Thursday, December 31, 2015

Masih persoalan sepelekah ini?



Eva, begitu dia dipanggil seringkali mengucapkan ‘pardon’ untuk mengklarifikasi kalimat yang saya lontarkan. Sambil tersenyum dan malu-malu, wanita Polandia ini kemudian berujar ‘I’m sorry my English is not good’. Eva datang ke Manchester bermodalkan Bahasa Inggris seadanya karena tujuan kedatangannya pun seadanya, hanya untuk bekerja kasar seperti mengepel atau membersihkan kaca.

Perbincangan saya dengan Eva tempo hari meninggalkan perasaan yang bercampur aduk dalam mengakhiri tahun ini. Di satu sisi saya antusias sebab tidak lama lagi masyarakat Jambi secara resmi akan memiliki pemimpin baru yang semoga saja membawa angin perubahan baru. Tapi disisi lain ada kegelisahan di sudut hati saya sebab 31 Desember 2015 merupakan awal dari babak baru, bergulirnya Masyarakat Ekonomi Asia Tenggara. Ya, suka atau tidak, siap atau belum, Asean Economic Community akan tetap menyapa. Mengingat komunitas ini adalah komunitas lintas negara tentu Bahasa Inggris memiliki peran sentral. Untuk bersaing dengan warga Asia Tenggara, seperti apa peta kemampuan Bahasa Inggris masyarakat Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah?

Berbicara kefasihan berbahasa Inggris, Indonesia masih dibawah Singapura, Malaysia, bahkan Vietnam jika merujuk pada English Proficiency Index yang dirilis oleh sebuah perusahaan pendidikan internasional, English First. Meskipun kefasihan berbahasa Inggris orang Indonesia masuk dalam kategori ‘moderate’ atau menengah berdasarkan perusahaan ini, namun seperti yang dikritisi oleh The Economist, metode tes yang dipakai oleh English First menggunakan koneksi internet. Artinya hanya mereka yang terkoneksi ke dunia maya saja yang dijadikan sampel sedangkan yang tinggal di desa-desa tidak. Besar kemungkinan hasilnya akan berubah jika test ini juga melibatkan masyarakat di pedesaan.

Pandangan majalah The Economist berlaku untuk Provinsi Jambi dimana kefasihan berbahasa Inggris masih timpang. High English Proficiency atau kemampuan Bahasa Inggris tingkat tinggi masih menjadi kepunyaan mereka yang tinggal di Kota dan mengambil jurusan Bahasa Inggris di universitas. Sedangkan bagi yang berdomisili di daerah Bahasa Inggris cenderung masih barang mewah lagi asing. Bukti sederhananya terlihat ketika seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) diadakan. Sepanjang pengalaman keterlibatan saya dalam proses penyeleksian dan sebagai alumni program, sangat jarang pemuda atau pemudi yang dari kabupaten ikut seleksi. Maka wajar saja, sampai detik ini yang lolos PPAN hampir selalu mereka yang berasal dari Kota Jambi atau menempuh pendidikan di Kota Jambi. Yang dari daerah selalu gigit jari sebab nilai TOEFL tidak memadai.

Lemah dan tidak meratanya kemampuan Bahasa inggris masyarakat jambi setidaknya berimbas pada dua hal amat vital.

Pertama, keadaan ini akan menghambat perkembangan Provinsi Jambi itu sendiri. Riset membuktikan, sebagaimana yang dilaporkan oleh website Harvard Business Review, terdapat korelasi langsung antara skill Bahasa Inggris yang bagus dari suatu populasi terhadap kemampuan ekonomi dan indeks perkembangan manusia suatu negara. Ini artinya, semakin rendah kemampuan Bahasa inggris masyarakat Jambi maka semakin rendah pulalah laju perkembangan provinsinya.

Kedua, terlewatnya berbagai peluang emas meng-internasionalisasikan diri. Disamping PPAN banyak sekali kesempatan bagi masyarakat Jambi untuk merasakan atmosfir dunia luar asalkan memiliki kemampuan berbahasa Inggris mumpuni. Beasiswa lpdp yang disediakan oleh kementrian keuangan adalah segelintir contohnya. Beasiswa ini membuka pintu selebar-lebarnya bagi seluruh rakyat Indonesia untuk melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di dalam dan luar negeri. Siapa saja boleh daftar dan meraih peluang duduk di bangku kuliah universitas ternama di seluruh dunia. Namun lagi lagi, sayangnya sejauh ini masih sedikit penerima dari Jambi, hanya belasan saja. Dan, dari angka ini, tidak seorangpun jebolan kampus  kabupaten. Absennya putra putri daerah tak lain dan tak bukan karena rendahnya kemampuan Bahasa Inggris mereka.

Pertanyaannya adalah, sudah berapa banyak talenta-talenta muda Provinsi Jambi yang terabaikan? Berapa banyak ahli Matematika, Biologi, Kimia, dan seterusnya yang ketinggalan kesempatan mengeyam belajar di kampus kelas dunia di Amerika, Jepang atau Eropa hanya gara-gara tidak memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang memadai?

Oleh karena itu, dengan usainya Pilgub 2015 ini tidak salah rasanya jika kita gantungkan harapan kepada gubernur baru nanti, gubernur terpilih, agar memandang serius persoalan pelik Bahasa Inggris ini. Selama ini pemerintah daerah seolah lepas tangan dan membiarkan para pemuda berjuang sendirian. Mereka mendirikan tempat belajar dan komunitas Bahasa Inggris tanpa support apapun dari pemegang kebijakan. Kedepannya pemerintah baru bisa membuat program 5 tahunan dengan mendirikan tempat belajar Bahasa Inggris gratis di setiap kabupaten kota. Atau bila perlu tiap kecamatan. Anak-anak muda yang berpotensi di Kota Jambi bisa direkrut untuk dijadikan sebagai tenaga pengajar.

Salah satu poin kerja sama yang tertulis di ASEAN Economic Community Blueprint adalah ‘free flow of skilled labour’ atau pergerakan bebas tenaga kerja terampil. Kalimat ini merupakan peringatan keras bagi pemerintah Provinsi Jambi jika tidak mau berbenah dalam meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris masyarakatnya. Mulai tahun depan sangat berkemungkinan pekerja asing seperti Eva berdatangan kemudian secara perlahan menggusur tenaga kerja lokal. Masih persoalan sepelekah ini?


No comments:

Post a Comment