Thursday, December 15, 2016

So, Maju Terus, Raih Mimpimu!

“Sudahlah Beni, jangan bercita-cita terlalu tinggi, nanti gila. Kalau gila, siapa yang akan mengurusmu?” Cetus pamanku sewaktu kumpul keluarga di hari raya. Tangannya mengelus-elus pundakku.

“Hey guys, kalau kalian ingin melihat teman kita gila setelah selesai kuliah nanti, Benilah orangnya!” Teriak seorang kawan di depan beberapa teman kelas.

Keraguan bernada sinis ini adalah segelintir contoh dari sekian banyak orang-orang yang menyangsikan impianku untuk menjejakkan kaki ke negeri Paman Sam, Amerika Serikat.

Jika mereka ragu, itu wajar. Siapa pula yang percaya dengan impian seorang berandal yang tidak lulus Ujian Akhir Nasional? Seorang bocah tengik yang menghabiskan waktu 3 tahun di bangku Sekolah Menengah Atas hanya untuk bermain-main seperi anak TK? “Ijazah Paket C kok mau ke Amerika! ada-ada saja!” Tak terhitung yang berujar demikian.

Benar, Aku hanya memegang ijazah Paket C sebab ketika UAN aku tidak bisa menjawab satupun soal Matematika. Bukan karena pertanyaannya yang sulit melainkan akunya yang tidak pernah belajar. Alhasil, pada hari pengumuman hasil UAN semua kelalaian dan kejahilanku dibayar lunas. Aku tidak lulus!

Kegagalanku menyisakan malu yang amat dahsyat. Di kampung aku menjadi bahan percontohan orang-orang tua kepada anak-anak mereka bahwa ketika mereka besar nanti jangan berperangai sepertiku. Orang tuaku pun kecewa bukan main sebab susah payah mereka menyadap pohon karet di tengah rimba tak berbuah manis. Aspirasi ayah buat menginspirasi masyarakat kampung agar menyekolahkan anak mereka tinggi-tinggi pun berujung cemoohan. Semuanya gara-gara aku.

Tidak enak hidup dalam aib. Untuk itu, selepas mengikuti ujian Paket C, aku memutuskan untuk pergi dari rumah. Aku malu dengan diriku sendiri. Aku tidak sanggup menatap wajah Ayah dan Ibuku. Dengan masa depan yang tidak jelas, aku habiskan hari-hariku di perjalanan, sebagai kernek travel dan kernek truk sawit. Menyaksikan buruh-buruh sawit memikul tandan buah sawit yang besarnya bukan main, melihat kerasnya kehidupan supir yang saban hari mengukur jalan, bercengkrama dengan anak-anak karyawan perkebunan yang miskin akses ke dunia luar, dan membayangkan hal-hal besar yang dilakukan orang dengan ilmu yang mereka punya, membuatku insaf kalau pendidikan itu amat berharga. Akhirnya, menjelang penutupan pendaftaran kuliah aku memilih pulang. Aku hendak meyakinkan ayah lagi bahwa aku benar-benar ingin menuntut ilmu bukan bermain-main seperti dulu.

Ayah mulanya tidak bergeming. Baginya tidak ada lagi kesempatan untukku bersekolah tinggi. Namun aku terus meyakinnya hingga akhirnya hatinya pun luluh. Tanpa berpikir dua kali, aku langsung anggukkan kepala ketika Ayah menganjurkanku untuk kuliah yang berbau Bahasa Inggris. Demi membuktikan ke Ayah dan semua orang akan kesungguhanku untuk berubah, jurang yang paling dalam pun akan kuterjuni. Perduli apa. Lagipula 1000% aku yakin kalau jalan Bahasa Inggris yang aku tempuh akan memberikan kegemilangan kepadaku sebab Ridho orang tua adalah ridhonya Tuhan. Dengan mengantongi ridho orang tua tentu saja apa yang aku perbuat dan apa yang aku impikan akan dikabulkan oleh Tuhan karena Dia telah berjanji demikian.

Keyakinan teguh yang aku tanam di dalam hati diuji di hari pertama kuliah. Aku digegerkan oleh beberapa teman yang mendekatiku mengajak bercakap-cakap dalam berbahasa Inggris. Aku cuma bisa terdiam menelan air liur yang terasa pahit. Di hari itu juga aku terpaksa memperkenalkan diri di kelas menggunakan Bahasa Indonesia. Sedang hampir semua teman-temanku mengenalkan diri mereka dalam Bahasa Inggris. Terpukul, aku pun menobatkan diriku sebagai calon lulusan terakhir di jurusanku.

Bila dikaji dengan akal sehat, studyku seumpama perjalanan Jambi – Jakarta. Teman-teman seangkatanku sudah sampai di Palembang sedangkan Aku masih di Jambi. Kendaraan mereka sudah layak jalan sedang kendaraanku rusak sana sini. Agar dapat finish di Jakarta bersama-sama mereka atau kalau bisa lebih dulu, Aku harus memiliki kecepatan di atas rata-rata kecepatan mereka. Kerusakan di kendaraanku pun mesti aku perbaiki dengan segera. Untuk memperoleh kecepatan super tersebut wajib hukumnya aku memiliki pelumas motivasi yang bisa menghasilkan tenaga dahsyat. Setelah berpikir panjang memilah dan memilih akhirnya Aku menemukan ‘pelumasnya’. Aku set sebuah impian gila, yaitu belajar di Amerika. Siang malam kuhabiskan waktuku untuk berjuang demi meraih impian ini dan memperbaiki kerusakan kendaraanku. Tekadku sudah jelas, Aku akan membayar lunas hutang air mata orang tuaku di masa silam dengan senyuman manis melepas anaknya berangkat ke negeri Paman Sam. Disamping itu, impian itu juga akan Aku jadikan sumber pelajaran bagi semua orang bahwa tidak ada kata terlambat buat berubah. Semuanya mungkin selagi nyawa bersemayam di dalam badan.

Tak ada jalan yang yak berbatu. Terlebih jalan perjuangan mendaki gunung impian. Tapi tidak ada juga jalan yang tak bisa dilalui. Tidak ada gunung yang tak bisa didaki. Tantangan memang ada. Tapi setiap tantangan, bila ada kesungguhan hati dalam menjalani, pasti bisa ditaklukkan. Sebesar apapun tantangan itu. Saat sebagian besar teman sekelas kursus Bahasa Inggris dengan salah satu dosenku, Aku terpaksa mengurungkan niat untuk bergabung menimba ilmu karena ketiadaan biaya. Karena impopssible is nothing, Aku pergi ke toko buku loak untuk membeli sebuah majalah Bahasa Inggris bekas. Setiap hari kuterjemahkan majalah tersebut lembar demi lembar. Alhasil, walaupun tidak ikut kursus dengan dosen tersebut, tapi Aku bisa juga mendapat nilai A di mata kuliah Vocabulary Building yang di ajarkannya. Hal ini bermakna sangat spesial mengingat beberapa teman yang ikut kursus mendapatkan nilai di bawah nilaiku.

Tak ada yang mengalahkan kekuatan mimpi. Setelah dua setengah tahun berjuang, impianku ke Amerika akhirnya terwujud di tahun 2011 melalui beasiswa IELSP dari IIEF. Aku pun diberikan kesempatan untuk belajar Bahasa Inggris di Arizona State University selama dua bulan. Tidak hanya itu, di tahun-tahun berikutnya aku berlimpahan berkah dari Tuhan; mewakili Indonesia dalam program Pertukaran Pemuda Indonesia Australia, menjadi finalis blogger internasional di Malaysia, berlayar keliling Indonesia melalui program Kapal Pemuda Nusantara, dan puncaknya adalah aku mendapatkan beasiswa lpdp sehingga berkesempatan berkuliah di salah satu kampus terbaik di dunia, University of Manchester. Sampai saat ini, aku telah menginjakkan kakiku ke lima benua. Semuanya berkat ridho yang diberikan oleh orang tua dan usahaku yang tak pernah putus.


Bila kurenungkan lagi perjalanan hidupku dapatlah aku suatu kesimpulan bahwa tidak boleh menghakimi manusia dari lembaran kisah masa lalunya. Sehitam apapun masa lalu seseorang, dia tetap berkesempatan untuk merubah hidup. Dia tetap berpeluang untuk meraih hal-hal besar sebagaimana yang diimpikan oleh manusia-manusia yang tidak punya catatan kelam. So, maju terus, raih mimpimu!

No comments:

Post a Comment