Monday, December 8, 2014

5 Jurus Ampuh Rengkuh IELTS 7



Bagi sebagian orang mendapatkan nilai IELTS 7 tidaklah sulit. Contohnya teman saya. Dia hanya memerlukan persiapan beberapa minggu saja untuk bisa mendapatkan skor 7. Amazing kan? Tapi kalo dipikir-pikir memang sudah sepantasnya dia mendapatkan skor itu mengingat skor TOEFL si doi 600 lebih.

Bagaimana dengan saya? Bagi saya skor 7 itu sangat wow. Makanya ketika berhasil mendapatkannya saya bahagia bukan kepalang. Bukan apa-apa. Saya berusaha ekstra keras dan membutuhkan waktu persiapan yang cukup lama sebelum akhirnya dapat skor 7 itu. 

Berbicara tentang tes IELTS, menurut hemat saya, IELTS tidak hanya semata-mata menguji kemampuan Bahasa Inggris seseorang. Ia juga didesain khusus untuk menguji tingkat konsentrasi dan presisi kita. Oleh karena itu saya bersepakat dengan pernyataan yang saya temui dalam sebuah buku yang mengatakan bahwa ujian IELTS itu sama dengan mengikuti balapan Formula One. Dalam pacuan jet darat ini seorang pembalap tidak hanya diuji seberapa cepat laju tunggangannya tetapi juga seberapa dalam pengetahuannya mengenai hal-hal lain seperti keadaan sirkuit tempat dia bertanding. Untuk menjadi nomor satu, dia mesti tahu kondisi jalan, jumlah tikungan, panjang sirkuit, titik-titik rawan kecelakaan, dan asumsi waktu yang dibutuhkan untuk satu putaran. Tidak hanya itu, sang pembalap juga harus paham kelemahan-kelemahannya sendiri dan menyusun strategi untuk mengatasinya demi memenangi balapan. Oleh karena itulah pembalap F1 biasanya test drive dulu beberapa kali putaran sebelum pertandingan resmi dimulai.

Dalam konteks IELTS hal ini bisa diartikan bahwa memiliki kemampuan Bahasa Inggris saja belum cukup untuk mendapatkan skor yang tinggi. Tes taker harus memahami betul format-format soal IELTS yang beragam, menyusun strategi dalam mengerjakan setiap section-nya, dan melatih diri untuk berpacu dengan waktu. Yang terakhir ini amatlah penting karena dalam tes IELTS waktu adalah musuh utama. Banyak tes taker yang memiliki kemampuan Bahasa Inggris diatas rata-rata belum bisa mencapai nilai idamannya hanya gara-gara tidak memiliki strategi khusus dalam mengerjakan soal. Alhasil, mereka seringkali gagal menjawab semua pertanyaan atau tidak bisa menyelesaikan tulisan gara-gara waktu sudah habis. 

Baiklah, tanpa banyak mukoddimah lagi, berikut saya paparkan beberapa strategi yang mungkin berguna untuk menaklukkan IELTS.


1. Kenali Kemampuanmu

Mengenali diri sendiri sebelum melakukan sesuatu itu amatlah penting. Untuk melamar wanita idaman  contohnya. Jika cewek impian kamu itu anak orang kaya, orang tuanya pejabat, keluarganya terpandang, paras sang gadis cantik rupawan pula sehingga banyak yang ngantri untuk meminang, maka kamu harus berdiri lama-lama dulu di depan kaca dengan sebuah pertanyaan tertulis di kening: “Siapakah saya ini?” Jika jawaban yang muncul dibenak kamu adalah “saya adalah seorang pria tampan dengan uang berlimpah dan bisnis dimana-mana”, maka bergegaslah ke rumah sang gadis. Namun jika cermin tersebut berujar “motormu belum lunas kreditnya” atau “Aku sudah muak melihat tampangmu” maka sebaiknya harus menahan diri dulu untuk mengantar lamaran ke rumah si gadis. 

Begitu juga dengan IELTS. Kamu harus tahu dulu kemampuan Bahasa Inggrismu sebelum mendaftar tes. Bukan apa-apa, tes IELTS itu, khususnya bagi saya, sangat mahal. Biayanya $195 atau kira-kira 2.5 juta rupiah untuk sekali tes! Itu belum termasuk ongkos pesawat dan akomodasi selama di Jakarta (jika tes di Jakarta). Mubazir kan kalau ikut tes namun akhirnya nilai yang diinginkan tidak dapat? Jadi mengukur kemampuan Bahasa Inggris sebelum mengambil tes sangatlah dianjurkan dari pada coba-coba ikut tes.

Pertanyaannya adalah, bagaimana cara mengukur kemampuan Bahasa Inggris sendiri? Ada dua cara. Kamu bisa mengikuti tes TOEFL prediction yang mana biayanya sekitar Rp. 100 – 150 ribu atau mengerjakan soal IELTS sendiri di rumah kemudian hitung sendiri perkiraan band kamu. Soal-soal IELTS bisa di download di internet dan biasanya gratis.

2. Bersiap Diri



Jika kamu sudah mendapatkan hasil kemampuan Bahasa Inggris kamu, berarti sekarang tinggal mempersiapkan diri. Dalam ujian IELTS persiapan sangatlah vital agar skor yang diinginkan bisa terpenuhi. Durasi persiapan tentunya tergantung dari kemampuan Bahasa Inggris, daya tangkap, dan target skor. Jika skor TOEFL Prediction kamu 600 dan skor  IELTS yang ingin dicapai 7, kamu mungkin hanya memerlukan waktu sebulan atau dua bulan saja untuk mengakrabkan diri dengan bentuk soal IELTS. Ini diperlukan karena pertanyaan-pertanyaan IELTS sedikit berbeda formatnya dengan TOEFL. Akan tetapi lain halnya jika skor TOEFL Prediction kamu dibawah 500 dengan target IELTS 7, kamu sangat perlu untuk betul-betul mempersiapkan diri. Proses persiapan kamu mungkin bisa memakan waktu lebih dari 6 bulan mengingat kamu tidak hanya mesti menguasai jenis-jenis soal IELTS tetapi juga yang lebih penting lagi meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris kamu secara keseluruhan. Dengan kata lain kamu harus mengasah benar kemampuan di empat sections yang diujikan di IELTS: Listening, Reading, Writing, dan Speaking. Tapi durasi itu bisa saja lebih cepat jika kamu memiliki IQ yang cukup tinggi.

Persiapan saya sebelum mengikuti tes IELTS berlangsung dari Juni sampai November. Saya tidak mengikuti preparation class karena tidak punya uang. Yang saya lakukan adalah, men-download buku-buku IELTS Preparation di internet dan mempelajari seluk-beluk soal yang diujikan di IELTS. Setelah mengetahui secara sekilas jenis soal-soalnya, saya mendownload lagi buku-buku yang berisi soal IELTS asli, seperti Cambridge IELTS 1 – 9, untuk latihan. 

Saya mengerjakan soal-soal yang ada di buku-buku tersebut setiap hari kecuali weekend. Saya alokasikan waktu misalnya hari Senin mengerjakan Reading, Selasa Listening, Rabu Writing, dan Kamis Speaking. Pokoknya dalam satu minggu saya harus mengerjakan ke empat sections itu. Setelah beberapa bulan melakukannya dan saya sudah lumayan mahir dalam menjawab soal-soal yang ada sesuai dengan durasi waktu yang disediakan untuk setiap section, saya tambah lagi satu latihan penuh di setiap hari Jumat atau Sabtu. Dalam latihan penuh ini saya mengerjakan semua section IELTS dengan menge-set waktu sesuai dengan jumlah menit yang disediakan oleh tiap-tiap section dan tanpa break. Ini saya lakukan agar tubuh dan otak saya terbiasa dengan suasana tes IELTS yang  cukup lama (lebih kurang 3 jam) dan lumayan stressful. Benar saja, ketika ujian IELTS yang sesungguhnya saya tidak merasa seperti ujian melainkan seperti latihan biasa saja. Saya pun tidak gugup sama sekali karena ujian itu sudah menjadi ‘makanan sehari-hari’.

3. Susun Strategi


Sebagaimana yang telah diketahui, IELTS memiliki 4 sections yaitu listening, reading, writing, dan speaking. Untuk berhasil dalam tiap-tiap section ini kamu harus memiliki strategi yang berbeda. 

Untuk listening, saya sangat menganjurkan kamu lebih sering mendengar radio BBC mulai hari ini. Hal ini berguna karena accent yang digunakan dalam IELTS kebanyakan British English/Australian English bukan American English sebagaimana di TOEFL meskipun dalam beberapa soal American English kadang-kadang muncul. Semakin sering kamu mendengar siaran BBC maka kamu akan semakin terbiasa dengan logat orang Inggris dan akan sangat membantu dalam menjawab pertanyaan di listening section. Kemudian, usahakan kamu mengetahui pronunciation dan ejaan dari setiap kata Bahasa Inggris yang kamu ketahui. Ini penting karena terkadang kita seringkali menganggap sepele dua hal ini padahal sebuah  kata yang kita hanya tahu artinya boleh jadi diucapkan oleh speaker dalam listening. Dengan mengetahui bunyi dan ejaan sebuah kata kamu dapat mendeteksi kata yang diucapkan speaker dan menulisnya dengan benar di lembar jawaban. Ingat, kesalahan mengeja dalam IELTS akan berakibat fatal. Contoh, kamu ingin menuliskan ‘embarrassing’ tetapi kurang satu ‘s’, maka jawaban kamu salah!

Untuk reading, kamu perlu membaca teks-teks Bahasa Inggris yang ditulis oleh akademisi atau jurnalis sebanyak mungkin karena bacaan-bacaan yang ada di IELTS berkisar tentang muatan-muatan yang biasa ditemui di jurnal, buku atau surat kabar. Saya biasanya setiap hari membaca berita-berita di Thejakartapost.com, Thejakartaglobe.com, BBC.com, Aljazeera.com dan beberapa buku Bahasa Inggris. Kamu harus melatih diri untuk betul-betul memahami isi tiap paragraf. Jika kamu tidak tahu point dari sebuah paragraf, kamu perlu mencari arti kata-kata yang membingungkan kamu dan membaca ulang paragraf tersebut sampai paham maksudnya. Kemampuan memahami isi suatu paragraf atau kalimat dengan baik sangat berguna dalam menjawab soal-soal reading IELTS. Lalu, latihlah otak kamu untuk kritis setiap kali membaca teks Bahasa Inggris. Ketika membaca buatlah pertanyaan di dalam hati: “mengapa begini? Mengapa begitu? Apa maskudnya?, dll”, agar pas mengerjakan reading IELTS otak kamu menjadi terbiasa dalam mengkritisi bacaan. Jika sudah begitu kamu akan lebih mudah menjawab soal-soalnya nanti. Sebagai tambahan, waktu yang dialokasikan untuk reading hanya 1 jam. Jadi berlatihlah dalam membaca semua tiga teks dalam reading dan menjawab ke 40 pertanyaannya dengan tuntas. 

Kemudian writing. Bagi banyak orang section ini yang paling sulit. Hal ini beralasan mengingat kita orang Indonesia kebanyakan belum terbiasa menulis apalagi dalam Bahasa Inggris. Oleh karena itu latihan yang serius pada writing section ini sangat dibutuhkan. Ada banyak cara yang saya lakukan untuk mengasah skill menulis saya. pertama, saya mengikuti langkah-langkah yang diterangkan dalam buku Simone Braverman, Target Band 7 (bukunya bisa di download di internet) dan menerapkan strategi yang dipaparkan di situs ielts-simon.com. Saya juga mempelajari contoh-contoh tulisan yang terdapat di buku IELTSCambridge 1 – 9 untuk mengetahui pola-pola penulisan yang benar. Tidak hanya itu, saya juga mempelajari buku-buku tentang penulisan akademik dalam Bahasa Inggris, mempelajari buku-buku grammar, dan menghafal kosa kata baru yang ‘highly academic’ untuk saya terapkan dalam tulisan saya. Contoh, saya membiasakan diri untuk menggunakan ‘catalyst’ untuk mengungkapkan sebuah perubahan atau ‘volatile’ untuk menggambarkan tren yang kurang bagus dalam sebuah grafik. Terakhir, saya membaca banyak opini orang di surat kabar seperti di Aljazeera.com dan Thejakartapost.com dan membaca analisis-analisis pasar atau ekonomi untuk menajamkan intuisi menulis saya. Satu lagi, usahakan menggunakan lembar jawaban yang asli (bisa di download di internet) ketika latihan menulis IELTS Task 1 dan Task 2. Hal ini berguna agar kamu bisa memperkirakan jumlah tulisan tanpa harus menghitungnya secara manual ketika ujian. Alhamdulillah dengan usaha seperti ini saya bisa mendapatkan skor writing 7. Tidak begitu tinggi memang, tetapi sangat berharga bagi saya pribadi. 

Terakhir speaking. Speaking merupakan section yang biasanya sangat digemari oleh banyak orang karena pada section ini kita diminta untuk bercerita dan memberikan pendapat mengenai topik yang telah disiapkan. Untuk speaking, sebelumnya saya menganggap sepele mengingat saya sudah terbiasa berbicara dalam Bahasa Inggris karena profesi saya guru. Namun ketika melihat hasil tes, nilai speaking saya paling rendah, 6.5! Saya baru menyadari ternyata dalam speaking kita dituntut untuk berbicara runut dan terstruktur. Sedangkan saya kacau-balau tidak tertata dengan rapi. Itu sebenarnya kelemahan saya juga. Saya memang tidak pandai berbicara, jangankan dalam Bahasa Inggris, dalam Bahasa Indonesia pun saya sering terbata-bata. Tapi tidak apa-apa lah. Skor yang paling penting untuk diterima di kampus luar negeri biasanya skor reading dan writing. Tips dari saya untuk mendapatkan skor tinggi di speaking adalah, pertama  kamu harus sering-sering ngomong dalam Bahasa Inggris. Bukan hanya ngomong saja, usahakan dalam mengemukakan pendapat, kamu menyampaikannya secara terstruktur. Kemudian rajin-rajinlah menonton film berbahasa Inggris, dan terkahir praktekkan menjawab soal speaking IELTS di depan teman. Minta dia mengevaluasi speaking dan mengkoreksi kesalahan kamu. Jika teman terlalu mahal untuk dimintai tolong, kamu bisa merekam pembicaraan kamu untuk dianalisis kesalahan-kesalahan yang sering kamu lakukan.



4. Daftar Tes

Ini yang paling penting. Untuk apa persiapan berbulan-bulan jika tidak berani mendaftar tes yang sesungguhnya. Jika uang telah ada, mental untuk tes pun sudah terbentuk, maka segeralah mendaftarkan diri. Saya kemarin mendaftar di IALF Jakarta secara online dan membayar uang tesnya melalui transfer ATM. Sebelum menjalani tes, banyak-banyaklah berdoa agar soal yang nantinya keluar adalah pertanyaan-pertanyaan yang mudah bagi kamu atau bahkan sesuai dengan latar belakang ilmu pengetahuan yang kamu miliki. 

5. Pesan Dari Saya
 

Nah untuk tips yang terakhir ini saya hanya ingin mengucapkan “Good Luck!”
Percayalah, keberhasilan itu bisa dicapai dengan tetesan keringat. Tidak ada usaha yang sia-sia. :)