Monday, September 21, 2015

Kisah Akik dan Ikil

Tersebutlah kisah tentang sepasang sahabat bernama Akik dan Ikil. Mereka berdua dilahirkan di sebuah pulau di tepian sungai yang airnya mengalir jernih dan udaranya amat segar sebab disekeliling pulau itu pohon-pohon raksasa masih menjulang tinggi. Kicauan burung, raungan kera, berpadu dengan kokok ayam hutan jantan senantiasa membangunkan mereka tiap pagi bak melodi-melodi indah hasil gubahan Mozart.

Jalan hidup dua sejoli ini memiliki plot yang berbeda. Semasa kecil Akik mesti menghadapi sebuah kenyataan pahit, dia terpaksa menganggukkan kepala atas sebuah tawaran untuk berpisah dengan keluarganya, keluarga batu, oleh seseorang tak dikenal dari negeri antah-berantah. Tragedi ini secara otomatis menceraikan Akik dengan kampung halamannya yang tercinta, Pulau Batu, serta sobat karib tersayang, Ikil. Walau sulit, Akik tak memiliki daya dan upaya untuk melawan. Dengan kepala tertunduk, mata basah, dan tubuh lunglai Akik berangkat pasrah. Dilambaikannya tangan kanannya ke atas tanda salam perpisahan kepada kedua orang tua dan semua kenangan indah yang terukir di kampung halamannya selama ini.

Sementara itu Ikil memilih untuk sembunyi dibawah ketiak ibu bapaknya di belakang bongkahan batu besar yang teronggok di sudut pulau. Terakhir diketahui, rupanya batu itu adalah keluarga besarnya Ikil. Mereka semua tinggal disitu bersatu padu mulai dari kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, keponakan, cucu, cicit, menantu, sampai pembantu. Maka selamatlah Ikil. Tersenyum lebarlah kedua orang tuanya. Pecahlah gelak tawa di keluarga besar itu. Mereka merayakan hari itu dengan menyembelih udang sebanyak 2 ons dan berpesta hingga larut malam. Ikil baru saja diselamatkan dari upaya orang luar yang hendak merenggutnya dari sanak familinya padahal mereka tidak ingin berpisah dan Ikil pun tak berniat meninggalkan teman-teman bermain di kampung halamannya. Maka wajar saja jika hari itu masuk dalam kategori hari besar Ikil sekeluarga yang patut dirayakan.

Masa-masa selanjutnya dilalui dengan nuansa yang berbeda oleh kedua batu ini. Hari-hari Ikil penuh gelak tawa. Bermain kesana kemari dengan teman-teman dan berlimpahan kasih sayang dari keluarga. Pendek kata hidup Ikil seolah tidak mendapatkan kesusahan apapun. Sedangkan Akik memiliki jalan cerita lain di perantauan, di negeri yang sama sekali tidak dikenalnya. Asing. Dia diperlakukan semena-mena oleh orang tak dikenal yang dulu merenggut kebahagiaan dan kebebasannya semasa di desa. Tubuhnya tidak utuh lagi karena telah dibelah. Kepala entah kemana kakipun telah hilang. Bentuknya kini sudah menyerupai kubus dengan sisi berserakan. Seakan tak putus dirundung malang, tubuh Akik kemudian berkali-kali digosok dengan permukaan halus namun cukup pedih jika terasa oleh tubuh. Penggosokan tubuhnya itu membuat warna Akik berubah. Kulitnya tidak seperti dulu dan dia tidak lagi mirip dengan anggota keluarganya yang lain. Khawatir betul hatinya kalau-kalau ibu bapaknya tidak mengenali dia lagi. Setelah berulangkali tersiksa, belakangan baru dia tahu kalau alat yang mengelupaskan kulit arinya itu bernama amplas.

Naas nasib Akik. Ternyata siksaannya tidak hanya dari amplas saja tetapi kini sudah berbentuk lain yang lebih menakutkan. Dia gugup lagi histeris ketika mendengar bunyi melengking dengan bulatan yang berpusing menyentuh tubuhnya kemudian mengoyak-ngoyak dagingnya. Tak terperikan rasa sakit yang dialaminya hingga air mata saja yang keluar. Akik meraung tapi tak terdengar sebab suara gerinda memenuhi cakrawala. Akik menangis sejadi-jadinya namun apa hendak dikata tiada seorangpun yang peduli.

Akik mengira itu saja penderitaannya. Tetapi tidak! Suatu ketika dia dicelupkan ke dalam air yang dingin. Berhari-hari lamanya hingga tubuhnya terasa beku. Ingin sungguh dia keluar merasakan nikmat sinar mentari namun apa daya dia tak kuasa. Lagi-lagi cuma pasrah lah yang dia bisa.

Seketika Akik teringat nasihat orang tuanya semasa di kampung dulu. Saat itu Akik kecil tengah berlari girang di depan ayah dan ibunya dalam perjalanan ke kebun lumut milik mereka. Entah karena terlalu bergembira atau kurang hati-hati, Akik tersandung ranting dan terjerembab. Lututnya lecet dan lengannya biru. Akik pun menangis sejadi-jadinya. Anehnya orang tua Akik tidak mengangkat dan mengelus-elus Akik sebagaimana yang Akik harapkan. Ayahnya hanya mendekat, memegang pundak Akik, menghapus air matanya, kemudian berujar: "Nak, hidup itu keras. Kau harus siap dengan segala susah payah yang akan kau lalui. Jika kau terjatuh, menangislah kalau kau merasakan sakit. Tapi ingat, jangan berlama-lama disana. Segera bangkit sebab jalanmu masih panjang. Masih ada mentari esok yang akan melebarkan senyumnya untukmu. Keberhasilan itu mahal harganya nak, jadi kau harus tabah dalam menghadapi segala tantangannya"

Kata-kata ayahnya tadi membuat Akik sedikit tabah. Dia mulai berpikiran, boleh jadi ini semua demi kebaikan dirinya. "Barangkali ayah dan ibuku tidaklah tidak sayang denganku, atau mereka juga tidaklah tidak iba dengan kondisiku. Mereka mungkin sengaja membiarkanku begini agar aku memetik pelajaran hidup dan menjadi batu yang dimuliakan"

Bulan berganti tahun berlalu. Akik dan Ikil kini telah menjadi dua batu dewasa yang berpenampilan tak serupa180 derajat. Ikil berperawakan seperti leluhurnya dari warna hingga bentuk tubuhnya. Tak berbeda sedikitpun. Sedangkan Akik kini memiliki warna yang mencolok dan bercahaya yang membuat sejuk mata memandang. Tempat tinggal mereka juga tidak sama. Ikil terbenam dibawah semen menjadi pondasi rumah manusia, terperangkap dan tidak bisa bergerak. Semua teman-teman Ikil bernasib sama dengannya. Sedangkan Akik tak disangka duganya kini tempatnya sangat spesial. Dinding rumahnya terbuat dari emas 24 karat yang dibangun khusus sesuai dengan bentuk tubuhnya sehingga sekuat apapun hentakan atau benturan yang melanda, tubuh akik tidak akan terpental.

Bukan itu saja, dalam beberapa bulan terakhir ini banyak sekali orang yang tertarik dengannya. Masing-masing datang dengan harga tertinggi serta tawaran rumah yang mewah. Hanya satu orang saja yang Akik pilih, meskipun rumah emas yang ditawarkan orang itu tidak begitu megah bila dibandingkan dengan rumah-rumah dari orang lain yang sedang antri ingin memilikinya, yaitu seorang tua berjenggot asal kampung halamannya, Pulau Batu. Pak Tua Batu namanya. Sosok kepala suku batu yang amat bersahaja, jujur, dan disegani oleh seantero penduduk negeri batu. Dengan tangan bergetar karena terharu, Pak Tua Batu membawa Akik yang tengah terisak tangis bahagia pergi dan menempatkannya di jari manisnya. Sayang betul dia dengan Akik. Kemana-mana dibawanya. Kotor sedikit dibersihkannya. Setiap ada pertemuan dipamerkannya kepada teman-temannya. Dan yang paling membahagiakan Pak Tua Batu dan Akik adalah, dengan kembalinya Akik ke kampung halaman, mereka berdua bisa bersinergi menebarkan inspirasi serta memperbaiki keadaan negeri sedikit demi sedikit. Tahun-tahun selanjutnya menjadi sejarah hebat di Pulau Batu, sebab penduduk pulau kecil itu berlomba-lomba ingin memiliki kilau seperti Akik walaupun mereka sepenuhnya sadar bahwa untuk menjadi bercahaya tubuh mereka mesti disiksa. Mereka memilih untuk tiada peduli. Sepertinya, pepatah 'bersakit-sakit dahulu bersenang kemudian' yang terdapat di setiap sampul buku mereka saat SD dulu sudah pindah, meresap lalu menyatu dengan aliran darah di tiap-tiap badan mereka.

Kini Pulau Batu makmur sentosa dengan nikmat melimpah ruah sebab penduduknya telah dipenuhi oleh Akik yang sangat peduli satu sama lain. Dan, tetap menjadi seorang Ikil sekarang bukan lagi pilihan tepat sebab Ikil telah menjadi simbol aib yang tak tertanggungkan di kampung Pulau Batu. Sekian.

 

 

mbs

Dalam balutan dingin pagi kota Manchester

 

 

 

Tuesday, September 15, 2015

Pahitnya Perjuangan

Aku tak kuasa menahan serangan dingin yang menjalar melalui ujung jari kaki dan tangan. Kugulung-gulung lagi selimut hitam putih yang disediakan oleh Etihad, tetap saja rasa sejuk itu menyerang. Kuputuskan untuk membuka mata sementara seorang wanita dari Frankfurt, Maria, yang baru saja pulang liburan dari indonesia tengah asyik menyantap sepotong sandwich ayam tepat disebelahku.

Pagi ini, di langit Allah antara Mumbai dan Abu Dhabi, akan kucurahkan liku hidup yang telah terpendam lama. Tepatnya setahun. Sebuah jalan nasib yang tampak amat menyenangkan dari luar khususnya di sepasang mata manusia yang melihat.

Kisah ini bermula setahun silam tepatnya di sekitar bulan maret 2014. Kala itu aku tak sengaja membaca sebuah tautan dari teman Facebook mengenai sebuah beasiswa yang pada tahun 2013 tidak jadi aku apply sebab jurusanku, Sastra Inggris, belum menjadi prioritas mereka. Namun tahun itu aku menemukan bahwa beasiswa ini sudah berbeda dari setahun sebelumnya yang mana sekarang semua jurusan akan diakomodir. Senang bukan kepalang aku waktu itu. Tanpa pikir panjang, segera aku penuhi semua persyaratan beasiswa lpdp itu.

Tanpa maksud jual mahal, aku tidak begitu mengharapkan lpdp jika dibandingkan dengan Fulbright. Hal ini dikarenakan mataku sudah lama silau oleh kilauan cahaya Beasiswa pemerintah Amerika ini sejak di bangku kuliah. Terlebih, alumni-alumni Fulbright di Indonesia adalah orang-orang yang mentereng semisal Anies Baswedan atau Ahmad Fuadi. Karena tidak mau menyia-nyiakan peluang, dan belum tentu aku pantas di mata pihak Fulbright, aku coba keduanya.

Singkat cerita, semua dokumen telah disiapkan, formulir beasiswa pun telah diisi lengkap dengan essay yang diminta. Untuk beasiswa Fulbright aku kirim lewat pos sedangkan berkas lpdp aku upload ke website mereka.

Setelah sekitar satu bulan menunggu aku pun mendapat email dari lpdp yang menyatakan bahwa aplikasi beasiswaku telah diterima dan aku diminta ke jakarta untuk proses selanjutnya yaitu fase wasancara dan LGD (selengkapnya bisa dibaca disini: http://putellaking.blogspot.co.uk/2014/06/seputar-beasiswa-lpdp_4.html

Dan perjuangan pun dimulai

Persiapan pra wawancara tidak begitu rumit sebab aku hanya perlu menyiapkan ongkos pesawat ke jakarta saja. Selama di jakarta pun aku menginap di kosan sahabat karibku, Iqbal, dari Bengkulu. Babak menegangkan dalam hidupku adalah ketika profesor yang mewawancaraiku merekomendasikan aku kuliah ke Inggris bukan Singapore seperti yang tertulis di aplikasiku. Tantangannya bukan main-main bagiku saat itu. IELTS!

Jujur saja sepanjang hidupku, walaupun S1 ku Sastra Inggris, ielts hanya pernah ku dengar namanya. Jangankan membaca soal-soalnya, melihat bukunya saja belum ada seumur-umur. Jadi risau bukan kepalang hatiku saat itu. Meskipun galau, aku belum mau bergerak sebab aku belum tentu lulus lpdp. Aku mulai kocar-kacir memperjuangkan ielts setelah dinyatakan lulus fase wawancara.

Saat itu bulan juni. Aku membuka laptop, memasang modem, dan berselancar di Google mencari buku ielts yang bisa di download. Dibantu segelas teh hangat, kutelusuri beberapa website yang muncul dengan teliti dan pada akhirnya aku berhasil mendownload buku-buku terbaik ielts semisal Target Band 7 dan tentu saja ielts cambridge 1-9. Aku tak tau harus bagaimana menyikapi hal ini. Memang benar, apa yang kau perbuat itu ilegal, mengambil hak milik orsng tanpa izin, tapi aku lanjut saja. Biarlah Tuhan yang menilai dan menghukumku nanti.

Agar lebih efektif, aku mulai membuat jadwal belajar. Belajar semua hal yang berhubungan dengan bahasa inggris mulai dari grammar, writing, speaking, dan tentu saja semua ielts book yang telah aku unduh. Aku buka lagi buku-buku Bahasa Inggrisku sewaktu kuliah dulu. Ternyata memang masih banyak yang belum aku ketahui.

Pada awal-awal belajar ielts aku kesulitan dalam memahami soal-soal reading dan writing. Bagiku dua tes ini amat sulit. Tapi aku tidak menyerah. Aku paksa terus belajar setiap hari sampai akhirnya aku bisa mengerti (setelah 3 bulan). Disaat yang bersamaan aku mulai mengumpulkan uang untuk keperluan tes ielts ku nanti.

Menyiapkan uang sejumlah lebih kurang 4 juta rupiah bukan perkara mudah bagiku. Aku tidak memiliki gaji pokok karena aku bukan fulltimer melainkan freelancer. Sepeda motorku pun masih kredit. Belum lagi biaya hidup sehari yang mesti aku tanggung. Peduli apa. Aku berkeyakinan bahwa tugasku hanya berusaha dan berusaha. Hasilnya aku serahkan saja kepada Allah.

Setelah bersusah-payah selama lebih kurang 5 bulan, mengumpul uang, berhemat ala mahasiswa, menjual sepeda, dan menamatkan semua buku ielts yang aku download (ada sekitar 15 buku), akhirnya aku putuskan untuk berangkat ke jakarta. Pendaftaran ielts telah selesai melalui internet. Pembayarannya pun sudah rampung.

Di dalam pesawat hatiku gundah gulana sebab beragam tanya mengganggu pikiran. "Bisakah aku mendapatkan skor 7 nanti? Atau hanya angka 5? Kalau aku gagal, mampukah aku mencari uang 4 juta lagi untuk tes?" Aku memilih pasrah karena hanya itu yang aku bisa. Setidaknya aku telah berjuang semampu dan sekuat yang aku bisa. Kalaupun nanti gagal, yang artinya aku harus melepas beasiswa lpdp, aku menganggap itu sudah takdirku. Barangkali Allah punya rencana lain.

Alhamdulillah perjuanganku tidak sia-sia. 13 hari setelah tes ielts, sertifikat ielts ku dikirim ke jambi dan you know what, aku dapat 7! Ini artinya aku bisa mendaftar di kampus impianku, University of Manchester. Yeeey!

Fase mendaftar kuliah

Selama ini aku hanya berandai-andai saja bisa kuliah di Manchester. Ini karena persyaratan ielts 7 yang disyaratkannya terlalu tinggi bagiku. Namun setelah menaklukkan ielts aku pun siap. Tidak sampai sebulan setelah aku melengkapi semua dokumen yang mereka minta, aku mendapatkan email bahwa aku diterima di program impianku, American Studies. Berita bagus tambahannya adalah aku juga diterima di dua kampus lainnya yaitu jurusan American studies di university of Glasgow dan program English literature di Lancaster university. Ke dua kampus ini juga bertempat di UK. Sorry to say, Manchester is too great to refuse! Jadi saya 'tolak' tawaran dari dua kampus tersebut.

Meski girang bukan kepalang, aku belum bisa menarik nafas lega. Aku harus mengajukan perpindahan kampus dan jurusan dulu ke lpdp dari sebelumnya jurusan English Literature di National University of Singapore ke Jurusan American Studies di University of Manchester. Untuk yang satu ini agak mendebarkan dada sebab pertama, ranking NUS berada di peringkat 22 dunia sedangkan UoM peringkat 30. Jika pindah artinya aku downgrade bukan upgrade. Jurusan s1 ku pun sastra inggris bukan american studies. Sekali lagi, peduli apa! Aku beranikan diri mengajukan permohonan pindah ke lpdp lengkap dengan alasan logisnya. Hanya berselang jam, lpdp memberikan surat bahwa permohonanku dikabulkan bersamaan dengan surat kontrak belajar. Alhamdulillah.

Bulan-bulan berikutnya, January-June 2015 aku mulai fokus mengumpulkan uang untuk visa. Biaya visa ke inggris tidak murah yaitu sekitar 11.500.000 rupiah. Itu belum termasuk tes TBC serta ongkos pulang perhi dan akomodasi selama di jakarta. Jadi keseluruhan biayanya sekitar 15 juta.

Pada awalnya aku cemas. Bagaimana mungkin bisa mencari uang 15 juta sedangkan uang yang kudapat perbulan tak seberapa dan motorku pun masih belum lunas! Januari-maret aku tidak mengumpulkan uang secara maksimal sebab kredit motorku baru lunas bulan maret. Lagi, walaupun khawatir, peduli apa! Yang penting aku usaha saja!

Bulan april aku mulai giat mencari tambahan uang dengan mengajar lebih banyak di beberapa tempat termasuk di rumahku sendiri. Alhamdulillah, Allah itu memang tidak pernah php. Ada saja jalan rezekiku seolah Allah ingin membuktikan lagi firmannya mengenai jalan keluar bagi setiap masalah untuk orang yang bertakwa (aku tidak takwa-takwa amat tapi juga tidak zolim kelas berat, hehe). Selama periode 3 bulan yaitu april-juni aku berhasil mengumpulkan uang 11.500.000 rupiah. Artinya untuk biaya visa aku sudah punya. Sekarang tinggal mengakali uang untuk ongkos ke jakarta dan biaya tes tbc.

Aku menelepon semua orang yang kuanggap punya duit untuk meminjamkanku sekitar 5 juta. Tapi hasilnya nihil. Tanpa putus asa, aku terus mencari hingga teman baikku, Iqbal, dengan senang hati meminjamkan. Tiket pesawat ke jakarta juga aku beli dengan pinjaman uang modal pulsa adikku.

Tantangan visaku tidak sampai di permaslahan finansial saja. Ada kerikil lain yang mesti aku pijak. Pertama adalah kartu kredit. Pembayaran visa harus melalui kartu kredit sedangkan aku tak punya. Aku menghubungi Eric temanku orang Amerika dan meminta tolong bayarkan visaku menggunaka kartu kreditnya. Dia pun dengan senang hati menolong. Pembayaran visa sempat bermasalah beberapa kali dari kegagalan sistem, website dalam perbaikan, sampai ketidaktersedianya waktu wawancara karena sudah penuh di book oleh yang lain. Karena hal inilah aku terpaksa stay di jakarta selama 10 hari sampai semuanya clear.

Yang kedua adalah tes tbc. Saat itu aku sedang radang tenggorokan yang membuat batuk ringan. Cemas sekali rasanya hendak tes tbc dalam keadaan seperti itu. Yang terpikirkan oleh aku adalah, jika aku terindikasi tbc maka tamatlah riwayatku. Hal ini akan membuatku tidak bisa memohon visa ke inggris dan aku harus tes dahak yang mana hasilnya baru keluar selama 13 minggu. Saat itu juli sedangkan aku mulai kuliah september. Jadi sangat riskan kalau saja aku positif tb. Mau pindah kampus ke negara lain pun tidak bisa sebab pendaftaran sudah tutup. Kalaupun mendaftar itu untuk tahun ajaran berikutnya. Alhamdulillah, untung saja paru-paruku tidak apa-apa. Aku pun lancar jaya dalam mengurus visa.

Ready for Manchester

Waktu keberangkatanku kian dekat. Aku menjadi tidak sabar. Namun ada satu masalah lagi yaitu kotaku, kota Jambi, sedang ditutup oleh kabut asap tebal yang disebabkan oleh kebakaran hutan. Kian dekat dengan jadwal berangkatku asapnya kian menjadi-jadi sampai aku pasrah dibuatnya. Pada malam keberangkatanku kondisi bandara Jambi sepi senyap. Tidak kelihatan penumpang yang tiba atau pesawat yang mendarat. Semua penerbangan hari itu dibatalkan. Satu saja yang tidak di cancel yaitu penerbanganku. Mungkin karena flightku flight terakhir malam itu. 2 jam sebelum take off, pihak garuda memberitahu bahwa penerbanganku ke jakarta dibatalkan. Hal ini berarti aku tidak bisa berangkat ke manchester karena sesuai jadwal, sesampai di jakarta, beberapa jam setelahnya aku akan naik pesawat Etihad ke manchester bersama dengan teman-teman yang lain.

Kondisi genting seperti itu memaksaku membatalkan penerbanganku ke Manchester . Aku pun berinisiatif berangkat ke palembang melalui jalur darat malam itu juga dengan harapan disana kabutnya tidak setebal di Jambi dan aku bisa terbang ke jakarta.

Aku berangkat dari jambi jam 9 malam dan sampai ke bandara palembang pukul 3 pagi. Aku pun terbang ke jakarta jam 11.40 siangnya.

Sesampai di jakarta aku menemui pihak garuda menanyakan solusi dari permaslahanku yang ketinggalan pesawat. Untuk membeli tiket baru yang harganya belasan juta tentu saja aku tidak mampu. Setelah kesana kemari, menunggu dalam keadaan mengantuk, capek, belum makan, belum ke toilet, belum mandi, dan belum sholat, pembicaraan pihak garuda dan etihad membuahkan hasil. Aku tetap bisa berangkat tanpa harus membeli tiket baru lagi di hari berikutnya.

Dan kini, aku duduk di kursi nomor 19 k di dekat jendela, dalam perjalanan ke tanah yang dulu dipijak oleh idolaku, David Beckham. Di dompetku hanya ada £10 sebab semua uangku dipegang oleh temanku, kang agung, dari bandung yang seharusnya aku ambil saat keberangkatan kami. Karena tragedi kabut asap itu, terpaksa uangku sampai duluan sedangkan aku belakangan. Tak taulah apa yang terjadi nanti pada diriku setiba di manchester. Tapi mudah-mudahan ada yang menjemputku.

Burung besi asal Abu Dhabi yang kutumpangi perlahan merendah ke tanah. Kukencangkan lagi sabuk pengaman dan menoleh ke jendela. Tampak olehku rumah-rumah berjejer rapi lengkap dengan stadion sepak bola ala Britania Raya, entah itu Old Trafford atau Etihad Stadium. Dalam hatiku berujar: "Perjuangan ini semula memang pahit, tapi kini aku meneguk manisnya"