Monday, August 1, 2016

Aku Memilih Hidup Penuh Syukur

Empat buah foto yang muncul di beranda Facebookku seketika membuatku tertegun. Foto tersebut di upload oleh seorang teman baik semasa kuliah S1 di IAIN Jambi dulu. Sudah lama sekali kami tidak bertemu pun berkomunikasi. Masing-masing sibuk dengan dunia yang digeluti. Dalam foto tersebut, sobat karibku itu mengenakan baju putih berdasi hitam dan celana kain yang juga berwarna hitam. Fotonya yang lain adalah kartu tanda peserta Diklat Prajabatan PNS. Ya, kawanku ini adalah seorang aparatur negara.
Soal kami berdua, aku rasa, adalah soal mimpi dan hidup. Mimpi yang mengantarkan kami ke dunia yang berbeda, dan hidup yang membuat kami berdamai dengan diri sendiri.
Dulu sekali, sewaktu masih idealis-idealisnya sebagai mahasiswa S1, kami berdua memiliki tekad yang berbeda dari mahasiswa kebanyakan: kami mau ke Amerika! Ajaibnya, kami kesana. Kemudian kami berdua terdorong untuk mendirikan kursus Bahasa Inggris yang murah berkualitas, lahirlah AMEC atau American English Course. Amec bediri kokoh di sebuah ruko dua tingkat dengan modal awal yang hanya 15 ribu Rupiah! Berdirinya Amec membuat kami semakin yakin dengan haluan hidup yang telah kami pilih yaitu pantang hidup makan gaji. Kami yang harus memberikan gaji kepada karyawan. Haram hukumnya diperintah atasan. Kami yang mesti memerintah bawahan. Begitulah idealisme kami dulu.
Perjalanan hidup seorang manusia memang kadang tak disangka duga. Kita maunya seperti ini jadinya seperti itu. Dunia yang liar selepas diwisuda dari IAIN perlahan mengikis idealisme kami berdua. Rupa-rupanya kehidupan itu tidak sama dengan yang kami bayangkan sebelumnya. Ada hal-hal yang kadang membuat kita terpaksa untuk menyerah kepada keadaan. Begitupula dengan kami berdua. Aku menjadi gelandangan di jambi, tak punya uang untuk mengontrak rumah sedang sobatku itu memutuskan untuk menikah.
Untuk mencari atap tempat berlindung tentu aku harus ada pemasukan. Pemasukan itu belum bisa aku harapkan dari Amec karena putra sulung kami itu masih bayi, belum mampu bekerja maksimal untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Solusinya bagiku waktu itu adalah jadi orang makan gaji. Mulailah aku bekerja untuk orang lain di berbagai tempat. Temanku tersebut menempuh jalan yang sama dengan yang aku lalui. Bahkan kami pernah bekerja di tempat yang sama. Namun demikian, kami masih memelihara mimpi besar di dalam hati kami yaitu kuliah S2 di luar negeri. Dimanapun itu asalkan diluar negeri. Jadilah kami sibuk apply sana apply sini. Perjuangan beasiswaku tidak ada yang membuahkan hasil. Aplikasi beasiswa ke Turki tidak ada jawaban. Dokumen beasiswa yang aku kirim ke Pemerintah Korea Selatan mental. Fulbright tidak srek denganku. Akhirnya aku coba peruntunganku ke pertukaran pemuda antar negara. Aku pun lulus ke Australia. Peruntungan temanku itu lebih baik dariku dalam memburu beasiswa ke luar negeri. Dia dinyatakan lulus oleh Pemerintah India dan harus bersiap-siap untuk berangkat. Tapi apa hendak dikata, istrinya sedang hamil tua. Terlalu riskan untuk ditinggalkan ataupun juga dibawa. Dengan besar hati dia lepaskan beasiswa tersebut dan memilih merawat istrinya yang akan segera melahirkan. Aku sempat berpikir bahwa jalan hidup yang aku tempuh ini (terus-terusan melanglang buana mengejar mimpi) telah mengorbankan banyak hal dalam hidupku. Aku tidak menghabiskan banyak waktu dengan orang-orang tercinta dan seringkali lebih egoistis karena meletakkan mimpi diatas segalanya. Pendeknya, semua pencapaianku saat ini aku rasa setara dengan semua yang hilang dari hidupku. Naas bagiku, sesuatu yang hilang tersebut tidak bisa aku raih kembali. Mereka pergi untuk selama-lamanya tertinggal di belakang bersama sang waktu. Yang kadang membuatku tercenung adalah ketika melihat foto temanku itu bersama anak dan istrinya. Menurutku dia sudah luar biasa berhasil sebagai laki-laki. Punya karir, istri yang setia menemani, dan anak yang lucu yang tawanya bisa menghilangkan penat sehabis berkerja. Kadang juga, aku pun sempat berpikir, barangkali temanku itu juga merasakan ‘kegalauan’ yang sama ketika melihat foto-fotoku yang diambil di berbagai tempat di bumi ini. Bukankah kehidupanku sekarang adalah kehidupan yang juga dia impikan dulu? Cita-cita besar yang pernah dia canangkan bersamaku untuk menjelajahi dunia? Pada akhirnya aku berkesimpulan bahwa tidak ada kesudahannya bila aku terus iri dengan kehidupan orang lain. Masing-masing manusia di dunia ini sudah ditetapkan garis hidup yang berbeda. Apa yang ada pada hidup orang lain tidak perlu menjadi beban buat hidupku. Begitu juga sebaliknya, apa yang berlaku pada hidupku tidak harus menjadi ‘siksaan’ buat orang lain. Pada hakikatnya bahagia itu sama saja selagi kita mensyukuri apa yang ada ditangan sendiri dan tidak merisaukan apa yang ada ditangan orang lain. Foto-foto temanku itu mengingatkan kembali kepadaku tentang mimpi dan hidup yang kami jalani. Sebuah mimpi yang dulu sama, sebentuk kehidupan yang kini berbeda. Ada banyak cara untukku menyikapi mimpi dan hidup, dari pilihan itu aku memilih untuk hidup penuh syukur. Ahamdulillah atas semua nikmatmu, ya Allah…

No comments:

Post a Comment