Sunday, February 1, 2015

Yo Wis, Ben!


“Uhuuk…uhuuukk…” 
 
Kerongkonganku meradang, nafasku sengal mencari oksigen. Sementara di kedua mataku yang terpejam terasa ada cairan keluar. Sedikit pedih. 

“haha…haha…ha..ha…ha…”

Tawaku menggema di kamar mandi tanpa jendela itu. Bunyinya merangkak keluar melalui ventilasi kecil yang melintang diatas kolam berpapasan dengan cahaya mentari pagi yang mulai menyengat. Kuhentikan ritual menyikat gigiku dan kuludahi cairan bercampur odol biang masalah tadi ke lantai. Konsentrasiku kupusatkan ke lagu yang sedang diputar oleh temanku. Lagu yang telah menggoncang perutku secara tiba-tiba hingga membuatku tersedak lalu terkekeh.

Meski aku tak begitu paham arti dari keseluruhan lagu itu tapi tetap saja menggelitik. Gelakku tak bisa lagi dibendung ketika sang penyanyi sampai ke: 

“Wong deso..wong deso..tapi rak popo rejeki ne kuto” 

Jika Aku taksir betul, rasa geliku bukanlah bersumber dari lagu itu. tapi lebih ke penyanyinya. Tukul tidak memiliki suara syhadu yang mampu menawan hati. Jangankan membandingkannya dengan Rhoma Irama atau Imam S. Arifin, dengan Anang Hermansyah yang suaranya kerap melengking itu saja suara Tukul kalah jauh. Bahkan mungkin kalah telak. Tapi Tukul tetaplah Tukul yang menyanyikan lagunya dengan semangat bak seorang penyanyi hebat berbakat.

Sepanjang lagu Wong Ndeso itu, entah bagaimana caranya, otakku mampu membayangkan secara jelas ekspresi wajah sang pelantun. Kumis tipisnya…muka segi empatnya…rambutnya yang seperti potongan tentara…hingga tingkahnya yang sering mengundang gemuruh tawa…

“Tukul…Tukul” aku menggeleng sendiri. Tersenyum sendiri.

Perjalanan hidup Tukul tidaklah sekocak lawaknya. Dia termasuk golongan manusia yang tertolak kemudian gagal. Setidaknya itu yang Aku tahu dari buku yang pernah aku baca. Isinya kira-kira begini: 

“Tukul itu kalau tidak pede, dia tidak akan sukses. Apa yang dia punya? Tampang? Tidak ada nilai jual! Kaya? Apalagi! Modern? Kampungan! Apa yang dia miliki sehingga dia bisa sukses seperti sekarang? Memiliki harta yang berlimpah, rumah mewah, dan bayaran yang wah? Modal Tukul hanya satu tapi tidak selalu dimiliki oleh orang lain! Semangat! Ya, semangat!” 

Aku baca lagi lanjutan cerita dalam buku itu:

“Mungkin sedikit yang tau, kalau Tukul pernah berulang kali ditolak menjadi penyiar radio lawak di Jakarta. Alasannya adalah lawakan Tukul terlalu ndeso. Ketinggalan zaman! Kemudian apa yang Tukul lakukan? Menyerah? Tidak! Dia terus meyakinkan si pemilik radio bahwa dia bisa menjadi pelawak hebat. Dia utarakan kalau dia punya selera humor dahsyat yang mampu membuat orang terpingkal. Benar saja. Sekarang kita merupakan saksi hidup bagaimana perjuangan hebat Tukul telah berbuah manis.”

Sedari kecil Aku sangat tidak suka dengan kata yang menjadi alasan penolakan Tukul itu. Bagiku kata ndeso itu merupakan aib. Suatu bentuk penghinaan terhadap identitas seseorang. Sebuah alasan untuk menindas manusia secara legal.

Tapi harus aku akui kalau aku tidak bisa bersembunyi. Jati diriku sebagai anak desa terlihat jelas dalam bahasa yang aku gunakan. Aku tidak memakai kata ‘Aku’ dalam bertutur melainkan ‘Awak’. Kata ‘kapan’ pun haram hukumnya dipakai di desaku karena kata itu milik orang kota. Sebagai gantinya kami menggunakan ‘bilo’ atau ‘bila’ dalam Bahasa Indonesianya.

Itu baru persoalan Bahasa yang hanya ketahuan jika sedang berbicara. Banyak lagi ciri lainnya. Seperti bepergian jauh. Biasanya setiap kali orang-orang desaku -- termasuk keluargaku -- meninggalkan desa beramai, kami tidak menggunakan mobil pribadi atau dalam istilah kami, mobil mewah. Kemana-mana hanya menggunakan mobil PS – sebutan untuk mobil truk Colt Diesel produksi Mitsubishi yang kepalanya bewarna kuning – yang ‘bak’ bagian belakangnya biasanya terbuka tanpa dinding samping dan penutup belakang. Bak mobil dibuat seperti itu sesuai dengan fungsinya sebagai pengangkut kayu balok dari hutan. Di tengah-tengah bak biasanya dijumpai tali besar seperti tali kapal untuk tempat bergantung. Di bak itulah kami semua duduk tidak beratur dengan beratapkan langit, berlampukan matahari dan berhiaskan bulan.

Ada juga alat transoprtasi lain yang sering kami gunakan yaitu mobil Mitsubishi pick up. Jenis mobil ini sedikit lebih memenuhi standar keamanan dari mobil yang sebelumnya dimana bak belakangnya memiliki atap dan dinding. Hanya saja kursi di bak mobil ini tidak horizontal melainkan memanjang dari depan ke belakang. 

Bagiku dan teman-teman, duduk di bangku panjang itu bukanlah untuk anak-anak. Itu untuk orang tua. Tempat kegemaran kami adalah diatas atap mobil atau bertengger di belakangnya. Untuk posisi yang di belakang, meski berulangkali dimarahi, kami tetap saja acuh karena disana banyak anginnya. Dan ada untungnya. 

Aku masih ingat ketika pulang menonton  sepak bola di Teluk Singkawang. Kala itu tim desaku, Merpati Muda, menang telak tiga kosong atas tim tuan rumah. Betapa bahagianya kami waktu itu. Padahal Sehari sebelumnya ketika di ajak oleh temanku, Sopar, aku menolak untuk ikut. Alasannya adalah aku tidak punya uang.

“Dak papo. Mobilnyo gratis Ni.” Tidak apa-apa, gratis, katanya meyakinkanku. Ni adalah nama panggilanku di desa.

“Tapi setidaknyo kan mesti ado duit untuk beli es, Par” jawabku lemah.

Keesokan paginya aku ke baruh – daerah di tepian Sungai Batanghari di desaku – untuk sekedar bermain ke rumah Datuk. Saat itu kujumpai Datuk sedang duduk di kursi ruang tamu dekat jendela. Kursi favoritnya selama tiga tahun belakangan ini. Di kedua jarinya yang terjulur ke luar jendela terselip sebatang rokok. Terlihat asap rokok itu memanjang ke atas lalu bubar terbawa angin. Melihat aku datang dia langsung menampakkan giginya yang sudah hilang.

“Cucu datuk. Siko duduk dekat Datuk” Sini duduk di dekat kakek sambutnya dari jendela.

Aku mendaki tangga kayu bulian dengan wajah muram. Pagi ini kakiku amat berat untuk diangkat.

“Pagi nian  ke rumah Datuk?” matanya yang merah menyambutku. Aku yakin datuk sulit tidur lagi semalam. 

“Awak nak nonton bola beko di Teluk tuk” jawabku datar. Mengharapkan perhatian dari pangkuannya.

“Jadi?” 

“Awak dak do duit…” 

Aku tundukkan kepala kearah kakiku yang terjuntai dari kursi plastik tempat duduk datuk. Kursi ini cukup tinggi untuk kakiku menyentuh lantai. Sementara hidungku sudah mulai tertanggu oleh bau asap rokok datuk yang menusuk.

“Kau ambek jerigen di belakang tu, isi ember merah sampai penoh. Datuk nak mandi” Ujarnya lembut sambil mengelus kepalaku.

“Yo tok” jawabku patuh.

Datuk memang selalu mandi di rumah. Dia tidak bisa lagi mandi di sungai Batanghari seperti  biasanya. Bagi datuk untuk pergi ke Batanghari sebenarnya  tidak menjadi masalah karena menuruni tebing. Tapi untuk pulang ke rumah yang tidak bisa. Datuk tidak sanggup mendaki tebing Batanghari dan memanjat tangga rumahnya. Nafasnya seolah putus kalau dipaksa. 

Datuk begitu karena sejak beberapa tahun terakhir ini batuk parah. Dia mengeluarkan dahak yang banyak sampai kadang untuk menarik nafas saja sulit. Jika kuperhatikan datuk lebih sering menarik dan mengeluarkan nafas melalui mulut daripada hidung. Mungkin dengan cara itu datuk bisa mengirim oksigen lebih banyak ke paru-paru. Aku yakin batuk yang menyerang datuk itu juga yang telah membuat tubuh datuk menyusut hingga tinggal tulangnya saja sekarang.

Dengan bayangan nonton sepak bola di kepala aku terus naik turun tebing Batanghari dengan sepasang jerigen 5 liter di kedua tanganku. Satu trip..dua trip..tiga trip…sampai akhirnya aku mengisi penuh ember besar bewarna merah itu.

“lah penuh, Ni?” sahut datuk dari ruang tamu.

“lah tuk” teriakku sambil berlari ke ruang tengah.

“Ko untuk jajan di teluk beeko” tangan kanannya mengulurkan koin kuning bertuliskan 500. Diatas angka itu terpampang gambar bunga melati. Senyum tanpa giginya terbuka lebar.

Mataku berbinar. Rasa lelahku seketika mengambang ke udara menyatu dengan asap rokok datuk. Apa yang ada di tangan datuk itu adalah kunci suka cita yang aku cari-cari dari kemarin. Dengan cekatan kuambil uang itu, mengucapkan terima kasih, mencium tangan datuk, dan melesat ke darat, ke rumahku.

Sebelum berangkat ke Teluk Singkawang aku dan Sopar sudah siap di pinggir jalan menunggu angkutan. Tidak lama berdiri lewatlah pick up Mitsubishi bewarna hitam. Mobil itu dimiliki oleh orang desaku. Kami memanggilnya Mok Bidin alias Bidin yang gemok. Mok bidin mengendarai mobilnya dengan pelan. Kepalanya menoleh kiri kanan kalau kalau ada yang mau menumpang. Tapi…dia tidak berhenti ketika melihat kami berdua. Dia terus saja meninggalkan aku dalam keheranan. 

“Tenang” Bisik Sopar.

Ketika mobil itu telah beberapa meter di depan kami, Sopar tiba-tiba berlari. Dengan sekali loncatan dia bergelayut di belakang mobil. 

“Cepat” teriaknya. Tangannya mengais-ngais menyuruhku melakukan apa yang telah dia perbuat.

Aku gugup. Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Aku takut dimarah Mak. Aku takut tidak berhasil menjangkau bagian belakang mobil itu. semua rasa takut berkumpul dalam diriku. 

Tapi…demi melihat tim desaku bertanding aku harus berani. Dengan berlari sekencang yang aku bisa aku mengejar mobil itu. aku sambut uluran tangan Sopar dan mendaratkan kakiku di pijakan belakang mobil. Kedua tanganku bergantung di atap mobil diatas kepalaku.

Masalah yang sesungguhnya datang ketika sampai ke Teluk Singkawang. Aku geger melihat teman-teman sebayaku terjun dari mobil yang sedang berjalan. Amir yang berdiri di ujung paling kanan sudah mendarat ke tanah. Mudah saja baginya. Riki yang tadi di samping kiriku juga sudah berjalan menuju lapangan. Kemudian Iman…Lian…dan Sopar…

Tanganku mulai licin karena berkeringat. Kakiku tiba-tiba bergoyang. Kulihat aspal di bawahku yang seperti berjalan mundur, batu-batu yang tertanam di dalam pekatnya tampak seperti gigi iblis yang sedang tersenyum. 

“loncat….” Teriak Sopar.

Aku akhirnya mendarat juga. Tidak sempurna. Dengan lutut sebagai tumpuan. Kakiku tidak mampu menahan bobot badanku ketika menjejakkan kaki ke tanah. Alhasil celana levis pemberian Busu – paman paling bungsu -- itu pun koyak tepat di bagian lutut. Darah keluar. Rasa pedih menjalar. Oleh-oleh yang sama sekali tidak mak inginkan ketika aku pulang. Penyebab tunggal atas panasnya telingaku diceramahi mak dan merah di jewernya. 

Sejak saat itu aku tau kalau gratis itu tidak selalu manis.

Aku harus jujur dengan diriku kalau aku iri dengan anak  kota. Aku iri dengan takdir mereka. Bagiku anak kota memiliki banyak keistimewaan yang tidak Aku punya. Sekolah mereka lebih bagus. Berporselen. Gurunya tidak suka memukul pakai penggaris. Pakaian anak-anak kota biasanya bersih, wangi, dan disetrika. Gigi mereka putih-putih. Mereka tidak banyak daki. Sedangkan aku? Sekolahku? Gigi teman-temanku? Daki mereka? 

Aku beruntung punya Mak. Walaupun Mak hanya tamat SD dia pandai mengurus anaknya agar selalu bersih. Mak marah betul kalau pulang sekolah aku tidak ganti baju dulu kalau mau pergi main. “Itu adat anak kubu” selalu mak katakana begitu. 

Setiap kali mandi di Batanghari aku juga sering disiksa Mak. Sikat gigi dipaksanya masuk ke mulutku. Badanku kalau mandi tidak boleh hanya disabun. Aku harus menyerahkan diri ke mak untuk mengambil jatah gosok badan pakai sabut kelapa. “Biar tidak berdaki” kata Mak. Kadang aku kesakitan juga bahkan pernah aku nangis karena pedih. Tapi Mak terus saja. 

Hanya satu saja Mak tidak mau melakukan. Mungkin lebih tepatnya tidak terbiasa. Menggosok baju. Pakaian Mak tidak pernah disetrika. Begitu juga pakaian Ayah. Aku yang ingin  rapi seperti anak kota, terpaksa menyetrika baju sekolahku sendiri menggunakan setrika besi yang diisi batok kelapa.

Dihantui oleh fakta pahit terlahir sebagai anak desa dan rasa iri dengan pesona anak kota yang kian menjalar membuatku termotivasi untuk rajin belajar. Aku sadar aku tidak bisa kembali ke perut mak lalu memohon ke Tuhan agar mak pindah ke kota sebelum mengeluarkanku ke dunia. Tapi aku masih memiliki banyak waktu untuk merubah jalan cerita hidupku. Aku masih memiliki kesempatan untuk menjadi anak desa yang berbeda yang memiliki wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kemajuan yang jauh melampaui anak kota. 

Didorong oleh keinginan ini aku tanpa berpikir panjang ketika Pak Poden, kepala sekolah SD ku meminta Aku untuk memegang kunci sekolah berhubung rumahku berhadapan dengan SD. Hanya jalan raya saja yang memisahkan keduanya. Setiap pagi buta Aku bertanggung jawab membuka pintu semua  kelas dan menutupnya kembali setelah semua murid dan guru pulang. 

Memiliki akses ke semua ruangan di sekolah Aku manfaatkan sebaik-baiknya. Setiap pagi sebelum murid datang, Aku sempatkan membaca buku di perpustakaan beberapa menit. Aku pun kadang membawa pulang beberapa buku untuk dibaca di rumah tanpa memberitahu kepala sekolah lagi. Semua buku yang aku bawa ke rumah aku kembalikan lagi ke perpustakaan jika sudah tamat membacanya. Satu saja buku yang aku simpan sampai sekarang. Atlas. Aku suka sekali dengan buku yang berisi peta itu. setiap kali ada waktu luang aku biasanya membukanya dan melihat peta berbagai tempat di dunia. Aku terkagum-kagum dengan keindahan Indonesia yang terdiri dari pulau. Aku juga sering melihat negara-negara eropa yang bagiku kecil-kecil. Tidak sebesar Indonesia. Dan aku terkesima dengan bentangan daratan negara yang sering aku dengar di televisi. Negara tempat film kesukaanku, Combat, berasal. Amerika. bagiku negara ini negara yang paling kuat di dunia karena memiliki pasukan Combat.

Setelah menamatkan SD, Aku dikirimkan ke Kota Jambi untuk bersekolah di pesantren. Ayahku sengaja mengirimku jauh-jauh agar aku jarang pulang ke rumah. Bukannya dia benci denganku. Melainkan sebaliknya. Dia sangat sayang padaku. Dia tidak ingin aku terpengaruh oleh pergaulan di desaku yang dia bilang tidak berpendidikan. 

Ayah benar. Orang-orang di desaku tidak menganggap perlu yang namanya sekolah. Tidak semuanya demikian. Tapi sebagian besar. Mereka berkeyakinan mencari uang setelah anaknya tamat SD atau SMP adalah hal yang perlu dan jauh lebih penting ketimbang duduk di bangku sekolah lama-lama. Apalagi waktu itu musim berbalok atau panen kayu hutan. Menjadi anak buah balok, tukang tebang pohon di hutan, atau supir mobil balok jauh lebih menggiurkan. Kawan-kawan sebayaku sudah bisa menghasilkan duit ratusan ribu rupiah. berbeda sekali denganku yang melakukan sebaliknya.

Di tempat baruku, karena perkotaan, dan lebih kota dari Kota Tebo, semangatku untuk rajin belajar semakin terpompa. Aku jadi lebih terobsesi untuk menunjukkan bahwa anak desa belum tentu ndeso. Anak desa bisa juga tahu banyak tentang banyak hal seperti layaknya anak kota.

Aku ingat sekali di suatu pagi, teman-teman di kelas tengah ribut membicarakan tentang sepak bola. saat itu memang tengah hangat-hangatnya kualifikasi Euro 2004. Aku yang tidak tau apa-apa mengenai sepak bola, hanya tau Ronaldo si kepala botak saja, hanya bisa melongo dan mengangguk. tidak bisa memberikan pendapat mengenai peluang Portugal memenangi tropi di negaranya sendiri. 

Ada penyesalan juga dalam diriku pada waktu itu. Aku suka MotoGp. Valentino rossi merupakan idolaku. Ternyata cabang olahraga balap motor ini tidak banyak yang suka. Coba mereka sering membahas balapan motor pasti Aku bisa bercerita banyak. Tapi Aku tidak pernah menyerah. Aku menganggap setiap hal itu belum terlambat kalau mau memulai. Suatu saat ke pasar, Aku membeli sebuah majalah bola, Soccer namanya. Majalah ini terbit setiap sabtu dan ada hadiah posternya. Aku beli Soccer setiap minggu hingga bertumpuk-tumpuk. Hasilnya? Ketika bercerita tentang sepak bola lagi dengan teman-teman sekelas, Aku tidak hanya paham tentang apa yang mereka perbincangkan tetapi juga berkecimpung secara aktif dalam diskusi itu. bahkan mereka banyak tidak tahu tentang hal-hal lain yang Aku kemukakan  seperti bintang masa depan Portugal cristiano Ronaldo atau transfer pemain di klub-klub kecil. 

Ketika waktu berjalan dan aku telah menjadi seorang pria dewasa, tiba-tiba saja seseorang membangkitkan amarah masa kecilku. Saat itu Aku dan beberapa teman tengah berdiri di sebuah pabrik karet. Kami sedang menunggu bos pemilik pabrik untuk melakukan wawancara penelitian. Ditengah bau olahan karet yang menusuk hidung dan lelah berdiri sedari tadi, Aku mencoba untuk memecah kebisuan.

“hey, kalian sudah pernah baca buku ini?” Aku memperlihatkan buku yang tadinya terkepit di tangan kananku.

“Ro-boh-nya Su-rau Ka-mi” Satu dari mereka membaca judulnya terbata-bata.

“Hmm...kamu baru baca ya? Kelihatan kalau SD mu di pelosok desa” ujarnya bermaksud bergurau. Atau memang serius. Aku tak tahu. 

Namun kalimatnya barusan tadi jauh dari kata menyenangkan bagiku. Bagiku itu penghinaan meskipun dia tidak serius. Aku rasakan darahku berdesir keatas hingga menyentuh ubun-ubun.

“Aku memang lahir di desa. Memang dari desa. Tapi pengetahuan dan pencapaianku tidak sebanding dengan kamu yang lahir dan besar di kota!” Bentakku. Jari telunjukku mengarah tepat ke mukanya. 

Aku puas. Aku berhasil membuanya terdiam, menjatuhkan martabatnya di depan orang lain sebagaimana yang telah dia lakukan kepadaku. Bagiku dia pantas mendapatkan kalimatku itu. 

Tapi…di sudut lain di hatiku, aku sangat merasa bersalah. Aku tidak seharusnya berbuat demikian. Apalagi dia temanku sendiri. Kata-kata yang aku lontarkan kepadanya ingin aku tarik lagi. Aku tidak boleh sombong. Mak selalu menasehatiku sewaktu kecil kalau orang sombong itu dijauhi teman. “Lidah itu kejam” kata mak suatu hari. “Liukan lembutnya mampu mematahkan kerasnya hati seseorang dan menghadiahi penyesalan sepanjang hayat.” Mak memang benar mak. 

Lagu Wong Ndeso Tukul semakin sayup terdengar sebelum akhirnya menghilang. Gigiku pun sudah terasa kering. Aku tidak sadar entah berapa lama berdiri di kamar mandi menenteng sikat gigi di tangan kananku. Aku ambil segelas air untuk berkumur-kumur lalu berjalan menuju pintu. Sementara di benakku suara Tukul tidak bisa diusir…

“Yo wis ben, wong arep ngomong opo
Yo wis ben, aku ini memang wong ndeso
Yo wis ben, arep ngomong empat mata
Yo wis ben, sing penting ora kalah karo wong kota
Yo wis ben, wong arep ngomong opo”