Friday, May 27, 2016

Tukang Parkir Ilegal =Tukang Palak Legal



“Kalau ada orang yang memberi saya uang tanpa membeli barang, saya menolaknya. Karena, saya lebih senang bila mendapatkan uang dari keringat saya sendiri” Penggalan kalimat ini diucapkan oleh seorang pria tua renta yang telah berumur 103 tahun sebagaimana dikutip dari sebuah komunitas online terbesar di Indonesia, Kaskus beberapa hari yang lalu. Dia adalah Mbah Tohari yang berprofesi sebagai pedagang keliling di Magelang. Usia tidak membuatnya menyerah kepada nasib kemudian mengiba belas kasihan orang lain. Sepertinya naluri untuk bekerja keras mengalir deras dalam darahnya.

Ribuan kilometer dari Magelang, tepatnya di Kota Jambi terdapat cerita yang berbeda bahkan bisa dibilang bertolak belakang. Semangat Mbah Tohari tampak luput dari pegiat parkir liar yang akhir-akhir ini bermekaran bak jamur di musim hujan. Meskipun tubuh mereka kebanyakan jauh lebih segar bugar dari si Mbah, cara kerja mereka sangatlah menghianati karunia yang telah diberikan oleh Tuhan tersebut. Amat jarang saya jumpai tukang parkir liar yang sungguh-sungguh dalam menjalani pekerjaannya. Biasanya mereka hanya duduk manis saja melihat setiap pengendara roda dua yang singgah. Kalaupun ada usaha yang dikerahkan tak lain adalah dengan mengarahkan telunjuk ke tempat yang kosong dengan maksud menyuruh si pengendara memarkir kendaraannya disana. Tidak jarang pula batang hidung mereka entah dimana sewaktu pengendara memarkir kendaraannya namun baru muncul dengan tadahan tangan meminta uang parkir saat si pengendara hendak pergi.

Cara kerja seperti ini menyiratkan  kalau tukang parkir liar tidak ubahnya dengan tukang palak yang berganti tampilan. Jika dulu manusia jenis ini berperawakan preman namun sekarang sudah agak lebih humanis beratributkan peluit dan rompi orange. Mereka beroperasi tanpa pandang lokasi; jalanan umum, pertokoan, perkantoran, tempat keramaian, hingga masjid sekalipun. Peduli apa kalau itu tempat ibadah. Gesture dan ekspresi wajah mereka  ketika menagih ‘haknya’ juga seringkali mengirimkan pesan pemaksaan ala tuan tanah yang meminta uang pesangon. Entah kewajiban apa yang telah mereka lakukan sehingga sangat keukeuh meminta hak seperti itu.

Tidak sepenuhnya salah rasanya bila mengaitkan tabiat mereka dengan sifat ke 8 dari 12 Sifat Negatif Mayoritas Orang Indonesia versi mantan wartawan senior Tempo Alm. Mochtar Lubis seperti tertuang dalam bukunya, “Manusia Indonesia Sebuah Pertanggungjawaban” yaitu, lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau terpaksa. Atau, ini bisa menjadi sebuah manifestasi dari sebingkai gambar yang dulu pernah mengganggu suasana hati saya ketika bertandang ke rumah konsulat jendral Indonesia di Sydney. Dalam foto yang berukuran cukup besar tersebut terdapat seorang laki-laki paruh baya sedang tertidur nyenyak di atas bangku panjang dibawah rimbunnya pohon beringin. Sinar mentari muncul dari celah-celah daun tapi tidak mengenai wajah dan sekujur tubuhnya. Tepat diatas sekujur badan pria itu tertulis: Potret Indonesia.

Peliknya masalah parkir ini untung saja tidak dirasakan oleh saya sendiri. Setidaknya sudah beberapa  kali saya temukan  protes masyarakat di  media cetak mengenai pembayaran uang parkir ganda bila memasuki pasar Jambi contohnya. Memang benar Dinas Parkir menempatkan orang-orangnya di berbagai pos di sekitar simpang dalam pasar. Petugas tersebut memberikan karcis parkir kepada pengendara dengan tujuan si pemegang karcis dibebaskan parkir dimanapun karena dia telah membayar kepada pemerintah. Akan tetapi karcis itu tak ubahnya seperti kertas kosong tiada guna karena para pengendara kembali dipalak oleh tukang parkir lain setiap kali singgah. Lucunya, di surat kabar tersebut pihak yang menangani urusan parkir memarkir di bumi Sembilan Lurah ini menjawab dengan diplomatis plus tanpa solusi: “anda tidak perlu membayar lagi karena sudah membayar karcis”. Klasik lagi Ironis.

Ketidaktegasan (ketidakseriusan?) dalam menangani persoalan ini, disadari atau tidak, sejatinya telah merugikan pemerintah sendiri. Dinas Parkir berpeluang meningkatkan PAD  berkali-kali lipat bila saja tukang parkir liar dibina, dilatih kemudian diberdayakan. Situasinya akan jauh berbeda tentunya jika mereka diberi gaji bulanan oleh pemerintah dengan syarat menyetor uang pemasukan parkir setiap harinya. Kalau sudah begini masyarakat tidak keberatan lagi untuk membayar uang parkir karena mereka tahu bahwa uang yang mereka keluarkan hanya singgah sementara saja di kantor tukang parkir sebelum diserahkan ke kas negara.

Lebih lanjut, pemerintah juga perlu untuk memberikan himbauan kepada pemilik usaha agar memasang bacaan ‘Parkir Gratis’ di depan toko mereka mengingat cara seperti ini cukup berhasil di beberapa tempat. Jalanan umum juga mesti dibebaskan dari tukang parkir liar. Tempat ibadah dan perkantoran haruslah steril dari para pemalak ini. Agar berjalan efektif pemerintah harus membuat sebentuk aturan tertulis sehingga nantinya tukang parkir liar yang masih saja ngeyel dipidanakan agar memberikan efek jera. Kealpaan pemerintah dalam menindak tindak tanduk mereka sama saja semakin menodai dinas perparkiran dan yang paling bahayanya adalah membiarkan aksi premanisme dengan sengaja. Jika tidak seperti ini tukang parkir ilegal sama saja dengan tukal palak yang legal yang dibiarkan beraksi dengan sengaja oleh pemerintah.

Update
Hari ini kembali nurani saya terganggu oleh permasalahan yang serupa seperti yang saya alami belakangan ini. Bermula ketika saya keluar dari kantor imigrasi jambi dalam rangka memperpanjang paspor. Ketika menuju halaman parkir, saya menemukan sepeda motor saya terperangkap ditengah kerumunan kendaraan roda dua yang tadinya pas saya datang belum ada. Dengan susah payah saya menyusun sepeda motor yang banyak tersebut agar saya bisa keluar. Selang beberapa saat motor saya pun bebas dan saya memacu kendaraan. Naasnya, ketika hendak keluar tempat parkiran, ada seseorang pria dengan tas terlilit dipinggangnya, kancing baju terbuka dua biji agar kalung rantainya yang besar kelihatan, menadahkan tangan sambil berkata ‘uang parkir’.

Saya tidak kaget lagi karena hal seperti ini telah beberapa kali saya temui. Dengan santai saya mengacuhkan pria tersebut dan pergi. Saya tidak tahu seperti apa ekspresi wajahnya namun dugaan saya dia marah karena saya tidak memberikan ‘haknya’. Hal ini terdengar dari tepuk tangan yang kuat memanggil saya.

No comments:

Post a Comment