Sunday, October 27, 2013

Expect the Unexpected



Acara barbeque hari ini sudah lama saya tunggu karena beberapa hal. Alasan pertama simple. Ingin makan enak. Kedua saya ingin mengetahui seperti apa acara barbeque disini. Oh iya, mungkin ada yang belum tahu apa itu barbeque. Baiklah saya akan coba menjelaskan. Barbeque adalah acara makan-makan yang biasanya diadakan di ruang terbuka seperti taman atau tepi pantai. Yang spesial dari barbeque adalah biasanya terdapat beberapa jenis daging yang dipanggang. Orang-orang pun banyak menjadikan barbeque ini sebagai kesempatan untuk berbincang. 

Jam 9 pagi saya, Sigit, Yani, dan Jasmal memutuskan berangkat ke stasiun kereta Redfern. Rencananya kami akan naik kereta jurusan Rockdale. Dari Rockdale kami akan naik bus 478 menuju lokasi barbeque yaitu Peter Depena Reserve Park di Sandringham. 

Dengan peta di tangan, saya dan teman-teman diantar oleh ‘ibu kos’ kami ke stasiun Redfern. Sesampai di stasiun kami langsung menuju layar informasi keberangkatan kereta. Anehnya kami tidak bisa menemukan jadwal kereta jurusan Rockdale. Akhirnya saya putuskan untuk bertanya kepada salah satu petugas yang berdiri tak seberapa jauh dari kami. “hari ini tidak ada kereta yang ke Rockdale” jawab petugas tersebut. Sontak saja kami panik karena petunjuk yang dikirimkan kepada kami oleh Mbak Sylvia, coordinator kami, adalah naik kereta ke Rockdale. Kalau sudah begini kami harus merubah rencana supaya bisa sampai ke tujuan pada jam 11.

Kami putuskan naik kereta jurusan central untuk mempermudah perjalanan. Jam sudah menunjukkan pukul 9.30. Artinya kami masih memiliki satu setengah jam untuk sampai ke Peter Depena Reserve. Kereta meluncur sangat cepat. Kami pun sampai ke stasiun central dalam hitungan menit.

Dari stasiun central saya coba menghubungi salah seorang teman baik kami. Randy namanya. Pria asli Belitung berkulit putih ini sudah empat tahun terakhir kuliah di Sydney. Setelah bertukar beberapa pesan tentang arah tujuan kami yang semakin membingungkan, akhirnya Randy memberikan solusi paling praktis. Google Maps! Saya menjadi manggut-manggut sendiri menyadari kedunguan saya terhadap teknologi smartphone yang ada ditangan saya. Harus diakui memang saya belum cukup smart untuk memanfaatkan smartphone saya. 

Ternyata informasi tentang tujuan kami sangat lengkap di Google Maps. Saya tinggal ketikkan tujuan perjalanan dan Google Maps akan mengarahkan kemana kami harus berjalan, bus nomor berapa yang harus dinaiki, dan berapa lama waktu tempuh dari satu halte ke halte yang lain. 

Setelah berjalan kesana kemari, naik bus ini dan itu, akhirnya kami sampai juga ke Peter Depena Reserve. Dari kejauhan kami bisa melihat gerak gerik keceriaan dari teman-teman kami yang lainnya. Sepertinya mereka telah menikmati sejuknya angin pantai dan lezatnya makanan yang tersedia. Jarum jam pun mengarah ke angka satu.



Weekend yang Keren

Yes hari ini weekend! Bebas kerja dan bisa melakukan banyak hal! Untuk mengisi weekend kali ini saya dan tiga orang teman lainnya yaitu Sigit dari Banjarmasin, Jasmal dari Maluku Utara, dan Yani dari Sumbawa telah merencanakan rute petualangan. Pertama-tama kami akan ‘hunting’ barang-barang bekas di King Street, kemudian mondar-mandir di Paddy’s Market sebelum menuju Sydney Harbour untuk menikmati sunset di dekat Opera House.
 
Sebelum menuju pasar rombeng di King Street saya sebenarnya sudah memasang target pribadi. Target saya tidak muluk-muluk, hanya berharap menemukan sepatu saja sebagai pengganti sepatu Airwalk saya yang sudah mulai uzur. ‘siapa tahu saya bisa dapat sepatu bekas dengan harga murah’ harap saya dalam hati.

Untuk mencapai King Street kami harus naik kereta dari stasiun Redfern ke Newtown yang tidak seberapa jauh. Dengan wajah yang berseri-seri kami menunggu kereta di stasiun. Maklum masing-masing kami memiliki target tersendiri walaupun tidak kami kemukakan. Tak berapa lama menunggu akhirnya sebuah kereta parkir di depan kami. Tanpa pikir panjang kami langsung melangkahkan kaki ke dalam. 

Belum lama kami terlena oleh keempukan kursi kereta, mata kami terbelalak tatkala melihat tulisan jurusan kereta di depan kami. Kereta yang sedang kami naiki bukan kereta ke Newtown ternyata! Kami segera berhenti di stasiun pertama dan langsung naik kereta lain yang langsung ke Newtown.

Sesampai di stasiun Newtown kami langsung berjalan ke King Street untuk menuaikan misi. Belum jauh kami berjalan kami sudah bisa menemukan kerumunan orang yang kelihatan sibuk di sekitar tenda-tenda. Ternyata orang-orang itu sedang memilih barang-barang bekas yang bisa dibawa pulang. Tanpa pikir panjang kami langsung menuju TKP. Saya melangkah menuju tenda-tenda yang menjual pakaian dan sepatu. Disana saya konsentrasikan mata saya ke setiap sudut untuk mencari sepatu dambaan. Setelah mengarahkan bola mata kesana kemari saya menemukan sepatu yang sepetinya ‘pantas’ menggeser posisi sepatu tua saya. Saya arahkan telunjuk ke sepatu tersebut sambil menanyakan harganya. ‘45 dolar’ jawab penjual itu tanpa berdosa. ‘What?’  Bentak saya dalam hati. ‘Sepatu bekas harganya 500 ribu rupiah? Mendingan saya beli sepatu baru di Indonesia’ kutuk saya. 

Sepasang kekasih sedang berjalan menuju pasar rombeng di King Street
Sudut lain dari pasar rombeng ini
Demi meminimalisir kutukan kami putuskan untuk melanjutkan petualangan. Kami kembali ke stasiun kereta Newtown menuju stasiun Central. Dari sana kami akan jalan kaki ke Paddy’s Market. Di Paddy’s Yani dan Sigit terpaksa membeli jaket karena tidak sanggup lagi menahan dinginnya udara Sydney. Sewaktu membeli jaket inilah kami menyadari bahwa orang Indonesia itu memang patut diperhitungkan. Betapa tidak, komplek pasar yang notabene bukan Tanah Abang ini terdapat beberapa orang Indonesia yang jualan. Ada yang berasala dari Jakarta, Surabaya, bahkan Kalimantan. Indonesia memang bangsa yang besar!

Masing-masing kami sudah menenteng satu kilo buah-buahan yang kami beli di Paddy’s untuk dibawa ke Opera House. Nantinya kami akan duduk manis ditangga Opera House sambil makan buah-buah segar yang kami bawa. Saya membawa jeruk, Sigit dan Jasmal membawa apel, seadangkan Yani membawa anggur. 
Matahari sudah mulai memerah disisi Harbour Bridge. Angin pun berhembus kian kencang. Perlahan Opera House diselimuti kegelapan pertanda siang sudah kembali ke pelukan sang malam. Dengan buah-buahan yang tinggal separo kami melangkah pulang. Tangga Opera House menjadi saksi bisu betapa indahnya sore yang kami lalui hari ini.

 


Taronga Zoo vs Taman Rimbo

Hari ini saya mendapatkan tugas khusus dari bos, Nikki. Tugasnya mudah tapi cukup untuk membuat kedua kaki terasa keram. Sang bos meminta saya untuk mengelilingi Taronga Zoo yang mana medannya naik turun. Saya kemudian diminta membuat perbandingan antara kebun binatang paling tersohor seantero Sydney ini dengan kebun binatang di Indonesia khususnya di Jambi. Dengan kamera di tangan saya langsung menjalankan misi ini. Berikut keunggulan Taronga Zoo dari Kebun Binatang Taman Rimbo di Jambi hasil pengamatan saya. 

Pintu utama Taronga Zoo
Taman Rimbo Zoo

Fasilitas Tap Water

Berbicara tentang fasilitas tentu Taronga unggul telak dari Taman Rimbo. Hampir disetiap sudut Taronga bisa di jumpai tap water (tempat yang memiliki fasilitas air minum). Jadi pengunjung tidak perlu lagi membawa air minum dari luar. Kapanpun mereka haus mereka bisa langsung menuju tap water yang telah tersedia. Sedangkan di Taman Rimbo pengunjung mesti membawa air minum dari rumah.

Layar LCD

Disepanjang kebun binatang juga terpasang banyak layar LCD sebagai papan informasi atau media penayangan satwa. Pengunjung bisa menonton beragam perilaku binatang lengkap dengan penjelasannya di layar LCD yang tersebar tersebut.

Papan Informasi

Taronga Zoo dilengkapi oleh papan informasi yang sangat lengkap. Mulai dari papan yang berisi peta wilayah kebun binatang, informasi tentang binatang-binatang tertentu, sampai program-program konservasi yang dijalankan oleh Taronga.
 
Ahli Binatang

Taronga memperkerjakan banyak ahli binatang sebagai upaya memberikan pelayanan terbaik kepada pengunjungnya. Mereka bertugas untuk memberikan informasi tentang binatang-binatang yang ada kepada para pengunjung. Biasanya mereka memiliki jadwal tertentu sehingga pengunjung bisa merencanakan bianatang apa yang sebaiknya mereka kunjungi terlebih dahulu.

Cable car

Ini dia fasilitas yang sangat luar biasa menurut saya. Selain memudahkan pengunjung kesana kemari, cable car juga bisa digunakan untuk menikmati kebun binatang dari atas. Dari dalam kereta gantung inilah pengunjung bisa melihat-lihat binatang-binatang dari sudut pandang yang berbeda.

Transportasi 



Transportasi dari dan ke Taronga sudah tersistem dengan baik. Pengunjung hanya perlu mengertahui bus atau kapal ferry yang mana saja yang rutenya ke Taronga. Jika sudah jelas pengunjung tinggal mengecek jadwal keberangkatan bus atau ferry tersebut. Ferry biasanya berangkat dari dan ke Taronga dari Circular Quay (Sydney Harbour) dalam tiap-tiap dua menit.
 
Koleksi Binatang



Taronga memilki koleksi binatang yang cukup lengkap. Hampir setiap binatang di seantero bumi bisa ditemui disini. Dari kecoa sampai jerapah. Dari afrika sampai amerika. Saya yang seumur hidup di Indonesia belum pernah melihat komodo dan orang hutan, disini saya bisa melihat mereka dari dekat.

Suasana

Suasana Taronga di desain menyerupai alam yang sesungguhnya. Pengunjung bisa merasakan sejuknya udara yang dipancarkan oleh pepohonan yang rindang disekitar. Kicau burung pun tedengar dengan merdu jika sudah didalam. Bukan hanya itu saja, kandang-kandang binatang pun dirancang seasli mungkin. Kandang Tasmania Devil misalnya yang dipenuhi dengan semak-semak dan kayu berlubang agar sang maskot merasa seperti di alam lepas.
 
Peta

Taronga memiliki lokasi yang cukup luas. Medannya pun sedikit berliku sehingga pengunjung bisa saja tidak melihat seluruh koleksi binatang. Untuk mensiasatinya pengunjung bisa menanfaatkan peta lokasi Taronga. Peta lokasi gratis ini bisa diambil di meja pembelian tiket.
 
Sukarelawan

Salah satu yang menarik dari kebun binatang ini adalah keterlibatan masyarakat didalamnya. Terdapat banyak pensiunan yang bekerja secara sukarela untuk Taronga. Walaupun usia mereka sudah senja tetapi mereka masih terlihat bersemangat dalam memberikan pelayanan terbaik kepada pengunjung. 
 
Kids Trail



Kegemaran anak-anak dalam berinteraksi dengan binatang sepertinya direspon dengan baik oleh Taronga Zoo. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya wahana permainan untuk anak-anak. Ada kolam mini dimana sikecil bisa basah-basahan bermain air, rumah perternakan mini supaya anak-anak lebih mengetahui tentang kehidupan di sekitar perternakan, dan banyak lagi media dan tempat bersenang-senang lainnya yang bisa membuat mereka betah seharian.

Konsep Konservasi

Jika kebun binatang di Jambi masih berkonsep rekreasi dimana pengunjung bisa melepaskan penat dengan melihat tingkah polah binatang yang lucu, Taronga Zoo hadir dengan konsep yang lebih berkesinambungan. Taronga sangat aktif dalam program-program konservasi binatang baik di Australia maupun di negara lain termasuk Indonesia. Taronga menjalin kerja sama dengan Frankfurt Zoological Society di Bukit Tiga Puluh Jambi dalam proyek konservasi orang hutan dan harimau Sumatra. Mereka juga mejalin kerja sama dengan Taman Nasional Way Kambas di Lampung. 
 
Sumber Daya Manusia

Dalam hal kualitas yang satu ini saya boleh katakan bahwa pegawai Taronga memiliki kualitas beberapa level lebih tinggi dari pegawai Kebun Binatang Taman Rimbo. Selain unggul dalam level pendidikan, pegawai Taronga juga unggul dalam profesionalitas dan etos kerja. Mereka datang dan pulang kerja tepat waktu dan selalu serius dalam bekerja. Bahkan beberapa diantara mereka sampai tidak sempat makan siang saking sibuknya. 
 
Pusat Pendidikan

Diilhami oleh konsep konservasi yang berkesinambungan, Taronga sangat aktif menularkan ide mereka kepada anak-anak usia sekolah di sekitar kota Sydney. Setiap hari terdapat anak-anak dari sekolah yang berbeda datang ke pusat pendidikan untuk belajar tentang binatang dan lingkungan sekitar. Program ini tidak hanya memberikan kesadaran dini kepada anak-anak terhadap pentingnya menjaga alam semesta tetapi juga sumber pendapatan bagi Taronga karena tiap-tiap sekolah yang ingin ikut serta perlu mendaftar terlebih dahulu.

Memang tak adil rasanya jika membandingkan Taronga Zoo dengan Kebun Binatang Taman Rimbo Jambi. Kedua kebun binatang ini tinggal di kasta yang berbeda. Yang satunya dari kota terbesar di Australia sedangkan yang satunya lagi hanya dari kota kecil di Pulau Sumatera. Semoga Kebun Binatang Taman Rimbo bisa belajar banyak dari Taronga Zoo.