Wednesday, June 4, 2014

Sukses Terbesar Dalam Hidupku



“Sudahlah Beni, jangan bercita-cita terlalu tinggi, nanti gila. Kalau gila, siapa yang akan men gurusmu?” cetus pamanku sewaktu kumpul keluarga di hari raya. “Hey teman-teman, kalau kalian ingin melihat teman kita gila setelah selesai kuliah nanti, Beni lah orangnya!” teriak seorang kawan di depan beberapa teman kelas. Keraguan bernada sinis ini adalah segelintir contoh dari sekian banyak orang-orang yang menyangsikan impianku untuk menjejakkan kaki ke negeri Paman Sam, Amerika Serikat. 

Jika mereka ragu dengan impianku, itu wajar. Siapa pula yang percaya dengan impian seorang berandal yang tidak lulus Ujian Akhir Nasional? Seorang bocah tengik yang menghabiskan waktu 3 tahun di bangku Sekolah Menengah Atas hanya untuk bermain-main seperi anak TK? “Ijazah Paket C kok mau ke Amerika! ada-ada saja!” Timpal seorang teman yang lain. 

Tragedi tidak lulus UAN itu tak dipungkiri merupakan sebuah tamparan keras tepat di wajahku. Untung saja, Aku memilih tidak bunuh diri ketika tahu bahwa Aku tidak lulus UAN. Sebaliknya, Aku mencoba untuk bersabar dan meresapi semua dosaku kepada orang tuaku selama 3 tahun menjalani sekolah jauh dari mereka. Mereka yang pontang-panting menyadap pohon karet di kampung untuk menyekolahkanku telah Aku khianati begitu keji.

Untuk mengobati luka hati mereka, Aku terpaksa anggukkan kepala ketika Ayah menganjurkanku untuk kuliah yang berbau Bahasa Inggris. Jurusan yang satu ini bukan saja sebuah tragedi mengingat kemampuanku lebih mengkilap di Bahasa Arab, tetapi juga menjadi aktor utama yang menguburkan impianku menjadi seorang pengacara kondang. Ridhollah fi ridhol walidain wa sukhtullah fi shukhtil walidain” Ridho orang tua adalah ridhonya Allah. Hadits yang kudapatkan sewaktu mondok di pesantren dulu inilah yang menjadi penyemangatku dalam menatap masa depan dengan Bahasa Inggris.

Hari pertama masuk kuliah, Aku digegerkan oleh beberapa teman yang mendekatiku dengan berbahasa Inggris. Aku juga terpaksa memperkenalkan diri di kelas menggunakan Bahasa Indonesia. “wah, gawat ini” cetusku dalam hati. “aku bakalan menjadi lulusan terakhir di kelas ini nantinya” tambahku dengan nada pasrah. 

Aku sadar betul posisiku waktu itu. Studyku diibaratkan perjalanan Jambi - Jakarta, teman-teman seangkatanku sudah sampai di Palembang sedangkan Aku masih di Jambi. Kalau kecepatanku sama dengan kecepatan mereka, otomatis mereka akan tiba duluan di Jakarta. Aku harus memiliki kecepatan di atas rata-rata kecepatan mereka supaya bisa finish bersama atau bahkan lebih dulu. Untuk memperoleh kecepatan super tersebut Aku harus memiliki pelumas motivasi yang bisa menghasilkan tenaga dahsyat. Setelah berpikir panjang memilah dan memilih akhirnya Aku menemukan ‘pelumasnya’. Aku set sebuah impian gila, yaitu belajar di negeri Pak Obama, Amerika Serikat. Aku bertekad membayar hutang air mata orang tuaku di masa silam dengan senyuman manis melepas anaknya berangkat ke Amerika. Disamping itu, impian itu juga akan Aku jadikan sumber motivasi dan inspirasi bagi teman-teman dari daerahku supaya bermimpi besar.

Ternyata ada untungnya juga hobi begadang menonton pertandingan sepak bola. Motto Adidas Impossible is Nothing menjadi doping efektif dalam menghadapi berbagai rintangan dalam meraih impian ke Amerika. Saat sebagian besar teman sekelas kursus Bahasa Inggris dengan salah satu dosenku, Aku terpaksa mengurungkan niat untuk bergabung menimba ilmu karena ketiadaan biaya. Karena Impopssible is nothing, Aku pergi ke toko buku loak untuk membeli sebuah majalah Bahasa Inggris bekas. Setiap hari kuterjemahkan majalah tersebut lembar demi lembar. Alhasil, walaupun tidak ikut kursus dengan dosen tersebut, tapi Aku berhasil mendapat nilai A di mata kuliah Vocabulary Building yang di ajarkannya. Hal ini bermakna sangat spesial mengingat beberapa teman yang ikut kursus mendapatkan nilai di bawah nilaiku. 

Impian gila itu membawa banyak berkah. Semangat super dahsyat yang dihasilkannya akhirnya berbuah manis juga. Aku berhasil juara 3 dan juara 1 dalam debat Bahasa Inggris di kampus sebelum mewakili kampusku ke pentas debat nasional. Selain itu Aku juga berhasil menyabet juara 2 dalam lomba baca puisi di kampus. Namun yang paling istimewa adalah impianku ke Amerika akhirnya terwujud! Adalah beasiswa IELSP dari IIEF yang membawa kakiku ke negeri super power itu. 

Aku cium tangan ke dua orang tuaku dengan isak tertahan kala mereka hendak melepas keberangkatanku di Bandara Sulthan Thaha Saifudin Jambi. Betapa haru bercampur bahagianya hari itu. Senyum kebanggaan tak henti-hentinya terukir di kedua bibir Ayah dan Ibu. Panggilan petugas bandara untuk segera memasuki pesawat akhirnya memisahkan kami. Dengan langkah berat kutinggalkan mereka berdua. Terlihat jelas olehku deraian air mata bahagia mengalir deras di pipi Ibuku tercinta sewaktu kulambaikan tanganku berjalan memasuki pesawat. 

1 comment:

  1. Saya erwin dari jambi dan saya bercita cita akan belajar di kota dgn julukan the black country.

    ReplyDelete