Thursday, December 15, 2016

Bukankah dunia ini terlalu membosankan bila semuanya seragam?


“Take it off! This is America!” teriak Gill Parker Payne, seorang pria asal Gastonia, North Carolina kepada seorang wanita yang duduk di kursi barisan depan pesawat. Kapal terbang yang ditumpangi oleh laki-laki dan perempuan tersebut sedang bersiap-siap untuk terbang dari Albuquerque, New Mexico ke Chicago menggunakan maskapai penerbangan Southwest Airlines.[1]
“My sister in law got spat on and punched in the face at a grocery store while carrying my nephew in London Ontario” cuit seorang pria asal Kanada di akun Twitternya.[2]
“Now my niece is too frightened to even go back into town” keluh Tayyib Nawaz. Tayyib merasa terpukul atas tragedy yang menimpa keponakan perempuannya yang masih berusia empat tahun di pusat kota Worcester, UK. Seorang pria tak dikenal mendekati anak tak bersalah itu dan mengusapkan benda mirip kotoran manusia ke wajahnya.[3]

Perlakuan tidak manusiawi terhadap dua perempuan dan satu anak kecil diatas dilatarbelakangi oleh sesuatu yang melekat di badan mereka: hijab. Berita buruknya adalah, kasus tersebut hanya sebagian kecil yang muncul ke publik dari sekian banyak pelecehan yang terjadi yang luput dari perhatian awak media. Dunia ini terlalu besar dan jumlah jurnalis tidak sepadan dengan penghuninya sehingga tidak semua perbuatan nista terhadap wanita muslim gara-gara berhijab bisa di dokumentasikan.

Sepintas, terlihat aneh selembar kain yang melekat di badan seseorang menyebabkan si pemakainya menjadi target kebencian bahkan kekerasan. Dasar kainnya dasar biasa, terbuat dari benang, sama dengan dasar baju yang dipakai oleh semua orang. Penggunaan kain itu pun tidak mengganggu orang yang ada di sekitar. Lantas, mengapa banyak yang tidak suka?

Harus diakui, bukan selembar kain bernama hijab itu yang dipermasalahkan, tetapi nilai yang menganjurkan penggunaannya yaitu Islam. Kebencian terhadap hijab lahir karena kebencian terhadap islam. Dan kebencian terhadap islam menyebabkan banyak wanita islam yang berhijab menjadi target pelampiasan kebencian dalam bentuk hinaan juga kekerasan.

Sebenarnya hijab tidak hanya  dipakai oleh wanita islam saja. Wanita-wanita dari agama dan kepercayaan lain juga banyak yang memakai pakaian yang menutup kepala itu. Biarawati kristen, wanita sekte Kristen Coptic, wanita hindu, wanita Sikh, dan wanita Yahudi ortodoks[4] adalah sebagian kecil contohnya. Semua dari wanita tersebut berpakaian demikian karena mereka ingin menjalankan perintah agama mereka, sama halnya dengan wanita muslim yang memakai hijab semata-mata ingin mempraktekkan apa yang tertulis di dalam Al Quran.

Anehnya, wanita-wanita ‘berhijab’ dari agama dan kepercayaan lain diluar islam tidak mengalami pelecehan sebagaimana yang menimpa wanita-wanita islam. Tidak ada yang merasa terganggu dengan kehadiran mereka padahal pakaian yang melekat pada mereka juga menutupi kepala. Semakin jelaslah bahwa yang dianggap ‘biang kerok’ itu bukanlah hijab tetapi islam.

Api permusuhan terhadap islam semakin menyala setelah beberapa tokoh politik di dunia barat ‘menyiramnya’ dengan minyak. Masih segar dalam ingatan retorika politik calon presiden USA dari partai democrat, Donald Trump, yang hendak melarang muslim masuk ke amerika.[5] Di britania raya, berdasarkan hasil survey yang diadakan oleh Islamic Human Rights Commission (IHRC), lebih dari dua pertiga dari total 1.780 responden mengungkapkan bahwa mereka pernah mendengar komentar anti islam dari para politikus. Bukan itu saja, separoh dari mereka mengaku bahwa para politikus sengaja membiarkan tindakan-tindakan berbau islamophobia terjadi.[6] Perlakuan tidak adil terhadap muslim ini merupakan sebuah gambaran betapa islam masih dipandang sebagai lawan bukan kawan. Masih dinilai sebagai sumber masalah bukan bagian dari solusi.

Di seantero benua eropa Islam masih dilihat sebagai ideology yang tidak menyenangkan. Di jerman misalnya, 47% rakyat jerman di haluan politik kanan masih melihat muslim dengan kacamata negative. Pandangan yang sama juga berlaku di banyak negara eropa yang lain dari Hungaria sampai Britania. Dari Swedia sampai Italia. Bahkan di negara-negara eropa timur pandangan negative terhadap muslim sudah mencapai lebih dari 60 per sen.[7] Lagi-lagi, ketidaksukaan terhadap muslim ini bukan didasari oleh muslim itu sendiri sebagai manusia tetapi lebih kepada agama islam yang dianut oleh muslim tersebut. Sebagaimana yang pernah diutarakan oleh seorang politisi negara Belanda, Geert Wilders, beberapa tahun yang lalu:  'I have a problem with Islamic tradition, culture, ideology. Not with Muslim people.'[8]
Permasalahannya adalah muslim dan islam tidak bisa dipisahkan sebab seseorang dikatakan muslim karena dia menganut agama islam. Artinya, ketidaksukaan terhadap islam sama saja tidak menyukai pemeluknya yaitu muslim. Maka tak heran bila muslim menjadi target segala macam bentuk diskriminasi dan kekerasan yang lahir dari islamophobia ini. Dan korban yang paling beresiko terkena dampak islamophobia tentu saja wanita muslim sebab identitas keislaman mereka, yaitu hijab, tidak bisa disembunyikan dari pandangan mata. Sebagaimana yang dilaporkan oleh Tell Mama, sebuah organisasi yang memonitor kekerasan berbentuk Islamophobia, wanita muslim adalah yang paling sering mengalami kekerasan dan pelecehan di jalanan.[9]
Hijab yang dikenakan oleh wanita muslim masih dianggap sebagai symbol ideology yang bermasalah bagi banyak kalangan sehingga banyak wanita muslim yang menjadi target utama diskriminasi, pelecehan, dan kekerasan. Islamophobia yang menyebar di amerika dan eropa mesti dikikis dari kehidupan sebab sebagai agama, islam sama saja dengan agama dominan lainnya di eropa dan amerika, yaitu agama yang menghargai perbedaan. Bukankah dunia ini terlalu membosankan bila semuanya seragam?




No comments:

Post a Comment