Wednesday, January 25, 2017

Dan, Persahabatan Itu pun Berakhir



Malam itu, sesuai janji siangnya di sekolah, selesai ngaji di rumah Pak Poden Aku langsung ke rumah safran. Soal Safran ini perlu aku ceritakan sedikit.

Dia adalah teman sekelasku yang gemarnya duduk di belakang. Paling sudut. Jika ada yang lebih belakang dari itu Safran akan mundur. Baju Safran tidak pernah dimasukkan ke dalam. Katanya tidak gaul. Rambutnya memiliki gaya remaja terkini. Belah dua. Tren yang aku coba adopsi tetapi digagalkan Mak sebab menurutnya itu gaya orang tidak sekolah. Gaya anak sekolah hanya ke samping kiri atau lebih baik lagi ke samping kanan. Sebab nabi suka makan dengan tangan kanan ucap mak suatu ketika.

Perbedaan mencolok antara aku, teman-teman sekolahku, dan Safran adalah postur tubuh Safran yang kekar berotot walaupun pendek. Dia adalah binaraga alami. Tidak pernah ke Gym, mendengar nama Gym, makan daging cuma setahun dua kali yaitu ketika Idul Adha dan Idul fitri, dan jika menggoreng telor seringkali bagi dua dengan adiknya. Olahraganya adalah angkat berat yang dia tekuni dari kecil. Sebelum masuk SD bahkan. Mula-mula dia hanya mengumpulkan batok-batok berisi getah cair hasil sadapan orang tuanya. Lama-lama memikul getah yang beratnya berpuluh-puluh kilo. Di kampungku tidak ada istilah child labor karena selain konsep itu tidak ada, kami juga tidak mengerti Bahasa Inggris.

Faktor lain yang membuat Safran ditakuti adalah, barangkali, karena umurnya. Dia sudah empat belas tahun! berbeda dengan kami yang rata-rata sepuluh tahun. Lagipula Safran sudah masuk kategori tuo tengganai di SD 178/II. Di struktur organisasi masjid kampungku posisinya bisa disejajarkan dengan mudim - penjaga masjid - yang sudah bertugas lintas generasi. Tak perduli siapa presidennya mudim tetaplah Datuk Refen Kumis. Jadi wajar saja jika Safran mesti dianggap terhormat mengingat masa baktinya kepada sekolah yang tiada tanding itu. Lebih tepatnya Safran telah mengabdi selama delapan tahun. padahal waktu itu kami baru kelas empat.

Safran sangat istiqomah meski tiap tahun tinggal kelas. Setiap tahun! Bahkan di kelas satu Safran mencetak sejarah. Tinggal kelas dua tahun berturut-turut. Selain jarang masuk Safran juga selalu gagal menghitung dari satu sampai dua puluh. Barulah tahun kedua bisa. Tapi membaca bermasalah. Jangankan mengeja, abjad saja hilang timbul dalam ingatannya. Wali kelas satu iba juga melihat nasib Safran. Maka dengan penuh kebijaksanaan dia dinaikkan ke kelas dua. Namun di kelas dua jalan hidup Safran pun tidak mulus. Dia mesti transit dulu setahun sebelum sampai ke kelas tiga, dan begitulah seterusnya.

Datanglah aku ke rumah Safran untuk memenuhi undangan keikutsertaan dalam sebuah misi rahasia binaan Safran. Entah misi apa itu aku tidak tahu. Untuk memuluskan operasi aku mesti mengantongi izin dari Mak dulu. Kuambil buku tulis, sebatang pensil, kemudian berjalan manis kearah Mak yang baru selesai Sholat Isya.

“Mak, aku izin ke rumah Eva ya? Belajar kelompok”.

“Jangan lama-lama!” itu saja jawaban Mak. Jangan harap dengan nada penuh kelembutan. Menggertak! Mak memang konsisten dengan prinsip hidupnya dalam mendidik anak.

“Pantang bagiku lembut-lembut dengan anak. Manja mereka nanti!” hasil sadapanku dari jendela rumah suatu siang tatkala Mak sedang bercerita dengan Mak Wo.

Aku dan Mak adalah kombinasi sempurna yang bisa disebut simbiosis mutualisme dalam versi lain. Versi keluargaku sendiri tentunya. Aku nakal, susah diatur. Pas sekali dengan karakter Mak yang keras. Lemari pakaianku pernah dibuang Mak keluar rumah dengan ultimatum: “pergi dari rumah ini!” Salahku sepele saja, sepele bagiku tentunya, yaitu meniru kata-kata Mak ketika dia memarahiku. Kuambil baju yang berserakan beberapa, tidak semua, lemarinya kubiarkan tergeletak, lalu aku merantau. Tidak jauh hanya ke rumah nenek. Seminggu aku disana. Kebetulan waktu itu liburan caturwulan ke dua.

Dalam pengasinganku, berharap betul Mak datang menjemput, mengelus kepalaku, biarlah tidak memeluk sebab Mak memelukku hanya waktu aku bayi saja, sambil bercucuran air mata kemudian berkata:

“Ayo anakku sayang kita pulang. Sudah rindu betul Mak kepadamu” Aih manisnya. Sekali lagi jangan harap! Lama-lama malahan aku yang bosan di rumah nenek sebab tidak ada tv. Saat aku pulang ke rumah apa kalimat pertama Mak?

“Kenapa cuma sebentar merantaunya? Lama-lama lah sedikit. Tidak enak kan jauh dari rumah?” Mak benar. Mak menang. Aku diam. Selalu tak berkutik dihadapan mak.

Kebersihan diri adalah prioritas nomor satu Mak. Maka wajar jika mandi di sungai, tubuhku menjadi bulan-bulanan. Baginya semua daki yang ada di leher, ketiak, dada, dan punggung harus dibasmi dengan sabut kelapa. Merah semua badanku. Di rumah pun ada peraturan ketat. Setelah bangun tidur, kelambu, alas kasur, dan bantal harus dirapikan. Wajib hukumnya. Sepulang sekolah baju harus diganti. Haram hukumnya pergi main dengan masih memakai seragam sekolah. Bisa menyebabkan petaka.

Safran mengajakku berjalan ke simpang desa dan mengambil beberapa buah batu kerikil yang berserakan di tepi jalan. Batu-batu itu kemudian dilemparkannya ke atap rumah orang. Dia cekikikan mendengar bunyi genteng pecah sambil berlari. Aku terbirit-birit di belakangnya. Bahagia memang aneh. Dia menyuruhku melakukan hal yang sama ke rumah yang berbeda. Demi solidaritas pertemenan dan sensasi kebahagiaan yang baru saja Safran rasakan, tanpa pikir panjang aku lontarkan tiga buah batu. Tepat sasaran. Berderau suara genteng pecah. Girangnya hatiku. Sial bin malang, ternyata beberapa orang membuntuti kami. Safran tertangkap. Aku berhasil lari menyusuri got samping lapangan bola.

Rupa-rupanya aku juga tak bisa lari dari bala. Sesampai di rumah, mak sudah menunggu dengan sapu lidi yang ada tangkai kayunya. Adalah Safran yang buka mulut hingga secepat kilat kabar keterlibatanku sampai ke telinga Mak. Aku lari ke belakang rumah. Mak mengejarku. Terpojok, akhirnya Aku masuk ke kandang ayam karena pikirku disana paling aman. Mak tidak bisa masuk sebab pintunya hanya bisa mengakomodasi ayam dan anak kecil saja.

“Keluar kamu, keluar!” Di juluk-juluknya aku dengan tangkai sapu itu.

Tidak tahan juga lama-lama disana. Kedinginan karena bajuku masih basah. Lagian mustahil aku tidur diatas tai ayam sebanyak itu. Dengan rasa takut menggunung, Aku kembali ke rumah menyerahkan telingaku kepada mak. Dua-duanya merah seperti buah jambu air yang masak. Telapak tanganku pun merah, penuh dengan bekas sapu lidi. Mak bilang itu ganjaran tangan yang jahil.

Entah siapa intelnya, mak jadi tau semua ceritaku dengan Safran. Soal main perahu, naik mobil Hino, sampai soal maling tiga ekor ayam jantan ibu Nir sebagai pelampiasan balas dendam Safran ke mantan wali kelasnya yang suka menarik rambut di dekat telinganya itu.
Malam naas itu menjadi sebuah akhir dari persahabatanku dengan Safran. Arahan Mak sudah jelas, jika Aku masih berkawan dengannya malapetaka besar akan dating kepadaku. Tidak berani aku mengambil resiko. 


2 comments:

  1. bang beni,apa saja tips untuk bisa dapat beasiswa kuliah ke luar negeri dan apa saja buku yg harus di baca dan juga bagaimana membagi waktunya.

    ReplyDelete
  2. Hari ini saya ingin mengunkapkan tentang perjalanan hidup saya,karna masalah ekonomi saya selalu dililit hutang bahkan perusahaan yang dulunya saya pernah bagun kini semuanya akan disitah oleh pihak bank,saya sudah berusaha kesana kemari untuk mencari uang agar perusahaan saya tidak jadi disitah oleh pihak bank dan akhirnya saya nekat untuk mendatangi paranormal yang terkenal bahkan saya pernah mengikuti penggandaan uang dimaskanjeng dan itupun juga tidak ada hasil yang memuaskan dan saya hampir putus asa,,akhirnya ketidak segajaan saya mendengar cerita orang orang bahwa ada paranormal yang terkenal bisa mengeluarkan uang ghaib atau sejenisnya pesugihan putih yang namanya Mbah Rawa Gumpala,,,akhirnya saya mencoba menhubungi beliau dan alhamdulillah dengan senan hati beliau mau membantu saya untuk mengeluarkan pesugihan uang ghaibnya sebesar 10 M saya sangat bersyukur dan berterimakasih banyak kepada Mbah Rawa Gumpala berkat bantuannya semua masalah saya bisa teratasi dan semua hutang2 saya juga sudah pada lunas semua,,bagi anda yang ingin seperti saya dan ingin dibabtu sama Mbah silahkan hubungi 085 316 106 111 saya sengaja menulis pesan ini dan mempostin di semua tempat agar anda semua tau kalau ada paranormal yang bisah dipercaya dan bisa diandalkan,bagi teman teman yang menemukan situs ini tolong disebar luaskan agar orang orang juga bisa tau klau ada dukun sakti yg bisa membantuh mengatasi semua masalah anda1.untuk lebih lengkapnya buka saja blok Mbah karna didalam bloknya semuanya sudah dijelaskan PESUGIHAN PUTIH TANPA TUMBAL

    ReplyDelete