Friday, March 13, 2015

Jadilah Luar Biasa



Beberapa waktu lalu saya tanpa sengaja bersua dengan teman lama ketika dalam perjalanan ke tempat kerja. Teman saya tersebut berpakaian lusuh, tidak rapi dan sedikit kotor. Sontak saja saya kaget bercampur prihatin. Untuk mencairkan suasana saya berinisiatif untuk bertanya tentang pekerjaan dia saat ini. Saya serasa menelan batu ketika dengan lirih dia menjawab bahwa dia berprofesi sebagai tukang AC. 

Tidak lama berselang, ketika pulang kampung, saya disuguhkan dengan cerita yang agak mirip. Saat itu saya tengah berbincang dengan Ayah mengenai silaturahmi keluarga saya baru-baru ini ke rumah teman lama saya. Betapa saya terkejut ketika Ayah mengutarakan kalau sobat saya tersebut sekarang mata pencahariannya sebagai supir truk pengangkut tanah. Beberapa waktu setelahnya, saya terus mendapatkan kabar-kabar yang serupa. Si A bekerja sebagai kernek escavator (sejenis alat berat pengeruk tanah), si B kembali ke profesi nenek moyangnya sebagai penyadap pohon karet, si C ikut orang berbalok (aktifitas menebang kayu di hutan secara illegal), si D menjadi pekerja Dongfeng (tambang emas illegal di sungai, sawah, dll) si E menjadi pengangguran, dan seterusnya tanpa bisa lagi saya ingat.

Saya tidak mengecilkan suatu profesi. Bagi saya sejatinya semua usaha mencari rezeki itu mulia selagi tidak merugikan orang lain. Permasalahannya adalah orang orang yang telah saya sebutkan diatas itu semuanya menyandang gelar sarjana! Setiap mereka pernah berfoto dengan senyum lebar memakai toga dikelilingi oleh orang-orang tercinta. Kepala-kepala mereka semuanya pernah diisi dengan ilmu pengetahuan yang semestinya bisa digunakan untuk mengais rupiah dengan jalan yang lebih pantas. Namun apa daya, mereka telah membina, memilih, dan menjalankan kehidupan yang mereka desain sendiri sewaktu duduk dibangku kuliah.

Izinkan saya mengelompokkan manusia. Kelompok pertama adalah kelompok ‘orang biasa’ sedangkan kelompok yang kedua adalah kelompok ‘orang luar biasa’. Untuk menjadi anggota kelompok pertama sangat mudah. Jalani saja hidup ini seadanya seperti air mengalir, tanpa beban, dan tak perlu bekerja keras. Saya jamin 1000% seseorang akan diterima di dalam kelompok tersebut. Untuk mendapatkan kartu anggota kelompok ke dua sedikit membutuhkan kerja ekstra yaitu seseorang diharuskan memiliki usaha yang lebih dari orang lain. Jika dia seorang mahasiswa, dia mesti membaca buku dan belajar jauh lebih giat dari teman sekelasnya agar mendapatkan nilai lebih baik dan ilmu lebih banyak. jika dia seorang petani,  dia wajib bekerja lebih lama dan tak kenal lelah agar kebunnya lebih luas dari orang kebanyakan. Jika dia seorang politikus, dia harus lebih banyak berbohong, menebar senyum palsu sambil bagi-bagi rupiah, dan pandai berakting bak actor kawakan agar terpilih di pemilu (saya yakin anda tidak tertarik menjadi politikus ‘luar biasa’yang seperti ini). Pendek kata, organisasi orang luar biasa itu menuntut seseorang untuk tidak berlama-lama di tempat tidur.

Kalau kita menghitung, saya rasa kita akan mendapatkan hasil yang sama dimana jumlah ‘orang biasa’ di bumi ini akan jauh lebih banyak dari orang luar biasa (mudah-mudahan sebagian besarnya tidak tinggal di Indonesia). Percayalah kawan, ‘orang biasa’ itu sudah banyak, berserakan, tidak ditoleh, tidak terpakai, dan tidak dianggap. Apalagi sarjana ‘orang biasa’, jumlahnya meningkat drastis sepanjang tahun. Ijazah-ijazah mereka banyak yang tiada berguna karena ilmunya tertinggal di buku dan buku tersebut banyak yang sudah hilang. Oleh karena itu, jadilah yang luar biasa karena kelompok yang satu ini langka dan jarang orang yang bersedia! Kelompok ini juga sangat spesial karena anggota-anggotanya memiliki sesuatu yang lebih dari kelompok pertama. Kebun petaninya lebih luas, prestasi sarjananya lebih banyak, perusahaan pengusahanya lebih besar, dan ilmu cendekiawannya lebih dalam. Saya cukup pede mengatakan bahwa jika anda memilih untuk bergabung ke dalam kelompok terakhir ini maka anda tidak akan berakhir seperti teman-teman sarjana saya diatas itu!

Para sahabat yang telah saya sebutkan diatas sudah memilih ke golongan mana mereka hendak dimasukkan, sengaja atau tidak dan sadar atau tidak. Semasa kuliah mereka biasa biasa saja. Belajar hanya di kampus itupun sambil menguap lebar, buku jarang dipegang, luar biasa sibuk dengan kegiatan di luar entah itu organisasi atau MLM sampai-sampai menomorduakan tugas utama yaitu belajar, berteman dengan orang biasa, tidak tergerak untuk menatap masa depan yang lebih baik, takut bermimpi besar, dan parahnya menganggap jalan hidup seperti itu sebagai proses ideal untuk menjadi menantu idaman mertua. Saya rasa akal sehat anda dan saya sepaham akan hal ini bahwa kita tidak ingin mengikuti jejak mereka. Kita sama-sama memimpikan kehidupan yang lebih mulia dimana kehadiran kita berarti dan keabsenan kita dicari. Oleh sebab itu, karena kita sama-sama sudah sepemikiran, saya mengajak anda untuk bangkit dari tempat tidur dan mulai mempelajari jalan hidup orang-orang luar biasa. Kita tiru pola hidup mereka, kita resapi ketabahan mereka dalam menghadapi kesulitan, kita contoh pendirian teguh mereka, kita jiplak kedisiplinan mereka, dan kita teladani ketamakan  mereka akan ilmu pengetahuan. Kalau sudah begini, maka insya allah saya dan anda akan jadi seperti mereka dan bahkan bisa lebih. Sepakat? 

Allah itu maha adil. Dia membuat sesuatu itu selalu berpasangan. Ada orang biasa dan ada juga orang luar biasa. Tetapi Allah juga maha bijaksana. Dia membebaskan kita untuk memilih ke golongan mana hendak kita masuk. Teman-teman yang telah saya sebutkan sayangnya telah memilih untuk menjadi anggota kelompok orang biasa. Semoga saja tidak banyak lagi yang mengikuti jejak mereka.

No comments:

Post a Comment