Thursday, December 15, 2016

Hanya Dua Media yang Saya Percaya

Pucuk pohon Aspen yang tumbuh subur dibelakang rumah menari-nari ditiup angin. Awan kelam bergelayut diatasnya menyelimuti langit kota Mancheter. Bukan. Sekarang bukan musim dingin. Manchester sedang menikmati puncak musim panasnya. Hanya saja matahari disini riwayatnya hilang timbul. Kadang merah menyala, sering juga hilang entah kemana. Di sore yang sejuk ini, saya tidak mau berlama-lama menceritakan tentang ‘kegalauan’ cuaca di Manchester. Saya bilang galau karena memang cuacanya berubah-ubah tanpa permisi. Musim panas dipenuhi hujan, musim semi kedatangan hujan es, dan pernah juga musim dingin yang tak selesai-selesai. Saya cuma ingin menumpahkan isi kepala saya yang dalam beberapa hari ke belakang ini melompat kesana kemari menuntut untuk di keluarkan. Baiklah, saya mulai saja. Alhamdulillah kemarin saya mengumpulkan disertasi master saya yang berjudul ‘American News Media Frames on Jokowi and Prabowo in the 2014 Indonesian Presidential Election’ atau dalam bahasa Indonesianya ‘bingkai/frame media Amerika terhadap Jokowi dan Prabowo pada pemilu presiden 2014’. Keputusan saya untuk mengangkat tema ini bermula dari kegelisahan saya pasca sebuah tradisi pulang kampung beberapa bulan menjelang pemilu 2014 diadakan. Seperti biasa, pada malam pertama di kampung saya menyetor muka dulu kehadapan para warga tetangga rumah dengan ikut nimbrung di teras toko Pak Wo. Toko Pak Wo yang letaknya hanya sepelemparan batu dari rumah saya memang selalu ramai pengunjung. Mayoritas bapak-bapak. Selepas Maghrib mereka mereka biasaya ngumpul disitu membicarakan tentang banyak hal. Mulai dari persoalan sulitnya bertahan hidup karena harga karet dalam empat tahun ke belakang ini terhenti di angka 5000 rupiah per kilo, sampai dengan topik terhangat pada waktu itu yaitu Pemilu presiden 2014. Tema terakhir ini kalau sudah digulirkan akan memakan waktu paling lama sebab setiap dari kami yang hadir memiliki jagoan masing-masing. Kalau bukan Jokowi ya Prabowo. Awalnya saya diam saja menyaksikan sengitnya perdebatan mereka. Tapi lama-lama tidak khidmat juga duduk saya. Akhirnya saya pun membuka mulut lalu tanpa sadar tenggelam dalam perdebatan yang panas. Jagoan saya malam itu adalah Jokowi. Demi memenangkan perang mulut saya mengeluarkan semua dalil shoheh yang saya punya. Bapak-bapak yang lain juga sama. Baik pendukung Jokowi maupun Prabowo semuanya melontarkan dalil yang juga tak kalah shoheh. Meskipun berseberangan antara kubu Jokowi dan Prabowo, namun kami semuanya memiliki kesamaan dalam hal sumber dalil: media. Ya, semua hujjah yang keluar dari mulut kami keseluruhannya didapat dari media. Bagi kami, media tak lain adalah kitab suci yang tiap-tiap tulisannya atau perkataannya adalah sebuah kebenaran yang tak terbantahkan. Semakin banyak menghafal dalil yang media sediakan maka semakin tinggilah derajat ‘keimananan’ kami malam itu. Yang derajat imannya dipuncak tentu saja akan memenangkan perdebatan. Soal dalil, tak diragukan lagi saya yang paling banyak. Bukan apa-apa. Dari semua anggota debat sayalah yang memiliki akses tak terbatas ke sumber dalil. Dengan smartphone yang ada dalam genggaman, saya dapat menjangkau ‘wahyu-wahyu’ yang tersedia di dunia maya, baik ‘wahyu’ yang dikeluarkan oleh media Indonesia maupun dari koran luar negeri yang berbahasa inggris. Sedangkan bapak-bapak yang lain hanya memperoleh dalil dari televisi. Sumber-sumber lain dalam bentuk tulisan sangat minim. Disamping surat kabar sulit didapatkan dan mesti beli, mereka juga tak satupun memilki smartphone. Jadilah saya beserta beberapa pendukung Jokowi yang ada disitu pemenang debat kusir tersebut sebab dalil-dalil kami mengalir tak terbendung. Pada bulan-bulan berikutnya Jokowi dinyatakan menang pemilu. Saya senang. Pendukung Prabowo berang. Tapi kejadian malam itu di kemudian hari ternyata menjadi beban pikiran saya. Saya menjadi bertanya-tanya sendiri, ‘Mengapa saya membela Jokowi mati-matian padahal saya tidak pernah bertemu dengannya?’ Ada apa gerangan sehingga semua surat kabar berbahasa inggris yang saya baca memberitakan Jokowi bak malaikat dan Prabowo seperti penjahat?’ pertanyaan itu terus mengobrak-abrik sanubari saya sampai tiga bulan yang lalu saya memutuskan untuk menjadikan pemberitaan Jokowi dan Prabowo oleh media Amerika sebagai bahan disertasi untuk S2 saya. Hasilnya pun sudah terang benderang sekarang. Saya tidak lagi penasaran. Soal media memang pelik. Kita sangat bergantung kepada mereka dalam menghilangkan dahaga kita akan informasi. Sebagai pribadi yang super kepo, saya dulunya betah berjam-jam membaca berita ini dan itu demi menjadi insan yang up to date. Rasanya ada yang kurang bila saya belum membaca berita. Naasnya, saya menelan mentah-mentah informasi-informasi yang saya baca. Bahkan saya cenderung menganggapnya sebuah kebenaran. Bagi saya waktu itu, mustahil rasanya media berbohong. Kalau bohong kan sudah pasti ditindaklanjut oleh pihak berwenang. Begitu asumsi saya waktu itu. Memang benar, media tidak boleh berbohong. Tapi media bisa dengan lihainya ‘memplintir’. Adalah hal yang benar bila Jokowi blusukan. Masak seorang pemimpin tidak pernah melihat kehidupan masyarakat yang dipimpinnya secara langsung? Kan mustahil. Pak Suharto saja yang dikenal otoriter pernah beberapa kali mengunjungi rakyat jelata di desa-desa. Kunjungan Jokowi ke rakyat kecil kemudian di beritakan oleh media secara massif dan terus-terusan sampai lengket imagenya di benak kita sebagai figure yang cinta rakyat kecil. Kalau sudah begini jangan coba-coba meneriakkan Jokowi cinta kaum elit (mesikupun pada faktanya dia juga dikelilingi oleh kaum elit berduit yang selalu menguntit). Bisa-bisa benjol kepala makan bogem mentah. Prabowo dan pemimpin lain saya yakin sekali juga pernah berinteraksi langsung dengan masyarakat. Mereka kan juga manusia biasa yang membutuhkan interaksi social. Tapi mengapa Jokowi saja yang digembar-gemborkan? Untuk menjawab pertanyaan ini butuh kopi lima gelas sambil begadang di teras rumah. Tapi satu hal yang pasti, tidak ada yang namanya berita yang objektif. Semua berita bias alias mengandung kepentingan; baik itu kepentigan politik maupun ekonomi. Berita-berita yang kita konsumsi setiap hari muatannya dibuat sedemikian rupa untuk mengarahkan kita agar berpikir dan bertindak sesuai dengan yang diinginkan oleh media. Soal Prabowo misalnya, media tidak perlu menodongkan pistol ke kepala kita agar kita mecintainya. Mereka cukup mengemukakan elemen-elemen positif dari diri Prabowo kemudian membungkusnya dengan ciamik. Hal-hal negative mengenai Prabowo tidak akan diketengahkan. Lagian untuk apa memberitahu pembeli bila durian yang kita jual isinya tidak manis-manis amat? Kan bunuh diri namanya. Setelah mengetahui segala kebaikan Prabowo ini, kita akan menyebarkannya kepada orang lain secara ikhlas, tanpa pamrih, tanpa bayaran, plus siap gontok-gontokan demi membela ‘malaikat’ yang dibentuk oleh media. Media di Indonesia di era reformasi ini hampir seluruhnya dikuasai oleh segelintir orang saja. Mereka-mereka ini punya kepentingan politik dan ekonomi dan untuk mewujudkannya mereka menjadikan media yang mereka punya sebagai corong. Berita-berita yang keluar mewakili pandangan mereka demi meraih dan mejaga kepentingan mereka di tanah air. Untuk soal ini secara panjang lebarnya bisa dibaca di tulisan saya dan saudara Muhammad Zulfikar di: http://www.newmandala.org/a-parasite-in-democracy/. Versi bahasa indonesianya: http://putellaking.blogspot.co.uk/2016/05/media-dan-kaum-oligarki-benalu-bagi.html Sekarang kita beranjak ke media international khususnya media Amerika yang meliput Jokowi dan Prabowo pada pemilu 2014 silam. Temuan saya dari media ini adalah semuanya sepakat membentuk image Jokowi sebagai orang suci yang tidak punya cacat cela dan Prabowo sebagai seorang penjahat berdarah dingin yang akan menghancurkan Indonesia. Tentu kita bertanya, mengapa semua media Amerika itu satu suara padahal merek koran mereka berlainan? Jawabannya adalah media di Amerika itu dikuasai oleh beberapa perusahaan saja. Para pemilik perusahaan itu punya koneksi yang kuat dengan para elit politik di pemerintahan Amerika. Kedekatan ini kemudian membuat pemberitaan mengenai Jokowi dan Prabowo sealiran dengan kebijakan luar negeri Amerika. Jangan sampai nanti sosok yang tidak disukai Amerika memegang tampuk pimpinan negara kemudian mengancam kepentingan-kepentingan Paman Sam di Indonesia. Makanya karir politiknya mesti dibunuh supaya tidak berkembang biak. Lagipula, si Paman Sam adalah promotor kapitalisme ulung. Melalui alur pemberitaan tertentu media di Amerika memberikan pandangan yang berideologi kapitalisme. Jangan heran kalau banyak dari berita yang mereka keluarkan mendorong Indonesia untuk membuka diri seluas-luasnya terhadap investasi asing dengan menyingkirkan aturan-aturan pemerintah yang masih membatasinya. Atau, tidak usah terkejut kalau muatan beritanya bermuara pada anjuran untuk menswastanisasi aset-aset negara. Dalih mereka biasanya adalah dengan adanya investasi asing atau swastanisasi aset negara maka Indonesia akan lebih becus dalam mengelola negara. Perkara swastanisasi akan menguntungkan sekelumit orang saja tidak mereka kemukakan. Masak mau maling ngomong dulu, kan mustahil? Untuk menambah penguatan isi berita, maka dimuatlah pandangan dari ahli ekonomi tertentu yang juga berpikiran kapitalis sebab memang dididik untuk menjadi peyambung lidah para kapitalis. Kalau sudah begini kita sebagai pembaca akan megangguk-angguk sendiri. Mau bantah tidak bisa karena ilmu kita memang kurang. Mau setuju rasanya masih sulit sebab hati nurani menolak. Akhirnya kita cuma bisa pasrah saja. Tiba-tiba di kemudian hari dapat kabar bahwa aset anu sudah dibeli perusahaan itu. Kembali ke Jokowi dan Prabowo. Dua orang ini sebenarnya manusia biasa. Sama seperti kita. mereka punya kelebihan, kekurangan, aib, prestasi, dan sifat-sifat manusia biasa lainnya. Yang membuat mereka menjadi berbeda di benak kita adalah konstruksi berita di media yang mencitrakan sedemikian rupa dengan menonjolkan aspek-aspek tertentu dari diri dan kehidupan mereka. Tujuannya tidak lain agar kita setuju dengan image yang mereka buat. Apakah Jokowi dan Prabowo dalam kehidupan nyata sama persis sebagaimana yang disampaikan oleh media? Tentu tidak. Jokowi dan Prabowo yang kita kenal adalah dua sosok pribadi yang dibentuk oleh media bukan pribadi yang kita kenal secara langsung. Ibarat kata persepsi kita terhadap calon istri atau suami yang didapat dari seorang kawan yang punya kepentingan tentu berbeda dengan persepsi yang kita dapat bila berinteraksi langsung dengan yang punya diri. Sudah panjang lebar saya ngomong ngalor ngidul tidak karuan. Sebelum saya akhiri tulisan ini saya ingin menegaskan kalau saya bukan pendukung Prabowo atau pembenci Jokowi. Saya pernah ‘jatuh cinta’ kepada keduanya. Awalnya dulu saya suka Prabowo karena dia orang yang bagus berdasarkan media yang saya baca. Menjelang pemilu saya berubah haluan ke Jokowi karena ternyata dia jauh lebih bagus. Lagi-lagi bagus berdasarkan berita di media yang saya baca. Juga, saya hendak mengajak pembaca untuk tidak serta merta mempercayai berita yang beredar di media apalagi sampai menganggapnnya kebenaran tiada tara. Kebenaran itu hanyalah yang terdapat dalam kitab suci kita masing-masing. Selebihnya relatif. Barangkali iya barangkali tidak. Kalau sesuatu itu benar menurut Tuhan seperti yang tertulis dalam kitabnya, maka boleh lah sesuatu itu dianggap benar. Namun kalaulah bertentangan, maka jangan diambil. Buang saja keselokan biar hanyut ke muara lalu tenggelam di laut lepas. Kemudian, jangan ketagihan membaca berita. Apalagi sampai terpengaruh oleh berita. Mendingan membaca buku. Banyak manfaatnya. Perdebatan di malam itu sudah tidak begitu menyiksa benak saya lagi. Angin yang membelai dedaunan pohon Alpen tadi juga semakin riuuh. Saat ini ruangan kamar saya semakin sejuk. Saya mau tarik selimut dulu sembari memejamkan mata. Jika para pembaca bertanya kepada saya media mana yang saya percayai di dunia ini, jawaban saya hanya ada dua media: Mediaa Wahyudi Askar dan Mediaputri Yohana. Sebab, mereka berdua ini saat ini tinggal serumah dengan saya. Pendek kata saya kenal betul dengan mereka secara pribadi makanya saya percaya. Bangunkan saya ya kalau ada lagi media-media lain yang bisa dipercaya?! :)

No comments:

Post a Comment