Friday, May 27, 2016

Cita-cita Anak Bangsa



“Pertandingan antara Pamungkas vs Pemangkas ditunda…”
Canda  tawa serentak hening dikerumunan anak muda yang menamakan dirinya Pamungkas. Mereka sangat kaget mendengar suara itu, suara yang keluar dari mulut tim panitia penyelenggara. Ya, dalam beberapa hari terakhir ini BEM kampus abu-abu mengadakan open turnamen futsal. Event ini memang sedang menjadi primadona di kalangan masyarakat di sini. Tak pandang umur, dari yg masih ingusan sampai yang jenggotan. Semua gemar bermain sepak bola mini ini.

Tak terima dengan keputusan aneh panitia tersebut, para pemain Pamungkas berinisiatif untuk melontarkan protes ke meja panitia. Satu persatu mereka berdiri kemudian jalan teratur berniat menyerang panitia.

“gimana nih bung! Anda tidak bisa membuat keputusan sepihak seperti ini!” sahut Elang yang tak lain adalah manejer tim Pamungkas.

“kami minta maaf atas ketidaknyamanannya, namun kami harus mengambil keputusan ini”. Selang salah satu dari panitia dengan nada ragu-ragu.

Sentak saja kerumuan wajah beringas itu tidak terima. Dengan emosi yang hampir sampai ke ubun-ubun, salah seorang dari mereka maju lebih kedepan mendekatkan kepalanya ke kepala ketua panitia.

“anda mengerti tidak apa yang dimaksud dengan peraturan hah?” serangnya. “Peraturan ya peraturan…tak ada tawar menawar disana!” imbuhnya lagi.

Kali ini tim panitia terdiam manis kebingungan mencari kalimat yang tepat. Kata-kata tajam bak pedang itu keluar dari mulut seorang pemuda yang semula hanya berdiri di belakang kerumunan. dia adalah voltus. Seorang pemuda yang bercita cita ingin menjadi seorang anggota dewan. Posisinya bukan pemain melainkan hanya pendukung tim Pamungkas.

Voltus boleh dikatakan sosok yang pintar kalau tidak bisa dibilang jenius. Sewaktu di madrasah tsanawiyah dulu, dia berkali-kali mendapat juara satu dikelasnya. Tak hanya itu dia juga seorang pembicara ulung. Sudah tak terhitung berapa banyak jumlah kemenangan yang berhasil ia ukir dalam membuat teman-temannya tak berdaya saat beradu mulut. Baik di forum debat maupun di perbincangan rutin setelah belajar malam. Sebagai sepasang kawan lama, Elang sudah lama tak bersua dengannya. Sore itupun baru hari kedua mereka bertatap muka. Setelah menamatkan madrasah tsanawiyah, voltus menghilang tanpa jejak. Ada kabar yang beredar dia berpetualang dari satu kota ke kota lainnya. Bandung, jogja, batam bahkan Pontianak sudah ia jelajahi. Sekian lama menghilang, voltus kembali lagi ke negeri carut-marut untuk sekedar bercengkrama kembali dengan si teman masa kecil, Elang. Di mata Elang, voltus kini telah sedikit berubah. Kulitnya agak hitam, bibirnya pucat oleh tembakau, rambut acak dan wajahnya dipenuhi bintik hitam bekas jerawat. Tingkahnya pun agak sedikit liar. Namun satu hal yang masih tetap jadi ciri khasnya, yaitu mulut pedasnya.

Senja itu Elang tengah asyik meluruskan tulang di kamar kosnya. Ditemani oleh alunan lagu-lagu iwan fals membuat suasana makin hening. Kantuk datang dan Elang pun siap untuk berlayar. Ketika mata hendak terlelap, tiba-tiba terdengar suara orang bernyanyi, “wakil rakyat seharusnya merakyat…jangan tidur waktu sidang soal rakyat” Elang kenal betul lantunan itu.

“ah siapa pula yang nelpon?” spontan Elang duduk dan mencari sumber suara itu.

Dilayar handphone Nokia butut tipe 8210 tertulis nama ‘Voltus memanggil’.

“assalamu’alaikum voltus ada apa?” sapa Elang dengan ramah.

“hey lang tolong jemput aku di terminal bus LPA ya!”

Elang sangat terkejut. Dia merasa sedang bermimpi. Namun dia terus memaksakan dirinya untuk percaya. Dengan mata yang masih setengah terpejam Elang bangkit dari tempat tidur dan berisap untuk menjemput si fren lama.

Siesampainya di terminal, tak mudah untuk Elang mendeteksi keberadaan si kawan lama. Di sana terdapat kerumunan orang yang sibuk hilir mudik dengan urusan mereka sendiri. Mata Elang aktif kesana kemari. Laksana mata srigala yang tengah konsen memilih mangsa. Ketika pandangannya tertuju ke arah loket terminal, Elang dikagetkan oleh tepukan dipundaknya.

“terereng…! Cari siapa? Cari aku ya? Haha…”

“hmmm…di sini kau rupanya” jawab Elang sambil menoleh ke belakang.

ternyata voltus telah mengamati pergerakan Elang dari awal. Sengaja dia membiarkannya sibuk mencari.

“yuk kita kemon” Elang memberi aba-aba kepada voltus.

Dalam perjalanan pulang mereka asyik bercerita dan bercanda ria. Voltus mengeluarkan pengalaman petualangannya sedangkan Elang tak henti-hentinya bertanya. Sebelum sampai ke kosan, Elang mampir di warung nasi langganannya untuk memberi jata makan malam kepada cacing yang sudah ribut sejak di terminal tadi.

“Kita makan dulu yuk tus…aku yakin kamu juga pasti lapar” Tanya Elang.

“bener banget bro…aku emang udah lapar nih…” sahut voltus sambil memegang perutnya.

Cerita demi cerita mengalir seakan tak ada habisnya. Ketika voltus menyelesaikan satu topic, Elang mengambil alih kendali obrolan dengan kisah-kisahnya. Elang bertutur tentang impiannya ingin menjadi pengusaha sukses kemudian mendirikan yayasan pendidikan gratis untuk masyarakat tak mampu. Mendengar obsesi besar tersebut voltus terpancing untuk mengemukakan impian hidupnya.

“aku sih lang ingin jadi anggota DPR aja” ujar voltus sambil menghabiskan air putih di gelasnya.
“Anggota DPR? Kenapa sobat?”
mendengar pertanyaan tersebut, voltus sangat tertantang untuk menjawab.

“fren, kamu tau nggak, di kampungku sekarang udah tiga orang yang jadi anggota DPR. Bahkan ketua DPR di kabupatenku juga asli orang kampungku”. Jawab voltus dengan nada setengah bangga.

Karena belum mendapat jawaban dari pertanyaannya, Elang bertanya lagi.

“jadi kamu ingin buat kampung anggota DPR ya?”

“bukan gitu fren, asal kamu tau aja ya, mereka yang duduk di kursi anggota dewan sekarang semuanya adalah orang biasa seperti kita. Bang burhan, yang menjadi ketua DPR kabupaten aku itu cuma tamatan SMP. Trus anggota dewan lainnya, bang Arham, dulunya Cuma tukang ojek, tamatan SD lagi! Yang terakhir bang manaf, Cuma tamatan SMA lho!” sahut voltus yang makin bersemangat berkisah.

“oo…gitu…trus kenapa kamu begitu terinspirasi oleh mereka?” Elang makin penasaran.

“nah itulah lang…sekarang ini kita tak perlu sekolah tinggi untuk jadi orang besar…Cuma menghabiskan waktu aja lama-lama duduk dibangku kuliah…soal ijazah sangat gampang. Bang burhan Cuma butuh modal 20 juta untuk ijazah SMA dan S1. Begitu juga bang arham dan bang Manaf semua ijazah mereka hasil dari uang mereka. Yang penting sekarang cari uang yang banyak untuk mendekatkan diri ke masyarakat…modalnya cukup pintar-pintar mengambil hati masyarakat. Kau kan tau, orang-orang kampung gak tau apa-apa…

Apa yang dilontakan voltus itu ada benarnya juga. Sejak era demokrasi bergulir di negeri carut-marut ini, semua orang seolah berlomba untuk jadi pejabat. Kursi anggota dewan merupakan yang terpanas dan paling di incar. Bukan apa-apa, untuk duduk di kursi empuk ini hanya butuh sertifikat, uang berlipat dan lobi yang memikat. Belum lagi fasilitas yang didapat. Semuanya serba memikat…tunjangan sana sini…wisata kesana kemari.

Suasana lapangan semakin memanas dengan perdebatan yang kian sengit. Semua dalih dari panitia berhasil dipatahkan oleh voltus. Tim panitia pun taka mu menyerah begitu saja. Mereka tanpa bosan mempertahankan argument mereka sambil sesekali melancarkan serangan balik. Elang lebih memilih menjadi pendengar dengan suasana hati yang gelisah. Dia khawatir jika perdebatan ini tak juga berhenti sedangkan hari sudah mulai gelap. Tubuh yang lemah dihiasi dengan wajah yang lelah sangat terlihat jelas pada dirinya. Sebelum diajak paksa menonton pertandingan futsal itu oleh teman-temannya, Elang sibuk dengan aktifitas sehari-harinya, kuli-yah. Dia tenggelam dalam rutinitas ini dari matahari terbit sampai mengarah kebarat. Dengan penuh kesabaran Elang dan teman-teman sekelasnya menjalani jam kuliah yang tak menentu. Ya seperti irregular verb dalam bahasa inggris, di pagi hari mereka bertemu dengan satu atau dua kepala dosen kemudian di sore harinya mereka bersua lagi dengan kepala yang lain.

Mentari sudah memberi aba-aba kembali ke sarangnya di ufuk barat sana. Sisa-sisa sinarnya membuat langit memerah. Sementara lampu-lampu mulai dinyalakan. Di sudut kanan lapangan masih tersisa kerumunan kecil bayangan kepala.

“jadi begini saja, karena tim  pamungkas ngotot untuk main juga bagaimana kalau mainnya jam 19:30?” salah satu dari panitia mencoba mengajak kerjasama.

Baik voltus juga Elang sudah mulai kelelahan dalam berdalil. Protes apapun yang mereka keluarkan seakan tertuju ke tembok tebal. Sulit sekali ditembus.

“ok kami akan tunggu di sini” sahut Elang tak bersemangat.

Tim Pamungkas bermain dan kalah! Selepas pertandingan, Riki, salah seorang dari mereka berujar. “lawan kita tadi adalah teman-teman satu kelasku. Mereka memang tidak bisa main tadi sore karena ada kuliah.




Muhammad Beni Saputra
Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fak. Adab IAIN STS Jambi



Kunci Sukses

Suskes adalah kata yang sangat sering disebut oleh semua orang. Kata ini menjadi trending topic dimanapun cerita berada. Petani sering berbincang dengan petani lainnya tentang hasil panen yang diharapkan. Jika panen mereka banyak menghasilkan mereka menyebutnya sukses. Begitu juga dengan pedagang. Ketika jualan mereka laku keras di pasaran bermakna bahwa dunia bisnis mereka suskes. Itulah suskes yang kerap kali menjadi hal positif dan mendatangkan berkah bagi banyak orang. Setiap orang ingin suskes. Itu pasti. Tidak ada orang yang mau gagal dalam hidup ini apalagi berencana untuk gagal. Namun apakah keinginan untuk suskes saja cukup? Tidak!

Orang yang ingin suskes hendaklah terus berjuang dengan semangat pantang menyerah agar bisa meraih kesuksesan. Jika sukses hanya di mulut lebih baik hentikan sekarang juga karena itu tidak akan pernah tercapai. Coba tanya atau baca riwayat hidup orang sukses. Perhatikan apa yang mereka perbuat untuk meraih kesuksesan mereka. Tentu mereka akan sepakat memberi tahu bahwa mereka tidak hanya ongkang-ongkang kaki di rumah atau berguling-guling di tempat tidur. Semua mereka berjuang keras yang seringkali diterpa kegagalan. Mereka terus memeras keringat dan mengorbankan semua yang mereka punya demi  meraih apa yang mereka anggap suskes.

Tentu pembaca kenal atau paling tidak pernah membaca riwayat hidup Tukul Arwana. Tukul tidak pernah menyerah dalam mengejar impiannya untuk menjadi seorang pelawak kondang. Dia rela meninggalkan kampung halaman merantau ke Jakarta demi untuk menggapai sukses. Apakah dia langsung bersua dengan kesuksesan itu sesampai di Jakarta? Tidak! Dia berkali-kali diterpa kegagalan. Namun tukul tidak pernah menyerah. Dia terus berjuang hingga dia meraih kesuksesan itu. Coba tukul dulu memilih pulang kampung tentu kita tidak akan pernah melihatnya di layar kaca.

Tukul adalah segelintir contoh bagaimana sukses itu membutuhkan perjuangan. Tanpa perjuangan mustahil suskes akan datang. Perjuangan sayangnya bukan satu-satunya kunci untuk meraih kesuksesan. Ada beberapa kunci lain selain perjuangan agar apapun yang diusahakan bisa tercapai. Berikut saya uraikan:

1. Suskes Berawal dari Pemikiran


Orang suskes pasti pernah berangan-angan untuk suskses. Mereka tak henti-hentinya berpikir agar kelak suatu hari menjadi apa yang mereka inginkan. Habibie yang berhasil membuat pesawat terbang untuk Indonesia dulunya terus-terusan berpikir agar Indonesia menjadi bangsa yang mandiri dengan memiliki pesawat terbang senfiri. Jadi jika ingin suskes mulailah berpikir untuk sukses dari sekarang. Jika kita tidak pernah berpikir tentang kesuksesan maka suskes itu sendiri tidak akan pernah datamg.

2. Ucapkan!


selain bermain-main dalam pikiran orang-orang yang ingin sukses kerap kali mengutarakan keinginan mereka melalui kata-kata. Kadang mereka menceritakan hasrat suskses mereka kepada kawan atau istri. Ada juga yang lebih ingin curhat ke tuhan saja. Apapun itu hasrat ingin sukses jangan hanya melintas di angan. Ucapkan! Biarkan orang-orang disekitar tahu agar mereka memberi dukungan dan doa. Walau bagaimanapun doa dari orang lain sangat dibutuhkan dalam meraih kesuksesan. Kita tidak tahu dari mulut siapa doa kita akan dikabulkan bukan?

3. Tindakan Nyata


Nah ini yang paling penting. Dalam hidup kita jangan sampai dicap sebagai orang yang omdong alias omong doang. Kita berpikir untuk sukses kemudian kita utarakan kepada sanak saudara. Namun kita hanya sampai disitu tanpa ada action atau tindakan nyata. Seorang supir yang ingin pergi mengelilingi dunia dengan mobilnya tidak akan pernah sampai jika mobilnya hanya diam saja, mesinnya tidak pernah dihidupkan, dan minyaknmya pun tak ada. Wal hasil si supir ini hanyalah golongan omdong. Oleh karena itu bergeraalah. Lakukan tindakan nyata agar apa yang diinginkan tercapai. Semua orang bisa bicara kalau mereka ingin suskes namun tidak banyak dari mereka yang memang benar-benar ingin berusaha.

Pengalaman saya mengajar Bahasa Inggris demikian. Banyak yang datang kepada saya memberitahu bahwa mereka mau menguasai Bahasa Inggris. Lalu saya anjurkan  mereka untuk berlajar dengan giat. 3 kali sampai lima kali lebih giat dari orang lain. Kemudian mereka memang rajin. Mematuhi apa yang saya sarankan. Namun biasanya mereka akan berhenti setelah satu atau beberapa bulan. Inilah yang saya sebut mental hangat tai ayam. Coba pegang tahi ayam. Memang panas jika masih baru. Namun panasnya hanya bertahan sebentar. Setelah beberapa saat dia akan dingin untuk selama-lamanya.

4. Biasakan!


Jika tiga kriteria diatas sudah dijalani. Selamat! Berarti kesuksesan akan diraih sebentar lagi. Tindakan nyata yang sudah dijalani jika dilakukan terus menerus akan menjadi sebuah habit atau kebiasaan. Seseorang yang mencoba-coba untuk merokok akan menjadi perokok benaran jika dia terus mencoba setiap hari. Begitu pula dengan orang yang menganggap biasa jika terlambat datang ke kelas. itu akan menjadi kebiasaannya untuk terlambat. Namun bagaimana jika kita terbiasa untuk melakukan segala upaya untuk meraih kesuksesan kita? Kelak ia akan menjadi habit hingga kita tidak menyadari lagi jika kita sedang melakukan perbuatan dalam meraih kesuksesan kita.

Dulu saya adalah seseorang yang suka begadang dan malas belajar. Karena saya ingin sukses dan meraih impian saya saya pun merubah habit. Saya tidak mau lagi begadang dan rajin belajar. Karena saya biasakan pola hidup saya seperti itu saat ini saya tidak begitu berat lagi jika ingin belajar karena saya sudah terbiasa. Tentu hal yang sangat berbeda jika saya bandingkan dengan apa yang saya rasakan ketika pertama kali membiasakan belajar dulu. Atau ketika awal awal saya membiasakan tidak begadang. Kini dengan habit ini saya terus menggapai apa yang saya impikan.

5. Karakter



Nah, seseorang yang biasa berbohong maka dia akan terus-terusan berbohong hingga dia akan dicap sebagai pembohong. Jika sudah masuk tahap pengecapan berarti itu sudah menjadi karakter seseorang. Bagaimana jika kita biasakan diri untuk melakukan hal-hal positif dalam meraih sukses? Niscaya itu akan menjadi karakter kita. Orang akan mengenal kita sebagai pribadi yang positif dan perkerja keras. Orang-orang akan menyamakan kita dengan orang-orang baik  yang mereka kenal atau idolakan. Tentu enak bukan jika dalam usaha meraih kesuksesan kita juga disenngi orang lain?

6. Takdir (sukses)



Jika semua poin diatas sudah terlaksana maka bersiap-siap lah untuk mendapatkan apa itu sukses. Sukses itu adalah takdir. Ia akan menghampiri orang yang dikehendakinya jika orang tersebut sudah melaksanakan semua prasyarat untuk bertemu dengannya. Cepat atau lambat ia akan datang. Maka persiapkan diri dengan melaksanakan poin-poin diatas. Salam suskes! 

Tukang Parkir Ilegal =Tukang Palak Legal



“Kalau ada orang yang memberi saya uang tanpa membeli barang, saya menolaknya. Karena, saya lebih senang bila mendapatkan uang dari keringat saya sendiri” Penggalan kalimat ini diucapkan oleh seorang pria tua renta yang telah berumur 103 tahun sebagaimana dikutip dari sebuah komunitas online terbesar di Indonesia, Kaskus beberapa hari yang lalu. Dia adalah Mbah Tohari yang berprofesi sebagai pedagang keliling di Magelang. Usia tidak membuatnya menyerah kepada nasib kemudian mengiba belas kasihan orang lain. Sepertinya naluri untuk bekerja keras mengalir deras dalam darahnya.

Ribuan kilometer dari Magelang, tepatnya di Kota Jambi terdapat cerita yang berbeda bahkan bisa dibilang bertolak belakang. Semangat Mbah Tohari tampak luput dari pegiat parkir liar yang akhir-akhir ini bermekaran bak jamur di musim hujan. Meskipun tubuh mereka kebanyakan jauh lebih segar bugar dari si Mbah, cara kerja mereka sangatlah menghianati karunia yang telah diberikan oleh Tuhan tersebut. Amat jarang saya jumpai tukang parkir liar yang sungguh-sungguh dalam menjalani pekerjaannya. Biasanya mereka hanya duduk manis saja melihat setiap pengendara roda dua yang singgah. Kalaupun ada usaha yang dikerahkan tak lain adalah dengan mengarahkan telunjuk ke tempat yang kosong dengan maksud menyuruh si pengendara memarkir kendaraannya disana. Tidak jarang pula batang hidung mereka entah dimana sewaktu pengendara memarkir kendaraannya namun baru muncul dengan tadahan tangan meminta uang parkir saat si pengendara hendak pergi.

Cara kerja seperti ini menyiratkan  kalau tukang parkir liar tidak ubahnya dengan tukang palak yang berganti tampilan. Jika dulu manusia jenis ini berperawakan preman namun sekarang sudah agak lebih humanis beratributkan peluit dan rompi orange. Mereka beroperasi tanpa pandang lokasi; jalanan umum, pertokoan, perkantoran, tempat keramaian, hingga masjid sekalipun. Peduli apa kalau itu tempat ibadah. Gesture dan ekspresi wajah mereka  ketika menagih ‘haknya’ juga seringkali mengirimkan pesan pemaksaan ala tuan tanah yang meminta uang pesangon. Entah kewajiban apa yang telah mereka lakukan sehingga sangat keukeuh meminta hak seperti itu.

Tidak sepenuhnya salah rasanya bila mengaitkan tabiat mereka dengan sifat ke 8 dari 12 Sifat Negatif Mayoritas Orang Indonesia versi mantan wartawan senior Tempo Alm. Mochtar Lubis seperti tertuang dalam bukunya, “Manusia Indonesia Sebuah Pertanggungjawaban” yaitu, lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau terpaksa. Atau, ini bisa menjadi sebuah manifestasi dari sebingkai gambar yang dulu pernah mengganggu suasana hati saya ketika bertandang ke rumah konsulat jendral Indonesia di Sydney. Dalam foto yang berukuran cukup besar tersebut terdapat seorang laki-laki paruh baya sedang tertidur nyenyak di atas bangku panjang dibawah rimbunnya pohon beringin. Sinar mentari muncul dari celah-celah daun tapi tidak mengenai wajah dan sekujur tubuhnya. Tepat diatas sekujur badan pria itu tertulis: Potret Indonesia.

Peliknya masalah parkir ini untung saja tidak dirasakan oleh saya sendiri. Setidaknya sudah beberapa  kali saya temukan  protes masyarakat di  media cetak mengenai pembayaran uang parkir ganda bila memasuki pasar Jambi contohnya. Memang benar Dinas Parkir menempatkan orang-orangnya di berbagai pos di sekitar simpang dalam pasar. Petugas tersebut memberikan karcis parkir kepada pengendara dengan tujuan si pemegang karcis dibebaskan parkir dimanapun karena dia telah membayar kepada pemerintah. Akan tetapi karcis itu tak ubahnya seperti kertas kosong tiada guna karena para pengendara kembali dipalak oleh tukang parkir lain setiap kali singgah. Lucunya, di surat kabar tersebut pihak yang menangani urusan parkir memarkir di bumi Sembilan Lurah ini menjawab dengan diplomatis plus tanpa solusi: “anda tidak perlu membayar lagi karena sudah membayar karcis”. Klasik lagi Ironis.

Ketidaktegasan (ketidakseriusan?) dalam menangani persoalan ini, disadari atau tidak, sejatinya telah merugikan pemerintah sendiri. Dinas Parkir berpeluang meningkatkan PAD  berkali-kali lipat bila saja tukang parkir liar dibina, dilatih kemudian diberdayakan. Situasinya akan jauh berbeda tentunya jika mereka diberi gaji bulanan oleh pemerintah dengan syarat menyetor uang pemasukan parkir setiap harinya. Kalau sudah begini masyarakat tidak keberatan lagi untuk membayar uang parkir karena mereka tahu bahwa uang yang mereka keluarkan hanya singgah sementara saja di kantor tukang parkir sebelum diserahkan ke kas negara.

Lebih lanjut, pemerintah juga perlu untuk memberikan himbauan kepada pemilik usaha agar memasang bacaan ‘Parkir Gratis’ di depan toko mereka mengingat cara seperti ini cukup berhasil di beberapa tempat. Jalanan umum juga mesti dibebaskan dari tukang parkir liar. Tempat ibadah dan perkantoran haruslah steril dari para pemalak ini. Agar berjalan efektif pemerintah harus membuat sebentuk aturan tertulis sehingga nantinya tukang parkir liar yang masih saja ngeyel dipidanakan agar memberikan efek jera. Kealpaan pemerintah dalam menindak tindak tanduk mereka sama saja semakin menodai dinas perparkiran dan yang paling bahayanya adalah membiarkan aksi premanisme dengan sengaja. Jika tidak seperti ini tukang parkir ilegal sama saja dengan tukal palak yang legal yang dibiarkan beraksi dengan sengaja oleh pemerintah.

Update
Hari ini kembali nurani saya terganggu oleh permasalahan yang serupa seperti yang saya alami belakangan ini. Bermula ketika saya keluar dari kantor imigrasi jambi dalam rangka memperpanjang paspor. Ketika menuju halaman parkir, saya menemukan sepeda motor saya terperangkap ditengah kerumunan kendaraan roda dua yang tadinya pas saya datang belum ada. Dengan susah payah saya menyusun sepeda motor yang banyak tersebut agar saya bisa keluar. Selang beberapa saat motor saya pun bebas dan saya memacu kendaraan. Naasnya, ketika hendak keluar tempat parkiran, ada seseorang pria dengan tas terlilit dipinggangnya, kancing baju terbuka dua biji agar kalung rantainya yang besar kelihatan, menadahkan tangan sambil berkata ‘uang parkir’.

Saya tidak kaget lagi karena hal seperti ini telah beberapa kali saya temui. Dengan santai saya mengacuhkan pria tersebut dan pergi. Saya tidak tahu seperti apa ekspresi wajahnya namun dugaan saya dia marah karena saya tidak memberikan ‘haknya’. Hal ini terdengar dari tepuk tangan yang kuat memanggil saya.

Berda’wahlah Dengan Perbuatan



Sebagai seorang pemeluk Islam yang baik, tentu kita ingin berbagi tentang kebaikan agama kita kepada orang lain, khususnya kepada orang-orang non-muslim. Terlebih lagi Rasulullah SAW menganjurkan kita demikian. Melalui haditsnya suatu ketika Rasulullah bersabda “Ballighuu ‘anni walau ayah” artinya adalah: “Sampaikanlah olehmu dariku walaupun hanya satu ayat”

Dalam hadits ini Rasulullah menggunakan fi’il amar ‘ballighuu’ yang mana dalam tata Bahasa Arab, fi’il amar merupakan kata kerja perintah. Jadi, didalam hadits ini sejatinya Rasulullah memerintahkan ummatnya untuk selalu menyebarkan ajaran-ajaran Islam kepada siapapun tanpa peduli kadar pengetahuan seseorang. Pendek kata, da’wah bukan hanya tanggung jawab muballigh saja tetapi seluruh orang Islam.

Ada dua cara berda’wah yang bisa dilakukan oleh orang Islam, yaitu da’wah melalui lisan dan perbuatan. Barangkali da’wah lisan sangat akrab di telinga kita mengingat hampir tiap hari kita mendengarkan ceramah-ceramah keagamaan baik di masjid maupun di televisi. Sedangkan da’wah perbuatan agak sedikit sulit karena kita harus memberikan contoh yang baik kepada orang lain.

Ironisnya, banyak ummat Islam yang ada di negeri ini tidak lagi melaksanakan da’wah tipe kedua diatas secara menyeluruh. Lihat saja dengan prestasi negara kita di bidang korupsi yang masih menjadi kampiun tak terkalahkan di Asia. Untuk tingkat global pun kita masih berada di urutan ‘terhormat’ dengan index persepsi korupsi ranking 118 dari 176 negara pada tahun 2012. Bukankah ini menyedihkan?

Belum lagi dengan kenyataan bahwa banyak dari koruptor-koruptor kita yang memiliki latar belakang dan pengetahuan agama Islam yang tidak bisa dikatakan biasa-biasa saja. Nama-nama seperti Choirunnisa, Luthfie Hasan Ishaaq, Ahmad Fathanah, dan Said Agil Al-Munawwar tentu tidak asing lagi dalam dunia Islam di Indonesia. Choirunnisa tidak lain adalah mantan sekretaris MUI, Luthfie Hasan mantan presiden partai Islam, Ahmad Fathanah lulusan Timur Tengah, dan Said Agil adalah mantan menteri agama Republik Indonesia.

Tidak hanya di tingkat nasional, di daerah-daerah pun setali tiga uang. Setidaknya ini dialami oleh pimpinan pesantren di daerah saya beberapa tahun silam. Entah apa yang ada di benak si ustadz sehingga dia banting setir dari seorang guru agama menjadi wakil rakyat. Diusung oleh partai Islam ditambah dengan gaung namanya yang cukup familiar di telinga masyarakat, pak ustadz bisa menang mudah di pemilu. Namun takdir berkata lain. Tak lama menjadi ‘pejuang kesejahteraan rakyat’ pak ustadz sudah mendekam dibalik jeruji besi. Penyebabnya apa lagi kalau bukan uang haram.

Korupsi sepertinya memang sudah menjadi denyut nadi hampir disetiap lengan orang Indonesia. Doktrin-doktrin agama seolah tak mampu lagi membendung hasrat rakus setiap kepala di negeri ini. Seorang pak haji pimpinan pesantren suatu hari bercerita panjang lebar dengan saya mengenai ajaran agama Islam. Wawasan Islamnya mengundang decak kagum saya yang mendengar. Dia pun boleh dikatakan sebagai seorang ahli ibadah. Sholat lima waktu tidak pernah tinggal. Puasa sunat sering. Bersedekah rajin. Pendeknya pak haji ini memiliki hubungan yang sangat baik dengan Tuhannya. Tengah asyiknya bercerita tentang Agama Islam, pak haji tiba-tiba mengganti topik. Kali ini tentang anak kesayangannya yang sedang menempuh pendidikan di salah satu sekolah elit pemerintah. Dia berbagi rahasia kelolosan anaknya di sekolah tersebut. Tanpa rasa bersalah sedikitpun pak haji membeberkan jumlah rupiah yang dia keluarkan dari koceknya agar sang anak lolos. Saya hanya bisa mengurut dada saja setelah mendengar rahasia pak haji ini.

Fenomena yang melanda kebanyakan ummat Islam di nusantara sedikit banyak telah membuat aliran da’wah kita tersumbat. Bagaimana mungkin kita mau menceramahi orang-orang non-islam diluar sana sedangkan kita sendiri tidak memberikan contoh yang riil kepada mereka. Sebaliknya kita mesti malu dengan negara-negara yang notabene bukan negara Islam. Lihatlah Denmark, Swedia, Swiss, Singapura, Finlandia, Norwegia, atau Selandia Baru yang hampir bersih dari korupsi karena masyarakatnya sangat mengedepankan kejujuran. Pertanyaannya adalah, bukankah kejujuran merupakan nilai yang tak asing lagi di telinga kita sebagai umat Islam? Lantas mengapa mereka yang notabene banyak tidak percaya lagi dengan Tuhan mampu mempraktekkan apa yang disebut dengan kejujuran itu? Mari kita jawab dengan hati kecil kita masing-masing.

Artikel yang diterbitkan oleh the Barkeley-based Global Economy Journal pada tahun 2010 yang berjudul  “How Islamic are Islamic Countries?” lebih mengenaskan lagi. Penelitian yang bertujuan untuk mengukur kadar keislaman di beberapa negara khususnya dalam bidang ekonomi, pendidikan, korupsi, sistem keuangan, dan hak asasi manusia ini laksana tamparan keras tepat di wajah kita orang Islam. Betapa tidak, hampir semua negara yang memiliki ranking tertinggi berasal dari negara yang bukan mayoritas berpenduduk Islam seperti Selandia Baru dan Luxemburg. Negara-negara berpenduduk mayoritas Islam? Kokoh di urutan bawah termasuk Indonesia.

Hemat saya inilah saatnya kita sebagai orang Islam untuk lebih mengedepankan da’wah perbuatan disamping da’wah lisan agar kita bisa membagikan rahmat agama kita kepada orang lain. Bukan seperti apa yang terjadi saat ini yang mana kitalah yang dida’wahi mereka perihal menjadi pribadi dan negara yang baik. Mari menyampaikan pesan da’wah Rasulullah melalui perbuatan-perbuatan yang qur’ani. Wallahu a'lam bish showab...

Khutbah Jumat Jangan Monoton



Hari jumat adalah hari yang sedikit spesial dari hari-hari yang lain di dalam kalender Islam. Pada hari yang satu ini umat Islam berkumpul untuk beribadah kepada Allah melalui sholat jumat secara berjamaah. Ibadah sholat Jumat sepaket dengan khutbah Jumat. Tidak boleh dua unsur ini bercerai. Namun ada yang salah dibalik rutinitas khutbah Jumat di banyak masjid, baik di Kota Jambi maupun di masjid-masjid kampong dalam lingkup provinsi Jambi.  Kesalahan itu terletak pada tidak terlihatnya ketertarikan yang kuat pada diri jamaah untuk mencermati isi khutbah. Banyak jamaah yang yang hadir di masjid tertidur pulas selama khutbah berlangsung. Belum lagi dengan mereka yang memilih datang ke masjid di detik-detik terakhir khutbah. Tentu pertanyaannya adalah, mengapa demikian?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, diperlukan penelaahan lansung kelapangan. Tak bias dipungkiri kalua kebanyakan khutbah jumat disampaikan dengan cara yang membosankan. Beberapa khotib seringkali tidak menguasai public speaking sehingga cara penyampaiannya di depan khalayak ramai tak terlihat mimik seperti para penceramah ketika berorasi. Intonasi yang digunakan oleh sebagian khotib pun seolah serupa dari masjid ke masjid, datar. Berirama sendu bak seorang pendongeng yang sedang membacakan cerita pengantar tidur.
Kekakuan khutbah juga terjadi karena banyak pengkhutbah menyampaikan khutbahnya menggunakan buku khutbah tahunan yang di jual di pasaran. Buku tersebut membuat sang khotib tidak perlu lagi repot-repot memikirkan isi khutbah yang akan disampaikannya kepada jamaah. Semua pembahasan telah tersedia sesuai dengan minggu dan bulan dalam kurun waktu satu tahun. Si khotib tinggal menyesuaikan hari dan tanggal ia berkhutbah dengan materi khutbah dalam buku tersebut. Maka tak heran, banyak diantara khotib yang berkhutbah terlihat seperti membaca buku yang dia sendiri tidak menguasai materi yang ada di buku tersebut.  Lebih jauh lagi, buku khutbah yang khotib baca itu seringkali tidak menyentuh permasalahan umat terkini mengingat buku tersebut ditulis beberapa tahun sebelumnya.
Materi yang disuguhkan sang khotib merupakan indikator selanjutnya dibalik ‘macetnya’ transformasi isi kandungan khutbah kepada para jamaah. Entah apa penyebabnya, kebanyakan khotib cenderung lebih menyukai materi-materi yang berbau ibadah dibandingkan muatan-muatan lain. Tak mengejutkan bila materi seputar surga-neraka atau halal-haram di ulang beberapa kali selama puluhan tahun. Topik-topik berbau politik, sosial, budaya dan ekonomi seolah asing dibicarakan di mimbar khutbah. Ironis memang, di saat korupsi di negeri ini bergejolak hebat, ekonomi masyarakat tak kunjung membaik, dan benturan budaya kian terasa, khotib tidak memaksimalkan peran khutbah sebagai media untuk mendidik masyarakat dalam memecahkan masalah-masalah di atas.

Idealnya, hari jumat dijadikan sebagai momentum untuk memperbaiki kondisi umat melalui pertukaran informasi via khutbahnya mengingat semakin terkikisnya interaksi antar sesama umat Islam buah dari gaya hidup individualis yang kian kentara. Untuk itu posisi hari jumat sangatlah strategis dalam penyelesaian permasalahan umat yang kian pelik. karena pada hari itu masyarakat berkumpul bersama-sama di masjid. Alangkah lebih baik bila sang khotib membahas isu-isu terkini yang sedang hangat di dunia islam, membahas permasalahan ummat, dan menawarkan solusi untuk mengatasi problem-problem tersebut.

Amerika, aku datang!



Kompas masa depanku untuk berangkat ke Amerika setelah lulus S1 segera Aku potong setelah menghadiri seminar beasiswa IELSP di kampusku. Aku tekadkan untuk menjadi salah satu penerima beasiswa yang bergengsi ini. Untuk mewujudkan impian itu, Aku sisihkan uang jajanku yang tak seberapa untuk membeli sebuah buku yang tebalnya sedikit membuatku ‘geger’. TOEFL nama buku itu. Setelah buku tersebut ditanganku, tiada henti kupelajari. Siang malam hanya buku itu saja yang ada ditanganku. Kemanapun aku pergi, ia selalu kubawa. Pendek kata, ia adalah kekasih setiaku.

Beasiswa IELSP ini memang menjadi buruan populer di kalangan mahasiswa S1 semester 5 ke atas. Betapa tidak, bagi siapa saja yang lulus beasiswa ini, dia akan dikuliahkan di universitas-universitas ternama di Amerika Serikat selama 8 minggu. Tentu ini adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.

November 2010 adalah deadline pengumpulan aplikasi beasiswa IELSP. Artinya Aku memiliki waktu dua bulan lagi untuk menyelesaikan semua persyaratan yang diminta. Semua dokumenku tidak masalah. Tinggal foto kopi. Pelajaran TOEFLku masih berlanjut. Bahkan Aku optimis bisa meraih nilai TOEFL lebih dari 450. Jika tidak sampai 450 maka tamatlah riwayatku.

Disamping persyaratan dokumen yang beragam dan nilai TOEFL yang menantang, ada satu lagi yang menjadi tantangan serius dalam menyelesaikan aplikasi beasiswa ini, essay. Iya, ada beberpa essay yang harus Aku tulis. Aku sadar betul dengan kemampuan menulisku yang masih sangat amatir. Tapi Aku memilih untuk berpikir positif saja. Aku tulis semua essay yang dibutuhkan dalam aplikasi beasiswa IELSP itu dengan penuh kesabaran sampai akhirnya semuanya selesai.

Setelah semua essay rampung, Aku pergi menemui salah seorang teman asingku. Eric namanya. Dia adalah Warga Negara Amerika yang menjadi guru Bahasa Inggris di salah satu yayasan di Jambi. Sebelumnya aku telah mengirimkan essayku kepada teman asingku yang lain. Adam adalah seorang guru Bahasa Inggris  di Meksiko yang berasal dari Kanada. Dengan laptop di tasku segera aku melangkah pergi ke rumahnya yang tak jauh dari kontrakanku, hanya berjarak enam rumah. Sesampai disana, kusodorkan essayku untuk ia baca.

Tanpa banyak basa-basi ia segera membaca essay-essayku dengan penuh keseriusan. Setelah beberapa menit membaca, ia mengalihkan pandangannya dan menoleh kearahku. “Isi essaymu bagus, tapi monoton” Ia membuka pembicaraan. Sontak Aku terkejut. Pasalnya, Aku begitu bangga dengan tulisanku itu sehingga aku menobatkannya sebagai maha karya dalam sejarah penulisanku. “Tapi ya sudahlah” pasrahku dalam hati. “Kan orang lain juga yang menilai karya seseorang” tambahku. Eric memberi nasihat dan masukan yang sangat bermanfaat. Kudengarkan semua nasihat dan masukannya dengan sangat cermat. Tak lupa aku tulis poin-poin yang harus aku perbaiki. Aku pun melangkah pulang.

Sesampai dirumah Aku langsung merevisi essay-essayku. Keputusanku untuk mendiskusikan essay-essayku dengan Eric sangat tepat. Dia memberikan masukan yang sangat positif. Aku pun makin bersemangat untuk menulisnya ulang. Malam itu Aku mengecek email-ku untuk memastikan apakah Adam telah selesai juga membaca dan mengoreksi essay-essay yang kukirimkan tempo hari. Benar saja, Aku melihat email masuk. Adam pengirimnya. Langsung Aku buka dan download file yang dikirimkannya.

Aku baca koreksian dari Adam terhadap Essay-essayku. Tak berbeda dengan Eric. Dia juga mengkritisi habis-habisan ‘tulisan terbaikku’. Intinya dia menyuruhku menulis ulang dengan isi yang sama. Kuhabiskan minggu-minggu berikutnya untuk menulis essay-essayku kembali. Setelah selesai, aku serahkan lagi ke Eric dan Adam sampai akhirnya mereka merestuinya. ‘Sip’ teriakku lantang dalam hati. Semua sudah beres, tinggal mengirimkannya lagi.

Semua dokumen telah kukirim via pos. mungkin sudah sampai Jakarta. Harapanku mereka tertarik membaca essay-essayku dan memberikan kesempatan untuk wawancara. Lebih kurang satu  bulan Aku dihantui oleh perasaan cemas tak karuan. Sampai suatu hari aku dapat panggilan telepon dari pihak IIEF Jakarta. Mereka memberitahuku bahwa aplikasi beasiswaku diterima dan akan diwawancara secepatnya. Hawa dingin salju Amerika langsung terasa olehku.

Hatiku bimbang. Sudah satu bulan Aku diwawancara namun tidak ada lagi kabar yang kudapat. Telepon dari Jakarta pun tidak ada. Teringat olehku sewaktu pewawancara berkata bahwa penerima beasiswa akan lansung di telpon oleh piphak IIEF. Bagi yang tidak ditelpon otomatis dia tidak lulus. “Ah, mungkin memang belum waktuku” hatiku bergumam lirih. Aku sudah betul-betul pasrah.

Suatu hari di awal Februari tubuhku merasakan letih yang tak biasa selepas pulang kuliah. Aku pun memilih untuk istirahat. Kupejamkan mataku yang terasa panas. Belum lagi hilang keasadaranku tiba-tiba handphone bututku bergetar. Ada nomor baru sedang memanggil. Sekilas kulihat nomornya mirip nomor yang belakangan ini sering iseng mengerjaiku. Tapi setelah kucermati ternyata nomor telepon itu berbeda. Nomornya bukan nomor hp tetapi nomor telepon kantor. Sontak pikiranku teringat IIEF. “Jangan-jangan ini adalah pengumuman beasiswa IELSP” harapku. Segera aku jawab panggilan itu.

Di ujung telepon terdengar suara wanita muda yang begitu lembut menyapa. Cici nama wanita itu. Aku memanggilnya Mbak Cici. “Apakah ini benar dengan Bapak Muhammad Beni Saputra?” dia memulai pembicaraan. “Benar mbak" jawabku dengan gugup. Kemudian Mbak Cici membacakan identitasku dengan detil. Mulai dari nama orang tuaku sampai alamat lengkapku di kampung. Tak ada sedikitpun informasi yang keliru. Semuanya tepat. Setelah ia selesai memberitahu identitasku dia berujar, “Selamat Bapak, Bapak akan berangkat ke Amerika! Tolong buat passport secepatnya dan kumpulkan kepada IIEF!”

Hatiku dipenuhi rasa bahagia yang tak terkira. Kegirangan yang sangat berbeda. Seumur umur belum pernah merasakan kebahagiaan seperti ini. Aku langsung sujud syukur begitu panggilan dari Mbak Cici berakhir. “Alhamdulillah ya Allah Engkau telah mengabulkan doa hambamu yang hina ini…” lirih kuberdoa. Panggilan telepon dari Mbak Cici tadi benar-benar menggemparkanku. Laksana petir, ia telah berhasil menghancurkan rasa frustasi yang sempat Aku alami.

Aku cium tangan ke dua orang tuaku dengan penuh perasaan sewaktu mereka hendak melepas keberangkatanku di Bandara Sulthan Thaha Saifudin Jambi. Betapa haru bercampur bahagianya hari itu. Senyum kebanggaan tak henti-hentinya terukir di kedua bibir Ayah dan Ibu. Rasanya baru hari itu Aku melihat raut wajah mereka sangat ceria. Kerasnya kehidupan sepertinya memang terlupakan oleh mereka hari itu.


Panggilan petugas bandara untuk segera memasuki pesawat akhirnya memisahkan kami. Dengan langkah berat kutinggalkan mereka berdua. Terlihat jelas olehku deraian air mata bahagia mengalir deras di pipi Ibuku tercinta sewaktu kulambaikan tanganku berjalan memasuki pesawat. Amerika, aku datang!

Puisi Perpisahan KUKERTA



Tertatih langkahku mencoba hampiri langit yang pekat
Sementara mendung bergelayut seakan ingin kirimkan hujan
Tergerak hati ini tuk mengutuk kata selamat tinggal
Namun apa daya, aku harus pergi

Kuayunkan kakiku yang linu
dalam pelukan malam gulita
derasnya tetesan air akhirnya menghentikan langkahku
sejenak kuberfikir
mengenang kembali perjalanan yang telah terlewati

kuterkenang padamu

kala itu kutersesat dalam sombongnya masa mudaku
kau datang memberi suluh
hingga kutau jalan mana yang harus ditempuh

kala itu kutelanjang tak berbusana
kau yang suguhkan aku pakaian
hingga kutau adat mana yang harus diemban

kau yang ajarkan aku senyum ketulusan
dalam menghadapi pahitnya rona kehidupan
kaulah guru alam semestaku

kicau burung bangunkanku dari lamunan
sementara hujanpun mulai mereda
dengan tubuhku yang lusuh kurajut kembali perjalanan
meniggalkan desaku yang tercinta
dengan senyum yang tersisa, ku berkata
selamat tinggal desaku
ceritamu kan selalu terabadi
di dalam sanubari


Banggalah Berbahasa Indonesia



Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi yang berlaku di Negara Republik Indonesia sebagaimana tersirat dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Keputusan para pendahulu bangsa untuk menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan pada saat itu sangatlah tepat. Terbukti, saat ini Bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa penting di dunia.
Situs warta digital Kompas merilis, Bahasa Indonesia dipelajari oleh 45 negara di dunia. Negara-negara yang mempelajarinya termasuk Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Bahkan terdapat sekitar 500 sekolah yang mempelajari Bahasa Indonesia di Australia.[1] Tak Cukup sampai disitu, Bahasa Indonesia juga memiliki catatan-catatan gemilang lainnya, seperti: Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi kedua di Kota Kota Ho Chi Minh, Vietnam;[2] Wikipedia Bahasa Indonesia menduduki peringkat ke-26 dari 250 dari seluruh Wikipedia berbahasa asing, atau peringkat ke-tiga di Asia;[3] Ditengah mendongkraknya posisi Bahasa Indonesia di mata negara asing, bagaimana di Indonesia sendiri?
            Ironis, mungkin itulah satu kata yang tepat untuk mewakili nasib tragis yang di alami Bahasa Indonesia di negeri ini. Hal itu terlihat jelas dari eksistensinya yang semakin hari semakin memudar di hati masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat lebih cenderung dan berbangga hati menggunakan Bahasa Indonesia yang tidak benar (Bahasa Gaul) dalam berinteraksi. Hal ini diperparah dengan gencarya ‘dukungan’ dari media massa dalam kampanye penggunaan bahasa loe gue ini. Buktinya, hampir semua acara di media elektronik, baik media televisi maupun radio, tidak menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Media televisi dengan bangga menayangkan mayoritas acaranya dalam Bahasa Indonesia yang tidak benar. Kecuali siaran berita, Bahasa Indonesia yang baik dan benar hampir tidak ditemui dalam acara-acara unggulan masyarakat seperti sinetron, FTV dan Reality Show. Hal yang sama juga berjamuran di stasiun radio, baik stasiun radio pusat maupun daerah. Tragis, Bahasa Indonesia hanya digunakan oleh stasiun radio milik pemerintah  atau radio siaran berita saja. Sedangkan radio swasta hampir selalu menggunakan Bahasa Indonesia yang tidak benar dalam mengudarakan acara-acaranya. Ada kecenderungan pemikiran bahwa Bahasa Indonesia terkesan ‘norak’ dan tidak ‘marketable’ di mata media elektronik.
Tentu fenomena ini tidak bisa dibiarkan terjadi begitu saja. Untuk itu, perlu adanya upaya dan komitmen serius dari semua elemen bangsa dalam meningkatkan kebanggaan berbahasa Indonesia. Sudah waktunya pemerintah membuat aturan tegas terhadap media-media elektronik agar menggunakan Bahasa Indonesia dalam semua acaranya. Begitu juga dengan masyarakat, sudah seharusnya menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa kebanggaan dengan menuturkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, Bangsa Indonesia turut menganggap penting Bahasa Indonesia sebagaimana yang telah dilakukan oleh bangsa lain di dunia ini. Kalau bukan kita, siapa lagi? 



[1] www.kompas.com, Rabu, 29 Oktober 2008.
[2] www.kompas.com . Jumat, 12 Juni 2009
[3] http://www.antara.co.id. Selasa, 20 November 2007

Tak Mengapa


Sampan itu telah tiba
Elok dan penuh pesona
Telah lama ia ku nanti
Membawaku ke alam mimpi

Tapi kali ini daku takkan pergi
Walaupun ombak tak tinggi
Bukan ku tak sudi
Bukan
Sungguh bukan

Daku mesti disini
Sementara
Tak selamanya

Negeri seberang memang indah
Telah lama terlihat
Termimpi
Terasakan
Terangankan

Namun kali ini biarlah disini
Ku tak akan pergi
Biarlah kusaksikan sampan-sampan itu berlalu
Sampanku ini biarlah disini
Untuk sementara
Bukan selamanya
Saat musim berlayar itu datang lagi
Kan ku pacu sampan ini
Melesat
Terdepan

Menuju pulau itu

Ibu



Ibu
rindu sungguh hati ini padamu
Inginku duduk disampingmu 
Untuk mendengar ceritamu 
Keluhmu
Juga kesahmu

Ibu 
Sungguh aku mengerti
Bahwa amat jarang kini kau tersenyum
Lara dunia masih saja menderamu
Ah, hendak aku hapus saja semua deritamu 
Saat ini
Ya, saat ini


Tapi, maafkan aku ibu
Sekujur tubuhku juga tak lepas dari deranya
Doa dan harap saja yang bisa ku kirim kini
Semoga engkau selalu dalam lindunganNya
Allah yang maha kuasa



Selamat hari Ibu, Ibuku sayang...