Thursday, January 26, 2017

Ayam Berkokok di Atas Genteng



Persahabatanku yang berakhir dengan Safran membuatku gonta-ganti kawan. Pernah berteman dengan Sulaiman, seorang guru besar bidang kajian memikat burung puyuh. Atau dalam bahasa kampungku disebut nyucup. Maksud kedekatanku dengannya adalah untuk menyerap ilmu yang dia miliki. Dibawanyalah aku menjelajahi kebun ubi, kebun jagung, kebun ketela, dan segala semak belukar yang ada di kampong dalam rangka mencari sarang burung puyuh. Jalan mesti mengendap-endap, posisi tubuh membungkuk, dan mata harus selalu terfokus ke tanah. Menengadah ke langit sebentar saja langsung membuat murka Sulaiman. Baginya itu pertanda tidak sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.

Tidak lama aku menjadi murid Sulaiman. Bukan karena tidak tahan dengan metode belajarnya yang mirip latihan perang gerilya. Tapi karena burung puyuh pilih kasih. Tak pernah sekalipun cucupku mereka kunjungi. Berbeda dengan cucup Sulaiman yang seolah memiliki minyak pegasih. Mudah saja memikat berekor-ekor puyuh. Tanpa kabar berita aku tidak datang lagi ke rumah sulaiman. Cukup sudah masa belajarku dengannya.

Kawanku yang lain adalah adik ayahku, Pak Cik Kancil. Dia diberi nama kancil sebab sewaktu kecil tubuhnya kecil serupa kancil. Tingkahnya juga liar tak ubahnya seperti kancil. Seringkali berangkat ke sekolah namun tidak sampai ke sekolah. Dia singgah dulu di Lebung Kalang, semak belukar di belakang rumahku, sampai lonceng pulang sekolah dibunyikan. Hajatnya di lebung kalang tak lain tak bukan untuk menyalurkan minat dan bakat yang terpendam di dalam sanubarinya: menembak burung dengan ketapel. Sebenarnya skill ketapel pak cik kancil tidak hebat-hebat amat. Buktinya dia belum punya koleksi burung satupun. Barangkali yang membuatnya betah menyusuri lebung kalang adalah dorongan jiwa petualangannya. Sensasi yang tidak dia dapatkan dengan duduk berlama-lama di dalam kelas.

Karena jarang masuk sekolah tentu saja guru muntab. Tak tanggung-tanggung tiga kali dia tidak diizinkan naik kelas. Rekornya hanya kalah dari safran. Akan tetapi Pak cik kancil santai saja meski harus bersamaan tamat denganku. Baginya sekolah hanya rutinitas biasa. Tak akan berpengaruh bagi hidupnya kelak. Toh dia juga tidak punya cita-cita jadi guru atau jadi pegawai. Tujuan hidupnya hanya motong getah atau nyadap karet di kebun datuk yang ada di talang. Itu saja. Tak perlu ijazah apalagi sekolah setinggi langit. Sederhana sekali pemikiran pak cikku itu.

Jiwa petualang pak cik kancil menular kepadaku setelah kami resmi sekawan-sekelas di kelas enam. Suatu waktu selepas pulang sekolah dia mengajakku ke payo lebar, sebuah sawah di seberang kampong. Dinamakan payo lebar sebab sawah itu luas sekali, seluas mata memandang. Disana kami berdua menajur alias memancing ikan di sawah.

Tekniknya adalah membuat pancing dengan tangkai pendek kira-kira sepanjang lengan orang dewasa sekitar 20 puluh buah atau lebih. Tangkainya hanya bisa terbuat dari ranting pohon temahar karena ranting temahar bisa mengapung diatas air. Tajur-tajur yang telah diberikan kail dengan umpan cacing tanah disebarkan di sepanjang sawah. Aku dan pak cik kancil memonitor dari atas pondok sambil menyedot rokok Hero yang kami temukan di jalan ketika menuju sawah. Merokok untuk pertama kali itu ternyata tak enak. Bikin batuk. Asapnya bau. Tapi entah setan apa yang merasuki tubuhku, rokok yang ada dijariku membuatku tiba-tiba merasa jadi seorang pria dewasa nan tampan rupawan. Gaul seperti koboi yang tengah menunggang kuda sebagaimana yang ditayangkan di televisi.

‘Ayam berkokok diatas genteng, tak merokok tak ganteng’ kata pak cik kancil diiringi dengan tawa terbahak kami berdua.

Tajur-tajur yang kami pasang ada yang menukik ke bawah. Itu pertanda ikan besar. Bisa juga belut. Kalau lagi sial itu bisa saja ular! Tantangan mengecek tajur selain berhati-hati dengan ular mesti juga siap sedia digigit lintah. Apalagi di payo lebar lintahnya terkenal dengan ukurannya yang besar. Aku sendiri pernah mendapatkan lintah sebesar telunjuk orang dewasa menempel di kudukku. Banyak betul darahnya waktu itu. Namun demi ikan kepuyu, sepat, dan ruan, yang jumlahnya amat banyak aku memilih untuk tidak mengenal kata jera. Hari-hari berikutnya aku tetap saja kesana dan ke sawah lainnya di kampungku. Pergi pagi Minggu membawa tajur seikat, pulang ketika maghrib dengan ikan-ikan yang bergelayutan di tangan. What a life!