Monday, August 1, 2016

Selamat menghayati hidup, Beni!

Kuawali hari ini dengan membuka folder-forder lama di laptop. Kutelusuri lagi satu per satu foto-foto usang yang dulu pernah terabadikan, sampai aku tertegun pada satu foto. Foto itu adalah foto rumah nenekku.
Rumah Nyai Muna, begitu aku memanggil nenekku yang bernama Siti Maimunah, merupakan bangunan penuh kenangan bagi hidupku. Disanalah aku dilahirkan, disanalah aku menghabiskan masa kecilku, dan disanalah kami, anak cucu Nyai, senantiasa berkumpul sehabis sholat hari raya Idul Fitri. Telah berpuluh-puluh hari raya rumah tua itu menjadi venue tahunan kami. Hanya tahun ini saja yang absen karena aku masih terdampar di perantauan dan rumah itu pun telah tiada. Setahun yang lalu ia dirobohkan untuk disulap menjadi bangunan baru yang dihuni oleh anak nyai yang paling bungsu, Busu – sebutan di kampungku untuk anak yang paling buncit – Tarmizi.
Entah kebetulan atau tidak, nostalgiaku dengan foto rumah Nyai hari ini bertepatan dengan tanggal hari lahirku. Mulai dari pergantian malam ke siang tanggal 14 Juli ini, usiaku genap 27 tahun. Usia yang tentu saja tidak bisa dikatakan remaja lagi. Tetapi juga belum begitu pantas dianggap tua. Melihat ke belakang, ke 27 tahun yang lalu, aku mendapati hidupku seperti putaran London Eye, tempat wisata roda pengamatan yang terkenal di Inggris itu. Posisiku bergantian. Kadang dibawah, pernah juga di atas atas. Selain peristiwa tidak lulus UAN plus kegalauan panjang akibat dari ketidaklulusan itu, aku juga banyak mengalami berbagai macam tantangan kehidupan. Atau mungkin lebih tepatnya berada di bawah. Semuanya mesti aku hadapi sendiri karena memang aku hidup sendiri. Sejak usia 12 tahun aku sudah tidak bersama orang tua. Jika dihitung dari usiaku yang 27 tahun ini, sudah 15 tahun aku ‘hidup sebatang kara’. Berpindah kesana kemari, melanglang buana bak manusia purbakala. Dalam kurun waktu 15 tahun itu, beragam situasi kehidupan telah aku lalui. Sempat menjadi ‘gelandangan’ karena tak punya uang untuk menyewa rumah kontrakan, kelaparan karena tak punya nasi untuk dimakan, makan nasi campur minyak goreng karena tidak punya lauk nasi, berbulan-bulan tidur beralaskan tikar plastic karena tidak punya uang untuk membeli kasur, menerapkan ‘pola diet’ tanpa makan pagi untuk menghemat uang, tidak punya uang untuk membeli buku, sempat berniat cuti kuliah – agar bisa motong karet untuk cari uang – karena kendala biaya, dan banyak lagi yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu disini. Lagipula tidak penting juga aku merinci penderitaanku. Untuk apa. Toh, bila dibandingkan dengan kesulitan hidup orang lain, apa yang aku alami barangkali belumlah seberapa. Tujuanku menulisnya hanyalah untuk bernostalgia saja. Tidak lebih dari itu. Seperti yang telah aku singgung tadi, aku pernah juga diatas. Tanpa terbayangkan sebelumnya, aku bisa menjejakan kaki ke lima benua plus beberapa daerah di Indonesia. Semuanya terjadi dalam jangka waktu lima tahun saja. Selain itu, aku juga diberikan kesempatan untuk tidur di hotel berbintang, melahap makanan mewah, bertemu dengan manusia beragam bangsa, memegang salju, berselancar di lautan, menaiki cable car, menonton pertandingan sepak bola secara langsung, bertemu dengan orang-orang besar, dan membeli itu ini. Segala pengalaman ini tak pernah tercicipi oleh orang tuaku. Andai saja bukan karena usaha dan karunia Allah mustahil rasanya aku mendapatkan nikmat sebesar ini. Semoga saja aku tidak kufur atas semua nikmat Allah yang berlimpah ruah kepadaku ini. Dalam 27 tahun hidupku ini aku puas dengan segala yang telah aku capai. Semua mimpi-mimpiku Alhamdulillah telah dikabulkan Allah. Aku mau ke Amerika, Allah penuhi. Aku kesengsem sama Raja Ampat, Allah berangkatkan aku kesana. Mimpiku terakhir, aku mau S2, insya Allah sebentar lagi selesai. Pendeknya, semua yang aku cita-citakan selama ini telah diwujudkan oleh Allah SWT secara tuntas. Tanpa kurang satupun. Tak elok rasanya jika hidup nihil mimpi. Untuk itu aku sudah mengeset dua mimpi baru yang semoga saja diijabah oleh Allah SWT: mengakhiri masa lajangku dan mencari ilmu lebih banyak lagi. Aku merasa usiaku yang telah lebih dari seperampat abad sudah cukup matang untuk membangun kehidupan baru. Kehidupan yang diisi dengan orang lain dan diwarnai oleh gelak tawa anak-anak keturunan. Usiaku yang juga sudah mendekati kepala tiga harus aku isi dengan perjuangan menambah ‘S’ satu lagi agar koleksi ‘S’ ku menjadi tiga. Selain itu, ilmu agama sudah saatnya juga untuk aku tingkatkan agar kehidupanku berimbang. Ilmu dunia aku punya, ilmu akhirat pun ada. Aku tau hidupku takkan lama. Begitu juga dengan semua manusia yang ada di bumi ini. Semua hidupnya hanya sebentar. Angka 27 yang melekat padaku sekarang bermakna bahwa perjalananku di dunia ini sudah hampir separoh bila diukur dari usia Rasulullah SAW. Naas bagiku, rasanya baru kemarin aku dikirim ke dunia. Baru saja kemarin rasanya aku kejar-kejaran dengan kawan-kawan di tepi sungai Batanghari. Tiba-tiba saja sekarang aku sudah 27 tahun. Ini artinya perjalananku selanjutnya untuk memenuhi separoh umur itu – jika memang diizinkan Allah – juga tidak akan terasa. 30 tahun mendatang kemungkinan besar aku akan merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan malam ini. Tercengang atas cepatnya putaran waktu. Rumah Nyai Muna memang tinggal kenangan. Tapi kenangan yang diberikannya kepadaku tidak akan pernah terhapuskan dari hati sanubariku. Perjalanan hidupku yang pasang surut hingga di usia yang ke 27 telah banyak mengajarkanku tentang arti kehidupan. Bahwa hidup ini tidak selalu tersenyum pun tidak selamanya menangis. Senyum dan tangis datang silih berganti. Tak ubahnya seperti siang dan malam yang memberi warna kepada hari. Gelapnya kehidupanku akan aku jadikan bahan petuah untuk anak cucu, sedang terangya perjalananku akan kubuat suluh penunjuk jalan bagi generasi selanjutnya agar titik yang aku capai juga bisa diraih oleh mereka. Alangkah lebih baik lagi bila mereka bisa berjalan lebih jauh dariku. Kepada Allah Aku berharap semoga impian-impianku selanjutnya dikabulkan. Kepada diriku sendiri, mudah-mudahan apa yang aku lakukan di dunia ini menjadi bekal hidupku di akhirat kelak. Aku tidak ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku sebab memang tidak ada yang perlu diselamatkan. Umurku berkurang bukan bertambah. Jadi menurutku, yang tepat kuucapkan kepada diriku adalah: ‘Selamat menghayati hidup, Beni!’
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻃﻮﻝ ﻋﻤﻮﺭﻧﺎ ﻭﺻﺤﺢ ﺃﺟﺴﺎﺩﻧﺎ ﻭﻧﻮﺭ ﻗﻠﻮﺑﻨﺎ ﻭﺛﺒﺖ ﺇﻳﻤﺎﻧﻨﺎ ﻭﺃﺣﺴﻦ ﺃﺧﻼﻗﻨﺎ ﻭﺣﺼﻞ ﻣﻘﺎﺻﺪﻧﺎ ﺑﺮﺣﻤﺘﻚ ﻳﺎ ﺃﺭﺣﻢ ﺍﻟﺮﺍﺣﻤﻴﻦ
Ya Allah, panjangkanlah umur kami, sehatkanlah badan kami, terangkanlah hati kami, tetapkanlah iman kami, baguskanlah akhlaq kami, dan kabulkanlah cita-cita kami dengan rahmatmu wahai sang maha penyayang.

No comments:

Post a Comment