Thursday, December 15, 2016

Jadi, Berubahlah, kawan!

Laju sepeda motor yang berpacu kencang mendadak dipelankan oleh adikku. Padahal posisi kami sudah di ujung kampong. Dia penasaran dengan objek yang baru saja kami lewati meskipun berkali-kali kutegaskan kalau itu hanya anak kucing. Tapi tetap saja dia membelokkan motor kemudian kembali ke belakang.
Dari sorotan lampu sepeda motor Varioku tampak jelas kalau benda bergerak di tepi jalan itu bukan anak kucing, melainkan anak kukang! Binatang liar bermata besar yang imutnya minta ampun. Jalan anak kukang itu amat lambat, menambah keimutannya yang melelehkan hati.

Tidak tahan akan kelucuannya, kuambillah anak kukang itu dengan memegang perutnya seperti yang kulakukan terhadap kucing-kucingku di rumah. Sial, baru saja tanganku mengangkatnya anak kukang itu dengan cekatan menancapkan taringnya yang tajam ke telunjukku. Darah bercucuran, rasa sakit menjalar. Anak kukang itu dengan santai melangkah pergi ke dalam semak. Aku pun kembali ke rumah untuk mengobati lukaku.
Entah kenapa, malam berikutnya perjalananku lagi-lagi terganggu. Sedang enaknya bertengger diatas motor seekor ular kobra melintang di tengah jalan. Untung saja dia langsung kembali ke belakang. Jika tidak bisa-bisa kakiku dilahapnya juga.

Dan, beberapa hari ke belakang segerombolan gajah liar sumatera ditemukan mondar-mandir di seberang kampong tetangga. Gajah-gajah itu berasal dari Taman Nasional Bukit Tiga Puluh.

Ada hal yang membuat hatiku gembira terhadap kejadian diatas walaupun pada kenyataannya membawa petaka dan juga mendebarkan jantungku. Aku senang ternyata binatang liar masih tersisa di kampungku. Belum semuanya punah atau hilang karena desakan tangan dan perut manusia. Padahal beberapa tahun ke belakang ini aku sudah pesimis dengan kehidupan binatang-binatang liar yang semasa aku kecil dulu hidup bebas tanpa ada yang mengganggu.
Aku ingat betul ketika masa-masa pra sekolah dan masa sekolah dasar di kampungku, Teluk Langkap. Kala itu kampungku kaya sekali dengan berbagai macam binatang liar yang hidup rukun damai dengan warga desa. Burung murai yang berwarna hitam putih itu terbang bebas kesana kemari di sepanjang kampong tanpa diusik oleh manusia. Kadang bahkan mereka bersarang di bawah atap rumah penduduk dengan tenang.

Begitu juga dengan burung-burung yang lain. Buruh serindit acapkali kujumpai berombong-rombong hinggap di pohon kelapa. Mereka berkicau dan menari-nari disana dengan bebas. Menikmati alam yang sejatinya juga diciptakan Tuhan buat mereka bukan semata-mata untuk manusia.
Warna burung serindit amat khas yaitu hijau merah, membuat burung ini amat indah untuk dipandang. Terlebih ukuran mereka yang mungil itu. Semakin menjadikan mereka burung favoritku semasa kecil.

Ada lagi burung betet. Sekilas burung betet tampak sama dengan serindit. Warna mereka serupa yaitu didominasi oleh warna hijau. Bentuk paruh mereka pun mirip. Tipikal burung pemakan biji. Tapi bagiku perbedaan mencolok antara burung betet dan serindit terletak pada ukuran. Tubuh betet lebih berisi dibandingkan badan serindit.

Ada banyak lagi burung-burung lainnya yang dulu hidup bebas di kampungku; burung puyuh, belibis, ruak-ruak, punai, dan aneka macam burung berebah.
Masa kecilku tidak hanya ditemani oleh burung-burung kecil nan elok mempesona tetapi juga dibesarkan oleh sungai yang terpanjang di pulau Sumatera yaitu sungai Batanghari. Waktu itu Batanghari adalah teman terbaikku. Saban pagi dan petang aku menyelam di dalamnya atau bermain kejar-kejaran di pulau bungin yang membentang di tepinya. Jika sedang surut, air Batanghari di kampungku amatlah jernih. Ikan-ikan yang ada di bawah jamban (tempat mandi yang terbuat dari balok kayu dan papan) dapat dilihat dari sela-sela papan.
Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah aku mandi dulu di Batanghari. Begitu juga dengan siswa dan masyarakat lainnya di kampungku. Semuanya mengandalkan Batanghari untuk bersih-bersih. Yang paling aku sukai dikala mandi pagi adalah suasana ramai yang tersaji. Di seberang kampungku masa itu masih banyak pohon-pohon menjulang tinggi yang usianya ratusan tahun. Hutan hujan itu terhampar luas hingga ke Taman Nasional Bukit Tiga Puluh yang dimiliki oleh provinsi Jambi dan Riau. Dari dalam rimba itulah suara ribut itu berasal. Kumpulan siamang, ungka, dan kera hutan saling bersahut-sahutan seolah ada hal yang tidak beres yang mereka perdebatkan. Mereka selalu melakukannya setiap pagi. Rutin. Tak pernah berhenti.
Tapi semuanya kini cuma tinggal kenangan. Dalam kurun waktu lebih kurang 10 tahun saja segalanya berubah drastis tepatnya ketika Indonesia memasuki zaman reformasi tahun 1999. Era yang juga disebut era demokrasi itu telah berkontribusi terhadap membisunya kampungku oleh sebab tiada lagi burung yang bernyanyi, ungka yang berteriak di pagi hari, dan keruhnya sungai Batanghari. Burung-burung tak lagi leluasa hinggap diranting sebab manusia sudah tau nilai rupiah dari keindahan suara dan corak mereka. Ungka sudah kehilangan pohon untuk bertengger dan Batanghari sudah menyandang nama baru sebagai kolam lumpur terpanjang di Sumatera.
Apa sumbangsih demokrasi atas semua ini? Era demokrasi disebut juga dengan zaman kekuasaan rakyat. Dalam system ini rakyat berada di posisi teratas yang perlu diutamakan. Tak salah memang, semenjak bermulanya zaman ini awal 2000an rakyat di daerahku benar-benar berkuasa. Hutan di kecamatanku, kecamatan Sumay, yang luasnya minta ampun itu dalam rentang waktu sekitar 6 tahun saja (1999-2005) habis tak berbekas. Semuanya karena rakyat Sumay pada khususnya dan Tebo pada umumnya ‘berkuasa’ penuh atas pohon-pohon raksasa berusia ratusan tahun itu. Maka jangan heran dalam periode ini rakyat di Tebo, khususnya mereka yang tinggal di sepanjang sungai Batanghari, tidak mengenal yang namanya kekurangan rupiah. Duit sudah ibarat kertas saja pada masa itu. Hampir setiap rumah parkir mobil truk pengangkut balok. Paling sedikit satu unit. Bahkan banyak yang punya lebih dari tiga.

Sebelum era demokrasi masyarakat di kampungku masih takut-takut untuk membabat hutan. Di zaman Suharto Mereka hanya menjadi penonton menyaksikan tronton-tronton membawa balok kayu di seberang kampong kemudian ditarik pakai ponton ke hilir sungai.
Kegiatan perusahaan besar itu bertujuan untuk ‘pembangunan’ Indonesia. Entah apanya yang dibangun dan dimana pembangunan itu hanya penguasa orde barulah yang paham. Yang jelas kampungku dulu begitu-begitu saja. Tidak ada kemajuan yang berarti. Orang-orangnya pun masih setia dengan kemiskinan.
Runtuhnya orde baru dan bermulanya zaman demokrasi tidak membuat hutan di Tebo aman dari keserakahan. Malahan zaman demokrasi lebih ganas lagi. Zaman Suharto hanya beberapa perusahaan yang beroperasi. Zaman demokrasi? Masyarakat sekabupaten Tebo plus mereka yang datang dari kabupaten lain yang turun tangan. Semuanya berkolaborasi antara rakyat jelata, aparat keamanan, dan aparat pemerintahan. Masa itu setiap kampong penuh dengan tauke balok. Kalung dan gelang mas anak istri mereka besar bukan main. Pernikahan pemuda pemudi anak tauke dirayakan besar-besaran. Sampai menyewa organ tunggal atau band dari Palembang atau Padang ke kampong. Peduli apa tentang biaya cataran yang mahal. Sebab sekali lagi, uang bukan masalah bagi para tauke itu. Bahkan ada tauke di kampongku merayakan pernikahan anaknya tujuh hari tujuh malam!
Kejayaan masyarakat di daerahku berimbas juga terhadap kehidupanku di tanah rantau. Temanku di pesantren As’ad selalu tidak percaya kalau ayahku tidak punya mobil. Banyak mereka yang bilang mustahil orang Tebo tidak punya mobil. Meskipun aku sudah menjelaskannya sekuat tenaga tapi mereka tetap tidak percaya. Bagi mereka orang Tebo semuanya kaya termasuk ayahku. Mereka tidak salah jika definisi kaya adalah orang yang tidak kekurangan duit. Saat itu meskipun ayahku tidak punya mobil sendiri tapi ayahku juga seorang tauke balok. Walaupun tidak begitu massif sebab Ayah hanya menebang kayu yang terdapat di belakang kebun karetnya. Plus, ayah juga punya bisnis damar dan rotan yang dia beli dari suku anak dalam.
Tahun 2005 keatas perekonomian di daerahku mulai lesu. Hutan habis. Mata pencaharian tiba-tiba menghilang. Dan, secara perlahan pula para tauke balok bangkrut. Untuk mensiasati agar dapur tetap mengepul, masyarakat di daerahku kembali ke profesi mereka semula yaitu berkebun. Ada yang buat kebun sawit banyak juga yang menyadap karet lagi.
Sebagai tambahan, ada lagi satu mata pencaharian baru. Entah dari mana ide itu datang, masyarakat tepian sungai Batanghari menemukan sesuatu yang tak tersentuh dari sungai Batanghari. Mereka membuat rakit yang dilengkapi dengan mesin diesel yang kemudian digunakan untuk mengeksploitasi emas yang ada di dasar sungai Batanghari. Tapi amat sangat disayangkan aktifitas yang disebut ‘dongfeng’ itu justru merusak ekosistem sungai. Air menjadi keruh bak lumpur dan tercampur air raksa. Hasil sedotan mesin dongfeng membentuk pulau-pulau buatan yang mengganggu aliran sungai. Kondisi ini tentu saja merugikan warga yang sehari-harinya menggunakan Batanghari sebagai sumber air minum dan keperluan bersih-bersih. Bukan itu saja, air raksa yang menyebar di sungai berbahaya bagi kesehatan.

Aku sendiri sangat prihatin setiap kali pulang kampong melihat kondisi air sungai Batanghari yang mengenaskan itu. Tak bisa lagi kunikmati menyelam di dalamnya atau melihat udang yang bersembunyi di dalam pecahan balok kayu jamban. Air Batanghari tak ubahnya seperti air lumpur yang berbau serta lengket di badan. Walhasil, setiap kali berjalan ditepi Batanghari aku hanya bisa mengurut dada. Kutahan hasratku untuk berenang sebagaimana yang biasa aku lakukan ketika kecil dulu. Hatiku menangis, batinku merintih.
Hampir bisa kupastikan kalau kejernihan Batanghari seperti pada masa kecilku dulu takkan terulang kembali. Sepanjang aku hidup sampai aku mati, kalau keadaan yang merusaknya tidak berubah, air Batanghari tidak akan kembali ke kejayaannya di masa lalu dimana permukaannya mengkilap bila diterpa cahaya matahari. Kalaupun ada perubahan, keadaannya tidak akan sejernih dulu sebab hutan telah habis, sungai-sungai kecil sudah banyak yang mengering akibat aktifitas perkebunan, dan kegiatan dong feng yang sudah merambah ke anak sungai. Malang nasib anak cucuku kelak…
Sebenarnya sudah ada peraturan pemerintah mengenai dong feng. Sudah ada juga aparat yang turun merazia. Tapi apa hendak dikata, demokrasi menjanjikan kekuasaan di tangan rakyat. Rakyat amat berkuasa melawan aparat. Salah-salah sedkit mereka akan demo dan bertindak anarkis. Di sarolangun beberapa waktu silam contohnya, razia dong feng sampai meregang nyawa. Bukankah ini mengerikan? Rakyat tidak mau lagi diatur karena mereka sudah merasa berkuasa. Aparat pun kadang enggan bertindak tegas. Sebab banyak dari mereka yang juga ikut mencicipi manisnya uang hasil dongfeng.
Kerusakan alam di daerahku tidak menyisakan apapun kecuali kemiskinan yang semakin nyata. Tak kutemui lagi wajah-wajah yang dulu sumringah karena dompet tak pernah tipis rupiah. Tak ada lagi perlombaan pembangunan rumah-rumah mewah yang biasanya terjadi. Para tauke sudah banyak yang melarat. Yang bukan tauke jangan ditanya lagi. Hidup mereka morat-marit. Tanah, kebun, aset keluarga telah terjual atau tergadai ke bank. Bahkan ada yang kembali berbalok (menebang hutan) dengan mencuri balok di hutan lindung di sekitaran Taman Nasional Bukit Tiga Puluh.
Ironisnya lagi, kini batang durian pun sudah mulai jarang ditemukan sebab sudah habis ditebang untuk dijadikan balok. Banyak orang tidak tau lagi harus berbuat apa untuk menghasilkan rupiah. Harga karet sudah lama anjlok. Kebun sawit tidak semuanya punya. Selama ini pun mereka sudah terbiasa bergantung kepada alam. Mau duit tinggal menebang hutan. Ketika hutan itu habis mereka mulai merongrong kebun durian yang dulu ditanam oleh nenek moyang mereka. Praktis, generasi Tebo mendatang akan sulit mencicipi buah durian sebab batangnya sudah habis ditebang. Paling mereka akan beli. Itupun kalau ada duit. Jika tidak punya duit, positif hanya menelan air liur saja.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, jika boleh saya berpesan, saya mengajak seluruh generasi muda Tebo khususnya yang sudah dan sedang mengenyam pendidikan tinggi untuk membuka mata. Kita adalah generasi yang beruntung bisa mencicipi bangku kuliah. Tidak sama dengan banyak pendahulu kita yang hanya tamatan SD saja. Atas semua anugerah ini wajib hukumnya bagi kita untuk bersyukur. Bagaimana cara mensyukuri nikmat belajar ini? Caranya adalah dengan sungguh-sungguh menuntut ilmu. Jangan asal kuliah saja. Harus menjadi sarjana yang berkualitas setelah lulus nanti. Dan, yang paling penting lagi adalah kita mesti menjadi sarjana yang menghargai kekayaan alam. Bumi ini bukan milik kita sendiri. Allah menciptakannya juga untuk makhluk lain. Alam ini juga bukan untuk kita rusaki. Tetapi untuk kita rawat kelestariannya. Itulah tugas kita sebagai khalifah yang ditunjuk langsung oleh Allah swt.
Dunia selepas tamat kuliah itu kejam, kawan. Kita ini ibarat anak ayam yang saling berebut makanan yang secuil. Bila tidak sigap maka siap-siaplah kelaparan. Apa yang bisa kita andalkan lagi. Ijazah saja? Sudah banyak ijazah para pendahulu kita yang tidak ada gunanya. Jangan ditambah lagi. Hutan? Tidak ada lagi yang bisa ditebang kecuali tiang rumah datuk buyut kita. Sungai? Ah, rasanya terlalu rendah bila seorang sarjana kerjanya hanya memasang pukat di Batanghari untuk mencari ikan seekor dua. Jadi apa yang perlu disiapkan? Ada dua. Yang pertama ilmu dan yang kedua jaringan.
Rajin-rajinlah dalam belajar. Tekankan dalam diri bahwa seusai tamat nanti kita harus menjadi seorang sarjana yang betul-betul menguasai bidang yang kita tekuni. Bukan sekedar menyandang gelar saja. Soal jaringan, harus rajin-rajin membangun komunikasi dengan orang lain. Bertemanlah dengan siapapun selagi itu tidak membawa hal buruk terhadap diri kita. Usahakan juga berteman dengan orang-orang yang punya pikiran maju dan networking yang luas.
Kukang, burung-burung, dan binatang-binatang liar lainnya sudah tak banyak lagi di kampungku. Mereka telah punah oleh sebab tangan-tangan jahil yang tidak memikirkan anak cucu. Batanghari dan hutan pun demikian. Kejayaan keduanya hanya tinggal cerita pengantar tidur, sebuah hadiah besar dari kekuasaan penuh rakyat yang berlindung dibawah payung bermerek demokrasi.
Kabupaten Tebo sebentar lagi mengadakan pemilihan raja daerah. Ada dua kubu yang siap bertarung yaitu kubu HaHa dan kubu SuSah. Meskipun tidak ada kaitannya sama sekali, tetapi izinkan saya meminjam slogan luar biasa kedua pasang calon itu sebagai penutup tulisan ini. HaHa bisa dikatakan mewakili tawa orang tua kita di zaman berbalok dulu yang riuhnya kini sudah hilang. Sedangkan SuSah adalah hadiah dari tawa HaHa itu untuk kita dan generasi setelah kita. Ke-SuSah-an ini tidak akan berkesudahan bila kita tidak bangun untuk memperbaiki diri. Jadi, Berubahlah, kawan!

No comments:

Post a Comment