Monday, June 20, 2016

Percayalah, Mereka Manusia, Sama Seperti Kita


Seorang anak kecil menangis pilu disisi mayat kakak laki-lakinya. Tangan anak itu tak henti-hentinya mengais jenazah si kakak seolah tak percaya kalau saudara kandungnya itu sudah tak lagi di dunia ini.

Sementara itu, seorang ayah berdiri panik di kamar mayat. Matanya basah, wajahnya sembab. Di hadapannya terbaring kaku tak bernyawa sang buah hati belahan jantung, anak laki-laki penerus nasab keluarganya.

Di bagian lain, segerombolan manusia berlari tak tentu arah di antara puing-puing bangunan yang berasap. Mereka melarikan diri dari kejaran maut ciptaan manusia, mereka berlari untuk menyelamatkan nyawa diri dan keluarga. Mereka berlari dari keserakahan kekuasaan para penguasa.

Pemandangan diatas bukanlah penggalan cerita dari sebuah buku dongeng. Ia nyata sebagaimana yang terekam dalam sebuah video yang beredar di internet. Hanya saja kita tidak begitu mengetahuinya sebab kita tidak tinggal di Syiria. Andai kita ditakdirkan menjadi orang Syiria, barangkali wajah-wajah lemah tak berdaya karena kehilangan orang-orang tersayang, atau mayat-mayat tak berdosa yang terbaring di ranjang rumah sakit itu, adalah muka-muka kita atau tubuh anggota keluarga kita sendiri.

Air mata masyarakat Syiria telah lama tertumpah untuk alasan yang tidak mereka ketahui. Entah dosa apa yang mereka perbuat atas penguasa dunia hingga dengan kejinya menjatuhkan bom-bom perang ke atap-atap rumah mereka. Entah kesalahan apa yang telah mereka perbuat sampa-sampai pesawat tempur super canggih terus-terusan mengarahkan moncong rudalnya ke arah sekolah-sekolah anak-anak mereka. Sudah lebih dari lima tahun mereka dijadikan target tak bersalah, tapi sampai hari ini mereka masih bertanya-tanya mengapa mereka yang menjadi sasaran empuk penguasa yang suka perang.

Serangan terhadap rakyat Syiria ibarat cerita berseri yang selalu ‘tayang’ di televisi secara reguler dari tahun 2011. Dua episode terbarunya adalah beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 16 dan 14 Juni 2016. Dua-duanya berlangsung di kota Aleppo. Episode 16 juni berlangsung hanya berselang beberapa jam menjelang diumumkannya gencatan senjata oleh Rusia. Serangan yang menargetkan pemukiman warga itu telah menyebabkan kebakaran dan tentu saja merobohkan bangunan-bangunan yang dimiliki oleh masyarakat sipil. Tidak hanya itu, serangan tiba-tiba itu dilaporkan juga merenggut 7 nyawa[1] dan melukai beberapa orang lainnya.[2]

Episode sebelumnya, yaitu episode 14 juni, lebih dashyat lagi. Setidaknya terdapat lebih dari 50 serangan udara yang membombardir rumah-rumah rakyat Syiria pada tanggal tersebut. Episode 14 juni juga berhasil menewaskan 34 nyawa dan melukai lebih dari 60 jasad.[3]  Perlu diingat, dua episode ini hanya episode terbaru. Masih banyak lagi episode-episode sebelumnya yang mungkin luput dari perhatian kita dan mustahil untuk dijelaskan satu persatu disini.

Ada pepatah masyhur yang bunyinya begini: bila dua gajah berkelahi, yang menjadi korban adalah semut-semut yang merayap dibawahnya. Mereka pasti akan mati terbenam ke dalam tanah sebab terpijak oleh gajah-gajah yang sedang diamuk amarah itu. Dalam konteks Syiria, sayangnya tidak hanya ada dua gajah yang saling adu kuat. Terdapat banyak sekali gajah-gajah lainnya yang saling sikut di seluruh daratan Syiria; Rezim Assad, Hezbollah, Kelompok Kurdish, Pemerintah Rusia, kelompok pemberontak, kelompok Islamic State, Koalisi pimpinan Amerika, Pemerintah Iran, Pemerintah Turki, Pemerintah Arab Saudi, Pemerintah Qatar, Pemerintah Jordania, Pemerintah Inggris, dan Pemerintah Perancis.[4] Diantara gajah-gajah ini ada yang bertarung langsung di lapangan Syiria dan ada juga yang berperan sebagai suporter setia gajah-gajah yang lain. Masing-masing gajah datang dengan mengalungkan banner bertuliskan ‘demi rakyat Syiria’ di dada mereka. Namun tentu saja kalung itu hanya sekedar perhiasan agar tampak gagah dan humanis di mata manusia. Kenyataannya adalah mereka tidak perduli dengan raungan tangis masyarakat Syiria. Satu-satunya yang mereka perdulikan adalah kepentingan mereka sendiri. Soal derita rakyat Syiria itu urusan rakyat Syiria bukan urusan mereka!

Terbukti, pijakan kaki-kaki mereka yang berukuran raksasa telah menghancurkan apa saja yang ada dibawahnya, tidak hanya ‘semut-semut rakyat Syiria’. Sekolah roboh, rumah sakit musnah, pipa air bocor, jaringan listrik putus, rumah ibadah hancur, perekonomian macet, dan fasilitas publik luluh lantah. Sebagaimana yang dilaporkan oleh UN commission of inquiry, semua pihak yang terlibat dalam konflik Syiria terbukti telah melakukan kejahatan perang seperti pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaan, dan penghilangan paksa. Bukan itu saja, mereka juga terbukti menggunakan metode perang yang menyebabkan penderitaan bagi masyarakat Syiria semisal memblokade akses ke makanan, air, dan layanan kesehatan.[5]

Sampai hari ini ada lebih dari 250.000 rakyat Syiria yang telah menjadi korban keganasan perang di tanah kelahiran mereka.[6] Angka yang tewas memang tidak sampai sejuta. Tapi, satu buah nyawa manusia sangatlah berarti bagi mereka yang kehilangan. Masing-masing nyawa yang terenggut adalah anak dari seorang ayah, istri bagi seorang suami, dan cucu bagi seorang nenek. Mereka semua sangat berharga karena mereka adalah simbol kebahagiaan bagi orang-orang terdekatnya. Ketika simbol itu hilang maka kehidupan orang yang ditinggalpun akan ditemani oleh isak tangis yang entah kapan akan reda.

Rakyat Syiria yang selamat dari amukan perang juga tidak bernasib bagus sebab mereka kini menjelma menjadi segerombolan manusia gelandangan, tak punya rumah lagi untuk berlindung. Jumlah mereka tidak main-main. Lebih dari 11 juta orang yang mesti angkat kaki dari tempat tinggal mereka akibat perang yang tak berkesudahan itu.[7] Jika di hitung perharinya, sejak awal mula konflik Syiria tahun 2011 lalu, rata-rata terdapat 50 keluarga yang terpaksa meninggalkan Syiria tiap harinya.[8]

Yang perlu dicatat adalah, 11 juta bukanlah sebuah angka mati yang tertulis diatas secarik kertas. Itu adalah ‘angka hidup’ yang terdiri dari manusia-manusia bernyawa persis seperti kita. Mereka memiliki mimpi, mereka mempunyai lingkungan sosial, dan mereka memiliki tempat-tempat penuh kenangan. Semuanya terpaksa harus ditinggalkan gara-gara pertarungan tiada henti para gajah haus kekuasaan itu.

Erangan tangis kehilangan akan terus menggema ke langit Syiria bila gajah-gajah yang terlibat disana masih mengedepankan ego masing-masing. Sudah saatnya gajah-gajah itu menghentikan pertarungan mereka, duduk bersama dengan kepala dingin agar perdamaian bagi masyarakat Syiria benar-benar terwujud. Bukan sekedar slogan kosong belaka. Dan, sudah saatnya bagi kita yang tidak terlibat untuk mengulurkan bantuan apa saja yang kita bisa untuk meringankan beban rakyat Syiria yang sudah 5 tahun dirundung duka. Percayalah, mereka manusia, sama seperti kita.



No comments:

Post a Comment