Friday, May 27, 2016

Khutbah Jumat Jangan Monoton



Hari jumat adalah hari yang sedikit spesial dari hari-hari yang lain di dalam kalender Islam. Pada hari yang satu ini umat Islam berkumpul untuk beribadah kepada Allah melalui sholat jumat secara berjamaah. Ibadah sholat Jumat sepaket dengan khutbah Jumat. Tidak boleh dua unsur ini bercerai. Namun ada yang salah dibalik rutinitas khutbah Jumat di banyak masjid, baik di Kota Jambi maupun di masjid-masjid kampong dalam lingkup provinsi Jambi.  Kesalahan itu terletak pada tidak terlihatnya ketertarikan yang kuat pada diri jamaah untuk mencermati isi khutbah. Banyak jamaah yang yang hadir di masjid tertidur pulas selama khutbah berlangsung. Belum lagi dengan mereka yang memilih datang ke masjid di detik-detik terakhir khutbah. Tentu pertanyaannya adalah, mengapa demikian?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, diperlukan penelaahan lansung kelapangan. Tak bias dipungkiri kalua kebanyakan khutbah jumat disampaikan dengan cara yang membosankan. Beberapa khotib seringkali tidak menguasai public speaking sehingga cara penyampaiannya di depan khalayak ramai tak terlihat mimik seperti para penceramah ketika berorasi. Intonasi yang digunakan oleh sebagian khotib pun seolah serupa dari masjid ke masjid, datar. Berirama sendu bak seorang pendongeng yang sedang membacakan cerita pengantar tidur.
Kekakuan khutbah juga terjadi karena banyak pengkhutbah menyampaikan khutbahnya menggunakan buku khutbah tahunan yang di jual di pasaran. Buku tersebut membuat sang khotib tidak perlu lagi repot-repot memikirkan isi khutbah yang akan disampaikannya kepada jamaah. Semua pembahasan telah tersedia sesuai dengan minggu dan bulan dalam kurun waktu satu tahun. Si khotib tinggal menyesuaikan hari dan tanggal ia berkhutbah dengan materi khutbah dalam buku tersebut. Maka tak heran, banyak diantara khotib yang berkhutbah terlihat seperti membaca buku yang dia sendiri tidak menguasai materi yang ada di buku tersebut.  Lebih jauh lagi, buku khutbah yang khotib baca itu seringkali tidak menyentuh permasalahan umat terkini mengingat buku tersebut ditulis beberapa tahun sebelumnya.
Materi yang disuguhkan sang khotib merupakan indikator selanjutnya dibalik ‘macetnya’ transformasi isi kandungan khutbah kepada para jamaah. Entah apa penyebabnya, kebanyakan khotib cenderung lebih menyukai materi-materi yang berbau ibadah dibandingkan muatan-muatan lain. Tak mengejutkan bila materi seputar surga-neraka atau halal-haram di ulang beberapa kali selama puluhan tahun. Topik-topik berbau politik, sosial, budaya dan ekonomi seolah asing dibicarakan di mimbar khutbah. Ironis memang, di saat korupsi di negeri ini bergejolak hebat, ekonomi masyarakat tak kunjung membaik, dan benturan budaya kian terasa, khotib tidak memaksimalkan peran khutbah sebagai media untuk mendidik masyarakat dalam memecahkan masalah-masalah di atas.

Idealnya, hari jumat dijadikan sebagai momentum untuk memperbaiki kondisi umat melalui pertukaran informasi via khutbahnya mengingat semakin terkikisnya interaksi antar sesama umat Islam buah dari gaya hidup individualis yang kian kentara. Untuk itu posisi hari jumat sangatlah strategis dalam penyelesaian permasalahan umat yang kian pelik. karena pada hari itu masyarakat berkumpul bersama-sama di masjid. Alangkah lebih baik bila sang khotib membahas isu-isu terkini yang sedang hangat di dunia islam, membahas permasalahan ummat, dan menawarkan solusi untuk mengatasi problem-problem tersebut.

No comments:

Post a Comment