Thursday, December 31, 2015

Masih persoalan sepelekah ini?



Eva, begitu dia dipanggil seringkali mengucapkan ‘pardon’ untuk mengklarifikasi kalimat yang saya lontarkan. Sambil tersenyum dan malu-malu, wanita Polandia ini kemudian berujar ‘I’m sorry my English is not good’. Eva datang ke Manchester bermodalkan Bahasa Inggris seadanya karena tujuan kedatangannya pun seadanya, hanya untuk bekerja kasar seperti mengepel atau membersihkan kaca.

Perbincangan saya dengan Eva tempo hari meninggalkan perasaan yang bercampur aduk dalam mengakhiri tahun ini. Di satu sisi saya antusias sebab tidak lama lagi masyarakat Jambi secara resmi akan memiliki pemimpin baru yang semoga saja membawa angin perubahan baru. Tapi disisi lain ada kegelisahan di sudut hati saya sebab 31 Desember 2015 merupakan awal dari babak baru, bergulirnya Masyarakat Ekonomi Asia Tenggara. Ya, suka atau tidak, siap atau belum, Asean Economic Community akan tetap menyapa. Mengingat komunitas ini adalah komunitas lintas negara tentu Bahasa Inggris memiliki peran sentral. Untuk bersaing dengan warga Asia Tenggara, seperti apa peta kemampuan Bahasa Inggris masyarakat Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah?

Berbicara kefasihan berbahasa Inggris, Indonesia masih dibawah Singapura, Malaysia, bahkan Vietnam jika merujuk pada English Proficiency Index yang dirilis oleh sebuah perusahaan pendidikan internasional, English First. Meskipun kefasihan berbahasa Inggris orang Indonesia masuk dalam kategori ‘moderate’ atau menengah berdasarkan perusahaan ini, namun seperti yang dikritisi oleh The Economist, metode tes yang dipakai oleh English First menggunakan koneksi internet. Artinya hanya mereka yang terkoneksi ke dunia maya saja yang dijadikan sampel sedangkan yang tinggal di desa-desa tidak. Besar kemungkinan hasilnya akan berubah jika test ini juga melibatkan masyarakat di pedesaan.

Pandangan majalah The Economist berlaku untuk Provinsi Jambi dimana kefasihan berbahasa Inggris masih timpang. High English Proficiency atau kemampuan Bahasa Inggris tingkat tinggi masih menjadi kepunyaan mereka yang tinggal di Kota dan mengambil jurusan Bahasa Inggris di universitas. Sedangkan bagi yang berdomisili di daerah Bahasa Inggris cenderung masih barang mewah lagi asing. Bukti sederhananya terlihat ketika seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) diadakan. Sepanjang pengalaman keterlibatan saya dalam proses penyeleksian dan sebagai alumni program, sangat jarang pemuda atau pemudi yang dari kabupaten ikut seleksi. Maka wajar saja, sampai detik ini yang lolos PPAN hampir selalu mereka yang berasal dari Kota Jambi atau menempuh pendidikan di Kota Jambi. Yang dari daerah selalu gigit jari sebab nilai TOEFL tidak memadai.

Lemah dan tidak meratanya kemampuan Bahasa inggris masyarakat jambi setidaknya berimbas pada dua hal amat vital.

Pertama, keadaan ini akan menghambat perkembangan Provinsi Jambi itu sendiri. Riset membuktikan, sebagaimana yang dilaporkan oleh website Harvard Business Review, terdapat korelasi langsung antara skill Bahasa Inggris yang bagus dari suatu populasi terhadap kemampuan ekonomi dan indeks perkembangan manusia suatu negara. Ini artinya, semakin rendah kemampuan Bahasa inggris masyarakat Jambi maka semakin rendah pulalah laju perkembangan provinsinya.

Kedua, terlewatnya berbagai peluang emas meng-internasionalisasikan diri. Disamping PPAN banyak sekali kesempatan bagi masyarakat Jambi untuk merasakan atmosfir dunia luar asalkan memiliki kemampuan berbahasa Inggris mumpuni. Beasiswa lpdp yang disediakan oleh kementrian keuangan adalah segelintir contohnya. Beasiswa ini membuka pintu selebar-lebarnya bagi seluruh rakyat Indonesia untuk melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di dalam dan luar negeri. Siapa saja boleh daftar dan meraih peluang duduk di bangku kuliah universitas ternama di seluruh dunia. Namun lagi lagi, sayangnya sejauh ini masih sedikit penerima dari Jambi, hanya belasan saja. Dan, dari angka ini, tidak seorangpun jebolan kampus  kabupaten. Absennya putra putri daerah tak lain dan tak bukan karena rendahnya kemampuan Bahasa Inggris mereka.

Pertanyaannya adalah, sudah berapa banyak talenta-talenta muda Provinsi Jambi yang terabaikan? Berapa banyak ahli Matematika, Biologi, Kimia, dan seterusnya yang ketinggalan kesempatan mengeyam belajar di kampus kelas dunia di Amerika, Jepang atau Eropa hanya gara-gara tidak memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang memadai?

Oleh karena itu, dengan usainya Pilgub 2015 ini tidak salah rasanya jika kita gantungkan harapan kepada gubernur baru nanti, gubernur terpilih, agar memandang serius persoalan pelik Bahasa Inggris ini. Selama ini pemerintah daerah seolah lepas tangan dan membiarkan para pemuda berjuang sendirian. Mereka mendirikan tempat belajar dan komunitas Bahasa Inggris tanpa support apapun dari pemegang kebijakan. Kedepannya pemerintah baru bisa membuat program 5 tahunan dengan mendirikan tempat belajar Bahasa Inggris gratis di setiap kabupaten kota. Atau bila perlu tiap kecamatan. Anak-anak muda yang berpotensi di Kota Jambi bisa direkrut untuk dijadikan sebagai tenaga pengajar.

Salah satu poin kerja sama yang tertulis di ASEAN Economic Community Blueprint adalah ‘free flow of skilled labour’ atau pergerakan bebas tenaga kerja terampil. Kalimat ini merupakan peringatan keras bagi pemerintah Provinsi Jambi jika tidak mau berbenah dalam meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris masyarakatnya. Mulai tahun depan sangat berkemungkinan pekerja asing seperti Eva berdatangan kemudian secara perlahan menggusur tenaga kerja lokal. Masih persoalan sepelekah ini?


Tuesday, December 15, 2015

Izinkan Budi Wujudkan Mimpi, Guru

Waktu telah menunjukkan jam 2 siang, namun yang ditunggu tak kunjung datang. Sudah enam jam budi duduk termenung di teras itu tanpa ada kepastian. Ya, sebuah kepastian yang tak jua pasti yang sedang ditunggu olehnya. Tubuhnya telah kehilangan daya. Sama persis dengan baterai handphonenya yang sudah mulai kosong. Sedari tadi ia mencoba untuk meneleponnya, namun tak ada jawaban. Sms pun tak di balas. Entah apa yang terjadi, hanya tuhanlah yang tau. Sementara suasana kampus sudah mulai lengang seiring kian berkurangnya para penghuni gedung. Satu persatu dari mereka telah meninggalkan kampus sejak satu jam yang lalu. Ada yang lansung terbang ke rumah masing-masing tanpa stop, namun ada juga yang memilih untuk transit terlebih dahulu di berbagai tempat sebelum menuju kediaman tercinta. Mereka yang transit biasanya hendak melanjutkan aktifitas lain untuk sekedar memanfaatkan waktu luang sebelum matahari terbenam. Sedangkan mereka yang memilih untuk lansung pulang ke rumah biasanya juga untuk melanjutkan aktifitas rutin lainnya juga, yaitu tidur.

Karena tak kuat menahan lapar, akhirnya budi menyerah juga. Dengan kekuatan yang tersisa ia ayunkan langkahnya yang mulai lusuh itu. Sambil berjalan ia mencoba untuk menghidupkan kembali mimpi-mimpi indahnya yang kini mulai terusik. Mimpi yang begitu lama ia rajut, mimpi yang begitu sulit untuk terwujud. Dalam kekalutan yang semakin dalam seketika ia teringat akan cerita neneknya tentang detik-detik kelahirannya.

Kala itu orang-orang desa susah makmur berkumpul di sebuah rumah warga desa. Pak Nasihin nama pemilik rumah itu. Mereka berbondong-bondong ke rumah pak Nasihin untuk menyambut kelahiran seorang anak yang tak lain adalah calon warga baru di desa itu. Dengan batangan rokok di tangan masing-masing, para bapak-bapak sibuk berdiskusi mengenai hasil panen mereka yang melimpah dari biasaya. Gelak tawa mereka memenuhi ruang tamu yang tak begitu besar itu.

“pak, pak! Anak bapak sudah lahir! Ayo cepat kedalam…” suara seorang wanita tengah baya sontak menghentikan riuh ruang tamu.

Mendengar teriakan sang dukun itu, pak Mahmud bergegas masuk kedalam untuk menyambut kedatangan ananda tercinta.

“ayo digendong putranya pak, jangan termenung saja…” imbuh sang dukun itu lagi.

Di ambilnya tubuh yang merah itu. Dengan cucuran air mata ditatapnya mata sang anak yang begitu bersinar. Tatapan yang sangat dalam. Tatapan sejuta harapan. Mata anak itu begitu tajam, bagaikan pedang pendekar khayalan. Raungan tangis membuat matanya semakin membara. Tersedu-sedan pak Mahmud. Bergetar tubuhnya menahan energi bahagia yang keluar dari seluruh pori-pori. Dengan suara terbata pak Mahmud berkata pada dirinya sendiri:

“kelak, putraku ini akan menjadi orang hebat yang akan merubah dunia…”

Hanya sepenggal kalimat itu yang mampu terucap dari mulut sang ayah. Satu baris kata yang mengandung sejuta makna. Harapan yang begitu tulus dari seorang ayah. Harapan yang keluar dari lubuk hati terdalam.

Tanah kelahiran budi amatlah jauh dari peradaban dunia modern. Sewaktu ia lahir saja, disana masih gelap gulita. Hal itu tak lain dikarenakan masyarakatnya masih menggunakan penerangan lampu minyak tanah. Mereka tak kenal yang namanya listrik apalagi alat-alat elektronik. Televisi mereka adalah hamparan sawah. Kipas angin mereka jendela rumah. Desa mereka adalah dunia mereka.

Kini 22 tahun telah berlalu. Budi bukan lagi seorang bayi mungil yang digendong oleh bapaknya. Ia kini telah terdaftar sebagai mahasiswa disebuah universitas islam negeri di ibu kota provinsinya. Sudah lebih kurang tiga tahun setengah ia menimba ilmu di perguruan islam negeri itu.

“Eh udah pulang…gimana? Ketemu sama dosen pembimbingmu tadi?” pertanyaan dari temannya itu sontak membuyarkan lamunannya.

“iya nih udah pulang…” jawab budi dengan suara pelan sambil berjalan menuju kamarnya.

Karena belum dijawab, Hakim kembali bertanya dengan membuntuti budi dari belakang. “jadi gimana dosenmu tadi? Datang dia?”

“Tidak kim…” jawab budi dengan suara pelan.

“Bukannya dosenmu udah janji mau nemuin kamu dikampus hari ini?” si hakim makin penasaran.

“iya kim…waktu aku telpon kemarin katanya dia akan ke kampus hari ini. tapi ku tunggu berjam-jam gak juga datang-datang” sahut budi sangat pelan sambil merebahkan badan di kasur usang miliknya.

Melihat temannnya semakin terpukul, Hakim mencoba untuk menguatkan. “sabar ya teman…memang seperti itu cobaan menjadi seorang sarjana. Saya dulu juga seperti itu ketika dalam proses penulisan skripsi. Sudah tak terhitung berapa puluh jam saya habiskan waktu di teras kampus hanya untuk menunggu dosen-dosen pembimbing saya. Sudah tak terhitung berapa banyak kekecewaan yang saya bawa pulang ke kosan gara-gara mereka tak datang. Tapi saya tetap sabar. Karena saya tahu bahwa Tuhan sedang menguji saya apakah saya cukup kuat untuk menjadi seorang sarjana…”

Mendengar kata-kata itu Budi terhenyak. Sambil memandang langit-langit kamar, direnunginya penggalan –penggalan kalimat yang keluar dari mulut sobat karib. Konsep cobaan yang baru saja didengungkan oleh sang kawan sepertinya sangat menarik perhatiaannya.

“Mungkin ada benarnya juga apa yang dikatakan hakim. Boleh jadi ini adalah ujian dari Tuhan kepadaku untuk menjadi seorang sarjana…” batinnya dalam hati.

Namun, semakin direnungnya kata cobaan itu entah mengapa hatinya semakin menolak. Terdapat perdebatan sengit yang bergejolak di dalam sanubarinya.

“Kalau memang Tuhan mau menguji calon sarjana seperti aku, berarti Tuhan itu tidaklah maha bijaksana. Hal ini karena tak hanya aku yang mengalami kepahitan ini. Ada banyak teman-temanku di negeri ini yang mengalami hal yang sama. Mereka sama-sama berjuang untuk menemui sang mahaguru agar dibimbing ke jalan yang tepat untuk skripsi mereka. Bahkan, kalau memang seperti itu, Tuhan itu tidak maha adil. Di negeri seberang sana, para mahasiswa dapat dengan mudah menemui professor mereka. Sang guru besar selalu ada di ruangannya pada jam kerja. Mereka juga siap untuk bertemu dimana saja dan kapan saja selagi mereka memungkinkan untuk melakukannya. Pendek kata, mereka sangat senang untuk membantu para mahasiswa yang sedang penelitian agar penelitian mereka berjalan mulus dan sukses. Aku yakin Tuhan itu maha adil. Aku yakin Tuhan tidak sedang mengujiku. Apa yang aku alami bukanlah cobaan Tuhan pun takdirNya. Ini tak lain hanyalah bagian dari kekuasaanNya yang hendak menunjukkan kepadaku dan dunia perihal perilaku penduduk negeri ini. Sebuah negeri yang di kenal dengan dengan mayoritas penduduk Islamnya, negeri yang mengagung-agungkan sisi keramah-tamahannya…”

Tak terasa oleh Budi telah sekian lama ia menatap langit-langit usang itu. Dilihatnya hakim yang telah tertidur pulas di sampingnya. Hembusan nafas sarjana nganggur itu seakan mengisyaratkan tak ada harapan tersisa untuknya. Cerita pahit yang dilaluinya hari ini merupakan rangkaian episode yang akan tayang lagi esok hari. Namun, Budi memilih untuk berkeyakinan lain. Ia percaya bahwa harapan itu selalu ada selagi setiap individu berkomitmen untuk membuktikan dua sisi dari negeri ini kepada dunia; sisi Islamnya dan sisi keramahannya.

Monday, September 21, 2015

Kisah Akik dan Ikil

Tersebutlah kisah tentang sepasang sahabat bernama Akik dan Ikil. Mereka berdua dilahirkan di sebuah pulau di tepian sungai yang airnya mengalir jernih dan udaranya amat segar sebab disekeliling pulau itu pohon-pohon raksasa masih menjulang tinggi. Kicauan burung, raungan kera, berpadu dengan kokok ayam hutan jantan senantiasa membangunkan mereka tiap pagi bak melodi-melodi indah hasil gubahan Mozart.

Jalan hidup dua sejoli ini memiliki plot yang berbeda. Semasa kecil Akik mesti menghadapi sebuah kenyataan pahit, dia terpaksa menganggukkan kepala atas sebuah tawaran untuk berpisah dengan keluarganya, keluarga batu, oleh seseorang tak dikenal dari negeri antah-berantah. Tragedi ini secara otomatis menceraikan Akik dengan kampung halamannya yang tercinta, Pulau Batu, serta sobat karib tersayang, Ikil. Walau sulit, Akik tak memiliki daya dan upaya untuk melawan. Dengan kepala tertunduk, mata basah, dan tubuh lunglai Akik berangkat pasrah. Dilambaikannya tangan kanannya ke atas tanda salam perpisahan kepada kedua orang tua dan semua kenangan indah yang terukir di kampung halamannya selama ini.

Sementara itu Ikil memilih untuk sembunyi dibawah ketiak ibu bapaknya di belakang bongkahan batu besar yang teronggok di sudut pulau. Terakhir diketahui, rupanya batu itu adalah keluarga besarnya Ikil. Mereka semua tinggal disitu bersatu padu mulai dari kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, keponakan, cucu, cicit, menantu, sampai pembantu. Maka selamatlah Ikil. Tersenyum lebarlah kedua orang tuanya. Pecahlah gelak tawa di keluarga besar itu. Mereka merayakan hari itu dengan menyembelih udang sebanyak 2 ons dan berpesta hingga larut malam. Ikil baru saja diselamatkan dari upaya orang luar yang hendak merenggutnya dari sanak familinya padahal mereka tidak ingin berpisah dan Ikil pun tak berniat meninggalkan teman-teman bermain di kampung halamannya. Maka wajar saja jika hari itu masuk dalam kategori hari besar Ikil sekeluarga yang patut dirayakan.

Masa-masa selanjutnya dilalui dengan nuansa yang berbeda oleh kedua batu ini. Hari-hari Ikil penuh gelak tawa. Bermain kesana kemari dengan teman-teman dan berlimpahan kasih sayang dari keluarga. Pendek kata hidup Ikil seolah tidak mendapatkan kesusahan apapun. Sedangkan Akik memiliki jalan cerita lain di perantauan, di negeri yang sama sekali tidak dikenalnya. Asing. Dia diperlakukan semena-mena oleh orang tak dikenal yang dulu merenggut kebahagiaan dan kebebasannya semasa di desa. Tubuhnya tidak utuh lagi karena telah dibelah. Kepala entah kemana kakipun telah hilang. Bentuknya kini sudah menyerupai kubus dengan sisi berserakan. Seakan tak putus dirundung malang, tubuh Akik kemudian berkali-kali digosok dengan permukaan halus namun cukup pedih jika terasa oleh tubuh. Penggosokan tubuhnya itu membuat warna Akik berubah. Kulitnya tidak seperti dulu dan dia tidak lagi mirip dengan anggota keluarganya yang lain. Khawatir betul hatinya kalau-kalau ibu bapaknya tidak mengenali dia lagi. Setelah berulangkali tersiksa, belakangan baru dia tahu kalau alat yang mengelupaskan kulit arinya itu bernama amplas.

Naas nasib Akik. Ternyata siksaannya tidak hanya dari amplas saja tetapi kini sudah berbentuk lain yang lebih menakutkan. Dia gugup lagi histeris ketika mendengar bunyi melengking dengan bulatan yang berpusing menyentuh tubuhnya kemudian mengoyak-ngoyak dagingnya. Tak terperikan rasa sakit yang dialaminya hingga air mata saja yang keluar. Akik meraung tapi tak terdengar sebab suara gerinda memenuhi cakrawala. Akik menangis sejadi-jadinya namun apa hendak dikata tiada seorangpun yang peduli.

Akik mengira itu saja penderitaannya. Tetapi tidak! Suatu ketika dia dicelupkan ke dalam air yang dingin. Berhari-hari lamanya hingga tubuhnya terasa beku. Ingin sungguh dia keluar merasakan nikmat sinar mentari namun apa daya dia tak kuasa. Lagi-lagi cuma pasrah lah yang dia bisa.

Seketika Akik teringat nasihat orang tuanya semasa di kampung dulu. Saat itu Akik kecil tengah berlari girang di depan ayah dan ibunya dalam perjalanan ke kebun lumut milik mereka. Entah karena terlalu bergembira atau kurang hati-hati, Akik tersandung ranting dan terjerembab. Lututnya lecet dan lengannya biru. Akik pun menangis sejadi-jadinya. Anehnya orang tua Akik tidak mengangkat dan mengelus-elus Akik sebagaimana yang Akik harapkan. Ayahnya hanya mendekat, memegang pundak Akik, menghapus air matanya, kemudian berujar: "Nak, hidup itu keras. Kau harus siap dengan segala susah payah yang akan kau lalui. Jika kau terjatuh, menangislah kalau kau merasakan sakit. Tapi ingat, jangan berlama-lama disana. Segera bangkit sebab jalanmu masih panjang. Masih ada mentari esok yang akan melebarkan senyumnya untukmu. Keberhasilan itu mahal harganya nak, jadi kau harus tabah dalam menghadapi segala tantangannya"

Kata-kata ayahnya tadi membuat Akik sedikit tabah. Dia mulai berpikiran, boleh jadi ini semua demi kebaikan dirinya. "Barangkali ayah dan ibuku tidaklah tidak sayang denganku, atau mereka juga tidaklah tidak iba dengan kondisiku. Mereka mungkin sengaja membiarkanku begini agar aku memetik pelajaran hidup dan menjadi batu yang dimuliakan"

Bulan berganti tahun berlalu. Akik dan Ikil kini telah menjadi dua batu dewasa yang berpenampilan tak serupa180 derajat. Ikil berperawakan seperti leluhurnya dari warna hingga bentuk tubuhnya. Tak berbeda sedikitpun. Sedangkan Akik kini memiliki warna yang mencolok dan bercahaya yang membuat sejuk mata memandang. Tempat tinggal mereka juga tidak sama. Ikil terbenam dibawah semen menjadi pondasi rumah manusia, terperangkap dan tidak bisa bergerak. Semua teman-teman Ikil bernasib sama dengannya. Sedangkan Akik tak disangka duganya kini tempatnya sangat spesial. Dinding rumahnya terbuat dari emas 24 karat yang dibangun khusus sesuai dengan bentuk tubuhnya sehingga sekuat apapun hentakan atau benturan yang melanda, tubuh akik tidak akan terpental.

Bukan itu saja, dalam beberapa bulan terakhir ini banyak sekali orang yang tertarik dengannya. Masing-masing datang dengan harga tertinggi serta tawaran rumah yang mewah. Hanya satu orang saja yang Akik pilih, meskipun rumah emas yang ditawarkan orang itu tidak begitu megah bila dibandingkan dengan rumah-rumah dari orang lain yang sedang antri ingin memilikinya, yaitu seorang tua berjenggot asal kampung halamannya, Pulau Batu. Pak Tua Batu namanya. Sosok kepala suku batu yang amat bersahaja, jujur, dan disegani oleh seantero penduduk negeri batu. Dengan tangan bergetar karena terharu, Pak Tua Batu membawa Akik yang tengah terisak tangis bahagia pergi dan menempatkannya di jari manisnya. Sayang betul dia dengan Akik. Kemana-mana dibawanya. Kotor sedikit dibersihkannya. Setiap ada pertemuan dipamerkannya kepada teman-temannya. Dan yang paling membahagiakan Pak Tua Batu dan Akik adalah, dengan kembalinya Akik ke kampung halaman, mereka berdua bisa bersinergi menebarkan inspirasi serta memperbaiki keadaan negeri sedikit demi sedikit. Tahun-tahun selanjutnya menjadi sejarah hebat di Pulau Batu, sebab penduduk pulau kecil itu berlomba-lomba ingin memiliki kilau seperti Akik walaupun mereka sepenuhnya sadar bahwa untuk menjadi bercahaya tubuh mereka mesti disiksa. Mereka memilih untuk tiada peduli. Sepertinya, pepatah 'bersakit-sakit dahulu bersenang kemudian' yang terdapat di setiap sampul buku mereka saat SD dulu sudah pindah, meresap lalu menyatu dengan aliran darah di tiap-tiap badan mereka.

Kini Pulau Batu makmur sentosa dengan nikmat melimpah ruah sebab penduduknya telah dipenuhi oleh Akik yang sangat peduli satu sama lain. Dan, tetap menjadi seorang Ikil sekarang bukan lagi pilihan tepat sebab Ikil telah menjadi simbol aib yang tak tertanggungkan di kampung Pulau Batu. Sekian.

 

 

mbs

Dalam balutan dingin pagi kota Manchester

 

 

 

Tuesday, September 15, 2015

Pahitnya Perjuangan

Aku tak kuasa menahan serangan dingin yang menjalar melalui ujung jari kaki dan tangan. Kugulung-gulung lagi selimut hitam putih yang disediakan oleh Etihad, tetap saja rasa sejuk itu menyerang. Kuputuskan untuk membuka mata sementara seorang wanita dari Frankfurt, Maria, yang baru saja pulang liburan dari indonesia tengah asyik menyantap sepotong sandwich ayam tepat disebelahku.

Pagi ini, di langit Allah antara Mumbai dan Abu Dhabi, akan kucurahkan liku hidup yang telah terpendam lama. Tepatnya setahun. Sebuah jalan nasib yang tampak amat menyenangkan dari luar khususnya di sepasang mata manusia yang melihat.

Kisah ini bermula setahun silam tepatnya di sekitar bulan maret 2014. Kala itu aku tak sengaja membaca sebuah tautan dari teman Facebook mengenai sebuah beasiswa yang pada tahun 2013 tidak jadi aku apply sebab jurusanku, Sastra Inggris, belum menjadi prioritas mereka. Namun tahun itu aku menemukan bahwa beasiswa ini sudah berbeda dari setahun sebelumnya yang mana sekarang semua jurusan akan diakomodir. Senang bukan kepalang aku waktu itu. Tanpa pikir panjang, segera aku penuhi semua persyaratan beasiswa lpdp itu.

Tanpa maksud jual mahal, aku tidak begitu mengharapkan lpdp jika dibandingkan dengan Fulbright. Hal ini dikarenakan mataku sudah lama silau oleh kilauan cahaya Beasiswa pemerintah Amerika ini sejak di bangku kuliah. Terlebih, alumni-alumni Fulbright di Indonesia adalah orang-orang yang mentereng semisal Anies Baswedan atau Ahmad Fuadi. Karena tidak mau menyia-nyiakan peluang, dan belum tentu aku pantas di mata pihak Fulbright, aku coba keduanya.

Singkat cerita, semua dokumen telah disiapkan, formulir beasiswa pun telah diisi lengkap dengan essay yang diminta. Untuk beasiswa Fulbright aku kirim lewat pos sedangkan berkas lpdp aku upload ke website mereka.

Setelah sekitar satu bulan menunggu aku pun mendapat email dari lpdp yang menyatakan bahwa aplikasi beasiswaku telah diterima dan aku diminta ke jakarta untuk proses selanjutnya yaitu fase wasancara dan LGD (selengkapnya bisa dibaca disini: http://putellaking.blogspot.co.uk/2014/06/seputar-beasiswa-lpdp_4.html

Dan perjuangan pun dimulai

Persiapan pra wawancara tidak begitu rumit sebab aku hanya perlu menyiapkan ongkos pesawat ke jakarta saja. Selama di jakarta pun aku menginap di kosan sahabat karibku, Iqbal, dari Bengkulu. Babak menegangkan dalam hidupku adalah ketika profesor yang mewawancaraiku merekomendasikan aku kuliah ke Inggris bukan Singapore seperti yang tertulis di aplikasiku. Tantangannya bukan main-main bagiku saat itu. IELTS!

Jujur saja sepanjang hidupku, walaupun S1 ku Sastra Inggris, ielts hanya pernah ku dengar namanya. Jangankan membaca soal-soalnya, melihat bukunya saja belum ada seumur-umur. Jadi risau bukan kepalang hatiku saat itu. Meskipun galau, aku belum mau bergerak sebab aku belum tentu lulus lpdp. Aku mulai kocar-kacir memperjuangkan ielts setelah dinyatakan lulus fase wawancara.

Saat itu bulan juni. Aku membuka laptop, memasang modem, dan berselancar di Google mencari buku ielts yang bisa di download. Dibantu segelas teh hangat, kutelusuri beberapa website yang muncul dengan teliti dan pada akhirnya aku berhasil mendownload buku-buku terbaik ielts semisal Target Band 7 dan tentu saja ielts cambridge 1-9. Aku tak tau harus bagaimana menyikapi hal ini. Memang benar, apa yang kau perbuat itu ilegal, mengambil hak milik orsng tanpa izin, tapi aku lanjut saja. Biarlah Tuhan yang menilai dan menghukumku nanti.

Agar lebih efektif, aku mulai membuat jadwal belajar. Belajar semua hal yang berhubungan dengan bahasa inggris mulai dari grammar, writing, speaking, dan tentu saja semua ielts book yang telah aku unduh. Aku buka lagi buku-buku Bahasa Inggrisku sewaktu kuliah dulu. Ternyata memang masih banyak yang belum aku ketahui.

Pada awal-awal belajar ielts aku kesulitan dalam memahami soal-soal reading dan writing. Bagiku dua tes ini amat sulit. Tapi aku tidak menyerah. Aku paksa terus belajar setiap hari sampai akhirnya aku bisa mengerti (setelah 3 bulan). Disaat yang bersamaan aku mulai mengumpulkan uang untuk keperluan tes ielts ku nanti.

Menyiapkan uang sejumlah lebih kurang 4 juta rupiah bukan perkara mudah bagiku. Aku tidak memiliki gaji pokok karena aku bukan fulltimer melainkan freelancer. Sepeda motorku pun masih kredit. Belum lagi biaya hidup sehari yang mesti aku tanggung. Peduli apa. Aku berkeyakinan bahwa tugasku hanya berusaha dan berusaha. Hasilnya aku serahkan saja kepada Allah.

Setelah bersusah-payah selama lebih kurang 5 bulan, mengumpul uang, berhemat ala mahasiswa, menjual sepeda, dan menamatkan semua buku ielts yang aku download (ada sekitar 15 buku), akhirnya aku putuskan untuk berangkat ke jakarta. Pendaftaran ielts telah selesai melalui internet. Pembayarannya pun sudah rampung.

Di dalam pesawat hatiku gundah gulana sebab beragam tanya mengganggu pikiran. "Bisakah aku mendapatkan skor 7 nanti? Atau hanya angka 5? Kalau aku gagal, mampukah aku mencari uang 4 juta lagi untuk tes?" Aku memilih pasrah karena hanya itu yang aku bisa. Setidaknya aku telah berjuang semampu dan sekuat yang aku bisa. Kalaupun nanti gagal, yang artinya aku harus melepas beasiswa lpdp, aku menganggap itu sudah takdirku. Barangkali Allah punya rencana lain.

Alhamdulillah perjuanganku tidak sia-sia. 13 hari setelah tes ielts, sertifikat ielts ku dikirim ke jambi dan you know what, aku dapat 7! Ini artinya aku bisa mendaftar di kampus impianku, University of Manchester. Yeeey!

Fase mendaftar kuliah

Selama ini aku hanya berandai-andai saja bisa kuliah di Manchester. Ini karena persyaratan ielts 7 yang disyaratkannya terlalu tinggi bagiku. Namun setelah menaklukkan ielts aku pun siap. Tidak sampai sebulan setelah aku melengkapi semua dokumen yang mereka minta, aku mendapatkan email bahwa aku diterima di program impianku, American Studies. Berita bagus tambahannya adalah aku juga diterima di dua kampus lainnya yaitu jurusan American studies di university of Glasgow dan program English literature di Lancaster university. Ke dua kampus ini juga bertempat di UK. Sorry to say, Manchester is too great to refuse! Jadi saya 'tolak' tawaran dari dua kampus tersebut.

Meski girang bukan kepalang, aku belum bisa menarik nafas lega. Aku harus mengajukan perpindahan kampus dan jurusan dulu ke lpdp dari sebelumnya jurusan English Literature di National University of Singapore ke Jurusan American Studies di University of Manchester. Untuk yang satu ini agak mendebarkan dada sebab pertama, ranking NUS berada di peringkat 22 dunia sedangkan UoM peringkat 30. Jika pindah artinya aku downgrade bukan upgrade. Jurusan s1 ku pun sastra inggris bukan american studies. Sekali lagi, peduli apa! Aku beranikan diri mengajukan permohonan pindah ke lpdp lengkap dengan alasan logisnya. Hanya berselang jam, lpdp memberikan surat bahwa permohonanku dikabulkan bersamaan dengan surat kontrak belajar. Alhamdulillah.

Bulan-bulan berikutnya, January-June 2015 aku mulai fokus mengumpulkan uang untuk visa. Biaya visa ke inggris tidak murah yaitu sekitar 11.500.000 rupiah. Itu belum termasuk tes TBC serta ongkos pulang perhi dan akomodasi selama di jakarta. Jadi keseluruhan biayanya sekitar 15 juta.

Pada awalnya aku cemas. Bagaimana mungkin bisa mencari uang 15 juta sedangkan uang yang kudapat perbulan tak seberapa dan motorku pun masih belum lunas! Januari-maret aku tidak mengumpulkan uang secara maksimal sebab kredit motorku baru lunas bulan maret. Lagi, walaupun khawatir, peduli apa! Yang penting aku usaha saja!

Bulan april aku mulai giat mencari tambahan uang dengan mengajar lebih banyak di beberapa tempat termasuk di rumahku sendiri. Alhamdulillah, Allah itu memang tidak pernah php. Ada saja jalan rezekiku seolah Allah ingin membuktikan lagi firmannya mengenai jalan keluar bagi setiap masalah untuk orang yang bertakwa (aku tidak takwa-takwa amat tapi juga tidak zolim kelas berat, hehe). Selama periode 3 bulan yaitu april-juni aku berhasil mengumpulkan uang 11.500.000 rupiah. Artinya untuk biaya visa aku sudah punya. Sekarang tinggal mengakali uang untuk ongkos ke jakarta dan biaya tes tbc.

Aku menelepon semua orang yang kuanggap punya duit untuk meminjamkanku sekitar 5 juta. Tapi hasilnya nihil. Tanpa putus asa, aku terus mencari hingga teman baikku, Iqbal, dengan senang hati meminjamkan. Tiket pesawat ke jakarta juga aku beli dengan pinjaman uang modal pulsa adikku.

Tantangan visaku tidak sampai di permaslahan finansial saja. Ada kerikil lain yang mesti aku pijak. Pertama adalah kartu kredit. Pembayaran visa harus melalui kartu kredit sedangkan aku tak punya. Aku menghubungi Eric temanku orang Amerika dan meminta tolong bayarkan visaku menggunaka kartu kreditnya. Dia pun dengan senang hati menolong. Pembayaran visa sempat bermasalah beberapa kali dari kegagalan sistem, website dalam perbaikan, sampai ketidaktersedianya waktu wawancara karena sudah penuh di book oleh yang lain. Karena hal inilah aku terpaksa stay di jakarta selama 10 hari sampai semuanya clear.

Yang kedua adalah tes tbc. Saat itu aku sedang radang tenggorokan yang membuat batuk ringan. Cemas sekali rasanya hendak tes tbc dalam keadaan seperti itu. Yang terpikirkan oleh aku adalah, jika aku terindikasi tbc maka tamatlah riwayatku. Hal ini akan membuatku tidak bisa memohon visa ke inggris dan aku harus tes dahak yang mana hasilnya baru keluar selama 13 minggu. Saat itu juli sedangkan aku mulai kuliah september. Jadi sangat riskan kalau saja aku positif tb. Mau pindah kampus ke negara lain pun tidak bisa sebab pendaftaran sudah tutup. Kalaupun mendaftar itu untuk tahun ajaran berikutnya. Alhamdulillah, untung saja paru-paruku tidak apa-apa. Aku pun lancar jaya dalam mengurus visa.

Ready for Manchester

Waktu keberangkatanku kian dekat. Aku menjadi tidak sabar. Namun ada satu masalah lagi yaitu kotaku, kota Jambi, sedang ditutup oleh kabut asap tebal yang disebabkan oleh kebakaran hutan. Kian dekat dengan jadwal berangkatku asapnya kian menjadi-jadi sampai aku pasrah dibuatnya. Pada malam keberangkatanku kondisi bandara Jambi sepi senyap. Tidak kelihatan penumpang yang tiba atau pesawat yang mendarat. Semua penerbangan hari itu dibatalkan. Satu saja yang tidak di cancel yaitu penerbanganku. Mungkin karena flightku flight terakhir malam itu. 2 jam sebelum take off, pihak garuda memberitahu bahwa penerbanganku ke jakarta dibatalkan. Hal ini berarti aku tidak bisa berangkat ke manchester karena sesuai jadwal, sesampai di jakarta, beberapa jam setelahnya aku akan naik pesawat Etihad ke manchester bersama dengan teman-teman yang lain.

Kondisi genting seperti itu memaksaku membatalkan penerbanganku ke Manchester . Aku pun berinisiatif berangkat ke palembang melalui jalur darat malam itu juga dengan harapan disana kabutnya tidak setebal di Jambi dan aku bisa terbang ke jakarta.

Aku berangkat dari jambi jam 9 malam dan sampai ke bandara palembang pukul 3 pagi. Aku pun terbang ke jakarta jam 11.40 siangnya.

Sesampai di jakarta aku menemui pihak garuda menanyakan solusi dari permaslahanku yang ketinggalan pesawat. Untuk membeli tiket baru yang harganya belasan juta tentu saja aku tidak mampu. Setelah kesana kemari, menunggu dalam keadaan mengantuk, capek, belum makan, belum ke toilet, belum mandi, dan belum sholat, pembicaraan pihak garuda dan etihad membuahkan hasil. Aku tetap bisa berangkat tanpa harus membeli tiket baru lagi di hari berikutnya.

Dan kini, aku duduk di kursi nomor 19 k di dekat jendela, dalam perjalanan ke tanah yang dulu dipijak oleh idolaku, David Beckham. Di dompetku hanya ada £10 sebab semua uangku dipegang oleh temanku, kang agung, dari bandung yang seharusnya aku ambil saat keberangkatan kami. Karena tragedi kabut asap itu, terpaksa uangku sampai duluan sedangkan aku belakangan. Tak taulah apa yang terjadi nanti pada diriku setiba di manchester. Tapi mudah-mudahan ada yang menjemputku.

Burung besi asal Abu Dhabi yang kutumpangi perlahan merendah ke tanah. Kukencangkan lagi sabuk pengaman dan menoleh ke jendela. Tampak olehku rumah-rumah berjejer rapi lengkap dengan stadion sepak bola ala Britania Raya, entah itu Old Trafford atau Etihad Stadium. Dalam hatiku berujar: "Perjuangan ini semula memang pahit, tapi kini aku meneguk manisnya"

 

 

Monday, August 17, 2015

Teman, Mari Berpikir!

Udara terasa dingin, menggantikan hawa panas yang telah sekian lama memeluk bumi Jambi beserta penghuninya. Sungai mengering, air surut bercampur lumpur kental – yang bila digunakan untuk mandi tubuh tidak akan menjadi bersih malahan semakin kotor –  hadiah dari tambang emas ilegal  yang sengaja dibiarkan oleh pihak yang katanya berwenang dan oleh pemerintah yang konon kerjanya selalu memerintah. 

Pagi ini saya tidak tertarik menceritakan hujan tadi malam yang begitu menyiksa batin seorang bujangan seperti saya dan barangkali juga anda. Ada satu hal yang sejatinya ingin saya kemukakan, sebuah pengganggu akal sehat saya akhir-akhir ini, yang semakin dipendam keberadaannya kian menusuk otak saya. Untuk itu, daripada saya mengidap penyakit berbahaya nantinya, saya putuskan untuk mencurahkannya saja melalui tulisan ini.

Baiklah, sebelum saya mulai panjang lebar, izinkan saya menyeruput teh limau kuning atau dalam bahasa kafenya lemon tea buatan saya sendiri dulu sambil menunggu rebusan ketela saya matang. 

Begini, saya acap kali mendengar, bertukar cerita, atau mendapatkan kabar, tentang satu hal: penyogokan yang dilakukan oleh seorang sarjana demi mendapatkan pekerjaan. Realita ini membuat saya geram, shock, marah, sedih, tertawa, kasihan, dan bodoh. Saya geram karena jumlah uang yang ‘disedekahkan’ biasanya berjumlah wow, shock setelah mengetahui ada perlombaan tersendiri di arena satu ini, marah karena uang itu mubazir, sedih karena menganggap otak si pemberi uang sudah tidak lagi berfungsi dengan baik, kasihan melihat orang tuanya menjual harta pusaka, tertawa menyaksikan kebodohan tingkat tinggi ini, sedih karena ternyata pendidikan bertahun-tahun yang ditempuh oleh mereka yang terlibat belum berhasil, dan bodoh karena satu pertanyaan: “apakah saya terlalu dungu dan gagal beradaptasi dengan zaman?”

Adalah rahasia kita bersama selama ini dimana jika si fulan ingin menjadi seorang aparatur negara atau PNS yang bersangkutan mesti menyediakan uang puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Jika tidak siap-siaplah gigit jari sebab baju kuning yang diidamkan boleh jadi sudah ditebus oleh mereka yang antri.

Ok, it’s fine! Itu sudah menjadi norma yang sepertinya sudah tidak tabu lagi, alias ‘normal’ dengan dalih ‘hari gini tidak ada yang gratis’. Meski demikian, maafkan saya, perbuatan yang demikian tetap saya masukkan kedalam kelompok idiot. 

Malangnya, akhir-akhir ini upeti tidak hanya dipungut dari yang mau jadi pegawai negeri saja tetapi juga sudah dikenakan kepada mereka yang  bermaksud untuk menjadi bagian yang riskan ditendang, tenaga honorer. Lucunya lagi, yang dikenakan biaya tidak keberatan bahkan berlomba-lomba untuk membayar. Untuk menambah keironisan jalan cerita, kebanyakan dari mereka yang berminat adalah para sarjana yang telah menghabiskan waktu belasan tahun bahkan ada yang melalui fase puluhan tahun agar bisa menjadi manusia yang mampu berpikir jernih bukan primitif. Seseorang yang tidak tamat SD saja belum tentu mau memberikan uang berjuta-juta secara cuma-cuma demi diberikan pekerjaan. Kok mereka yang sudah menghabiskan banyak bangku sekolah mau-mau saja. Pertanyaannya disini adalah siapa yang terdidik dan siapa yang tidak? 

Karena semakin gusar, beberapa hari ini saya mencoba menerawang mencari jawaban dari fenomena ganjil atau saya istilahkan kemunduran berpikir ini. Hemat saya, pemicunya ada  4 macam. Mari kita coba urai satu persatu:

Pertama, salah niat sewaktu mendaftar kuliah. Banyak saya temui mahasiswa yang berangkat ke Kota Jambi bukan berniat sepenuhnya untuk menuntut ilmu melainkan didorong oleh faktor lain. Ada yang ingin lari dari kewajiban membantu orang tua di kampung. Tak sedikit pula berawal dari kegalauan akut karena kesepian sebab banyak teman sebaya yang pergi jauh untuk tujuan studi atau mengais rezeki. Pada akhirnya mereka ikut-ikutan berangkat ke Jambi atau kota lainnya tanpa tau untuk apa sebenarnya dia kuliah. Diantara mereka banyak juga yang terlanjur berpikiran – yang didukung sepenuhya oleh orang tua – bahwa pendidikan tinggi adalah tempat penggemblengan manusia agar bisa menjadi miliuner. 

Alhasil, mereka hanya datang ke kampus, duduk, pulang, makan, main, tidur, dan mengulangi rutinitas yang sama selama beberapa tahun kedepan. Giliran mau menggarap skripsi, sibuk mencari orang yang bisa membuatkan kemudian membayar beberapa juta. Hasilnya sudah bisa ditebak, banyak penyandang gelar S1 yang kosong melompong tiada isi. Ditolak disana sini sebab tidak menguasai disiplin ilmu sesuai titel yang diperoleh, kikuk dalam berkomunikasi, dan nihil networking. Kalau sudah begini duitlah solusi cemerlangnya mumpung beberapa kantor pemerintahan, khususnya di daerah, tidak perduli kemampuan otak seseorang. Otak kosong boleh tapi kantong jangan. 

Kedua, persepsi yang salah di banyak masyarakat mengenai satu hal yang berhubungan dengan PNS, yaitu profesi  ini menjanjikan Rupiah berlimpah sebagaimana yang telah mereka saksikan sendiri di kampung. Kepala sekolah punya beberapa mobil mewah, pegawai kantor bupati memiliki kebun berhektar-hektar, perhiasan emas istri Kabag bergelantungan di leher dan tangan. Fenomena ini ‘mendidik’ sebagian masyarakat untuk sama sekali tidak keberatan menyogok demi mendapat kartu as kelas sosial ini meskipun dalam keseharian banyak dari mereka tidak pernah tinggal sholat 5 waktu dan ibadah vertical lainnya. Saking mengkilapnua symbol sosial bernama PNS ini sampai-sampai teman saya berkelakar kalau seseorang belum dianggap bekerja, biarpun gajinya di perusahaan swasta sangat besar atau omset bisninya ratusan juta, jika dia bukan seorang PNS, wah..wah…

Ketiga, masyarakat kita kebanyakan masih mendewakan hasil bukan proses. Ingin berhasil maunya jalan pintas bukan berdarah-darah. Maka sogok-menyogok  menjadi hal yang lumrah biarpun agama marah. Ingin kaya kepengennya instan sehingga seringkali bukan soal jika seseorang berpenghasilan tidak wajar dari profesi yang diembannya. Bermunculanlah pegawai negeri berpenghasilan pengusaha sukses, pegawai bank berpendapatan puluhan juta, pegawai DLLAJ dengan seseran yang jauh melampaui gaji sebulan, polisi yang memiliki rumah bak istana, dan seterusnya. Filosofi hasil adalah segalanya ini tercermin dari sedikitnya jumlah orang yang memiliki jiwa pekerja keras seperti yang dimiliki oleh bangsa-bangsa lain seperti bangsa Jepang, Korea, atau bangsa kulit putih. Meski tidak semua manusia dari bangsa yang disebutkan adalah pekerja keras namun jika dihitung per kepala saya optimis jumlah mereka lebih banyak dari kita dalam hal ini.

Keempat, keengganan untuk merantau. Lihatlah berapa banyak masyarakat Jambi yang di luar Jambi bila dibandingkan dengan masyarakat lain seperti orang Minang, Jawa atau Bugis. Mereka-mereka ini berani mengambil resiko untuk berpetualang meskipun tanah yang didiaminya tidak kalah suburnya dengan tanah kita. 

Pentingnya merantau, hemat saya, dikarenakan dirantaulah seseorang berada di luar zona aman mengingat dia tidak memiliki sanak famili tempat bergantung dikala susah, tanah orang tua untuk menegakkan rumah, dan sawah ladang untuk bercocok tanam. Dalam posisi yang serba terdesak seperti ini dan didorong oleh insting bertahan hidupnya, manusia secara alamiah akan berusaha keras bermandi keringat agar tidak kelaparan, kedinginan, apalagi mati sia-sia. Coba bandingkan dengan mereka yang tetap di kampung halaman ditengah-tengah keluarga plus harta benda warisan serba cukup. Apakah yang bersangkutan akan bekerja keras? Jawabannya seringkali adalah ‘untuk apa?’

Beruntunglah mereka yang memiliki orang tua pekerja keras sehingga mampu mengumpulkan harta untuk anak cucu. Bagaimana dengan yang tidak berpunya? Untuk golongan yang satu ini tentu rumit apalagi lapangan kerja formal terbatas di daerahnya. Jika tidak memiliki hasrat dan jiwa merantau, kemudian diperparah oleh beberapa faktor diatas, tentu saja dia akan kesulitan mencari sumber rezeki. Alhasil, jika ada tawaran untuk menyerahkan sejumlah uang demi suatu profesi, dia tidak akan berpikir panjang lagi untuk berhutang atau menjual harta pusaka.

Akhirnya saya menghimbau teman-teman yang membaca tulisan ini untuk sama-sama menjernihkan pikiran dan meningkatkan kualitas diri agar tidak mudah diperbodoh oleh tawaran untuk menyerahkan uang tanpa syarat kepada orang lain demi menjadi ‘orang makan gaji’. Kita sebagai orang yang terdidik mestilah memiliki pola pikir yang terdidik pula. Pola pikir yang maju yang bisa membedakan mana yang untung dan mana yang buntung. Mana yang dibolehkan oleh agama dan mana yang tidak. Jika tidak seperti ini maka tiada bedanya kita dengan orang yang tidak pernah menempuh pendidikan formal. Bukankah jauh lebih baik dan tentu saja halal jika uang yang berjumlah banyak itu digunakan untuk membeli kebun atau memulai usaha yang hasilnya bisa jadi lebih besar dari gaji bulanan honorer atau bahkan PNS?

Anyway, ubi talas saya sudah matang. Saatnya saya mengisi perut agar lebih bertenaga menghadapi hari ini…Terima kasih sudah membaca. :)







Tuesday, May 5, 2015

5 Tips Lolos PPAN




PPAN atau Pertukaran Pemuda Antar Negara kembali membuka pendaftaran. Program ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada putra putri terbaik bangsa menginjakkan kaki dan menimba pengalaman di negeri orang. Dikarenakan program ini sangat spesial maka tak heran kehadirannya selalu dinanti-nanti oleh banyak orang saban tahun. Nah, untuk membantu kamu menjadi yang terbaik dalam seleksi sehingga bisa mewujudkan impianmu berangkat ke luar negeri dengan modal dengkul saja, berikut saya berikan beberapa tips yang barangkali berguna.

1. PeDe




Pede atau percaya diri amatlah dibutuhkan dalam mengikuti rangkaian seleksi PPAN yang sangat ketat ini. Jika kamu loyo dan tidak yakin dengan apa yang kamu punya maka jangan pernah berharap kamu akan terpilih. 

Berbicara tentang percaya diri setidaknya ada dua tipe yang ingin saya singgung. 

Pertama pede buta. Tipe yang ini biasanya dimiliki oleh orang yang tidak begitu istimewa dalam beberapa hal namun tetap keukeuh bahwa dia memiliki kualitas yang mumpuni. Jika kamu tidak memiliki Bahasa Inggris yang bagus, pengetahuan terbatas mengenai negara yang ingin kamu kunjungi, tidak banyak mengerti tentang daerahmu sendiri, dan gemetaran ketika berbicara di depan publik, maka saya sarankan jangan terlalu pede untuk menjadi pemenang! Kedengaran kasar, tapi memang kebenaran itu menyakitkan. Perumpamaannya seperti ini, jika kamu seorang prajurit yang malas dan tidak dilengkapi dengan persenjataan yang lengkap, bagaimana mungkin akan memenangi pertempuran sedangkan musuhmu sangat terlatih dan berperalatan canggih. Jadi kesimpulannya adalah, untuk kebaikan diri sendiri, hindarilah sikap pede buta.

Jika pede yang pertama  pede tanpa alasan, pede yang kedua merupakan kebalikannya. Dan hemat saya, pede yang seperti ini mesti dipupuk dan dirawat sebelum dan ketika bertarung dalam proses seleksi PPAN. Bagaimana pede yang kedua ini? Sebelum mengatakan ‘saya akan menjadi yang terpilih’ alangkah lebih baik mengukur kemampuan dulu. Pikirkan dimana kelebihan kamu dan di bagian apa kamu merasa lemah. Kalau sudah menemukannya, optimalkan kelebihan itu dan tambal kekurangan yang ada. 

2. Persiapan yang Cukup
 
Kamu pernah mendengar seseorang yang sesumbar akan terpilih dalam suatu seleksi atau lulus tes tetapi yang bersangkutan tidak pernah bersiap diri? Saya pernah bahkan sering! Suatu ketika ada teman saya mengajak tes CPNS sehari sebelum tes itu dilaksanakan. Saya menolak karena mustahil untuk mempersiapkan diri dalam kurun waktu kurang dari 24 jam (untuk beberapa orang, khususnya mereka yang jenius, mungkin saja bisa namun tidak untuk saya yang bodoh). Anehnya, teman saya tersebut nekat ikut tanpa persiapan sama sekali dan berharap lulus! Saya tidak mengerti bagaimana jalan pikirannya yang terlalu mengharapkan sesuatu tanpa usaha yang cukup. Maksud saya, jika kamu memiliki jalan pikiran yang mirip dengan teman saya tersebut, saya sarankan lebih baik urungkan niat untuk mengikuti seleksi sebab hanya mubazir waktu dan energi saja. Berdasarkan pengalaman saya ikut tes PPAN, terlibat dalam proses seleksi sebagai panitia, dan berbincang-bincang dengan peserta yang lain dari berbagai daerah di Indonesia, yang terpilih memang peserta yang memiliki persiapan yang matang atau dalam kata lain peserta yang memang serius ingin menang. ‘Tapi ayah saya kepala Dispora provinsi lho!’ untuk kasus ini mungkin saja kamu terpilih (saya tidak begitu mengerti pengaruh birokrasi daerah lain di Indonesia) tetapi untuk provinsi Jambi rasanya peluangmu tipis karena selama ini kami (PCMI Jambi) tidak peduli siapa dan apa kedudukan dekenganmu. Yang kami peduli hanyalah kemampuanmu. So, pelajarilah semua hal yang berhubungan dengan materi tes dan banyak bertanya dengan yang pernah berkecimpung dalam seleksi PPAN karena persiapan yang seperti itu merupakan anak kunci emas untuk membuka pintu kemenangan PPAN.

3. Bermental 


Selain kamu harus percaya dengan dirimu sendiri, memiliki mental baja amat diperlukan agar terpilih sebagai pemenang. Bayangkan jika kamu hanya bermodalkan pede saja ketika seleksi namun mental kamu langsung jatuh ketika melihat seorang peserta yang amat bagus dan vocal dalam berdiskusi. Dalam situasi seperti itu jika mentalmu tidak kuat, kamu bakalan kesulitan dalam mengeluarkan kemampuan terbaikmu. 

Saya memiliki dua kategori mental yang boleh dipilih.

Yang pertama adalah mental pencoba. Jika kamu merasa tidak begitu bagus dalam beberapa hal dan sangat asing dengan format tes, maka memasang mental pencoba sangat dianjurkan. Tentu dengan mental ini kamu juga perlu untuk memiliki persiapan yang maksimal karena kesempatanmu untuk menang tetap ada meskipun tipis. Ketika pertama kali saya mengikuti seleksi PPAN, saya menggunakan mental ini. Saya persiapan dengan matang, membaca sebanyak mungkin, mengahapal hal-hal yang tidak begitu saya suka seperti mata uang atau kepala negara lain, belajar menari (tarian wanita) – saya memilihnya karena saya tidak bisa membawa tarian pria sebab gerakan kakinya terlalu rumit – yang membuat saya malu sendiri setiap kali saya menonton rekaman tarian saya, dan berlatih bernyanyi. Untuk yang terakhir ini saya sudah menyimpulkan sejak dini bahwa kualitas olah vocal saya tidak akan pernah bagus kecuali mungkin dengan operasi pita suara. Dengan semua kekurangan yang saya miliki ditambah kala itu merupakan pengalaman pertama mengikuti seleksi, target saya tidak muluk-muluk, sebatas mencoba saja. Meski demmikian, harapan saya untuk juara tetap terpelihara walau saya sendiri tidak begitu yakin. Akhirnya, setelah mengikuti proses seleksi yang melelah dan memalukan – malu karena saya ditertawakan oleh semua perserta ketika membawa tarian Sekapur Sirih (tarian wanita) dengan tubuh yang amat tegap seperti papan dan menyalahi aturan vocal dalam menyanyikan lagu Batanghari – saya hanya bisa finish sebagai finalis. Tidak apa-apa karena saya hanya mencoba.

Adapun mental kedua yaitu mental pemenang. Nah, mental inilah yang harus kamu miliki. Gunakanlah prinsip bahwa seorang pemenang itu tidak akan pernah terkalahkan kecuali oleh dirinya sendiri. Saat saya mengikuti seleksi PPAN yang kedua kali, saya memakai prinsip ini. Saya datang  dengan persiapan yang jauh lebih baik dari sebelumnya serta dengan kepala yang berisi banyak sekali informasi. Bahkan pada saat itu saya sampai mempelajari pertumbuhan ekonomi China, krisis di Amerika dan Eropa, serta potensi Indonesia menjadi negara besar. Saya juga hafal semua nama bupati/wakil bupati se provinsi Jambi – untuk yang terakhir ini saya paksakan meskipun bagi saya sendiri tidak ada pentingnya sama sekali mengetahui nama mereka. Saat wawancara, saya timbulkan kesan bahwa sayalah orang yang mereka cari sehingga mereka tidak perlu mewawancara yang lain lagi. Dengan mental yang seperti Alhamdulillah saya terpilih.

4. Optimalkan Kelebihan Tambal Kekurangan


Seperti yang telah saya utarakan diatas, mengetahui kelebihan dan kekurangan sangatlah berguna dalam memenangi seleksi PPAN. Untuk kasus saya, ketika mengikuti seleksi yang kedua, saya sudah paham betul plus minus saya. Saya memiliki Bahasa Inggris yang cukup bagus kala itu, wawasan yang lumayan mengenai topik-topik yang berhubungan dengan daerah, nasional, dan internasional, kemampuan menulis yang tidak jelek-jelek amat, plus visi kedepan yang sudah tercanang. Kelebihan-kelebihan saya di area ini saya eksploitasi betul saat seleksi. Seperti ketika diskusi dan speech dalam Bahasa Inggris saya berjuang keras untuk memberikan kesan bahwa saya bisa ngomong bagus dan berisi, pas wawancara saya mampu berbicara lebih jauh tentang topik yang diberikan dan menawarkan visi saya setelah ikut program, dan membuat essay yang bagus tatkala diberikan topik untuk ditulis. 

Sebagai seorang manusia biasa, saya paham betul saya memiliki banyak kekurangan. Salah satunya adalah dalam hal kebudayaan dan seni daerah. Seperti yang telah saya katakan tadi, tubuh saya terlalu kaku, suara saya tidak bernada dan jauh dari kata merdu. Untuk mengatasi hal ini saya berpikir keras berhari-hari sampai suatu ketika saya menemukan sesuatu yang ‘berharga’ di tempat yang tak terduga. Kala itu saya sedang dalam perjalanan dari kampung saya di Tebo ke Kota Jambi menumpang mobil travel. Tengah asyiknya merenung masa depan dalam kendaraan roda empat itu, mata saya terpancing oleh sebentuk buku tebal yang sedikit keluar dari kantong di belakang tempat duduk supir. Penasaran, saya ambil dan membukanya. Setelah saya baca ternyata buku itu berisi tentang proses pernikahan dalam adat melayu jambi plus pantun-pantun adat yang berkaitan dengan kehidupan sehari-sehari. Apa yang saya lakukan selanjutnya adalah memfoto kopi buku itu, mempelajarinya, dan menghafal pantun-pantun melayu jambi. Ketika mengikuti seleksi PPAN, saya membawakannya dengan penuh percaya diri seolah-olah saya betul-betul menguasainya. Padahal kebenarannya adalah itu merupakan usaha saya dalam menutup kelemahan saya. 

Yang saya maksudkan disini adalah manusia itu tidak sempurna. Siapapun dia pasti memiliki kekurangan. Akan tetapi, manusia yang brilian menurut saya adalah dia yang mampu menutup kekurangannya dengan sesuatu yang bisa mendongkrak nilai pribadinya di mata orang lain. Tengoklah Fabio Cannavaro yang jika dilihat dari postur tubuh sangat tidak memenuhi syarat untuk menjadi seorang bek atau defender. Dia terlalu pendek untuk mengawal penyerang-penyerang top Eropa yang dibekali badan yang besar tinggi. Realita yang lainnya lagi adalah sudah menjadi kebiasaan atau peraturan tidak tertulis dalam persepakbolaan Eropa bahwa seorang pemain bertahan mesti jangkung berisi. Berdasarkan hal-hal diatas, apakah seorang Cannavaro berhenti bermain bola? tidak! Dia paham betul kekurangan postur tubuhnya sehingga dia berlatih keras untuk meningkatkan tinggi lompatannya. Maka tak heran seberapapun besar seorang penyerang yang dihadapinya, dia selalu mampu untuk beradu tinggi dalam menanduk bola. Puncaknya adalah pada tahun 2006 Cannavaro mentasbihkan diri sebagai pemain terbaik dunia sehingga dia diberikan penghargaan personal tertinggi dalam dunia sepak bola, Ballon D’Or.


5. Tingkatkan Spiritualitas


Yang terakhir ini bagi saya tidak kalah pentingnya dari ke empat hal diatas. Apalah artinya usaha tanpa diiringi dengan doa dan tidak akan tercapai suatu keinginan jika Allah tidak mengabulkan. Bukankah semuanya mustahil untuk berlaku jika Allah tidak mau itu terjadi? So, perbanyaklah ibadah kepada Allah, memintalah kepadanya agar semua usahamu tidak sia-sia, rajin-rajinlah bersedekah, taatlah kepada kedua orang tua, minta doa sama mereka dan titip doa dengan orang lain, dan giatkan bangun di sepertiga malam untuk tahajjud. Yakinlah, jika kamu sudah mengantongi ridho dari Allah, Dia akan memberikan jalan yang tak terduga untuk mengantarkanmu menjadi peserta yang terpilih di PPAN. Boleh jadi karena kehendakNya untuk memilihmu, dia sibukkan orang lain yang lebih bagus dari kamu sehingga yang bersangkutan berhalangan untuk mengikuti proses seleksi sehingga pada akhirnya kamulah yang berangkat. 

Sekian dulu tips dari saya semoga apa yang telah saya jabarkan diatas ada manfaatnya bagi teman-teman semua. Jika ada tips tambahan silakan tulis di kolom komentar. :)