Monday, August 1, 2016

Mereka Bukan ‘Floor Engineers’ Biasa

Share My Stories #30, 8 Juni 2016
Segerombolan lelaki tertawa riuh di atas sepeda yang berbaris acak-acakan di tengah jalan. Hawa dingin yang membuat muka ngilu seolah tak berpengaruh apa-apa terhadap mereka. Apa yang mereka lalui hari ini dihadapi dengan riang gembira walaupun faktanya hari-hari mereka tak semeriah gelak tawa mereka. Tapi mereka memilih bahagia. Tidak ada alasan untuk berduka cita.
Laki-laki luar biasa yang saya maksud adalah teman kerja sekaligus guru besar kehidupan saya di sini, di tanah Inggris. Sudah menjadi kebiasaan kami setiap kali selesai kerja bertukar cerita sembari tertawa terbahak-bahak. Sebuah cara untuk menghibur diri. Sebuah upaya untuk melepaskan penat.
Aku dan mereka tergabung ke dalam skuad yang kami sebut ‘floor engineers’. Pemilihan kata dan penggunaan Bahasa Inggris dalam penyebutan profesi kami tidak lebih sebagai bahan guyonan saja. Tidak ada unsur serius di dalamnya. Mendapatkan panggilan babu atau sebutan serupa tak membuat kami berkecil hati. Toh, yang penting bisa menghasilkan uang yang halal, ya kan?
Soal profesi jongos ini, bagi saya pribadi, tidak ada yang aneh. Saya sendiri sudah biasa dengan hal-hal yang berbau ‘orang kecil’. Ayah saya tukang sadap karet dan ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang kerjanya berkebun atau menanam padi di sawah. Lagipula saya pernah menjadi kernek angkot, mobil travel, sampai truk. Pendek kata, saya sudah berdamai dengan keadaan semacam ini.
Yang membuat saya tercenung adalah sohib-sohib saya ini. Sebelum pindah ke Manchester profesi mereka bukan sembarangan. Mas Awik misalnya pernah menjadi karyawan Freeport yang gajinya tak usah lagi disebut. Mas Arif juga demikian. Ayah satu anak ini semasa masih di Indonesia memangku jabatan strategis di sebuah bank. Ada lagi Mas Wahyu atau yang lebih akrab dipanggil Om Jo yang jabatan beliau di Indonesia bukan main-main. Meskipun beliau-beliau ini dihormati orang di Indonesia, titah mereka di-iyakan bawahan, analisis mereka menjadi rujukan, dan kehadiran mereka dielu-elukan, ego spesial itu sama sekali tak tampak saat bekerja disini. Mereka dengan senang hati dan gerak cepat ketika disuruh-suruh untuk mengepel lantai atau membersihkan WC. Perihal atasan mereka yang notabene berpendidikan lebih rendah dari mereka sama sekali bukan soal.
Mental seperti ini tentunya tidak terbentuk begitu saja. Ada unsur intrinsik kuat yang melatarbelakangi kesediaan mereka berdamai dengan keadaan. Unsur tersebut harus saya katakan adalah penyerapan nilai-nilai Islam.
Ketiga kolega saya di atas tergolong muslim yang patuh. Selain mengerjakan ibadah yang rutin seperti sholat lima waktu, mereka juga aktif dalam beberapa kegiatan berbau rohani semisal pengajian dua mingguan dan tentu saja pengajian Karisma. Interaksi bertema agama yang dibarengi dengan penyerapan makna ibadah kepada Allah telah menjadikan mereka insan yang memandang kecil dunia ini. Di mata mereka dunia ini tidak ada apa-apanya. Hanya tempat bersenda gurau saja. Cuma persinggahan sebentar yang selama persinggahan itu dibumbui dengan drama-drama kecil dan peran beragam. Ada yang berperan sebagai orang berduit bersepatu kulit ada juga yang kebagian peran tukang cangkul disawah. Jadi tidak ada alasan sama sekali bagi mereka untuk berkecil hati apalagi merasa hina.
Lagipula sebagai pemeluk Islam, mereka sadar betul bahwa derajat seseorang itu tidak diukur dari mata pencahariannya. Allah sendiri telah menegaskan dalam Al-Quran bahwa nilai tertinggi seseorang di mata Allah adalah ketaqwaan (QS. Al Hujurat: 13). Semakin taqwa seorang hamba maka semakin mulia pulalah posisi hamba tersebut di hadapan Allah SWT. Ayat ini tidak dipungkiri lagi telah terserap dengan amat baik oleh ketiga sahabat saya itu. Mereka telah sampai pada suatu titik di mana anggapan manusia yang baik maupun buruk itu sama saja. Tidak ada bedanya sama sekali. Yang terpenting adalah anggapan Allah terhadap mereka. Selagi yang dikerjakan itu tidak membuat Allah murka, mereka akan tetap terus melakukannya. Peduli apa opini manusia!
Renungan Kita Bersama
Melihat kerendahan hati mereka dalam bekerja membuat saya menyoal kembali diri dan lingkungan saya, khususnya di Indonesia. Selama ini, disadari atau tidak, kita kadangkala menilai seseorang dari profesi yang dia emban. Orang yang berpakaian rapi, rambut mengkilap, titel lengkap seringkali kita utamakan dalam interaksi sehari-hari dibandingkan dengan mereka yang berpakaian lusuh misalnya. Atau, profesi tukang ojek acapkali lebih kita ‘rendahkan’ dibandingkan dengan guru umpamanya.
Konsekuensi alur pikir seperti itu terkadang mendorong kita untuk menaruh iba pada orang-orang yang berpofesi ‘kelas bawah’. Bukankah sering kita berujar ‘kasihan ya ibu itu pekerjaannya hanya tukang sampah’ atau ‘bapaknya si A hanya seorang tukang panjat kelapa’. Sejatinya tidak salah bila kita bersimpati kepada mereka yang pekerjaannya hanya bisa menghasilkan sedikit rupiah. Yang salah adalah ketika kita merasa bahwa mereka patut dikasihani karena profesi mereka tidaklah sementereng yang kita punya. Pakaian kerja mereka tidaklah sebersih baju-baju bermerek yang melekat di badan kita. Dengan menaruh keprihatinan seperti ini tanpa kita sadari kita telah menistakan suatu pekerjaan. Mengkerdilkan suatu profesi, selama profesi itu halal, tentu saja bukan cerminan sikap muslim sejati.
Barangkali pembagian kelas pekerjaan menjadi ‘terhormat’ dan ‘tidak terhormat’ merupakan anak dari ibu dunia modern. Zaman yang kita hidup sekarang ini sudah terlanjur mengelompokkan manusia berdasarkan kelas dan jabatan sehingga kita kadangkala terseret arus juga. Namun bila kita kembali kepada Al-Quran dan Hadits kemudian menyelami dunia profesi para nabi dan rasul terdahulu barangkali kita akan merasa bersalah andai kita pernah mengkerdilkan suatu profesi tertentu.
Nabi Nuh adalah seorang tukang buat perahu [Hud : 37], nabi Daud seorang pandai besi [Al Anbiya’ : 80], Nabi Zakariya seorang tukang kayu [HR Muslim no. 2379 dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu], Nabi Musa seorang pengembala kambing [Thaahaa : 18], dan Nabi Muhammad juga seorang pengembala kambing [HR Al Bukhari no. 2143 dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu . Lihat pula Shahihul Jami’ no. 5581].[1] Para nabi dan rasul yang mulia ini tentu saja tidak merasa hina dan dihinakan oleh profesi mereka. Allah juga mentakdirkan mereka untuk mengemban profesi tersebut juga bukan bertujuan untuk merendahkan derajat mereka. Apabila sekarang pekerjaan-pekerjaan yang digeluti oleh para nabi yang mulia tersebut mengalami degradasi nilai, itu barangkali karena kondisi sosial kita yang sangat cenderung mengarah ke kiblat materialisme. Arti manusia diukur dari materi yang ia dapat. Alhasil, sumber materi menjadi nilai jual penting yang menentukan mahal atau murahnya harga seseorang.
Ketiga sahabat saya diatas sampai saat ini masih selalu riang gembira setiap kali berangkat atau pulang kerja. Tidak ada beban sama sekali dipundak mereka walaupun pekerjaan mereka di mata sebagian manusia tergolong ke dalam ‘kelas jongos’. Mereka akan terus mengayuh sepeda mereka dengan semangat bergelora karena mereka tau bahwa ridho Allah SWT tidak melulu tercurah kepada manusia-manusia yang duduk di belakang meja. Mereka benar-benar bukan ‘floor engineers’ biasa.
(*)

No comments:

Post a Comment