Wednesday, June 4, 2014

Seputar Beasiswa LPDP



Kuliah di luar negeri menjadi impian bagi semua orang, termasuk saya. Betapa tidak, dengan belajar di negeri orang kita tidak hanya bisa memperdalam bahasa asing tetapi juga berkesempatan untuk merasakan uniknya budaya negara tujuan. Lantas, apakah belajar di luar negeri mungkin bagi seluruh rakyat Indonesia? Mungkin!

Ada dua cara yang bisa ditempuh untuk kuliah di luar negeri. Bagi yang punya dompet tebal bisa belajar kesana melalui biaya sendiri. Namun bagi yang kere seperti saya tidak ada jalan lain kecuali mencari beasiswa. Berbicara tentang beasiswa, terdapat banyak sekali beasiswa yang ditawarkan kepada para pelajar Indonesia. Tinggal pilih. Mau belajar di Amerika ada Beasiswa Fulbright dan USaid Prestasi, ke Jerman ada DAAD, ke Inggris ada Chevening, ke Australia ada ADS, dan kemana saja ada LPDP. Lho, kenapa LPDP bisa kemana saja?

Basiswa LPDP adalah beasiswa dari pemerintah RI yang dikelola oleh Kementerian Keuangan. Dana beasiswa ini melimpah sehingga tidak mengenal kuota. Beasiswa-beasiswa yang ada biasanya terbatas kepada sejumlah nomor peserta. Beasiswa ke New Zealand contohnya yang hanya merekrut 50 orang. Jika yang mendaftar 5000 orang maka siap-siaplah yang 4.950 gigit jari. Lain halnya dengan LPDP. Jika ada yang mendaftar 1000 orang dan 500 diantaranya sesuai dengan kriteria yang mereka inginkan, maka 500 orang tersebut akan diberikan beasiswa. Enak kan? Berita bagusnya tidak sampai disitu. Masih ada lagi. LPDP juga tidak membatasi negara tujuan. Penerima beasiswa bisa kuliah dimanapun yang dia inginkan. Kalau mau kuliah di Jerman, ok. Kuliah di Amerika pun dibiyayai. Karena uang beasiswa ini banyak, kita tidak perlu khawatir dengan biaya perkuliahan yang mahal. Seberapa mahalpun itu akan dibayari oleh LPDP! 

Beasiswa LPDP agak sedikit berbeda dengan beasiswa yang umumnya dilamar oleh pemburu beasiswa di Indonesia. Pihak pemberi beasiswa seperti Fulbright misalnya selain membiayai perkuliahan sampai selesai, ia juga mendaftarkan si penerima ke kampus-kampus di Amerika. Kendala bahasa pun mereka tanggulangi dengan memberikan pelatihan Bahasa Inggris diikuti dengan tes TOEFL. LPDP tidak seperti itu. LPDP hanya memberikan beasiswa. Masalah pendaftaran kuliah di universitas dan memilih negara tujuan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penerima beasiswa. Setelah dinyatakan lulus beasiswa, si penerima akan diberikan tenggat waktu satu tahun untuk mendaftar di universitas yang dia inginkan. Setelah diterima dia bisa melapor ke LPDP kemuadian LPDP akan memproses keberangkatan dan pembayaran uang kuliah. Tapi jika dalam tempo waktu satu tahun itu belum juga diterima di universitas tujuan maka secara otomatis beasiswanya hangus.

Tahap perekrutan LPDP
Untuk melamar beasiswa LPDP sangat mudah. Kita tinggal mengunjungi websitenya lpdp dan mendaftar secara online. Ada beberapa kolom yang harus kita isi berkaitan dengan daftar riwayat hidup kita. Jadi saran saya di list dulu semua prestasi, riwayat pekerjaan, seminar, pelatihan, pengalaman penelitian, dan riwayat pendidikan agar tidak kelabakan saat mendaftar. Setelah semua data terisi, kita diminta untuk mengapload beberapa dokumen pendukung seperti ijazah terakhir, transkrip nilai, CV, Surat Rekomendasi, Surat Pernyataan (format disediakan), sertifikat bahasa TOEFL/IELTS, Letter of Acceptance (jika sudah ada), dan tiga essay. Essay yang mereka minta adalah Peranku Bagi Indonesia, Sukses Terbesar Dalam Hidupku, dan Rencana Studi. Untuk melihat punya saya bisa di klik langsung di masing-masing essay diatas.

Menurut hemat saya tiga essay diatas memiliki andil besar dalam meluluskan kita. Oleh karena itu tulislah essaynya semenarik mungkin. Tapi ingat, jangan coba-coba memanipulasi atau berbohong karena mereka akan tahu. Kalau sudah begitu, hampir dipastikan kita tidak akan dapat beasiswanya.

Setelah semua proses pendaftaran dilewati kita tinggal menunggu panggilan wawancara. Wawancara hanya diberikan kepada peserta yang lolos seleksi bahan saja. Mereka yang tidak ada panggilan wawancara berarti bahannya tidak lulus. Masa penantian wawancara sekitar 1-2 bulan. Tidak lama memang mengingat LPDP memproses bahan empat kali dalam setahun. 

Wawancara berlangsung di beberapa tempat, diantaranya Medan, Jogjakarta, Banjarmasin, dan beberapa daerah lainnya (list lengkap bisa di cek langsung di website lpdp www.lpdp.depkeu.go.id). Saya sendiri kemarin wawancara di Jakarta. Sengaja saya pilih Jakarta karena ketiadaan penerbangan dari Jambi ke Medan. Lagipula kalau melalui darat akan memakan waktu berhari-hari. Jadi saya realistis saja dengan memilih Jakarta. Biaya keberangkatan dan akomodasi selama wawancara tidak ditanggungg oleh pihak LPDP. Jadi menabunglah dari jauh-jauh hari sebagaimana yang saya lakukan. 

Di Jakarta, wawancara dilaksanakan di Komplek Kementerian Keuangan di Jln. DR. Wahidin. Banyak yang terkecoh oleh lokasi wawancara ini termasuk saya. Sebagai informasi, gedung wawancaranya bukan di gedung utama Kementerian Keuangan melainkan di gedung seberang jalannya. Kemarin kami wawancara di gedung RM. Notohamiprodjo dan Leader Group Discussion (LGD) di gedung AA. Maramis yang terletak tepat disebelahnya. Dua gedung ini tepat di depan gedung Otoritas Jasa Keuangan. Hanya jalan raya yang memisahkan mereka. Saran saya, tanya saja kepada satpam disana jika kesulitan mencari dua gedung ini. Mereka akan senang hati membantu.
 

Fase wawancara 
Peserta akan diwawancara oleh 2 orang professor dan satu orang psikolog. Mereka bertiga akan bergantian mengeroyok. Wawancara berlangsung sekitar 45 menit, kadang lebih sedikit kadang kurang. Tergantung pewawancaranya mau berapa lama. Saya sendiri kemarin sekitar 20-30 menit. Pertanyaan wawancaranya beragam dari latar belakang pendidikan, negara tujuaan, dan pengalaman kerja. Intinya mereka ingin tahu siapa kita sebenarnya dan pantas tidak kita diberikan beasiswa. Saya kemarin ditanya tamat dari mana, mau kuliah dimana, mengapa mengambil kampus itu, sudah ada kontak belum dengan kampus tujuan, mengapa tidak di kampus lain, pekerjaan di Jambi apa, dan mengapa kami harus memberikan beasiswa kepada kamu. Nah, pertanyaan terakhir ini yang saya tunggu-tunggu karena itu merupakan kesempatan saya berpromosi. Saya jawab semua pertanyaan dengan jujur dan apa adanya tanpa sedikit pun berbohong. Karena percuma saja jika kita berbohong karena ada psikolog di depan kita. Sekali ketahuan maka pupuslah harapan. Ketika saya ditanya mengapa saya tidak kuliah di eropa saja, saya jawab karena saya tidak punya sertifikat IELTS. Saya juga menambahkan kalau saya tidak punya uang untuk mengambil tes IELTS yang lebih dari dua juta itu. Intinya terbuka, jujur, dan tidak gugup karena khawatir diterima atau tidak. Anggap saja kita lagi ngobrol santai dengan orang-orang sukses dari jarak dekat. Persoalan diterima atau tidak itukan urusan Allah. Tugas kita hanya berusaha sebaiknya-baiknya saja.

Leader Group Discussion
LGD ini adalah diskusi santai yang berlangsungn sekitar 20 menit. Kita diberikan satu bacaan mengenai permasalahan yang ada di Indonesia. Tulisan tersebut disudahi dengan sebuah pertanyaan. Pertanyaannya satu saja tidak banyak. Nah, setelah selesai membaca mulailah diskusinya. Moderator, notulen, dan segala tetek bengeknya kita tentukan sendiri. Dua orang penilai yang duduk di ujung meja menyerahkan sepenuhnya kepada forum. Mereka focus menilai saja. Poin-poin yang mereka nilai pun masih misteri. Jika seseorang di forum tersebut dominan boleh jadi itu merupakan nilai positif bagi tim penilai atau bahkan bernilai negatif. Jalan terbaik adalah menjadi diri sendiri saja. Kita pun harus ingat bahwa itu merupakan sebuah forum diskusi bukan forum debat. Tentu dua istilah ini sangat berbeda pengapliasiannya. Oh iya, LGD terdiri dari sekitar sepuluh orang. Kadang lebih sedikit kadang kurang  sedikit.

Kalau wawancara dan LGD sudah selesai berarti selesai pulalah perjuangan kita sebagai manusia. Selebihnya urusan Allah lagi yang memutuskan apakah kita berhak mendapatkan beasiswa itu atau ditangguhkannya untuk sementara waktu. Bagi yang lulus patutlah bersyukur. Namun bagi yang belum, yakinlah Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih baik dari itu. Jadi bersabar saja dan terus tingkatkan kualitas. Salam sukses! :)


No comments:

Post a Comment