Friday, May 27, 2016

Amerika, aku datang!



Kompas masa depanku untuk berangkat ke Amerika setelah lulus S1 segera Aku potong setelah menghadiri seminar beasiswa IELSP di kampusku. Aku tekadkan untuk menjadi salah satu penerima beasiswa yang bergengsi ini. Untuk mewujudkan impian itu, Aku sisihkan uang jajanku yang tak seberapa untuk membeli sebuah buku yang tebalnya sedikit membuatku ‘geger’. TOEFL nama buku itu. Setelah buku tersebut ditanganku, tiada henti kupelajari. Siang malam hanya buku itu saja yang ada ditanganku. Kemanapun aku pergi, ia selalu kubawa. Pendek kata, ia adalah kekasih setiaku.

Beasiswa IELSP ini memang menjadi buruan populer di kalangan mahasiswa S1 semester 5 ke atas. Betapa tidak, bagi siapa saja yang lulus beasiswa ini, dia akan dikuliahkan di universitas-universitas ternama di Amerika Serikat selama 8 minggu. Tentu ini adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.

November 2010 adalah deadline pengumpulan aplikasi beasiswa IELSP. Artinya Aku memiliki waktu dua bulan lagi untuk menyelesaikan semua persyaratan yang diminta. Semua dokumenku tidak masalah. Tinggal foto kopi. Pelajaran TOEFLku masih berlanjut. Bahkan Aku optimis bisa meraih nilai TOEFL lebih dari 450. Jika tidak sampai 450 maka tamatlah riwayatku.

Disamping persyaratan dokumen yang beragam dan nilai TOEFL yang menantang, ada satu lagi yang menjadi tantangan serius dalam menyelesaikan aplikasi beasiswa ini, essay. Iya, ada beberpa essay yang harus Aku tulis. Aku sadar betul dengan kemampuan menulisku yang masih sangat amatir. Tapi Aku memilih untuk berpikir positif saja. Aku tulis semua essay yang dibutuhkan dalam aplikasi beasiswa IELSP itu dengan penuh kesabaran sampai akhirnya semuanya selesai.

Setelah semua essay rampung, Aku pergi menemui salah seorang teman asingku. Eric namanya. Dia adalah Warga Negara Amerika yang menjadi guru Bahasa Inggris di salah satu yayasan di Jambi. Sebelumnya aku telah mengirimkan essayku kepada teman asingku yang lain. Adam adalah seorang guru Bahasa Inggris  di Meksiko yang berasal dari Kanada. Dengan laptop di tasku segera aku melangkah pergi ke rumahnya yang tak jauh dari kontrakanku, hanya berjarak enam rumah. Sesampai disana, kusodorkan essayku untuk ia baca.

Tanpa banyak basa-basi ia segera membaca essay-essayku dengan penuh keseriusan. Setelah beberapa menit membaca, ia mengalihkan pandangannya dan menoleh kearahku. “Isi essaymu bagus, tapi monoton” Ia membuka pembicaraan. Sontak Aku terkejut. Pasalnya, Aku begitu bangga dengan tulisanku itu sehingga aku menobatkannya sebagai maha karya dalam sejarah penulisanku. “Tapi ya sudahlah” pasrahku dalam hati. “Kan orang lain juga yang menilai karya seseorang” tambahku. Eric memberi nasihat dan masukan yang sangat bermanfaat. Kudengarkan semua nasihat dan masukannya dengan sangat cermat. Tak lupa aku tulis poin-poin yang harus aku perbaiki. Aku pun melangkah pulang.

Sesampai dirumah Aku langsung merevisi essay-essayku. Keputusanku untuk mendiskusikan essay-essayku dengan Eric sangat tepat. Dia memberikan masukan yang sangat positif. Aku pun makin bersemangat untuk menulisnya ulang. Malam itu Aku mengecek email-ku untuk memastikan apakah Adam telah selesai juga membaca dan mengoreksi essay-essay yang kukirimkan tempo hari. Benar saja, Aku melihat email masuk. Adam pengirimnya. Langsung Aku buka dan download file yang dikirimkannya.

Aku baca koreksian dari Adam terhadap Essay-essayku. Tak berbeda dengan Eric. Dia juga mengkritisi habis-habisan ‘tulisan terbaikku’. Intinya dia menyuruhku menulis ulang dengan isi yang sama. Kuhabiskan minggu-minggu berikutnya untuk menulis essay-essayku kembali. Setelah selesai, aku serahkan lagi ke Eric dan Adam sampai akhirnya mereka merestuinya. ‘Sip’ teriakku lantang dalam hati. Semua sudah beres, tinggal mengirimkannya lagi.

Semua dokumen telah kukirim via pos. mungkin sudah sampai Jakarta. Harapanku mereka tertarik membaca essay-essayku dan memberikan kesempatan untuk wawancara. Lebih kurang satu  bulan Aku dihantui oleh perasaan cemas tak karuan. Sampai suatu hari aku dapat panggilan telepon dari pihak IIEF Jakarta. Mereka memberitahuku bahwa aplikasi beasiswaku diterima dan akan diwawancara secepatnya. Hawa dingin salju Amerika langsung terasa olehku.

Hatiku bimbang. Sudah satu bulan Aku diwawancara namun tidak ada lagi kabar yang kudapat. Telepon dari Jakarta pun tidak ada. Teringat olehku sewaktu pewawancara berkata bahwa penerima beasiswa akan lansung di telpon oleh piphak IIEF. Bagi yang tidak ditelpon otomatis dia tidak lulus. “Ah, mungkin memang belum waktuku” hatiku bergumam lirih. Aku sudah betul-betul pasrah.

Suatu hari di awal Februari tubuhku merasakan letih yang tak biasa selepas pulang kuliah. Aku pun memilih untuk istirahat. Kupejamkan mataku yang terasa panas. Belum lagi hilang keasadaranku tiba-tiba handphone bututku bergetar. Ada nomor baru sedang memanggil. Sekilas kulihat nomornya mirip nomor yang belakangan ini sering iseng mengerjaiku. Tapi setelah kucermati ternyata nomor telepon itu berbeda. Nomornya bukan nomor hp tetapi nomor telepon kantor. Sontak pikiranku teringat IIEF. “Jangan-jangan ini adalah pengumuman beasiswa IELSP” harapku. Segera aku jawab panggilan itu.

Di ujung telepon terdengar suara wanita muda yang begitu lembut menyapa. Cici nama wanita itu. Aku memanggilnya Mbak Cici. “Apakah ini benar dengan Bapak Muhammad Beni Saputra?” dia memulai pembicaraan. “Benar mbak" jawabku dengan gugup. Kemudian Mbak Cici membacakan identitasku dengan detil. Mulai dari nama orang tuaku sampai alamat lengkapku di kampung. Tak ada sedikitpun informasi yang keliru. Semuanya tepat. Setelah ia selesai memberitahu identitasku dia berujar, “Selamat Bapak, Bapak akan berangkat ke Amerika! Tolong buat passport secepatnya dan kumpulkan kepada IIEF!”

Hatiku dipenuhi rasa bahagia yang tak terkira. Kegirangan yang sangat berbeda. Seumur umur belum pernah merasakan kebahagiaan seperti ini. Aku langsung sujud syukur begitu panggilan dari Mbak Cici berakhir. “Alhamdulillah ya Allah Engkau telah mengabulkan doa hambamu yang hina ini…” lirih kuberdoa. Panggilan telepon dari Mbak Cici tadi benar-benar menggemparkanku. Laksana petir, ia telah berhasil menghancurkan rasa frustasi yang sempat Aku alami.

Aku cium tangan ke dua orang tuaku dengan penuh perasaan sewaktu mereka hendak melepas keberangkatanku di Bandara Sulthan Thaha Saifudin Jambi. Betapa haru bercampur bahagianya hari itu. Senyum kebanggaan tak henti-hentinya terukir di kedua bibir Ayah dan Ibu. Rasanya baru hari itu Aku melihat raut wajah mereka sangat ceria. Kerasnya kehidupan sepertinya memang terlupakan oleh mereka hari itu.


Panggilan petugas bandara untuk segera memasuki pesawat akhirnya memisahkan kami. Dengan langkah berat kutinggalkan mereka berdua. Terlihat jelas olehku deraian air mata bahagia mengalir deras di pipi Ibuku tercinta sewaktu kulambaikan tanganku berjalan memasuki pesawat. Amerika, aku datang!

No comments:

Post a Comment