Thursday, December 15, 2016

Tentang Marya dan Siti

Di hari yang panasnya bukan main ini, sepetak ruang tamu yang merangkap kamar tidur berukuran 3x3 meter tampak berbeda dari biasanya. Tidak pernah kamar itu terisi oleh lebih dari satu orang. Bertahun-tahun ruang sempit nan pengap itu akrab dengan sepi. Hanya sebatang badan saja isinya. Tapi hari ini keadaannya sungguh tidak biasa. Ada suara lain yang menggema, bukan hanya suara penghuni tunggalnya.
Suara itu adalah suara Siti. Seorang wanita Melayu Sumatera yang tengah melepas rindu dengan sahabat lamanya, si penghuni kamar. Sudah berpuluh-puluh tahun mereka berdua terpisah. Terakhir kali bertemu sewaktu kelulusan kuliah di University of Sydney dulu. Setelah itu mereka berdua menghilang tanpa ada kabar berita.
Siti kini telah menjelma menjadi seorang wanita yang luar biasa sukses. Rumahnya berdiri megah di salah satu kawasan elit di kota Jakarta lengkap dengan segala perabot yang diimpor dari berbagai penjuru dunia. Di ruang tamunya saja ada patung Budha raksasa setinggi pria dewasa. Patung itu sengaja didatangkan dari Thailand dengan ongkos sebesar 3 Milyar Rupiah.
Tidak jauh dari patung Budha tersebut, terbujur sebuah lemari kaca. Panjangnya kira-kira 10 meter. Sedang tingginya lebih kurang 5 meter. Lemari itu tiga tingkat. Tingkat pertama diisi dengan aneka ragam alat musik tradisional dari berbagai pelosok bumi. Sedang tingkat kedua berbaris keramik-keramik kuno yang kebanyakan berasal dari Asia Timur. Tingkat paling atas berjejer perhiasan berharga mahal yang terbuat dari emas dan berlian. Semuanya disusun dengan rapi dan dibersihkan oleh segenap pembantu rumah tiap pagi.
Rumah Siti punya tiga lantai, tujuh buah kamar tidur, 3 dapur, dan segala macam ruangan-ruangan khusus semisal tempat fitnes dan multimedia room. Segalanya tertata dengan penuh seni hasil karya arsitektur terkini. Siti juga punya segala macam kendaraan. Berbagai merek terkenal dia punya. Bentley, Ferrari, BMW, dan terakhir dia membeli Lamborghini model terbaru.
Sampai disini tentu pembaca heran, dari mana Siti mendapatkan segala kemewahan itu. Baiklah akan aku jelaskan. Setamat dari Sydney, siti kembali ke Jakarta dan meneruskan bisnis impor barang-barang antik dan pecah belah yang dimiliki oleh keluarganya. Dengan sentuhan tangan dingin Siti ditambah dengan ilmu bisnis yang dia peroleh dari Australia, bisnis yang diberi nama 'Batang Sumay' itu maju pesat.
Kini Batang Sumay merupakan salah satu perusahaan ternama di Indonesia bahkan di dunia dalam hal impor barang-barang antik dan aneka keramik. Klien Siti tersebar dimana-mana. Tidak hanya terbatas di Indonesia saja.
Lain siti, lain pula teman yang sedang dikunjunginya, Marya. Nasib Marya tidaklah secemerlang dirinya selepas tamat dari sydney. Hidupnya pas-pasan. Tinggal di sebuah kontrakan di gang sempit di daerah Pluit, Jakarta. Marya sebetulnya tidaklah tergolong miskin sebab dia bukan penerima beras Raskin dari pemerintah. Tapi tetap saja hidupnya jauh dari standar seseorang yang sejahtera.
Marya bekerja di sebuah perusahaan penerjemahan dokumen di jakarta. Gaji yang dia dapatkan lumayan besar. Jauh lebih besar dari gaji guru PNS di daerah. Hidup Marya melarat seperti sekarang tak lain dikarenakan kebiasaannya yang gemar foya-foya. Berjudi, clubbing, shopping barang-barang mewah dengan merk-merk ternama, dan selalu makan di restoran-restoran besar. Kebiasaan atas dasar menjaga gengsi dan status sosial ini alhasil membuat hidupnya tidak maju-maju. Dari dulu sampai sekarang tinggal di rumah kontrakan dan tidak punya aset apapun. Ditambah lagi dengan hutangnya yang menggunung karena selalu kalah judi. Semakin membuat hidup Marya morat-marit.
Pertemuan antara Siti dan Marya hari ini berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Beberapa hari silam siti mendapatkan kiriman foto dari temannya sesama alumni University of Sydney. Foto itu adalah foto seorang wanita gemuk, berambut lurus sebahu, hitam pekat dengan beberapa helai yang sudah memutih, dan berwajah bulat. Wanita itu sedang terbaring di ranjang besi diatas kasur putih. Di lengan kirinya dipasang opname dengan sebotol air infus menggantung di sebuah tiang besi tepat di samping ranjang. Wanita di foto itu tak lain adalah Marya. Seketika itu pun Siti kaget bercampur haru. Rupanya teman baiknya itu masih hidup! Meskipun dalam keadaan yang boleh dikatakan tidak begitu baik.
Siti menanyakan kepada teman-temannya perihal detail Marya; alamat, nomor rumah, nomor telepon, dan detail-detail lainnya. Bukan main terkejut dia. Rupanya Marya tinggal tidak jauh darinya. Hanya berjarak 8 kali stasiun busway. Tanpa pikir panjang, keesokan harinya Siti langsung bergegas menemui sahabat lamanya itu.
'Tak kusangka kita bisa berjumpa lagi, Marya' Ucap Siti sambil memegang tangan Marya yang terbaring lemah diatas kasurnya. Tampak jelas kalau mata dua orang sahabat karib itu memancarkan kebahagiaan. Bahagia karena bisa bersua kembali setelah sekian lama terpisah.
'Sudah tiga puluh tahun kita tak berjumpa, Siti' jawab Marya sambil tersenyum.
'Aku senang bisa melihat wajahmu lagi' lanjutnya lemah.
Mendengar jawaban tidak begitu bersemangat dari kawannya itu sedikit membuat Siti kecewa. Awalnya dia mengharapkan sambutan yang begitu antusias dari Marya. Tapi Siti mencoba untuk mengerti. Barangkali mood Marya belum pulih betul karena baru dua hari keluar dari rumah sakit gara-gara darah tinggi.
'Jadi, bagaimana keadaanmu sekarang, Marya. Sudah enakan?' Siti mencoba bersimpati. Tangannya menghidupkan korek api lalu membakar sebatang rokok yang menggantung di bibirnya.
'Ah, kau tidak berubah, Siti. Masih saja merokok' Sahut Marya lembut.
'Kondisiku sudah lumayan membaik. Cuma masih pusing saja'
'Baguslah' jawab Siti pelan sambil mengurut-urut kening Marya.
'Jadi, bagaimana kabar si Burhan, pacarmu dulu itu? Kau menikah dengannya, kan? Mengapa tak kau ajak dia kemari?'
Air muka siti tiba-tiba berubah mendengar pertanyaan itu. Sama sekali tak disangkanya kalau Marya bakal bertanya soal masa lalu yang amat dibencinya.
'Oh dia. Pria tak tepat janji itu.'
'Tak tepat janji? Maksudmu?'
'Dulu dia janji akan memberiku hidup yang bahagia. Setelah setahun menikah, eh dia dipecat sama bosnya. Hutang disana sini. Hidup tak lagi tentu arah. Tak mau aku hidup susah. Ya aku minta cerai!' Muka Siti merah seperti buah jambu air yang sedang masak. Kepulan asap rokoknya makin menjadi-jadi.
'Siti...siti...mengapa kau begitu. Seharusnya kau sabar. Hidup memang pasang surut. Mustahil bermandikan angin terus. Ada kalanya berkubang lumpur' Marya menggeleng-gelengkan kepalanya.
'Ah...tidak mau aku makan nasi lauk ikan teri. Mana ada gizinya! Lagipula, berpisah darinya adalah solusi yang terbaik. Aku dapat kembali ke rumah papa dan meneruskan bisnisnya. Kini, aku sukses besar. Uangku banyak. Untuk apa hidup melarat dengan Burhan!'
'Kalau begitu katamu, baiklah. Aku paham, Siti. Memang tidak enak hidup susah.' Suara Marya mendadak mengecil. Kata-kata susah sepertinya menyentuh hatinya.
'Waktu berjalan amat cepat, ya Marya. Rasa-rasanya baru kemarin kita bermain-main pasir di panta Bondi di Sydney.' Siti mengalihkan pembicaraan. Dia menangkap perubahan air muka temannya itu.
'Iya Siti. Benar katamu itu. Aku saja tidak menyangka kalau umurku kini sudah lima puluh lima tahun. Coba lihat wajahku ini, Siti. Sudah mulai keriput. Entah kemana perginya kecantikanku dulu itu.' Marya memegang tangan Siti dan menggosoknya lembut.
'Itulah juga yang menyusahkan pikiranku pagi ini, Siti.' Sambung Marya. 'Ketika kulihat wajahku di cermin, sudah jauh perubahannya. Sudah tua betul aku. Pipiku tidak kencang lagi. Mataku sudah berkantung hitam. Segala macam bedak dan gincu yang aku pakai selama ini sama sekali tidak ada pengaruhnya. Tak bisa membuatku terlihat cantik seperti muda dulu'
Siti tak menggubris. Dia asyik saja dengan tarikan rokokny. Lagipula memang sudah menjadi tabiatnya kalau Siti bukan seorang pendengar yang baik. Marya pun paham akan sifat kawannya itu. Jadi dia tidak ambil hati kalau curahan hatinya tidak begitu didengar.
'Apa kabar si John ini, Marya?' Siti mengambil sebingkai foto yang berdiri di meja kecil di samping kasur Marya. Foto itu foto lama. Masih hitam putih. Dalam foto itu Marya sedang tertawa dengan kedua tangan yang dilipat di dada. Disampingya berdiri seorang pria kulit putih yang bernama John itu. Bibirnya juga tersenyum. Tapi tidak selebar tawa Marya.
'Entahlah, Siti. Aku tidak pernah lagi dapat kabar darinya'
'Berapa tahun kau berpacaran dengannya dulu? 3 tahun kan?'
'Ya, lebih kurang selama itulah' Jawab Marya seadanya.
'Sayang betul ya. Padahal kalian berdua adalah pasangan serasi. Terfavorit di kampus. Kau cantik dan si John ganteng'
'Apa sih yang membuat kalian berdua bubar waktu itu?' Marya mengembalikan bingkai foto itu ke tempatnya semula. Rokoknya kini sudah dibuangnya ke asbak karena sudah habis.
'Dia mengajakku pindah ke Amerika. Tinggal disana bersamanya. Tapi aku tidak bisa. Aku mesti merawat ibuku yang sakit'
Mendengar itu Siti terdiam. Sepertinya pertanyaan yang dilontarkannya soal John membuka luka lama. Dia mengira luka itu telah sembuh. Tetapi dia keliru. Ternyata hati temannya masih berdarah gara-gara itu.
'Siti...' tangisan Marya mendadak pecah. Tangannya mengais ngais ke depan meminta di peluk oleh sahabatnya itu. Siti pun maju ke depan, membungkuk, lalu memeluk temannya yang tengah terbaring lemah.
'Aku sedih betul, Siti. Sewaktu aku diinapkan di rumah sakit tidak ada yang menjenguk dan menjagaku. Kawan-kawanku pun tidak.'
'Keluargamu?' Tanya Siti.
'Kau kan tau aku tidak punya keluarga, Siti. Kakakku sudah meninggal semuanya. Aku anak paling bungsu. Keponakanku tidak ada yang tinggal di Jakarta. Mereka tinggal jauh dariku. Di Sulawesi, Kalimantan, ada juga yang di Papua.'
'Di waktu-waktu beginilah baru aku merasa sedih, Siti. Aku menyesal mengapa dulu aku tidak menikah saja dengan si Juki yang yang cinta mati denganku itu. Kalau aku menikah dengannya sudah pasti dia ada disampingku. Merawat aku yang tengah sakit. Kalaupun dia sibuk bekerja aku masih punya anak-anakku yang sudah barang tentu perduli denganku. Tapi dulu aku memilih untuk menutup hati karena sudah terlanjur tidak percaya dengan yang namanya cinta. Apalagi Juki tidak berpendidikan tinggi sepertiku. Kerjanya cuma tukang bangunan. Oh siti..malang nasibku...malang...'
Tangisan Marya semakin tidak terkendali. Sedang mata Siti juga sudah mulai basah.
'Kini semuanya sudah terlambat. Aku tidak bisa lagi punya anak sebab umurku sudah uzur. Lagipula tidak ada pria yang mau denganku lagi. Siapa pula yang mau dengan nenek-nenek jelek sepertiku?'
'Jangan bicara begitu, Marya. Tidak boleh. Kau belumlah nenek-nenek. Belum sampai 60 tahun umur kita' Siti mencoba menghibur.
'Tidak, Siti. Kita ini sudah nenek-nenek. Coba lihat dengan teliti kulit kita. Tidak kencang seperti dulu lagi. Tidak ada yang mau sama kita. Tidak ada....!'
Marya menarik nafas panjang lalu melanjutkan kalimatnya. 'Kini maut sudah semakin dekat mengintaiku, Siti. Dapat kurasakan itu dari kondisi badanku yang sudah terasa semakin lemah. Tidak sekuat dan selincah dulu lagi. Kalaulah maut itu datang esok Siti dan dibuatnya aku mati perlahan, tersiksalah batinku. Tidak akan ada yang mengurusku. Suami tidak punya. Anak apa lagi. Oh siti....' Pelukan Marya semakin erat. Air matanya kian banyak tertumpah. Siti meggosok pungung belakang Marya agar dia sedikit lebih tenang.
'Dan..jika maut itu benar-benar telah datang, maka terputuslah riwayat hidupku di muka bumi ini, Siti. Tidak akan ada lagi yang meneruskan keturunanku sebab aku memang tidak meninggalkan keturunan. Oh..andai waktu sudi kembail, akan aku terima lamaran si Juki itu. Akan aku terima...' Sedu sedan Marya kian tak terkendali. Dapat dirasakan oleh Siti badannya bergetar oleh ratapan tangis Marya.
Kasur tempat tubuh Marya terbaring basah oleh genangan air mata. Air mata penyesalan akan masa lalu yang takkan pernah terulang. Marya yang tersedu-sedu tidak mengetahui kalau Siti kawannya itu juga menangis. Penyesalan Marya adalah penyesalan Siti juga. Siti menyayangkan keputusannya meninggalkan Burhan dahulu. Kini nasibnya sama dengan Marya. Tidak punya siapa-siapa di dunia ini kecuali dirinya sendiri. Rumah besarnya adalah rumah kosong yan hampa kebahagiaan. Dia sendiri jarang pulang ke rumahnya dan lebih sering menginap di ruangan kecil di kantornya. Apa yang dipikirnya dulu terbukti salah. Pernak-pernik duniawi yang dikejarnya tidak berhasil memberikan kebahagiaan sebagaimana yang dia harapkan. Di usianya yang kini sudah mulai senja, dengan materi yang melimpah ruah, tetap saja tidak bisa mengisi ruang kosong di hatinya yang rindu akan kebahagiaan. Sebentuk kebahagiaan sejati yang tidak bisa dibeli dengan duit berpeti-peti. Kebahagiaan yang bersumber dari kasih sayang seorang suami dan limapahan cinta putra-putri.

No comments:

Post a Comment