Monday, October 21, 2013

Catatan ringan di hari ke delapan

Pernahkah anda menyadari bahwa anda terkadang lebih besar dari apa yang anda pikirkan? Seringkali kita menganggap kecil diri kita dalam beberapa hal. Padahal jika saja kita lebih mengeksplor kedalam, ternyata diri kita memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Saya sendiri membuktikannya hari ini.


 
Hari ini Universitas Sydney menjadi saksi bisu dari keberhasilan saya mengalahkan rasa pesimis yang selama ini merajai hati. Bertahun-tahun saya menghakimi diri tidak berbakat dalam menari. Bahkan untuk belajar pun saya anggap mustahil mengingat pemahaman saya tentang menari adalah sang penari haruslah memiliki tubuh yang lentur. Realita ini bertolak belakang dengan struktur tubuh saya yang kaku dan sama sekali tidak gemulai.

Tidak salah memang apa yang disampaikan oleh Bang Ahmad Fuadi dalam novel Negeri Lima Menara. Dalam novel inspiratif tersebut dia menulis pepatah arab yang berbunyi “Man jadda wa jada” artinya lebih kurang “barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan dapat”

Doping Man jadda wajada ini memberikan tenaga ekstra sewaktu saya menjalani Pre Departure Training (semacam pelatihan sebelum keberangkatan ke suatu tempat/negara) selama 10 hari di Jakarta. Saat itu saya bertekad untuk menguasai beberapa tarian yang diajarkan. Tidak mudah memang. Apalagi mengingat saya hanya terbiasa belajar menggunakan otak kiri yang membuat  belajar menari menjadi tantangan tersendiri. Hal ini dikarenakan dalam menari otak kanan cenderung lebih aktif dibandingkan otak kiri. Dalam menari saya harus menyelaraskan gerakan dengan nada dan irama music pengiring tarian. Berhari-hari saya tidak bisa menemukan ‘feeling’ tersebut. Tetapi saya tidak menyerah. Saya yakin saya pasti bisa lebih meresapi music yang dimainkan dan menerjemahkannya ke dalam gerakan tubuh saya. Hasilnya? Saya sukses dan hari ini saya menari bersama teman-teman Aiyep yang lainnya di depan beberapa mahasiswa universitas Sydney dan siswi  SMP dari Monte Sant Angelo College. 

Bertempat di the University of Sydney, Kami membawakan Tarian Indang dari Sumatera Barat, Saman dari Aceh, dan dansa Ola Ola dari Maluku. Pertunjukan tari kami berlangsung sekitar tiga puluh menit. Dalam kurun waktu setengah jam tersebut kami benar-benar menjadi bintang sehari.  

Sedikit highlight tentang kegiatan hari ini yaitu, sebelum pertunjukan tari kami terlebih dahulu mengadakan diskusi ringan dengan siswi-siswi SMP dari Monte Sant Angelo College. Dalam diskusi tersebut kami membicarakan tentang kehidupan sehari-hari di Indonesia, olahraga, budaya dan pariwisata. 

Satu hal yang menarik perhatian saya dalam diskusi singkat tadi, siswi-siswi SMP tersebut sangat aktif dan percaya diri. Mereka sama sekali tidak takut untuk bertanya atau mengeluarkan apa yang ada di benak mereka. Hal ini saya rasa sedikit berbeda dengan sebagian besar siswa-siswa yang ada di Indonesia yang mana mereka biasanya malu dalam mengutarakan pemikirannya. 

Sebelum rangkaian acara selesai, kami mengajak para audien untuk mencoba memakai pakaian tradisional Indonesia yang kami bawa. Mereka pun sangat antusias untuk mencobanya. Ternyata pakaian-pakaian tradisional kita sangat pas saat dikenakkan kepada orang kulit putih. Saya semakin bangga menjadi anak Indonesia.
Sekian dulu untuk hari ini. Nantikan cerita-cerita selanjutnya dari negeri kangguru ini. 



 

Dari Paddy’s ke Bondi

Hari ini sedikit melelahkan. Setelah bangun pagi jam 11, saya dan tiga orang teman lainnya langsung menuju dapur untuk sekedar mencari pengganjal perut. Di dapur kami menemukan seonggok nasi sisa semalam. Nasi gorengun menghiasi meja makan kami. 

Selesai makan, kami dihampiri si empunya rumah, Kathy. Dia mengajak kami belanja bahan makanan untuk keperluan seminggu kedepan. Kami mengangguk dan secepat kilat meluncur kedalam mobilnya. Tujuan belanja kami adalah Paddy’s Market yang berlokasi di sekitar 10 menit perjalanan menggunakan mobil dari tempat tinggal kami. 


Paddy’s Market ini merupakan salah satu tujuan belanja primadona bagi sebagian masyarakat Kota Sydney. Karena di pasar yang hampir seluruh penjualnya orang tionghoa inilah pengunjung bisa mendapatkan harga sedikit bersahabat. Bersahabat bagi masyarakat di sekitar sini tentunya. Bagi kita orang Indonesia harganya masih tetap terlalu mahal. Bayangkan saja seikat bayam yang biasa kita beli Rp. 1500-3000 disini dijual $2 atau Rp. 20.000! Dahsyat kan?

Inilah harga sebungkus mentimun
Jam tiga sore kami diajak lagi oleh Kathy bepergian. Kali ini bukan belanja ke pasar lagi tapi melihat pantai yang paling terkenal di Australia, Bondi Beach. Sontak saja kami bahagia setengah mati. Di pantai yang penuh sesak oleh pengunjung ini kami bermandi-mandi ria dan menikmati terjangan ombak. What a lovely day! 

Bondi Beach yang selalu sesak
Bukti kalau sudah ke Bondi Beach

Anak yang Tidak Diinginkan?




Hari ini kami rencananya akan di jemput oleh ‘orang tua angkat’ masing-masing. Artinya mulai hari ini kami tidak akan tinggal bersama-sama lagi sebagaimana yang telah kami lalui dalam setengah bulan ke belakang. Berbagai perasaan berpadu menjadi satu. Senang karena kami akan tinggal dengan keluarga Australia. Sedih karena kami tidak bisa lagi meledek dan menasehati satu sama lain sesering seperti hari-hari yang lalu.

Satu pesatu teman kami diambil dan dibawa pergi oleh beberapa orang tak dikenal. Matahari kian terik jarum jampun sudah menunjuk ke angka satu. Kulihat disekitar sudah sepi. Teman-temanku sudah pergi dengan orang tua mereka masing-masing. Sekarang hanya tinggal diriku dan empat orang teman lainnya. Nasib kami sama yaitu belum mendapat orang tua. Alangkah pahit kenyataan ini. Berita bagusnya kami tidak akan tidur di bawah jembatan Sydney. Coordinator kami sudah menghubungi temannya yang memiliki sebuah tempat seperti asrama untuk kami. Disanalah nanti kami akan tinggal lebih kurang satu minggu sebelum mendapatkan orang tua angka. Mudah-mudahan ada yang mau mengakui kami sebagai anak dalam waktu dekat…