Friday, May 27, 2016

Berda’wahlah Dengan Perbuatan



Sebagai seorang pemeluk Islam yang baik, tentu kita ingin berbagi tentang kebaikan agama kita kepada orang lain, khususnya kepada orang-orang non-muslim. Terlebih lagi Rasulullah SAW menganjurkan kita demikian. Melalui haditsnya suatu ketika Rasulullah bersabda “Ballighuu ‘anni walau ayah” artinya adalah: “Sampaikanlah olehmu dariku walaupun hanya satu ayat”

Dalam hadits ini Rasulullah menggunakan fi’il amar ‘ballighuu’ yang mana dalam tata Bahasa Arab, fi’il amar merupakan kata kerja perintah. Jadi, didalam hadits ini sejatinya Rasulullah memerintahkan ummatnya untuk selalu menyebarkan ajaran-ajaran Islam kepada siapapun tanpa peduli kadar pengetahuan seseorang. Pendek kata, da’wah bukan hanya tanggung jawab muballigh saja tetapi seluruh orang Islam.

Ada dua cara berda’wah yang bisa dilakukan oleh orang Islam, yaitu da’wah melalui lisan dan perbuatan. Barangkali da’wah lisan sangat akrab di telinga kita mengingat hampir tiap hari kita mendengarkan ceramah-ceramah keagamaan baik di masjid maupun di televisi. Sedangkan da’wah perbuatan agak sedikit sulit karena kita harus memberikan contoh yang baik kepada orang lain.

Ironisnya, banyak ummat Islam yang ada di negeri ini tidak lagi melaksanakan da’wah tipe kedua diatas secara menyeluruh. Lihat saja dengan prestasi negara kita di bidang korupsi yang masih menjadi kampiun tak terkalahkan di Asia. Untuk tingkat global pun kita masih berada di urutan ‘terhormat’ dengan index persepsi korupsi ranking 118 dari 176 negara pada tahun 2012. Bukankah ini menyedihkan?

Belum lagi dengan kenyataan bahwa banyak dari koruptor-koruptor kita yang memiliki latar belakang dan pengetahuan agama Islam yang tidak bisa dikatakan biasa-biasa saja. Nama-nama seperti Choirunnisa, Luthfie Hasan Ishaaq, Ahmad Fathanah, dan Said Agil Al-Munawwar tentu tidak asing lagi dalam dunia Islam di Indonesia. Choirunnisa tidak lain adalah mantan sekretaris MUI, Luthfie Hasan mantan presiden partai Islam, Ahmad Fathanah lulusan Timur Tengah, dan Said Agil adalah mantan menteri agama Republik Indonesia.

Tidak hanya di tingkat nasional, di daerah-daerah pun setali tiga uang. Setidaknya ini dialami oleh pimpinan pesantren di daerah saya beberapa tahun silam. Entah apa yang ada di benak si ustadz sehingga dia banting setir dari seorang guru agama menjadi wakil rakyat. Diusung oleh partai Islam ditambah dengan gaung namanya yang cukup familiar di telinga masyarakat, pak ustadz bisa menang mudah di pemilu. Namun takdir berkata lain. Tak lama menjadi ‘pejuang kesejahteraan rakyat’ pak ustadz sudah mendekam dibalik jeruji besi. Penyebabnya apa lagi kalau bukan uang haram.

Korupsi sepertinya memang sudah menjadi denyut nadi hampir disetiap lengan orang Indonesia. Doktrin-doktrin agama seolah tak mampu lagi membendung hasrat rakus setiap kepala di negeri ini. Seorang pak haji pimpinan pesantren suatu hari bercerita panjang lebar dengan saya mengenai ajaran agama Islam. Wawasan Islamnya mengundang decak kagum saya yang mendengar. Dia pun boleh dikatakan sebagai seorang ahli ibadah. Sholat lima waktu tidak pernah tinggal. Puasa sunat sering. Bersedekah rajin. Pendeknya pak haji ini memiliki hubungan yang sangat baik dengan Tuhannya. Tengah asyiknya bercerita tentang Agama Islam, pak haji tiba-tiba mengganti topik. Kali ini tentang anak kesayangannya yang sedang menempuh pendidikan di salah satu sekolah elit pemerintah. Dia berbagi rahasia kelolosan anaknya di sekolah tersebut. Tanpa rasa bersalah sedikitpun pak haji membeberkan jumlah rupiah yang dia keluarkan dari koceknya agar sang anak lolos. Saya hanya bisa mengurut dada saja setelah mendengar rahasia pak haji ini.

Fenomena yang melanda kebanyakan ummat Islam di nusantara sedikit banyak telah membuat aliran da’wah kita tersumbat. Bagaimana mungkin kita mau menceramahi orang-orang non-islam diluar sana sedangkan kita sendiri tidak memberikan contoh yang riil kepada mereka. Sebaliknya kita mesti malu dengan negara-negara yang notabene bukan negara Islam. Lihatlah Denmark, Swedia, Swiss, Singapura, Finlandia, Norwegia, atau Selandia Baru yang hampir bersih dari korupsi karena masyarakatnya sangat mengedepankan kejujuran. Pertanyaannya adalah, bukankah kejujuran merupakan nilai yang tak asing lagi di telinga kita sebagai umat Islam? Lantas mengapa mereka yang notabene banyak tidak percaya lagi dengan Tuhan mampu mempraktekkan apa yang disebut dengan kejujuran itu? Mari kita jawab dengan hati kecil kita masing-masing.

Artikel yang diterbitkan oleh the Barkeley-based Global Economy Journal pada tahun 2010 yang berjudul  “How Islamic are Islamic Countries?” lebih mengenaskan lagi. Penelitian yang bertujuan untuk mengukur kadar keislaman di beberapa negara khususnya dalam bidang ekonomi, pendidikan, korupsi, sistem keuangan, dan hak asasi manusia ini laksana tamparan keras tepat di wajah kita orang Islam. Betapa tidak, hampir semua negara yang memiliki ranking tertinggi berasal dari negara yang bukan mayoritas berpenduduk Islam seperti Selandia Baru dan Luxemburg. Negara-negara berpenduduk mayoritas Islam? Kokoh di urutan bawah termasuk Indonesia.

Hemat saya inilah saatnya kita sebagai orang Islam untuk lebih mengedepankan da’wah perbuatan disamping da’wah lisan agar kita bisa membagikan rahmat agama kita kepada orang lain. Bukan seperti apa yang terjadi saat ini yang mana kitalah yang dida’wahi mereka perihal menjadi pribadi dan negara yang baik. Mari menyampaikan pesan da’wah Rasulullah melalui perbuatan-perbuatan yang qur’ani. Wallahu a'lam bish showab...

No comments:

Post a Comment