Tuesday, October 7, 2014

Oleh-oleh Pahit dari Kampung



Nurani saya kembali tercabik oleh realita setelah beberapa hari yang lalu kembali ke kampung halaman. Semula, saya menganggap tradisi pulang kampung saya akan menjadi sebuah pengalaman hebat. Namun naas, apa yang saya idamkan ternyata meleset dari kenyataan. Suasana kampung saya tidak semarak seperti biasa! Muka-muka lesu tak berdaya saya jumpai di setiap sudut desa. Pasar yang biasanya penuh sesak oleh manusia pun, apalagi menjelang lebaran haji, sama sekali tidak tampak oleh mata kepala saya.

Apa yang saya lihat adalah sebuah kejutan mengingat saya menghabiskan banyak waktu di Kota Jambi yang perekonomian masyarakatnya tampak baik-baik saja. Naluri saya sebagai ‘orang kota’ pun cenderung beranggapan bahwa naik turunnya harga suatu komoditi merupakan hal yang lazim karena itu adalah bagian dari dinamika perekonomian. Akan tetapi, asumsi tersebut tidaklah sama dengan apa yang dirasakan oleh masyarakat pedesaan. Harga karet yang terus merosot tak terkendali di daerah saya contohnya, telah menyeret sendi-sendi kehidupan masyarakat disana hingga  ke level terbawah. Hal ini bakalan diperparah oleh wacana kenaikan harga BBM bersubsidi. Jika memang terjadi, semakin malanglah nasib mereka.

Disamping kelapa sawit, karet memang telah lama menjadi sumber penghidupan utama di daerah saya, Kabupaten Tebo, Jambi. Saya yakin hal yang sama juga berlaku di kabupaten lain di Provinsi Jambi mengingat sebagian besar perekonomian Provinsi Jambi disumbang oleh sektor karet dan sawit (60%). Fakta ini tak ayal telah membuat banyak kepala di Jambi menggantungkan nasib di setiap tetesan getah karet. Jika aliran getah dari hasil sadapan mengalir deras dan harga jualnya masuk akal, maka mengepullah asap dapur. Namun bila tetesannya tersendat dan uang yang didapat dari hasil penjualan tidak sepadan dengan biaya yang dikeluarkan, alamat bencana akan datang.

Biasanya harga karet berkisaran 10.000 sampai bahkan 20.000 per kilonya. Dengan harga ini cukuplah untuk para petani memenuhi kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak-anak. Namun kini harga getah kehidupan tersebut telah jauh dari harga manusiawi. Ia terus merosot dan merosot hingga menyentuh harga yang tidak berharga lagi. Mula-mula Rp. 9.000 per kilo, kemudian turun ke Rp. 6000 hingga sekarang di kisaran 3.500 – 5000 per kilonya. Kisaran harga yang berlaku saat ini tentu jauh dari kata cukup untuk menghidupi nyawa keluarga petani karet. Apalagi jika dibandingkan dengan  harga beras yang sudah rata-rata 10.000 per kilo dan BBM eceran yang bernilai 8.000 per liter. Alhasil, banyak petani memilih berganti profesi demi menyambung hidup. Ada yang menjadi buruh di perusahaan perkebunan yang ada di sekitar desa. Tak sedikit dari mereka yang mendompeng – sebuah istilah yang merujuk kepada aktifitas penambangan emas ilegal – di sungai dan sawah. Bagi penggelut sektor ini, kondisi sungai yang keruh dan tercemar akibat dari aktifitas dompeng atau terus-terusan diburu petugas kepolisian bukan lagi hal-hal yang mesti dipertimbangkan. Yang  mereka pikirkan hanya satu, hari ini nafas keluarga mereka masih berhembus dan anak-anak mereka masih tersenyum berangkat ke sekolah dengan sedikit uang jajan. Meskipun demikian, masih banyak yang memilih bertahan walau nyawa mereka kempang-kempis mengingat biaya yang dikeluarkan untuk menyadap karet tak sepadan dengan uang yang dihasilkan. Mirisnya lagi, tak sedikit dari mereka yang menjual harta benda seperti kebun dan tanah demi melanjutkan nafas kehidupan di bumi ini. Malang!

Kehidupan para petani karet yang suram saat ini berpotensi besar untuk menjadi lebih tragis lagi dalam beberapa bulan ke depan ketika harga BBM berhasil dinaikkan oleh pemerintah. Banyak dari mereka berharap hari itu tidak terjadi. Kiamat sepertinya lebih adil bagi mereka, karena dengan kiamatlah semua manusia akan binasa tanpa terkecuali, daripada membuat harga BBM semakin tidak terjangkau. Asumsi pemerintah untuk menaikkan harga BBM dari harga saat ini Rp. 65.000/liter ke Rp. 9.500/liter akan membuat harga di daerah mereka berkisar 11.000-12.000/liter. Nilai ini tentunya sangat fantastis di saat harga jual karet yang tidak sampai empat ribu rupiah per kilonya. Lebih parahnya lagi, harga kebutuhan pokok otomatis akan mengekor harga BBM. Beras akan semakin mahal dan kebutuhan  pokok lainnya pun akan  semakin meroket.

Pemerintah boleh berkeyakinan bahwa opsi untuk menaikkan harga BBM adalah jalan yang terbaik untuk ‘menyelamatkan’ perekonomian negara. Atau, mereka juga diizinkan untuk berpendapat bahwa uang yang dikucurkan untuk mensubsidi BBM akan lebih baik digunakan untuk sektor lain seperti memperbaiki infrastruktur di negeri ini. Namun, sayangnya alibi-alibi tersebut tidak cukup untuk melapangkan dada masyarakat pedesaan di Jambi. Sudah lama mereka menggantungkan hidup ke BBM sebagai bahan bakar pokok untuk pulang pergi ke perkebunan karet yang letaknya seringkali tak dekat dengan rumah mereka. Jika motor tidak memiliki minyak maka mereka pun tidak bisa mencapai kebun. Kalau sudah begini, malaikat maut tinggal menunggu perintah untuk mencabut nyawa-nyawa mereka. Infrastruktur yang lebih baik pun tidak mereka rasakan. Sudah seringkali negeri ini berganti rezim, sudah tak terhintung pejabat daerah mengelabui mereka, dan sudah beberapa kali harga BBM dinaikkan, namun jalan untuk mencapai kebun-kebun mereka tetaplah berlumpur dan terjal. Jauh dari kata layak. Pengecualian hanyalah pada mereka yang memiliki kebun karet yang sejalur dengan alur transportasi perusahaan perkebunan dimana akses jalan biasanya dibangun oleh perusahaan yang bersangkutan. Selebihnya harus berjuang sendiri-sendiri mengarungi jalan-jalan yang berkubang lumpur. 

Memang betul dulu jalan-jalan yang menghubungkan Kabupaten Tebo dengan wilayah perkebunan masyarakat di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Sumay, Serai Serumpun, dan Tebo Ulu pernah mendapat predikat lumayan bagus meskipun masih tanah liat. Namun hal ini bukanlah sebuah bentuk dari perhatian khusus pemerintah melainkan dibuat oleh dan untuk kepentingan perusahaan-perusahaan yang membabat habis hutan yang ada disekitar sana. Tujuannya adalah agar transportasi balok kayu perusahaan-perusahaan tersebut berjalan lancar sampai ke tepian sungai Batanghari untuk kemudian dibawa entah kemana. Seiring telah musnahnya hutan maka jalan-jalan disana tidak lagi terawat karena perusahaan-perusahaan yang dulu beroperasi sudah angkat kaki.

Sejatinya para petani karet tidak keberatan jika memang BBM harus naik. Rakyat mana yang senang keuangan negaranya ‘anjlok’. Namun kenaikan harga BBM perlu disesuaikan dengan kondisi kantong mereka. Harga karet yang sekilonya tidak dapat membeli beras sekilo tentu menjadi permasalahan besar bagi mereka untuk menyambung nyawa. Apalagi harga karet yang terjun bebas selama ini seolah luput dari perhatian pemerintah, baik mereka yang di pusat maupun di daerah. Yang di pusat sibuk dengan berebut kursi jabatan dan yang di daerah sibuk dengan politik pencitraan. Sedangkan mereka dibiarkan berjibaku sendiri melawan ketidakpastian nasib. Entah sampai kapan penderitaan mereka akan berlangsung. Tak seorangpun yang memiliki jawaban.

Logis rasanya bila banyak dari mereka yang skeptis dengan kontroversi undang-undang pilkada yang beberapa hari belakangan ini diperdebatkan. Mereka tidak ambil pusing apakah akan kembali ke bilik suara untuk memilih penguasa atau mewakilkannya ke perwakilan mereka di parlemen. Yang mereka butuhkan tak lain adalah bukti bahwa yang namanya pemerintah itu benar-benar ada, tidak hanya eksis di negeri dongeng. Selama ini suara mereka hanya ‘didengar’ sebelum pemilu saja namun setelah itu jeritan mereka akan hilang ditelan langit.

Hemat saya, pemerintah perlu merumuskan aksi-aksi nyata untuk mengurangi beban penderitaan petani karet di Jambi. Mereka yang di pemerintahan perlu turun langsung ke lapangan untuk menyaksikan dan merasakan  sendiri kehidupan maha berat yang sedang dialami oleh para penampung tetesan getah. Kemudian, setelah mendapatkan feeling tersebut, mereka perlu mengarahkan petani karet untuk beralih profesi seperti berternak ikan atau bertanam padi agar para petani getah tidak terlalu menggantungkan hidup ke sektor karet. Tidak sampai disitu saja, pembinaan dari pemerintah dalam hal finansial dan pelatihan amatlah vital agar mereka betul-betul berhasil dalam menekuni profesi baru tersebut. Harga BBM mesti tetap disubsidikan untuk mereka. Tidak apa harganya naik untuk kalangan menengah ke atas seperti mereka yang memiliki mobil mewah. Sungguh tidak adil rasanya jika petani karet yang berpenghasilan sangat rendah harus membeli BBM dengan harga yang sama dengan mereka yang sehari-harinya mengendarai Fortuner atau Alphard. Walau bagaimanapun, negara tetap bertanggung jawab agar masyarakat kelas bawah ini terus terjaga nafasnya dengan memberikan uluran tangan.

Penderitaan hebat yang sedang dialami oleh masyarakat di desa saya merupakan sebuah ‘oleh-oleh’ yang amat pahit untuk tradisi pulang kampung saya kali ini. Harga karet yang sangat rendah ditambah dengan bencana kenaikan harga BBM yang katanya tinggal menghitung hari membuat masyarakat disana bersiap-siap untuk menggali kuburan sendiri. Akankah raungan mereka sampai ke telinga penguasa? Entahlah, sampai saat ini belum ada tanda-tandanya.




Friday, October 3, 2014

Hari Ini Setahun Silam

Semua pakaian sudah Aku masukkan ke dalam koper. Dua lembar celana jeans, satu potong baju batik plus satu kemeja kotak dan sepasang kaos oblong sudah tersusun rapi. Petualangan yang akan Aku mulai sudah lebih dari siap. Siap mental dan siap bekal. 

Dering hp yang tergeletak diatas meja sedikit mengganggu konsentrasiku di depan cermin. Penasaran dengan waktu, aku lemparkan tatapanku ke jam tangan kesayangan; jarum panjangnya mengarah ke angka 12 dengan jarum pendek yang merangsek ke angka tujuh.

“Hmmm…pagi sekali Ibu Dewi ini menelpon” gumamku dalam hati.

“Halo Assalamualaikum Bu…” Aku mencoba menyapa dengan sopan.

“Beni…kamu sudah siap?” suara diujung telpon itu langsung menyerang tanpa basa basi.

“Sudah bu” jawabku sekenanya dengan kemeja yang belum terkancing. Aku masih belum mengerti maksud dari pertanyaan itu.

“Ok…ibu sudah di bandara. Cepat kesini sekarang!”

“Baik bu. Baik!” Aku tiba-tiba gugup tak karuan.

Ada apa Ibu Dewi menungguku di bandara? Aku bertanya-tanya sendiri.

Dengan sigap Aku kancingkan semua anak baju. Minyak rambut Aku poles seadanya ke kepala dan rambut Aku sisir acak-acakan dengan tangan.

Sesampai di bandara Aku terselamatkan oleh amukan seseorang yang sedang bosan menunggu. Untung saja dia tidak langsung merobek-robek mukaku dan memilih untuk menahan murkanya. Mungkin ini effect dari kehadiran kedua orang tuaku. Wajah Ibu Dewi yang semula asam bak limau nipis berubah manis seperti madu saat mengetahui bahwa dua orang di sampingku adalah Ayah dan Mak.

“Ibu juga berangkat ke Jakarta menemani Beni. Pesawat kita sama, jam 9” Ibu Dewi menyapa dengan lembut. Matanya tidak lagi merah.

Satu jam menunggu, panggilan boarding pun menggema. Aku bersiap mengangkat koper dan menyalami Ayah dan Mak. Ibu dewi juga sudah tampak tidak sabar untuk terbang. lambaian penuh haru dari Ayah dan Mak mengiringi langkahku ke dalam bandara. Rasa sedihku kutahan saja dan tidak kuperlihatkan kepada mereka berdua. Aku tidak mau mereka semakin tersiksa karena akan kehilangan anaknya untuk 4 bulan ke depan.

Pramugari tersenyum ceria menyapa semua penumpang sebelum pesawat lepas landas meninggalkan tanah Jambi. Sekitar satu jam diombang ambing angin akhirnya pesawat kami tiba juga di tujuan, langit Jakarta. 

Dari jendela pesawat kulihat tata kota Jakarta yang semrawut. Ada yang berbentuk benang kusut menggumpal. Aku kira itu adalah tumpukan sampah dan bahan rongsokan. Ada juga yang menyerupa kolam air warna-warni. Mungkin itu waduk. Ada pula yang bentuknya seperti jalan besar berwarna gelap. Untuk yang ini aku yakin, itu adalah sungai-sungai coklat yang mengaliri ibu kota negara. Di sudut lain gedung-gedung dan rumah-rumah saling berhimpitan seperti saling sikut.

Pesawat yang seharusnya sudah menyentuh aspal tiba-tiba berpusing-pusing di langit. Aku heran penumpang lain pun penuh tanya. Ada apa gerangan burung besi yang kami tumpangi belum juga menghempaskan badannya ke tanah.

“Para penumpang yang terhormat. Kami masih menunggu instruksi dari Bandara Soekarno Hatta untuk mendarat. Saat ini bandara sedang dipenuhi oleh pesawat yang hendak take-off dan landing.” Pilot pesawat mengumumkan lewat pengeras suara.   

“Jakarta memang kaya raya” pikirku. Jalanan selalu dipenuhi oleh kendaraan yang hilir mudik. Bandarapun sudah tidak sanggup lagi menampung membludaknya pesawat yang hendak lalu-lalang.

Kota Jakarta yang tadi tampak olehku tiba-tiba lenyap, digantikan oleh gumpalan awan putih. Pesawat kini sudah berada di ketinggian yang lebih dari beberapa menit yang lalu. Sementara itu Ibu Dewi masih saja tenggelam dalam pelukan pagi. Matanya terpejam dan mulutnya ternganga. Sungguh beruntung hidupmu Bu Dewi. Semua hal kau jalani seolah tanpa beban. Pesawat tidak jadi lepas landaspun tidak mengundang masalah bagimu.

Aku tolehkan lagi kepalaku ke jendela. Awan putih yang tadi sedikit kini bertambah banyak. Aku pun tak tahu lagi apakah itu adalah awan yang sama dengan yang kulihat sebelumnya. Aku memilih tidak peduli tentang itu. Aku pusatkan pikiranku ke pertemuan pertama dengan teman-teman yang selama ini kukenal di  Facebook. Aku penasaran dengan semua hal tentang mereka. Apakah paras, bentuk tubuh, dan tingkah laku mereka sama dengan apa yang sejauh ini kuamati di Facebook? Atau jangan-jangan ada diantara mereka yang memasang foto palsu agar menjadi kejutan bagi yang lain? Aku tidak tahu. sungguh.

Anganku juga tertujukan ke kakak-kakak senior yang akan melatih dan membinaku. Aku penasaran apakah mereka ganas? Kalau iya apakah itu sungguhan? Atau hanya sandiwara usang untuk ‘menakut-nakuti’ junior. Untuk hal ini aku sedikit was-was. Aku dengan segala sifat keras kepala dan insting membangkangku boleh jadi menyulut amarah. Aku tidak membawa peci hitam sesuai yang mereka isntruksikan. Alasannya aku akan mendapatkan satu buah peci hitam dari attire-ku – baju persatuan – nanti. Jadi aku menganggap mubazir untuk membeli dan membawa peci hitam dari Jambi. Aku juga tidak membawa baju putih polos dan sepotong dasi dengan alasan yang sangat sederhana, aku akan membelinya di Jakarta.

Meskipun berpotensi mendatangkan bala kepadaku, aku memilih untuk tidak begitu takut dengan tetek-bengek perlengkapan tadi. Yang paling aku khawatirkan adalah, nanti sewaktu semua peserta sudah berkumpul, bakat apa yang akan aku pertunjukkan? Sungguh pertanyaan ini sangat menyiksa. Pada saat seleksi di Jambi tempo hari aku bisa menyiasatinya dengan menghapal pantun adat Melayu Jambi. Syukur diterima dengan baik karena ternyata para juri menganggapnya unik mengingat tidak banyak anak muda yang peduli dengan pantun Melayu Jambi. Aku pun lolos dari lubang jarum. Apakah strategi sama akan ampuh di depan kakak-kakak senior nanti? Akankah mereka memintaku bernyanyi atau menari yang mana ke dua hal ini sangat aku hindari dalam hidup? Suaraku fals dan tidak bernada sedangkan tubuhku tegap seperti papan. Entahlah. Semoga saja mereka paham bahwa aku memang tidak memiliki bakat seni.

Pesawat yang aku tumpangi sudah mendapatkan gilirannya untuk menyentuh bumi. Aku kembali ke posisi duduk sempurna dan mengencangkan ikat pinggang. Selang beberapa menit aku pun sudah di darat. Tampak olehku barisan pesawat yang terparkir di setiap sudut bandara.

Sesaat keluar dari bandara aku mengeluarkan hp dari kantong. Ada beberapa pesan masuk. Diantaranya berisikan kesepakatan semua teman-teman untuk bertemu di suatu tempat di bandara yang bernama Red Corner. Tak lama bediri di depan pintu keluar yang tak jauh dari Red Corner, aku disapa oleh dua orang anak muda. Yang satunya kurus tinggi berambut lurus dan yang satunya lagi berambut ikal dengan paras mirip selebriti. Setelah berkenalan ternyata yang kurus itu Yani dan yang serupa artis itu Rizki. Untuk nama terkahir ini aku tidak terkejut karena dari foto profilenya di facebook dia memang terlihat rupawan. Yani yang membuatku tersentak. Dari fotonya aku mengira dia adalah seorang pria yang pendek dan sedikit gemuk. Namun kenyataannya sebaliknya.

Mereka membaawaku ke suatu ruangan. Disana telah berkumpul beberapa teman. Ada Danti yang di foto profilnya terlihat cantik. Ketika bertatap muka langsung tidak ada yang berubah. Hanya style dan bahasanya saja yang sangat kental  Jakarta. Diantara mereka ada juga Ilin. Wanita yang berasal dari Riau ini sedikit berbeda dari fotonya. Ternyata posturnya lebih besar dari yang kukira. Ada juga Wenny dari Palembang. Cewek dari provinsi tetanggaku ini ternyata pendiam! Berbeda sekali dengan yang aku temukan di media sosial selama ini dimana dia sangat aktif. Saat berkumpul bersama aku tidak melihat keaktifan yang biasanya dia tunjukkan di dunia maya. Terakhir ada Bang Ocep. Pria Kalimantan ini semula aku anggap orang yang tidak banyak bicara karena usianya yang cukup dewasa. Tapi ternyata aku salah. Dia rupanya pria yang baik dan asyik.

Pertemuan pertama itu ternyata adalah sebuah awal dari serangkaian pengalaman hebat yang kami tempuh bersama di Australia dan Indonesia. Lebih dari empat bulan kami habiskan bersama yang semuanya menyesakkan dada bila diingat. Hari ini, 3 Oktober 2014, genap sudah satu tahun kami dipertemukan. Entah bila masanya lagi kami akan berkumpul bersama secara lengkap 18 orang. Boleh jadi perkumpulan di AIYEP (Pertukaran Pemuda Indonesia Australia) dahulu merupakan kesempatan pertama dan terkahir.