Friday, March 18, 2016

Hanya Malam Saja yang Tahu

“U..huk…u..huk…”

Suara batuk itu terus menggema tiada henti. Si empunya badan, Pak Dolah
menarik nafas dalam dengan tenaga yang tersisa. Namun serangan batuk itu terlalu perkasa untuk dikalahkan. Dengan tangan yang lunglai, Pak Dolah meraba gelas berisi air putih yang sedari tadi tergeletak disampingnya.

“Sudahlah duduk-duduk diluar itu Pak, dingin…” Seseorang tiba-tiba menegurnya. Suara itu berasal dari dalam rumah.

Pak Dolah memilih untuk tidak peduli. Baginya suara batinnya jauh lebih lantang dari bunyi apapun. Perang yang tak kunjung usai dalam pikirannya menyeret Pak Dolah jauh. Sejauh yang tak bisa diukur oleh dirinya sendiri. Pak Dolah tenggelam ke dalam danau kehidupan yang carut marut.  

Sudah lama  Pak Dolah memilih untuk tidak peduli. Tapi apa hendak dikata. Peduli itu datang sendiri. Duduk diteras rumahnya, menghadap kelam yang terbentang di muka, Pak Dolah mencoba menguraikan pikirannya yang kusut dengan sebatang rokok yang ada di jarinya. Rokok memang kerap menjadi teman orang-orang yang mendekati putus asa.

Dihisapnya dalam-dalam rokok itu. Matanya terpejam penuh khidmat. Sesekali dia mainkan kepulan asap rokoknya ke udara. Sehingga tampaklah bongkahan awan kecil yang samar-samar di telan gelapnya malam. Angin yang berhembus membuat kumpulan asap itu meyebar. Pecah tak berbekas. Pak Dolah hanyut terseret arus nikamat  sedotan cerutunya walaupun dengan nafas yang tersengal-sengal. Pak Dolah memang tak pandai lagi mengatur nafas dengan baik. Batuk keringnya kembali terdengar nyaring.

Pak Dolah adalah seorang laki-laki kurus kerempeng usia lima puluhan. Matanya bundar dipayungi alis tipis yang mulai memutih. Kulitnya kendor, gelap akibat sengatan sinar matahari. Bibirnya hitam terbakar, persis seperti buah sawo yang sedang matang. Jika mulutnya merekah, isinya kosong melompong. Hanya gusi yang sudah tak merah lagi yang tampak mata. Jika Pak Dolah hendak berdiri, dia harus mengumpulkan tenaga dulu. Sebab seluruh persendiannya sudah tidak  bersahabat lagi.

“Apa yang Bapak pikirkan diluar itu sendirian?” Suara tadi kembali menyahut. Namun kali ini lebih lantang. Sebab yang punya mulut melontarkannya tepat di telinga kanan Pak Dolah.

“Tidak ada yang kupikirkanx, Jah” Jawab Pak Dolah seadanya sambil menyalakan cerutu yang baru. Dipijit-pijitnya ujung cerutu itu sambil diputar-putar.

Tanpa menoleh ke seseorang dikanannya, Pak Dolah bergumam. “Kenapa kamu belum tidur, Jah?” Suara Pak Dolah kembali terdengar malas-malasan.

“Ah, bagaimana aku bisa tidur jika bapak terus-terusan begini!” Batin Ijah dalam hati. Ingin sekali rasanya ia keluarkan kata-kata itu. Namun ia urungkan niatnya karena ibunya selalu berpesan untuk berkata lemah lembut kepada suaminya. Sudah bukan rahasia bila kepala suaminya sekeras batu.

Ijah menarik nafas lalu duduk di sebelah Pak Dolah. Bau rokok Pak Dolah menusuk hidungnya.

“Ahuk….A….huk…”

Suara batuk Pak Dolah kian panjang. Kali ini ia kehabisan air untuk memulihkan tenggorokannya. Di terawangnya gelas minumnya. Tampak jelas tak setetespun air tersisa.

“Bapak mau minum lagi?” Kata Ijah sambil menggosok pundak suaminya. Pak Dolah hanya menganggukkan kepalanya tanpa menoleh ke Ijah.

“Ayo kita minum di dalam saja Pak” Bujuk Ijah lembut. Pak Dolah tak bergeming.

“Ayolah…disini sangat dingin, tidak baik bagi kesehatan bapak. Besok kan bapak kerja lagi” Dipegangnya tangan suaminya yang dingin itu hendak dibawanya ke dalam rumah.

Kalimat terakhir Ijah ini rupanya  berhasil membangunkan Pak Dolah dari lamunannya. Ia berhasil pula menghilangkan rasa nikmat rokok Pak Dolah. Ijah menarik tangan suaminya dengan lembut kemudian menuntunnya ke dalam.

“Bapak mau kopi?” Ijah menarik kursi kayu dari bawah meja, mempersilakan suaminya duduk. Pintu depan yang masih ternganga dengan cekatan dia tutup.

Pak Dolah masih tak bergumam. Dengan agak susah payah direnggutnya teko air putih yang tergeletak diatas meja. Ijah yang duduk dihadapan Pak Dolah, di seberang meja, mendorong teko itu sampai Pak Dolah bisa meraihnya. Dituangkannya air itu ke dalam gelas lalu meneguknya habis tak bersisa.

“Sudahlah…jangan terlalu bapak pikirkan kredit motor itu. Kalau memang harus di tarik orang dealer berarti hanya sampai disitu jodoh kita dengannya” Ijah mencoba menghibur Pak Dolah.
Tangannya masih saja menggenggam cangkir kopi yang sedari senja tadi ia buatkan untuk Pak Dolah. Kopi itu kini sudah dingin.

“Itulah Jah” Jawab Pak Dolah. Keresahan tampak jelas dari nada suaranya.

“Aku sayang betul dengan sepeda motorku ini. Sudah hampir tiga tahun aku bersamanya. Tak terhitung pula sudah berapa juta uang yang telah aku setor ke dealer itu. Tapi…” Suara Pak Dolah terputus tiba-tiba. Ia berusaha mengambil nafas yang dalam untuk mengontrol emosinya yang membuncah.

“Tapi kenapa mereka begitu bernafsu untuk mengambilnya dariku? Padahal tinggal empat bulan saja kredit itu. Uang yang telah kita bayar selama 2 tahun 8 bulan ke belakang ini sama sekali tidak dianggapnya.”


Ijah kebingungan bagaimana harus bersikap. Ia betul-betul tidak tahu harus berkomentar apa perihal protes suaminya itu. Sambil mengaduk-aduk kopi dingin yang ada ditangannya ia mencoba untuk merangkai kalimat. Tapi semua huruf seolah lari tak mau disatukan. Lidahnya begitu kelu untuk berucap. Tak biasanya seperti itu.

“Bapak relakan saja…mudah-mudahan akan diganti dengan yang lebih baik lagi” Akhirnya Ijah menemukan kalimat yang dia cari.

“Relakan katamu? Enak betul kau berucap Jah. Tak sadarkah kau tanah pusaka kita yang diseberang kampong itu sudah terjual karenanya? Jangan-jangan kau juga lupa dengan simpanan cincin emasmu yang juga sudah tergadai itu.

Ijah tak mampu bekata. Pak Dolah tertunduk. Ijah pun ikut. Mereka berdua sama-sama kehabisan cara untuk mengalahkan realita pahit yang sedang melanda. Pak Dolah menegakkan kepalanya tidak mau berlama-lama terlihat lemah di depan Ijah. Disandarkannya badannya ke sandaran kursi kayunya. Dilihatnya langit-langit rumahnya yang kian keropos di makan rayap. Kopi yang ada di genggaman Ijah semakin dingin. Pak Dolah tetap gagal tampil tegar.

“Jah” Pak Dolah memecah kesunyian.

“Bila besok orang dealer itu benar-benar tiba, kita kasih sajalah motor itu. Tiada guna juga kita tahan. Kita ini orang lemah. Tak paham hukum lagi. Takut rasanya Aku mesti masuk penjara di usia yang sudah tidak muda lagi ini.”

Ijah terdiam. Kepalanya semakin tertunduk ke bawah. Meja makan itupun perlahan dibasahi oleh tetesan air mata sepasang anak manusia yang pasrah menerima takdir. Suara tangis mereka tak lantang. Sedu sedan mereka tak terdengar. Hanya malam saja yang tahu akan rintihan isi rumah itu. 

1 comment:

  1. wow cerita yang menarik kak.. kalau ingin tahu tentang cara membuat toko online yukk disini saja.. terimakasih

    ReplyDelete