Thursday, December 15, 2016

Semoga Saja Ini Awal dari Perwujudan Itu

Sedang enaknya terlelap tidur, saya dibangunkan oleh suara gaduh di luar masjid. Tepatnya di tempat wudhu. Setelah dicek, ternyata ada dua orang anak yan tengah bermain air. masing-masing anak tersebut menenteng sebuah karung yang berisikan kardus-kardus bekas. Saya menghampiri mereka untuk berbincang-bincang ringan seputar kehidupan. Saya tatap dalam-dalam mata mereka, disana saya temukan saya yang dulu. Air muka optimis mereka membawa saya jauh ke belakang, berjumpa kembali dengan masa kecil saya. Semasa kanak-kanak, saya pernah menekuni pekerjaan mereka, yaitu mencari plastic/besi bekas. Saya pergi keliling kampung dengan teman-teman ke belakang rumah-rumah orang dengan harapan mendapatkan apa yang kami cari. Sering juga kami menyeberang ke seberang kampung, ke PT. Dalek Esa Raya, sebuah perusahaan logging yang beroperasi di zaman Soeharto, dengan harapan membawa beberapa keping besi bekas ke seberang sini. Plastic dan besi bekas yang telah terkumpul kemudian kami barter dengan mainan atau kerupuk dengan tukang mainan keliling yang sore-sore biasanya lewat kampung kami. Semasa kecil juga saya biasakan mencari duit sendiri seperti dua orang anak di foto itu dengan menekuni berbagai bidang pekerjaan. Di sekolah, saya menjual kue buatan nenek. Sepulang sekolah biasanya saya keliling kampung untuk menjajakan hasil kebun nenek atau Mak Wo saya; terong, katu, bayam, ubi, kangkung, petai, jering, dan banyak lagi yang lainnya. Selain berdagang, sering juga saya turun ke sungai Batanghari mengambil pasir atau batu bersama dengan teman-teman yang lain. Pasir dan batu itu dimasukkan ke dalam karung beras ukuran 20 kg kemudian dipikul ke atas mendaki tebing sungai yang tingginya lumayan itu. Sampai ke atas tebing, hasil angkutan kami akan dikumpulkan di tempat masing-masing untuk dijual. Memang ada kesamaan antara saya dengan dua bocah itu. Tapi meski demikian, hidup saya jauh lebih beruntung dari mereka. Saya dulu membanting tulang murni untuk mencari uang jajan. Untuk makan dan kebutuhan lainnya ada orang tua yang menanggungya. Berbeda dengan dua anak ini. walaupun mereka bilang kalau mereka juga ingin mencari uang jajan, tetapi setelah saya bertanya lebih mendalam, jawaban mereka justru tidak menyiratkan kesana. Saya yakin bukan uang jajan yang mereka cari melainkan uang makan. Sebab mereka berdua sama-sama broken home. Yang satunya ditinggal ayah yang kawin lagi sedang yang satu lagi tinggal dengan abangnya dengan alasan yang serupa. Ah, malangnya hidup kalian, dik! Anak-anak kecil penenteng karung belumlah pemandangan begitu biasa di kota Jambi khususnya bila dibandingkan dengan Jakarta. Di ibukota negara, jumlah mereka bejibun. Sulit untuk dihitung. Mereka tersebar di banyak tempat dan mengais apa saja buat melanjutkan hidup. Walaupun begitu, ada satu kesamaan antara mereka yang di jambi dan mereka yang di Jakarta: mereka sama-sama korban tidak meratanya persebaran ekonomi di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diagung-agungkan oleh media hanyalah dinikmati oleh segelintir orang saja. Khususnya mereka yang punya bisnis atau perusahaan besar. Orang-orang berduit ini menguasai ekonomi Indonesia seolah-olah negara kita ini kepunyaan pribadi. Cakupan bisnis mereka menggurita dari Sabang sampai Merauke. Coba lihat luas perkebunan yang mereka punya. Beribu-ribu hektar! Atau area tambang yang mereka kuasai. Berjuta-juta dollar! Nah, kita, wa bil khusus, dua anak kecil pencari barang-barang bekas tadi, harus puas hati dengan serpihan-serpihan kecil sisa comberan perusahaan/bisnis mereka. Sekarang situasinya bakal lebih rumit lagi. Orang-orang berduit sudah mulai mengakhiri permainan mereka di belakang layar seperti yang selama ini mereka lakukan. Mereka kini banyak yang terjun ke politik praktis. Barangkali hasil kolaborasi mereka dengan para penguasa belum begitu maksimal makanya harus mereka sendiri yang memegang kendali. Tindak-tanduk mereka dalam menguasai Indonesia semakin dahsyat lagi dengan penguasaan media yang ada di tangan sebagian mereka. Melalui media yang mereka kendalikan, orang-orang berduit dapat dengan leluasa membungkus diri, menyampaikan pesan, dan membungkam siapa saja yang menghalangi sepak terjang mereka. Tidak itu saja. Media yang mereka kuasai juga aktif dalam ‘mencuci otak’ masyarakat dan dalam penaklukan ideology yang berseberangan dengan mereka. Untuk yang satu ini tentu saja ideology Islam musuh yang pertama dan paling utama. Berita negative tentang Islam akan menjadi bulan-bulanan. Kalau bisa tahunan. Moral evaluation (merujuk kepada teori framingnya Robert Entman) dari berita negative seputar Islam itu seringkali adalah: Islam tukang kacau, Islam memecah belah NKRI, Islam tidak sejalan dengan NKRI, Islam musuh bersama, jadi orang Islam jangan alim-alim amat, jangan sering-sering ikut pengajian di masjid, ustadz banyak yang cabul, dll (silakan ditambah sendiri, hehe). Begitu juga dengan pemberitaan yang berkaitan dengan topik lain. Banyak moral evaluation yang menggiring masyarakat untuk setuju dengan kesimpulan yang sudah disiapkan oleh orang-orang kaya penguasa media tersebut. Melalui pemberitaan yang kelihatannya ‘benar’ tentu saja. Contoh, pemulung atau masyarakat yang tinggal di rumah kardus/di pinggir sungai di Jakarta biasanya dicitrakan negative/pemalas/menganggu pembangunan. Atau buruh yang demo di hari buruh juga dicitrakan demikian. Mereka semuanya hanya orang-orang yang tidak mau berkerja keras. Hobinya hanya menuntut saja. Media tidak mengulas penyebab kronis nasib malang mereka dimana kue ekonomi hampir semuanya dilahap oleh orang-orang kaya yang sebagiannya adalah si empunya media tersebut. Lagian untuk apa juga membuka aib dan merugikan diri sendiri. Lebih baik diam-diam saja. Buatkan keributan yang lain. Suguhkan masyarakat ‘kebenaran’ yang lain. Di saat yang sama, sibukkan diri mengeruk apa saja yang bisa dikeruk di negeri ini dan menimbunnya sampai menggunung buat dinikmati sendiri. Dua bocah yang saya jumpai di belakang masjid itu berhasil memutar kembali CD kenangan masa kecil yang telah lama terhenti. Karung yang mereka bawa berserta isinya pernah juga saya bawa meskipun dengan isi yang berbeda. Mereka berdua adalah contoh orang-orang yang kalah jika bukan yang tersingkirkan dari massivnya pertarungan keserakahan di negeri ini. Solusi mesti selalu dipikirkan oleh pembuat kebijakan agar tidak banyak lagi bocah-bocah pembawa karung berisi barang rongsokan. Sedangkan solusi dari saya adalah, kini saatnya pemerintah dan orang-orang politik tidak ‘malu-malu’ lagi tampil ke muka dengan memegang Al Quran di dada. nilai-nilai Al Quran sudah waktunya untuk ditegakkan agar keserakahan bisa diberantas dan orang-orang terpinggirkan bisa diangkat. Semoga saja itu dapat terwujud dalam waktu yang tidak lama. Dan semoga saja berkumpulnya ulama’ dan para pecinta Al Quran hari ini merupakan sebuah awal dari perwujudan itu. #Salam212

No comments:

Post a Comment