Friday, November 22, 2013

Teladan dari Negeri Jiran




Hari ini merupakan hari terakhir saya dan ke tujuh belas peserta Pertukaran Pemuda Indonesia Australia (PPIA) lainnya menikmati liburan di Burrill Lake, sebuah kawasan danau nan indah di daerah Ulladulla, Australia. Selanjutnya kami akan berangkat ke suatu tempat bernama Kiama untuk melaksanakan fase desa dari program pertukaran yang sedang kami jalani. Sedangkan sebulan lalu kami melaksanakan fase kota yang bertempat di kota Sydney.

Kami menghabiskan waktu lebih kurang dua jam di dalam bus sebelum tiba di Kiama dari Ulladulla.  Ketika sampai, kami langsung menuju sebuah gedung dengan menenteng barang masing-masing. Gedungnya biasa saja. Tidak besar dan terkesan mewah. Kira-kira seperti Balai Desa lah bangunannya. Diluar gedung pun tidak ada tanda-tanda akan ada acara resmi. Tidak ada mobil-mobil pelat merah super mewah yang parkir, ataupun barisan polisi pengawal atau Polisi Pamong Praja yang sedang berjaga-jaga. Mungkinkah di gedung ini acara penyambutannya? Atau pejabatnya memang belum datang? Hati saya bertanya-tanya.

Saya putuskan untuk terus mengikuti langkah teman-teman memasuki gedung dengan pertanyaan yang belum terjawab. Sementara itu beberapa orang yang hadir tampak tersenyum sumringah menyambut kedatangan kami. Mereka mengulurkan tangan dan mengucapkan selamat datang. Saya bisa menebak beberapa dari mereka adalah calon orang tua angkat kami yang baru. Sambil bersalaman, saya perhatikan tampilan mereka dengan cermat. Saya penasaran siapakah orang yang rencananya akan memberi sambutan resmi untuk kami itu. 

Selang beberapa saat, kami dipersilahkan duduk dibarisan terdepan. Seseorang maju dan membuka acara. Akhirnya saya teryakinkan bahwa memang di gedung sederhana ini acara penyambutan akan berlangsung. Setelah membuka acara, si MC memanggil seseorang untuk maju ke depan. Dia adalah Brian Petschler, Wali Kota Kiama. Betapa terkejut saya ketika melihat sesosok pria yang duduk di barisan belakang ditengah ‘orang-orang biasa’ melangkah maju ke depan. 

Bapak Brian menyampaikan pidato singkat. Tanpa teks dan tentunya tidak bertele-tele. Ketika dia bangkit dari tempat duduk tidak terlihat sekelompok orang ikut berdiri dan mempersilakan dia untuk maju.  Tidak juga terlihat beberapa orang terangguk-angguk senyum dengan maksud untuk ‘memuliakan’ sang pejabat. Selagi pidato sang walikota terkadang tertawa lepas tanpa khawatir sama sekali wibawanya ‘runtuh’ di depan hadirin. Gaya berpidatonya pun tidak menggunakan mimik yang dibuat-buat supaya kelihatan seperti pemimpin sejati yang berwibawa tinggi. 

Dari acara penyambutan yang sederhana tadi saya bisa menyimpulkan bahwa pola berpikir orang-orang disini berbeda dengan pola pikir sebagian besar orang Indonesia. Masyarakat disini, setidaknya yang hadir dalam acara penyambutan tadi, menganggap pejabat tinggi negara itu adalah orang biasa yang tidak perlu terbungkuk-bungkuk ‘menyembahnya’. Sedangkan si pejabat berpikiran bahwa dia adalah kaki tangan negara yang bertugas untuk memberikan teladan dan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Dia tidak terlambat bahkan datang lebih dulu dari tamu-tamu yang hadir. Dia tidak menghambur-hamburkan uang negara dalam sebuah acara formal dengan menyewa gedung atau hotel mewah. Terlebih lagi dia tidak merasa lebih besar dan terhormat dari orang lain yang hadir. 

Kondisi ini tentu berbeda seratus delapan puluh derajat dengan persepsi sebagian besar orang Indonesia terhadap pejabatnya. Tidak sedikit dari masyarakat kita masih menganggap bahwa pejabat adalah orang-orang yang sangat terhormat. Bila sang pejabat datang berkunjung, yang mana kunjungan itu biasanya bukan bermaksud mengecek kondisi masyarakatnya melainkan untuk pencitraan diri, banyak yang rela berdesak-desakan hanya untuk bertemu dan mencium tangan sang pejabat. 

Persepsi sebagian besar pejabat lebih buruk lagi. Banyak pejabat tinggi di tanah air biasanya memposisikan diri mereka laksana dewa. Ketika keluar mobil harus ada yang membuka pintu. Masuk ke ruangan atau maju kedepan harus ada yang mempersilakan. Dalam acara formal harus ada yang menunggu dan menyambut kedatangan mereka. Kendaraan harus seharga setengah miliar keatas. Kalau duduk maunya di barisan paling depan, tak heran jika di suatu acara barisan paling depan biasanya kosong karena spesial untuk para pejabat yang belum datang. Kalau ada yang mau bertemu diluar musim kampanye, orang tersebut harus melalui proses yang berliku-liku dulu baru bisa bertatap muka, itupun kalau lagi beruntung. Pendeknya, banyak pejabat merasa seolah-oleh bukan makhluk yang berpijak di bumi lagi dan melupakan bahwa perut mereka diisi dengan rupiah hasil keringat rakyat.

Euphoria Burrill Lake terpaksa harus dihentikan. Kehidupan baru telah menanti untuk dijalani di Kiama. Sementara itu petikan cerita yang menghiasi kepindahan hari ini sepertinya pantas menjadi bahan renungan untuk ‘kesembuhan’ ibu pertiwi. Indonesia akan lebih baik jika pemudanya berkomitmen untuk mewujudkan perubahan itu. Bukankah masa depan suatu negara ada di tangan pemuda? 

Monday, November 4, 2013

Ayo Promosikan Indonesia!




Euforia itu perlahan mulai sirna ditelan oleh sang waktu. Sudah lama memang aku ingin berdiri disini. Sejak bertahun tahun lalu. Saat itu aku terhipnotis oleh lengkungan atapnya yang dipercantik dengan bentangan jembatan yang tak jauh dari sisinya. Yah, itulah Sydney. Sebuah kota yang tak begitu asing di semua telinga. Bahkan tak sedikit yang menganggapnya ibu kota Australia. 

Di kota inilah nafasku berhembus detik ini. Belum lama memang kuhirup udaranya, baru dua puluh satu hari. Tapi cukuplah untuk kujadikan bahan cerita saat pulang ke Indonesia nanti. Di seberang sana aku yakin sudah banyak telinga-telinga yang bersiap menampung celoteh-celoteh petualanganku. Tentang Opera House yang mendunia atau tentang Jembatan Sydney yang kebetulan mirip dengan Jembatan Aur Duri Dua di Kota Jambi. 

Ada ribuan bahkan jutaan orang yang terkesima sampai penasaran dengan gedung yang mirip cangkang siput bernama Opera House. Gedung ini benar-benar mendunia. Desainnya yang unik dibarengi dengan loksai tepi laut yang strategis boleh jadi penyebabnya. Namun pertanyaannya adalah, akankah gedung ini dikenal kemudian didambakan oleh semua orang begitu saja tanpa ada tangan-tangan ‘tersembunyi’ dibaliknya? 

Bagi yang percaya dengan hukum sebab akibat tentunya akan menjawab tidak. Sebab mana mungkin sesuatu terjadi tanpa ada pemicunya. Asap timbul karena ada api, api timbul karena ada korek api, korek api ada karena ada belerang, dan seterusnya. Nah kalau begitu apa gerangan penyebab Opera House begitu dikenal khalayak ramai? Jawabannya sederhana saja, promosi. Ya, promosilah actor dibalik kesuksesan Opera House menggaet jutaan wisatawan setiap tahunnya. Bila tidak ada promosi yang gencar pesona Opera House tidak akan sampai ke lubuk hati wisatawan. 

Promosi tak dipungkiri memang sebuah jurus yang harus dikuasai oleh Indonesia jika ingin meraih kesuksesan layaknya Opera Hosuse. Betapa tidak, negeri ini memiliki segalanya untuk memperoleh lirikan pelancong. Dari puncak bersalju Nusa Wijaya di Papua sampai eksotisme Pulau Weh di Sabang. Jika semua elemen bangsa sudah menyadari dan melaksanakan jurus promosi ini, maka tidak mustahil jika Indonesia menggeser Perancis sebagai negara yang paling dipadati wisatawan. Semoga saja.

Saturday, November 2, 2013

Mengenal Fauna Asli Australia*


Halo Mate! Apa kabar semuanya? Pasti baik-baik saja ya. Pada postingan kali ini saya ingin berbagi sedikit tentang binatang-binatang asli Australia. 

Setiap negara memiliki banyak koleksi fauna yang khas. Indonesia punya harimau sumatera, Cina punya panda, dan Brazil memiliki ular anaconda. Bagaimana dengan Australia, binatang apa saja yang khas disana? Let’s check it out!

1. Koala



Koala tergolong kedalam binatang yang berkantung (marsupial) seperti halnya kangguru. Hanya saja koala hidupnya tidak di tanah tetapi diatas pohon yang tinggi. Binatang yang kelihatan lucu tapi berbahaya dengan kuku tajamnya ini sangat dilindungi di Australia. Pemerintah Australia tidak memperbolehkan untuk memelihara apalagi memburunya. 

Binatang yang tidur 20 jam sehari ini hanya makan satu jenis daun yang bernama ekaliptus. Daun ekalipitus tidak bisa ditemui dibelahan bumi lain kecuali di Australia. Karena fakta inilah Koala tidak bisa bertahan hidup di luar Australia. Kebun binatang- kebun binatang di dunia yang memelihara koala terpaksa harus mengimpor pasokan daun ekaliptus dari Australia setiap minggunya. Tak heran jika binatang yang memiliki dua buah ibu jari ini menjadi salah satu binatang yang menelan biaya paling mahal ketika dipelihara di luar Australia. 


2. Kangguru



Kanguru atau kangguru adalah hewan mamalia yang memiliki kantung (marsupialia). Hewan ini termasuk hewan khas Australia. Kata kanguru diambil dari bahasa Aborigin gangguru. Asal nama kangguru punya cerita unik. Pada suatu hari, pelaut Amerika\Inggris mendarat di Australia. Pelaut itu lalu melihat seekor hewan yang sangat unik, berkantung. Pelaut itu lalu bertanya kepada orang suku Aborigin, suku asli Australia di sana. Pelaut bertanya, "hewan apa itu?" Dijawab, "Kang-Ga-Roo." Pelaut menganggap Kanggaroo adalah nama hewan itu.maka mereka menamainya Kanggaroo, atau di Indonesia lebih sering terdengar Kanguru. Sebenarnya ,orang Aborigin itu berkata, "Saya tidak mengerti!"

3. Burung Emu



Burung Emu (Dromaius novaehollandiae) ialah burung asli Australia yang terbesar, serta burung yang tak dapat terbang yang kedua terbesar di dunia, yaitu selepas saudara ratit-nya, burung unta. Burung ini juga merupakan anggota tunggal dalam genus Dromaius yang masih ada. Subspesies Emu yang hidup di Tasmania lenyap setelah penempatan orang Eropa di Australia pada tahun 1788; penyebaran subspesies di tanah besar Australia kini juga terdesak oleh kegiatan-kegiatan manusia.

Pada suatu ketika, banyak burung Emu terdapat di pantai timur Australia tetapi kini, burung ini jarang didapati di sana; sebaliknya perkembangan pertanian dan pasokan air untuk peternakan di kawasan pedalaman benua ini telah menambah tempat kediaman burung Emu di kawasan-kawasan yang kering. Burung Emu masih banyak terdapat di tanah besar Australia, walaupun burung ini menghindari kawasan-kawasan yang penuh sesak atau terlalu kering, serta hutan-hutan padat.

Burung Emu mempunyai bulu lembut yang berwarna cokelat dan bisa mencapai ketinggian dua meter dan berat 45 kilogram. Burung ini ialah hewan pengelana, dan bisa membuat perjalanan jarak panjang untuk mencari makanan yang termasuk berbagai tumbuhan dan serangga. Jika perlu, burung ini bisa mencapai 50 kilometer sejam. [1] Burung Emu diternakkan untuk daging, minyak, dan kulitnya.

4. Setan Tasmania



Setan Tasmania (Sarcophilus harrisii), juga disebut dalam bahasa Inggris "Tasmanian Devil" adalah seekor binatang marsupialia karnivora yang kini hanya terdapat di negara bagian pulau Tasmania di Australia. Setan Tasmania adalah satu-satunya anggota genus Sarcophilus yang masih hidup. Ukuran binatang ini sama dengan seekor anjing kecil, tetapi badannya kekar dan berotot. Setan Tasmania adalah marsupialia karnivora terbesar di dunia. Binatang ini dicirikan oleh warna bulunya yang hitam, baunya yang kuat bila sedang ketakutan, suaranya yang sangat keras dan mengganggu, dan sifatnya yang berbahaya bila sedang mengasuh anak-anaknya. Setan Tasmania dikenal sebagai binatang pemburu dan memakan sisa-sisa binatang lain. Meskipun biasanya hidup soliter, kadang-kadang ia makan bersama dengan Setan Tasmania lainnya.

Setan Tasmania menjadi musnah di daratan benua Australia sekitar 400 tahun sebelum Pemukiman bangsa Eropa pada 1788. Karena dianggap sebagai ancaman terhadap ternak sapi di Tasmania, Setan Tasmania diburu hingga 1941, ketika mereka secara resmi dilindungi. Sejak akhir 1990-an penyakit tumor muka Setan Tasmania telah mengurangi populasinya secara drastis dan kini mengancam kebertahanan spesies ini yang kemungkinan segera akan dimasukkan dalam daftar binatang yang terancam punah. Saat ini berbagai program dilakukan oleh pemerintah Tasmania untuk mengurangi dampak penyakit ini.


*Dikutip dari berbagai sumber