Wednesday, June 4, 2014

Peranku Bagi Indonesia



Alam telah lama menjadi ladang mata pencaharian masyarakat di daerahku. Dari kakek buyut sampai generasiku hampir semuanya menggantungkan hidup pada alam, khususnya hutan. Namun hutan di daerahku kini sudah tidak rimbun seperti dulu lagi. Tatkala aku melintasi tempat-tempat yang dulu aku lalui, aku menemukan tumpukan balok kayu tersusun di tepi jalan. Perusahaan perkebunan dan pertambangan bertebaran. Truk-truk pembawa batu bara berkeliaran. Entah siapa yang meraup keuntungan dari semua ini, yang jelas masyarakat di daerahku tetap hidup dalam kekurangan. Hutan habis, mata pencaharian pun musnah. Kemiskinan kini siap menjangkau generasi muda daerahku.

Realita ini menyadarkanku akan pentingnya pendidikan bagi generasi muda di daerahku. Mungkin tidak berlebihan jika aku menganggap bahwa pendidikan adalah salah satu jalan yang tepat untuk lepas dari cengkraman kemiskinan. Aku percaya jika generasi muda di daerahku memiliki latar belakang pendidikan yang mumpuni mereka akan berhenti menggantungkan hidup kepada alam. Mereka bisa bekerja di berbagai sektor sesuai dengan kualifikasi mereka masing-masing.

Namun sayangnya saat ini hanya ada dua perguruan tinggi yang ada di kabupatenku yaitu STAI dan STIE. Hal ini tak jarang membuat mereka urung kuliah. Belum lagi dengan kenyataan bahwa sebagian besar generasi muda di daerahku tidak memiliki dua hal yang sangat fundamental bagi masa depan mereka, yaitu keberanian bermimpi besar dan semangat kerja keras. Untuk memberikan teladan, aku selalu memotivasi diri agar selalu menjadi inspirasi. Ketika kebanyakan orang tua di daerahku khawatir anaknya gila jika bercita-cita terlalu tinggi, aku berhasil membuktikan bahwa impian besar tidaklah mustahil untuk diwujudkan selagi mau bekerja keras. Alhamdulillah, kepergianku ke beberapa negara dan daerah di Indonesia sedikit banyak telah membuka mata mereka. 

Aku juga selalu ingin memotivasi orang-orang yang dilanda kegagalan dalam hidup serta memiliki lembaran kelam di masa lalu. Aku tahu betul bagaimana perasaan orang-orang tersebut karena aku pernah mengalaminya sendiri. Oleh karena itu aku tidak henti-hentinya membagikan pengalamanku bangkit dari keterpurukan kepada mahasiswa, anak murid, teman, dan orang disekitarku. Saat ini aku sedang menulis sebuah novel yang bertemakan perjalanan hidupku dalam bangkit dari kegagalan dan meraih impian besar. Aku berharap ada penerbit yang mau menerbitkan novel ini nantinya agar bermanfaat bagi seluruh rakyat Indonesia. Aku sangat yakin pemuda-pemudi Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi individu brilian yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia selagi mereka memiliki karakter pemimpi dan pekerja keras.

Semangat kerja keras dalam menggapai sesuatu adalah hal yang harus aku tularkan kepada generasi muda Indonesia khususnya mereka yang di daerahku. Tidak banyak memang yang memiliki semangat ini. Sebagian besar mereka telah terlanjur diracuni oleh realita yang ada yang mana uang merupakan syarat mutlak penentu kesuksesan. Adalah hal biasa di daerahku jika mengetahui seseorang menjadi Pegawai Negeri Sipil, polisi, atau tentara, dengan menyediakan uang puluhan bahkan ratusan juta rupiah. 

Aku tidak mau pola pikir seperti ini berubah menjadi karakter. Untuk itulah, aku memasukkan arti pentingnya bermimpi besar dan semangat kerja keras ke dalam materi khutbah Jumat setiap kali aku dipercaya menjadi khotib di kampungku. Selain itu aku juga sering mengumpulkan mahasiswa daerahku yang kuliah di jambi dan mendatangi beberapa sekolah di kecamatanku. Aku lakukan itu untuk memberi motivasi bahwa anak petani karet miskin sepertiku bisa meraih impian besar dengan bekerja keras. 

Aku sadari aku belum memiliki ilmu dan pengalaman yang banyak untuk menciptakan suatu perubahan besar bagi negeri ini. Apa yang aku punya hanyalah semangat dan skill Bahasa Inggris. Meskipun demikian, aku selalu mencoba untuk memberikan yang terbaik yang aku bisa. Sewaktu aku duduk di bangku kuliah dulu, aku mengajarkan Bahasa Inggris secara gratis kepada anak-anak di kampungku ketika libur kuliah. Bagiku itu adalah tanggung jawabku sebagai satu-satunya orang yang bisa berbahasa Inggris di desaku.

Sebelum aku menamatkan kuliah, aku bersama tiga orang teman mendirikan Amec, sebuah kursus bahasa Inggris dengan biaya terjangkau. Saat itu kami sudah menyewa ruko dua lantai untuk tempat kursus kami. Namun karena beberapa hal, Amec hanya bertahan beberapa bulan saja. Sebagai gantinya, aku membuka kursus Bahasa Inggris yang aku beri nama Ikhlas. Kursus ini berpondasikan keikhlasan. Setiap orang bisa belajar Bahasa Inggris dengan membayar semampunya saja. 

Harapanku ketika aku tua nanti adalah aku ingin melihat Indonesia sebagai bangsa yang maju, terdidik, dan sejahtera yang menjaga kelestarian alam semesta. Aku akan berjuang untuk berkontribusi mewujudkan cita-cita ini dengan mendidik dan menginspirasi orang-orang disekitarku dan generasi muda di daerahku. Semoga Allah SWT selalu menuntun langkahku. Amin.




No comments:

Post a Comment