identitas bercampur antara mohabbatein dan ulama. Tepatnya menjadi ulama yang tak lupa cinta.

Kawanku ini rupanya punya otak bak computer. Apa saja yang diberikan kepadanya masuk semua ke kepala. Kitab gundul? lalap makan! Bahasa Arab? Sambil pejam mata saja! Pelajaran Matematika yang sulitnya bukan main, hingga kadang tak ada satupun yang mampu memecahkannya, apalagi Aku yang tidak suka bila X atau Y sudah dekat-dekat dengan angka, baginya mudah saja. Kasih saja dia kapur tulis, niscaya akan dia jawab tuntas setuntas-tuntasnya. Tidak berlebihan kiranya bila gelar yang kami sematkan ke Bujang adalah ulama Matematika.

Tapi jangan kau kira jadi orang hebat itu enak. Tanya sama Bujang betapa tersiksanya dia. Oleh sebab otak encernya, Ustadz Ilhami, ustadz yang terkenal garang itu, mewajibkan Bujang belajar Nahwu dengannya. Sendiri. Face to face. Sehabis sholat shubuh pula! Malangnya.

Aku berkata seperti ini bukan apa-apa. Dua tahun lamanya kami mesti membawa kitab ke kelas setiap habis shubuh. Dengan mata yang terkantuk-kantuk tentunya. Penghapusan waktu belajar ba’da shubuh yang menjadi peraturan baru merupakan angin segar bagi kami semua. Setidaknya kami bisa memejamkan mata barang setengah jam sebelum mandi pagi.

Kemalangan Bujang juga menjangkit ke yang lain. Saat belajar malam selepas isya, belajar Tauhid, Bujang kedapatan mengantuk. Celakanya yang mengajar adalah Ustadz Ilhami. Tidak mau santri kesayangannya tertidur, Ustadz Ilhami cepat tanggap. Bujang diserbu dengan pertanyaan ‘mengapa kamu mengantuk?’ Ustadz Ilhami melanjutkan interogasinya setelah melihat Bujang diam membisu. Beliau bangkit dari tempat duduknya maju beberapa langkah ke arah Bujang. Aku yang duduk disebelahnya mendadak cemas.

‘Kamu memikirkan santriwati ya?’ Tanyanya lembut. Senyum tulus Ustadz Ilhami gagal merubah wajah sangarnya. Bujang tertunduk. Aku pura-pura khusyuk membaca kitab.

‘Iya kan, Jang’ Tagihnya lagi.

Bujang mengangguk.

‘Sudah saya duga’ Ustadz Ilhami mengeraskan suaranya. Membalikkan badan menghadap seisi kelas.
‘Sekarang, kalian tulis nama pacar kalian diatas selembar kertas kemudian serahkan ke saya!’

‘Bagi yang tidak mau mengaku, tidak saya ridhoi ilmu yang saya berikan selama ini’. Tegas bak ultimatum seorang jenderal kepada lawan perangnya.

Beberapa dari kami maju meletakkan selembar kertas berisikan nama kekasih masing-masing ke atas meja Ustadz Ilhami. Termasuk Aku sendiri. Hatiku berkecamuk. Cemas menunggu hukuman. Disaat yang bersamaan Aku juga marah kepada Bujang. Namun bagaimana lagi. Bujang berkirim surat dengan Siti karena Aku juga yang memasukkannya ke dalam geng Mohabbatein. Seminggu kemudian kami dibotak massal. Sebuah aib yang bertahan selama lebih kurang empat bulan sampai rambut panjang lagi.

Setamat Madrasah Tsanawiyah kami memutuskan untuk masuk Madrasah Aliyah di Pesantren. Senang betul Ustadz Muhammad waktu itu. Sebab, permata seperti Bujang kembali melanjutkan kiprahnya di penjara suci. Bukan mustahil di waktu yang akan datang dia menjelma sebagai ulama besar dengan segala kemampuan otaknya yang luar biasa itu.

Ternyata perubahan itu tidak enak. Beberapa pentolan geng Mohabatein sudah tidak di pesantren lagi. Mereka sudah sekolah diluar. Ada yang di SMA tak sedikit pula di MA. Cerita mereka, ketika sesekali berkunjung ke asrama, sangat sukses bikin Aku dan Bujang iri. Sekolah sekelas dengan cewek, bebas lepas sepulang sekolah, tidak ada peraturan, mau main apapun silahkan, tidur siang berapa jam pun tidak dilarang…aih enaknya. Yang paling ‘menyakitkan’ adalah ejekan mereka. Katanya ‘ini lah dua ulama besar Jambi di masa yang akan datang. Kalau ada masalah agama, jangan sungkan-sungkan datang ke mereka.’  

Tentu kami tidak rela ‘diejek’ seperti itu. Berani-beraninya mereka berbuat zholim kepada kami. Bukan mereka saja yang bisa jadi anak gaul. Bukan mereka saja yang bisa sekolah diluar.

‘Tunggulah nanti, kami juga akan sekolah diluar!’ jawabku sedikit emosi. Mereka terbahak. Tidak percaya dengan kalimatku.

Mulailah Aku dan Bujang mencari celah keluar dari pesantren. Kami menonton konser Iwan Fals dan Slank tanpa izin, jarang sekolah, dan jarang ke masjid. Kami hilang dari peredaran dengan mengurung diri dalam asrama teman. Ustadz mencari, kakak kelas menyelidiki. Kami berdua menjadi buronan resmi.

Setelah tertangkap, kemudian menghadap ustadz bersama orang tua, malangnya, kami berdua tidak dikeluarkan. Plot kami gagal total.  Akhirnya Aku dan Bunag memutuskan untuk menempuh jalan yang lebih ekstrim. Kami masukkan beberapa baju ke dalam tas, mengunci lemari rapat-rapat, setelah sholat Maghrib ketika seluruh santri tengah berzikir, kami kabur dari pesantren. Janji kami adalah apapun yang terjadi kami tidak akan kembali. Lebih baik berhenti sekolah dibandingkan harus mendekap di asrama lagi. Begitulah kalimat yang kami siapkan untuk kedua orang tua kami.

Kami sukses mengalahkan orang tua masing-masing. Akhirnya kehidupan diluar pun kami nikmati. Bebas lepas. Tak ada control apapun dan dari siapapun. Kami tinggal satu kosan. Meski demikian,  hubungan kami mulai renggang. Kami sibuk dengan geng masing-masing. Hidup diluar memang penuh daya Tarik. Bisa berkawan dengan siapapun dan nongkrong sampai kapanpun.

Bujang banyak menghabiskan waktunya di kumpulan supir angkot. Kebetulan beberapa pemuda kampungnya menjadi supir angkot di Kota Jambi. Aku sendiri berasimilasi dengan mahasiswa dan pemuda asal daerahku.

Ada kesamaan visi antara Aku dan Bujang. Kami berdua sama-sama ingin membuktikan kepada dunia bahwa kami juga bisa menjadi anak berandal. Tidak melulu sebagai anak baik kesayangan guru dan ustadz. Bujang belajar banyak dari kawan angkot-nya sedang Aku menimba ilmu dari para senior asal kabupatenku.

Kebersamaan Aku dan Bujang mesti berakhir setelah dia ditarik oleh ibunya ke kampung. sepak terjangnya di Kota Jambi sudah tercium. mulai saat itu hampir tidak ada kontak diantara kami. Sampai beberapa tahun ke belakang.

Saat itu ada nomor baru menelponku. Setelah diangkat ternyata Bujang. Dia berujar bahwa dia sangat ingin bersua denganku. Sayang waktu itu Aku sedang tidak di Jambi. Kutanyakan kenapa, dengan lirih dia menjawab:

‘Aku hancur, Fren. hancuuuuur’. Suara kepasrahan terdengar olehku. Hatiku dipenuhi rasa iba.

Rupanya, selama kami berpisah hidupnya dipenuhi dengan petualangan yang tak biasa. Ketergantungan narkoba, tidak bisa lepas dari miras, dan pernah menjadi buronan polisi. Jangan tanya pendidikan. Sudah untung dia berhasil menamatkan SMA.

Aku merasa berdosa. Apa yang terjadi padanya sedikit banyak ada andilku disana. Andai dulu Aku tidak mengajaknya kabur barangkali dia sekarang sudah menjadi ulama atau ilmuwan besar dengan segala kecerdasan yang dia punya. Tapi tiada guna menyesal. Tidak baik pula mengutuk takdir. Kujadikan perjalanan hidup ini sebagai catatan dan bahan renungan agar lebih berhati-hati lagi dalam melangkah. Maafkan Aku, Bujang…


Karena hanya Tuhan yang Tidak Berkepentingan


Tirai yang  sebelumnya terbuka lebar hingga mata bisa bebas melihat atap gedung-gedung tua khas Britania Raya, seketika ditutup. Yang menutupnya dosen saya sendiri. “I’m going to show you how women are commodified in hip-hop songs” ujarnya sembari menghidupkan Komputer. In focus sudah dinyalakan kemudian dipancarkan ke layar putih yang ada di muka.

Sebelum video yang ditunggu itu diputar, saya membuka kamus Merriam Webster di hp untuk mencari arti kata ‘commodified’ sebab seumur-umur belum pernah kata itu masuk ke telinga. Ternyata maknanya kira-kira adalah menganggap sesuatu sebagai barang. Jadi dalam hal ini ‘how women are commodified’ bermakna menyamakan wanita dengan produk yang bisa diperlakukan sesuka hati.

Dalam ruangan yang gelap itu, kami disuguhkan dengan beberapa video klip hip hop dari artis ternama. Namun fokusnya bukan siapa yang menyanyikan tetapi apa yang ditampilkan: wanita dengan pakaian super duper seksi, meliuk-liuk memamerkan bodi, dikerubungi para lelaki, dan ironisnya lagi dipanggil ‘bitch’! Saya kaget. Bukan karena melihat yang seperti ini belum pernah, melainkan karena reaksi dunia akademisi barat tentang hal ini. Mereka sendiri mengkutuk apa yang disebut ‘the commodification of women’ ini. Selama ini saya anggap Barat biasa saja atau tak ambil pusing soal pamer pameran tubuh. Tapi kebenaran memang tak bisa disembunyikan. Ia  hadir di lubuk hati setiap manusia meskipun seringkali dipungkiri.

Ekspresi beberapa teman wanita di kelas berubah geram. Sebuah bukti yang tak terbantahkan. Tak terima kaummnya ‘dilecehkan’ seperti itu. Dalam diskusi di kelas pun begitu. Mereka sepakat menolak ‘sexism’ dan ‘commodification’ yang merebak di banyak video klip hip hop. Pembahasan di jurnal-jurnal ilmiah juga serupa. Para akademisi satu suara bahwa wanita bukan barang komoditas! Mereka manusia yang mesti diperlakukan secara manusiawi. Bukan seperti barang yang fungsinya hanya sekedar untuk memuaskan pemiliknya. Saya terima itu.

Di lain kesempatan, kami membahas sebuah novel keluaran tahun 1808 yang ditulis oleh novelis Amerika, Leonora Sansay. Novel itu berjudul Secret History; or, The Horrors of St. Domingo. Kebetulan saya mendapat giliran presentasi mengenai novel tersebut. Setelah membacanya, yang menarik perhatian saya bukan bagaimana revolusi bangsa kulit hitam di Saint Domingo (sekarang Haiti) terjadi melainkan bagaimana hubungan antara Laura, tokoh utama, dengan suaminya.

Laura digambarkan sebagai gadis yang cantik menawan hati sedangkan suaminya seorang pecinta sejati nan posesif. Dua kelebihan yang mestinya saling menyempurnakan. Namun apa hendak dikata. Laura terlalu mempesona bagi semua orang. Bahkan petinggi negara pun tertarik dengannya. Ditambah lagi Laura memberikan kesempatan kepada mereka untuk menggodanya sebagaimana yang dia utarakan sendiri, kalau dia senang menarik perhatian orang lain. Berdansalah di sana sini dengan orang lain. Kadang juga pergi untuk sekedar ‘hang out’ berduaan dengan pria lain.

Tentu suaminya tidak terima. Dia menasehati Laura baik-baik tapi tidak ada perubahan hingga suaminya naik pitam. Sang suami pula sosok yang ringan tangan. Sebentar-sebentar memukul. Sampai-sampai tak terhitung sudah berapa kali Laura disiksa oleh si pendamping hidup. Laura dinasehati oleh ibunya juga tak berefek apa-apa. Dia menganggap ibunya hanya mengkungkung kebebasannya. Saya menjadi semakin paham bagaimana wanita diperlakukan dalam masa lalu Barat. Dan seperti apa wanita bereaksi mengenai hal itu. Setidaknya dalam novel ini.

Klip-klip video hip-hop yang telah ditonton, novel yang telah dibahas, dan reaksi penolakan dari dunia akademis baik dari dalam kelas maupun di atas kertas jurnal, memberikan saya beberapa pelajaran. Pertama, kebenaran Islam itu terasa walaupun wujudnya tidak terlihat oleh mereka. Islam tidak hanya tidak mentolerir perlakuan yang demikian (menganggap wanita sebagai barang komoditas, pamer aurat, menyiksa istri, memberikan peluang kepada laki-laki untuk bersama dengan wanita yang bukan muhrimnya), namun Islam datang dengan solusi yang sudah matang untuk diterapkan. Dalam Islam, wanita dianggap permata yang amat mulia. Al Quran memerintahkan ummat Islam untuk tidak menyusahkan wanita (An Nisa ayat 19) sedangkan Rasulullah mengajak manusia untuk berbuat baik kepada wanita (HR Muslim: 3729) dan berlaku baik kepada istri (HR Tirmidzi: 285). Contoh ini hanya segelintir dari beberapa perintah lainnya untuk memperlakukan perempuan dengan baik.[1] Bukan itu saja Islam juga mewajibkan wanita untuk tidak pamer aurat dengan membalut tubuhnya dengan hijab dan memerintahkan untuk tidak mendekati zina.

Adapun yang kedua adalah, wanita barat, setidaknya dari klip video hip hop yang ditonton dan novel diatas, memiliki sejarah masa lalu dan perlakuan masa kini yang berbeda dengan wanita Islam. Oleh karena itu lucu rasanya bila Barat gembar gembor ‘mempromosikan’ bahkan cenderung kadang terkesan ‘memaksakan’ nilai-nilai yang mereka buat dalam hal bagaimana memperlakukan wanita kepada wanita Islam. Ibarat kata, komputer yang bervirus itu komputer sebelah kok anti-virusnya ditawarkan ke kita. lagipula, dalam perkara ini, komputer kita sudah dibentengi dengan anti-virus jempolan plus siap pakai. Bukan lagi anti-virus rekaan, dibuat berdasarkan kepentingan, dan sesuai keinginan si juragan.

Kesimpulan saya mengenai yang katanya hari ini adalah hari wanita internasional, khususnya kepada para muslimah, adalah, jangan terbawa arus. Kuatkan aqidah, perdalam pemahaman Islam. Nilai kewanitaan yang Barat tawarkan sekarang, tidak sebanding dengan nilai kewanitaan yang ada dalam Islam. Mereka masih mencari-cari, tidak punya sumber nilai yang tetap. Berbeda dengan kita yang sudah menemukan apa yang mereka cari.

Hari wanita sejatinya setiap hari
bukan setahun sekali,
Sebab wanita bernafas bukan sekali dua kali

Jangan latah dengan liberty
Itu hanya ungkapan tak pasti
Untuk mempertahankan hegemoni
Yang mesti kita kritisi
Adakah liberty ini?

Hidup punya aturan
Tuhan juga demikian
Jangan terpesona dengan aturan buatan
Karena hanya Tuhan yang tidak berkepentingan

Wallahu’alam bishshowab…




[1] Untuk lebih lengkapnya bisa dilihat disini: https://muslim.or.id/9166-islam-menjaga-dan-memuliakan-wanita.html

Jadilah Seorang Penakut!

Dibawah tangga kampus, kala tengah asyik duduk menikmati sebatang rokok, seorang mahasiswa baru menghampiriku.
“*$%&£ ^&&$££#E%^%” katanya.
Dengan wajah menanggung malu Aku menjawab: “Maaf, Aku tidak bisa berbahasa Inggris”.
Sang teman tersenyum bangga bak seorang pemanjat batang pinang yang berhasil mencapai puncak. Untuk pertama kalinya kukutuk diriku sendiri yang berani-beraninya mengambil jurusan sastra Inggris. Dudukku tidak nyaman lagi. Rokok yang tadinya nikmat tak terasa lagi. Ingin rasanya Aku berlari keluar sekencang yang Aku bisa. Pergi jauh merantau kemudian tak kembali lagi. Tapi apa kata Ayah nanti? Aku sudah berjanji padanya, Aku akan merubah perangaiku, menjadi mahasiswa baik-baik, menyelesaikan kuliah selama empat tahun, membaca khutbah Jumat ketika pulang ke kampung, dan menjadi ahli Bahasa Inggris.
Hiruk-pikuk mahasiswa yang sedari tadi memamerkan Bahasa inggris mereka mulai lengang. Mereka berduyun-duyun menaiki tangga menuju kelas. Aku berjalan pelan di tengah mereka. Menyeret kaki yang terasa berat, mengumpulkan tenaga, menahan malu. Di aula tingkat dua kutemukan sebilah papan tergantung. Papan itu bertuliskan ‘English Zone’. Walau Bahasa inggrisku level jongos, untuk tulisan itu aku tau maknanya. ‘English’ merupakan kelas yang hampir tak pernah kuhadiri saat di Madrasah Aliyah (MA) sampai-sampai guru Bahasa Inggrisku tak mengenaliku, hingga hari ini. Sedangkan ‘zone’ tak lain sama dengan kata yang kujumpai di tempat mainku ketika sesekali izin keluar pesantren dan tempat bolos favorit saat MA: Gamezone. Gamezone adalah sebuah rental PlayStation di pasar Kota Jambi. Pengalamanku nongkrong disana membuatku paham bahwa ‘zone’ itu artinya daerah jadi Gamezone berarti tempat bermain game. Aku menyimpulkan bahwa 'English Zone' ini merupakan sebuah ultimatum jika bukan ancaman. Jangan-jangan, di aula tingkat dua ini, atau bahkan di sepanjang kawasan fakultas Adab IAIN Sulthan Thaha Saifudin Jambi, setiap mahasiswa sastra Inggris wajib hukumnya bercakap menggunakan Bahasa Inggris. Aku seperti menelan biji kedondong.
Di dalam kelas, Aku duduk paling depan. Sebuah usaha yang tak main-main sebab bertahun-tahun kuhabiskan masa belajarku di bangku sudut belakang kelas. Menyaksikan teman-teman baruku satu persatu memperkenalkan diri dalam Bahasa inggris yang bagiku waktu itu, fasehnya bukan main, membuat semangatku semakin lemah. Aku seolah menunggu ajal. Menanti giliran leher dipancung. Cepat atau lambat Aku pasti berdiri seperti mereka. Namun sayangnya usahaku menghafal kalimat yang mereka lontarkan tidak berbuah hasil. Hanya satu saja yang tertangkap oleh telingaku: bunyi ‘intojus’. Apa artinya Aku tak paham. Benar juga yang dibilang guru Nahwuku dulu bahwa Bahasa inggris adalah Bahasa ‘munafik’. Lain di mulut lain di kertas.
“Maaf teman-teman, saya tidak bisa berbahasa inggris. Jadi saya memperkenalkan diri dalam Bahasa Indonesia saja” ujarku pelan dengan kepala tertunduk. Malu akan kebodohanku. Menyesal atas kebiasaan bolosku saat di MA.
Mulai hari itu, Aku merasakan ketakutan yang amat dahsyat. Aku takut tidak bisa tamat. Aku takut mengecewakan ayah lagi.
Rasa takut itu kemudian menjelma menjadi ‘sahabat’ karibku dalam menjalani masa studi. Ia mendorong semangatku ketika jatuh, ia memaksaku membawa tas yang berisikan kamus dan hafalan kosa kata Bahasa Inggris kemanapun Aku pergi, Ia membujukku untuk mengurung diri di kamar dari hari senin sampai hari jumat dan mengurangi waktu kumpul dengan geng gengku dulu,  ia membuatku membaca buku-buku pengembangan diri agar bisa mencapai derajat ‘aku yang dulu bukanlah yang sekarang’, ia menguatkanku kala menjadi 'gelandangan' selama 1 tahun gara-gara tidak punya uang untuk membayar kontrakan, hingga mesti nebeng sana nebeng sini sebelum akhirnya memutuskan untuk alih profesi sebagai marbot masjid, dan dia juga yang membuatku berhasil menyelesaikan studiku selama 4 tahun.
Dalam perjalanan hidupku sekarang ini, dengan semua pencapaian yang Aku dapat, Aku menjadi sadar bahwa menjadi orang penakut itu sangatlah dianjurkan. Seseorang yang dihantui rasa takut akan berusaha melakukan apa saja agar bisa selamat dari yang dia takutkan persis serupa dengan cerita yang Aku jumpai dalam sebuah buku. Buku tersebut mengisahkan bagaimana seorang pemuda berhasil berenang menyeberangi sungai penuh buaya ketika di dorong oleh temannya dari  belakang (kurang ajar tu teman, hehe). Karena takut dimakan buaya dia berenang sekuat tenaga hingga sampai juga ke tepi. Andai saja dia tidak takut buaya, atau buaya itu kodratnya tidak berbahaya, niscaya pemuda tersebut tidak akan pernah mampu menaklukkan sungai selebar itu. Jadi pesanku adalah, jadilah seorang penakut!