Friday, September 30, 2016

“Do You Ever Ride the Bus Before?”


Jalanan dimukaku masih lengang. Belum banyak kendaraan lalu lalang. Diatas sana burung-burung terbang bebas kesana kemari sambil bersahut-sahutan. Kicauannya terdengar seperti sepasang kekasih yang sedang berbalas pantun tentang cinta. Kedua tanganku yang berpenampilan seperti penjaga gawang sepak bola bersembunyi di dalam kantong jaket mencari kehangatan. Leherku terlilit sorban biru merah dengan dua lapis baju dibawahnya. Di ufuk timur sang surya terlihat masih malu malu untuk menampakkan wujud. Angin bertiup sepoi-sepoi menusuk hingga ke sum-sum. Arizona bersiap menyambut tamu tahunannya, musim dingin.

Aku tundukkan kepala ke lengan kiriku yang dililit arloji merek Q&Q. Jangan tanyakan padaku apa kepanjangannya atau dari negeri mana ia berasal karena aku juga tidak paham. Yang pasti, di pagi yang udaranya laksana kulkas ini kacanya berembun dengan buliran-buliran air di dalamnya. Mungkin sisa kena hujan tadi malam. Atau karena keseringan kumandikan ketika berwudhu. Entahlah. Bola mataku menyelinap di sela-sela butiran-butiran sumber kehidupan yang salah tempat itu. Satu jarumnya mengekor diantara angka 5 dan 6 sedangkan saudara tuanya memimpin di angka 6. Kusimpulkan aku memang kepagian.

Jam tangan yang aku beri nama si hitam ini memiliki riwayat yang patut untuk dikenang. Disamping statusnya sebagai jam tangan pertama yang aku pakai di usia dewasa, tempat akuisisinya pun jauh dari Jambi. tepatnya di Kota Makassar. Kala itu aku lagi mondar-mandir di depan kedai-kedai pasar malam dalam lingkungan kampus Universitas Muslim Indonesia. Kampus UMI memang dipenuhi para pedagang sejak beberapa malam sebelumnya mengingat acara Musabaqah Tilawatil Quran tingkat mahasiswa sudah mendekati detik-detik akhir. Para pedagang menjual berbagai macam barang, dari gantungan kunci khas MTQ sampai handuk dan baju batik yang tidak ada hubungan sama sekali dengan ajang tahunan mahasiswa ini. Pedagang memang kreatif dan oportunis dalam mengumpulkan rupiah. Semangat ini tertulis jelas di sebuah baju kaos khas Ranah Minang yang pernah kulihat “dimana bumi dipijak, disitu pitih mangalia” alias dimana bumi dipijak disitulah uang mengalir. Cerdas.

Aku mampir ke sebuah kedai baju batik khas Solo dengan harapan kudapatkan satu yang bagus buat ayahku. Tengah asyiknya membongkar tumpukan baju aku dibuat penasaran oleh kedai sebelah kiri sana. Terdapat banyak orang setengah rukuk mengerumuni seorang pedagang. Setelah kupandangi dengan teliti melalui sela-sela tubuh yang tengah terbungkuk itu tertebuslah rasa penasaranku. Ternyata sang pedagang menjual jam tangan. Karena tidak mau ketinggalan aku langsung meraih satu batik berwarna hijau lalu membayarnya.

Aku bangkit dan bergegas mendatangi kerumunan itu. Ada juga sisi positif dari tubuh kurusku yang selalu menjadi keluhan orang-orang karena tak berdaging. Setidaknya malam ini. Tanpa halangan berarti badan tipisku dapat dengan mudah menyelinap ke dalam dan berada di garda terdepan. Tepat di hadapan si pedagang. Sang pedagang sedang komat-kamit penuh semangat memuji koleksi jam tangannya. Dibantu dengan sebuah mikrofon yang berbungkus kain hitam, nada suaranya terdengar lantang. Mendayu-mendayu khas Sumatera, tepatnya Sumatera Barat.

Kupelototi jam tangan berbagai merek yang berjejer didepanku satu persatu. Semuanya bagus dan mengkilap. Ditengah keraguan, kutetapkan pilihan kepada sebuah arloji hitam yang duduk manis di barisan nomor dua dari bawah. “yang itu berapa pak?” tanyaku sambil mengarahkan telunjuk ke target. “Oh kalau yang ini mahal. Anti air soalnya” si bapak tampak agak bersusah payah merengkuh arloji yang kumaksud sebelum menyodorkannya kepadaku. “yang ini kalau kena hujan tidak mati. Bisa juga dibawa berwudhu tanpa harus dilepas” ujarnya dengan menunjuk-nunjuk kaca si hitam. Nada suaranya sangat meyakinkan. Agaknya si bapak sangat berpengalaman dalam membaca raut muka pelanggan. Diambillah segelas air dari balik barang dagangannya yang memang telah disiapkan untuk situasi seperti ini. “ini saya celupkan ya” tanpa ragu dia memasukkan si hitam kedalam gelas. “Tu kan tidak mati?” tambahnya dengan ekspresi wajah seorang prajurit yang menang perang. Tidak lama memang si hitam tercebur, hanya beberapa detik saja. Tapi itu sudah cukup meyakinkanku akan ketangguhannya. Setelah tawar menawar harga akhirnya sepakatlah kami pada satu angka. Aku keluarkan selembar kertas biru bergambar I Gusti Ngurah Rai dan Pura Ulun Danu Bratan di kedua sisinya dari dompet kulit merek Levi’s 501 yang tempo hari Aku beli di pasar loakan sebagai penebus si hitam. Nominal 50.000 itulah yang menyatukanku dengan si hitam hingga kini.

Hawa Kota Tempe terasa kian kejam. Seumur-umur belum pernah aku merasakan dingin seperti ini. Mungkin inilah alasan mengapa orang-orang yang tinggal di bagian paling utara dan selatan planet bumi menganggap musim dingin sebagai musim yang kurang menyenangkan. Di musim dingin mereka harus berpakaian super tebal lengkap dengan sepatu kulit, sarung tangan, syal, dan penutup kepala. Aktifitas di luar rumah pun terpaksa harus dikurangi. Maka tak heran jika banyak turis-turis yang suka berjemur di pantai-pantai menikmati hangatnya sang mentari. Suatu kebiasaan yang dianggap tidak wajar bagi sebagian orang-orang dari negara beriklim tropis.

Kudongakkan kepala lalu kuhembuskan nafasku ke udara. Karbondioksida yang keluar dari rongga mulutku terlihat seperti asap. Persis seperti yang selama ini kulihat di film-film. Kuulangi lagi beberapa kali. Ada kenikmatan tersendiri melihat kepulan-kepulan putih yang dihasilkannya. Sebuah sensasi yang semula hanya ada dalam mimpi.

Tengah asyiknya bermain-main dengan asap buatanku, aku merasa ada kehadiran sesuatu. Tepatnya di belakangku. Kuputarkan kepala untuk memastikan firasat ini. Benar saja. Sesosok makhluk Tuhan bertubuh mungil sedang berdiri kira-kira satu meter dari tempat aku duduk. Mataku liar meneliti perawakannya yang masih samar karena ditutupi kabut pagi. Ternyata dia seorang wanita paruh baya. Dari postur badannya tampak jelas kalau dia berasal dari daratan yang jauh dari Amerika, Asia. Mungkin dari Filifina. Si ibu tampak kedinginan. Tepatnya menggigil. Disilangkannya kedua tangannya yang juga terbungkus di dada. Jaket tebal yang dia pakai seolah tak kuasa membentenginya dari serangan kejam angin Kota Tempe. Kulemparkan senyum kecil kearahnya. Dia pun membalas.

Sepasang sinar lampu terlihat samar menerobos gelap merayap perlahan ke arahku. Raungannya merengek sendu seperti anak kecil kehilangan mainan. Seketika sebuah benda panjang tiga pintu bertuliskan Valley Metro di badannya berhenti tepat dihadapanku. Bus yang sedari tadi aku tunggu-tunggu datang juga. Sesuai jadwal yang ditempel di tiang di belakang tempat aku duduk, bus ini on time. Pas tibanya jam 6.30. Tidak kurang tidak lebih.

Aku sandang kembali tasku ke bahu bergegas berjalan menuju pintu terdekat. Pintu tengah. Sedangkan ibu tadi memilih masuk melalui pintu depan. Kuulurkan kedua tangan ke muka untuk membuka pintu bus. Keras. Kucoba lagi dengan dorongan yang lebih kuat. Tetap tidak berhasil. Kali ini aku tekan dengan segenap kekuatan. Namun gagal lagi. Antara pasrah dan penasaran aku mundur beberapa langkah ke belakang. Kulemparkan pandangan ke dalam bus mencari jawaban.

Beberapa orang di dalam bus terlihat memaju mundurkan telunjuk. Isyarat mereka cukup jelas untuk aku tangkap. Mereka seolah berkata agar aku masuk lewat pintu depan. Tanpa pikir panjang aku pun menuju pintu paling muka. Kembali cara tradisional membuka pintu dengan cara mendorong kupraktekkan. Persis seperti yang aku lakukan sebelumnya. Namun kali ini harapanku pintunya tidak macet seperti pintu tengah tadi.

Mujur tak dapat di raih malangpun  tak dapat ditolak. Usahaku membuka pintu berakhir sia sia. Yang ada aku jatuh tertelungkup. Rupanya pintu bus ini pintu otomatis. Bisa terbuka sendiri. Aku tidak perlu mendorongnya kedalam agar bisa masuk.

Kudengar cekikikan tawa menggema. Tak sanggup rasanya mengangkat muka yang terlanjur malu. Namun mustahil pula selamanya tersungkur disini. Dengan susah payah kucoba tegak. Kukibas-kibaskan baju dan celana tanpa alasan yang jelas. Mungkin sudah terlalu grogi sehingga tidak tau lagi harus berbuat apa. Tak lupa kutawarkan senyum hambar kepada pak supir sebelum merangsek ke lorong bus mencari tempat duduk yang kosong.

Aku duduk dibangku nomor dua dari depan leretan sebelah kiri. Sengaja kupilih bangku ini walaupun banyak tempat duduk lain yang kosong. Tujuanku jelas. Aku menghindari duduk di belakang khawatir kalau kalau ada yang bertanya dari negara mana aku berasal.

Riuh tawa tadi telah musnah. Orang-orang disekitar tempat dudukku pun tidak lagi melirik geli. Kusandarkan punggungku di kursi bus yang empuk. Lega rasanya. “Pak supir ayo kita berangkat ke kampus Arizona State University!” aku memberikan komando dari dalam hati.

Belum lagi hilang dengung bisik perintahku, pak supir yang berkumis tebal dengan kaca mata hitamnya itu bersuara. Tidak jelas apa yang diucapkannya. Hanya orang-orang disekitarku kembali mendorong-dorong telunjuknya ke depan.

“Ada apa lagi ini ya?” aku bingung tak karuan. Dengan perasaan gugup plus penasaran aku tinggalkan kursi empuk tadi. Kupaksakan kakiku melangkah ke depan menemui pak supir. “Where’s your card” sergapnya dengan gaya bicara bak seorang polisi. “card?” balasku cemas. “yes, your card!” tangan kanannya terlihat seperti memegang sesuatu yang dikibas-kibaskan ke udara.

Karena aku tidak tahu kartu apa yang dimaksud oleh pak supir, aku keluarkanlah dompet tahan bakarku. Aku ambil segepok kartu nama koleksiku. Termasuk beberapa kartu yang diberikan oleh Amy Jordan, koordinator program beasiswaku kemarin. “I’ve got lots of cards and I don’t know which one you meant” aku menyodorkan semua kartu itu kehadapannya. Dengan liar matanya memelototi kartu yang ku tebar satu persatu. “That one!” telunjuknya mengarah ke sebuah kartu warna krem dengan gambar kaktus khas Arizona di tengahnya. Tanpa banyak bacot lagi langsung saja kusodor kartu itu.

Anehnya pak supir itu tidak mau menerimanya. Sebaliknya dia menyuruhku untuk memasukkan kartu itu ke dalam sebuah kotak besi berbentuk segi empat panjang yang berdiri disampingku. Makin bingung aku jadinya. “put it in there” perintahnya. Namun tak ku gubris. Bukannya bangkang. Aku betul-betul tidak tahu mengapa dan bagaimana kartuku harus dimasukkan ke dalam kotak besi penuh tombol itu. Akhirnya dengan wajah memelas tanda menyerah aku sodorkan kembali kartuku kepadanya. Untunglah ternyata pak supir kasihan juga denganku. Diambilnya kartuku dan dimasukkan olehnya ke dalam kotak segi empat itu. Terlihat olehku kotak tersebut menelan kartuku. Berderit-derit bunyinya. Untunglah mesin itu tidak menelannya permanen sebagaimana yang dilakukan oleh sebuah ATM kepada kartu tanda mahasiswaku dulu. Mungkin trauma itulah yang membuatku menjadi bahan tertawaan lagi di bus ini.

Mesin itu sudah memuntahkan kembali kartu yang masuk ke perutnya tadi. Kartuku masih utuh. Pertanda mesin itu tadi tidak bermaksud jahat. Pak supir yang sedari tadi sudah tidak sabar menginjak pedal gas berucap kepadaku. “Do you ever ride the bus before?” dengan penuh rasa terima kasih kujawab “no sir, thank you very much for your help” bus pun mengeluarkan aumannya kembali bergerak menyusuri jalanan Kota Tempe yang mulai dipadati kendaraan. 


No comments:

Post a Comment