Wednesday, April 20, 2011

WISATA HIBURAN AT KENDARI





Kendari Beach adalah icon kebanggaan masyarakat kota Kendari,satu-satunya tempat hiburan terbaik bagi masyarakat kota kendari serta public space untuk semua ragam kalangan yang ingin menghabiskan waktu.
Tapi seiring waktu, kendari beach mengalami pasang surut perkembangannya..Menjamurnya pusat-pusat pembelanjaan kearah Mandonga dan Wua-wua menjadikan banyak pilihan bagi masyarakat kota kendari untuk berweekend ria ataupun sekedar “hang-out”. Belum lagi area MTQ yang telah disulap menjadi public space baik oleh instansi pemerintah , kalangan dunia usaha ataupun promosi daerah yang berskala regional maupun masional, cukup menyedot banyak peminat Kendari beach di era lalu berpindah…
Satu yang tetap menjadi daya tarik Kendari beach adalah jajanan Kuliner yang belum bisa tergantikan oleh tempat lain di kota ini..Pemkot Kendari sangat menyadarinya, itu terbukti dengan hadirnya isiniatif menjadikan Kendari Beach sebagai pusat jajanan kuliner kota kendari layaknya Malioboro di Jogja, Losari di Makassar…Ide yang bagus, juga tentu perlu didukung oleh kesiapan aparat pemerintah dibawah dan tentu saja masyarakat.



EKS-MTQ SQUARE











MTQ Square merupakan merupakan tempat yang di bangun oleh pemerintah beberapa tahun silam guna perhelatan akbat Musabaqah Tilawatil Quran Tingkat Nasional. Dan kebetulan tempatnya berada di Depan Kantor Walikota Kendari, dan lazim di sebut MTQ Square maka sering difungsikan sebagai alun-alun kota.

Diatas lahan yang sangat luas ini berdiri sebuah Tugu Persatuan, yang juga kini lagi dalam proses penyelesaian dan merupakan icon Kota Kendari

Disisi lain MTQ Square ini kini juga oleh POLDA Sulawesi Tenggara mendirikan SSDC (Sultra Service Driving Centre) yang berfungsi sebagai tempat pembelajaran dan latihan mengemudi bagi para pemula dan biasa dimanfaatkan bagi para atlit motor cross.



WISATA SEJARAH



KAWASAN KOTA LAMA






Kota Lama Kendari adalah salah satu peninggalan bersejarah dalam kehidupan masyarakat kota kendari. Kenangan dan Nostalgia penuh di dalamnya.

Kawasan ini membentang hampir di sepanjang pesisir ujung kota kendari yang juga masuk dalam wilayah pemerintahan Kecamatan Kendari.



WISATA BELANJA


MALL MANDONGA






Mal Mandonga adalah pusat perbelanjaan terbesar di Kendari. Mal ini didirikan pada tahun 2005. Mal ini terdiri dari 3 lantai dengan penyewa - penyewa yang sudah terkenal sebagai perusahaan besar baik skala nasional maupun internasional antara lain Roberta Basement, King Mart, dan masih banyak lagi.

Mal Mandonga merupakan family mall yang berkonsep untuk menyediakan seluruh kebutuhan keluarga dalam satu tempat.



WISATA KULINER


SINONGGI





Masakan ini seperti Kapurung (makanan khas Palopo, Sul-Sel) terbuat dari sagu yang dimakan dengan air ikan yang dimasak palu mara. Kemudian campurannya adalah sayur yang ditumis, sambal dan ikan goreng. Anda pasti akan ketagihan. Dan jangan khawatir, karna masakan ini tidak mengandung kolesterol, tidak memicu tingginya gula darah yang mengakibatkan diabetes, bahkan masakan ini sangat menyehatkan bagi tubuh kita. Apalagi untuk orang sedang sakit dan tak punya selera makan, masakan ini sangat menggugah selera dan akan membantu tubuh untuk mengeluarkan keringat dari dalam tubuh.

Jajanan makanan ini dapat di temukan di Rumah Makan Medulu yang terletak di Jln. Ahmad Yani tidak jauh dari Plaza Inn Hotel.



WISATA MINAT KHUSUS


KERAJINAN PERAK



Pusat kerajinan perak yang membuat beraneka jenis perhiasan di Kota Kendari ini oleh masyarakat setempat dikenal juga dengan sebutan “Kendari Werek”. Rata-rata aneka jenis perhiasan yang dibuat ialah aneka perhiasan yang biasa dipakai perempuan untuk menghadiri acara-acara adat masyarakat Sulawesi Tenggara.
Kerajinan tersebut sudah berkembang semenjak Indonesia masih di bawah jajahan pemerintah kolonial. Para pengrajin perak generasi pertama yang mengembangkan usahanya di Kota Kendari, yang dipimpin oleh Jie A Woi, berasal dari Provinsi Kwang Tong, Cina. Jie A Woi mengembangkan usaha ini karena terinspirasi oleh seekor laba-laba yang sedang membuat sarangnya. Ia kemudian melakukan cara yang sama dalam menciptakan aneka jenis perhiasan perak.
Dalam perkembangannya, terutama setelah Indonesia merdeka, kerajinan perak yang ada di kota tersebut tidak menunjukkan perkembangan yang berarti, bahkan berindikasi pada kelesuan usaha. Saat ini, kerajinan perak tersebut lebih banyak berkembang di lingkungan Dewan Kerajinan Kendari saja, yang tetap setia menjaga kelestarian kerajinan perak. Hal itu dilakukan untuk menjaga aset daerah Sulawesi Tenggara tersebut tetap lestari dan tidak hilang ditelan zaman.

Hasil kerajinan perak Kota Kendari ini terkenal dengan keindahan, keanggunan, dan kehalusannya. Salah satu buktinya ialah pada masa sebelum Indonesia merdeka. Ketika itu, pesanan suvenir datang silih berganti ke pusat kerajinan tersebut, baik dari dalam maupun luar negeri. Pesanan terbaik yang pernah dikerjakan oleh pengrajin perak Kota Kendari di bawah komando Jie A Woi tersebut berupa kereta kencana yang dipesan oleh Ratu Inggris dan sebuah talam kue yang dipesan oleh Ratu Belanda. Atas karya Jie A Woi tersebut, Ratu Elizabeth (Inggris) dan Ratu Wilhelmina (Belanda) mengapresiasinya dengan mengirimkan piagam penghargaan pada pertengahan abad XIX.
Kerajinan perak Kota Kendari memiliki aneka motif perhiasan. Mulai dari aneka motif bunga berukuran kecil, seperti bunga anggrek, mawar, dan lain-lain yang dirangkai mengikuti alur dari sarang laba-laba, sampai aneka hasil kerajinan berukuran besar, seperti kapal layar, kereta kencana, pembuka surat, dan beraneka bentuk benda lainnya.



Oleh karena pusat kerajinan perak ini berada di pusat Kota Kendari, maka para wisatawan dapat dengan mudah menemukan lokasinya dengan menggunakan angkutan umum, mobil sewaan, atau mobil pribadi. Waktu tempuhnya hanya sekitar 15 menit jika memulai perjalanan dari Bandara Wolter Mongisidi Kendari.

Tawaran harga dari hasil kerajinan perak Kendari pun bervariasi, tergantung tingkat kerumitan dan kombinasi hiasan, seperti cincin kecil Rp 10.500/buah, cincin stelan Rp 175.000/set, bross Rp 50.500/set, tusuk konde Rp 20.000/set dan masih banyak yang lain (Juni 2008).

Bagi para wisatawan yang datang dari luar kota dan ingin menginap, tidak perlu khawatir karena di Kota Kendari banyak tersedia hotel yang nyaman untuk ditempati. Pilihan hotelnya pun beraneka, mulai dari kelas berbintang sampai kelas melati. Begitu juga dengan masalah makanan dan minuman, di sepanjang jalan di Kota Kendari banyak terdapat rumah makan dan restoran yang menyajikan berbagai menu, sehingga para wisatawan bisa memilih tempat untuk bersantap sesuai selera.



KERAJINAN GEMBOL





Kerajinan gembol oleh masyarakat Kendari juga dikenal sebagai kerajinan “tumor kayu”. Hal ini karena bahan dasar untuk kerajinan tersebut diambil dari akar kayu yang menyerupai benjolan tumor (penyakit) pada manusia. Bahan-bahan tersebut biasanya didapat dari beraneka pohon besar yang tumbuh di daerah Sulawesi Tenggara.
Kerajinan gembol yang berkembang di Kota Kendari, pertama kali diperkenalkan oleh tentara Jepang ketika menguasai Provinsi Sulawesi Tenggara. Mereka melihat provinsi tersebut memiliki cadangan kayu yang banyak dengan jenis kayu yang bervariasi, seperti kayu jati, meranti, tolinti, cendana, dan beropa. Hal tersebut menjadi inspirasi bagi tentara Jepang untuk mengolahnya menjadi aneka bentuk kerajinan. Sampai saat ini, masyarakat Kota Kendari masih memproduksi kerajinan warisan Jepang tersebut, bahkan produksinya berkembang cukup pesat.
Oleh karena keunikan kerajinan tersebut, apresiasi terhadap kerajinan gembol mengalir dari berbagai daerah. Para konsumen biasanya datang dari berbagai tempat, baik yang berasal dari masyarakat Sulawesi Tenggara sendiri maupun dari luar daerah. Bahkan, permintaan terhadap hasil kerajinan gembol ada juga yang datang langsung dari masyarakat mancanegara, seperti Jepang, Korea, negara-negara di Timur Tengah, dan beberapa negara di Benua Eropa. Sehingga, hasil karya para pengrajin gembol yang terdapat di Kota Kendari boleh dibilang sudah mampu menembus pasar global.

Keunikan kerajinan gembol terdapat pada bahan dasarnya. Biasanya bahan-bahan tersebut dipilih dan diambil dari akar kayu yang berkualitas tinggi, sehingga menghasilkan karya yang juga berkualitas tinggi. Untuk mendapatkan bahan tersebut, biasanya para pengrajin rela pergi jauh demi mendapatkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk dapat menjaga kualitas karyanya.
Sedangkan untuk tekstur bahan dasar kerajinan, para pengrajin memilih bahan yang betul-betul sudah terbentuk secara alami agar karya yang dihasilkan bisa sempurna. Tekstur alami tersebut kemudian disempurnakan dengan cara dipoles dan diberi warna agar menghasilkan karya yang menakjubkan. Dari tekstur yang alami dan sentuhan akhir dari tangan-tangan para pengrajin ini terciptalah sebuah karya seni yang bercita rasa tinggi.
Bentuk aneka ukiran yang dihasilkan oleh para pengrajin pun bervariasi, mulai dari karya yang biasa sampai pada karya yang rumit. Karya-karya tersebut di antaranya berupa aneka hiasan rumah tangga, seperti jam dinding, meja, kursi, asbak, dan aneka ukiran yang dibentuk menyerupai hewan dan kerangka yang mirip manusia.

Pusat kerajinan kayu gembol terdapat di Jalan Chairil Anwar Wuawua, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Indonesia.

Untuk mencapai lokasi, para wisatawan dapat menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi. Untuk menuju lokasi, perjalanan dapat dimulai dari Badara Walter Monginsidi yang terletak di Kabupaten Konawe Selatan. Dari bandara tersebut dilanjutkan menuju ke Jalan Chairil Anwar Wuawua, Kota Kendari dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.

Harga per unit hasil kerajinan kayu gembol bervariasi. Biasanya harga tersebut disesuaikan dengan tingkat kerumitan dan keunikan karya. Jika hasil karya memiliki bentuk yang simpel dan sederhana, biasanya harga per unit berada di bawah kisaran 1 juta rupiah. Tetapi, jika hasil karyanya bagus dan unik, harganya agak mahal dan biasanya berada di atas kisaran 1 juta rupiah sampai puluhan juta rupiah per unitnya (Mei 2008).




Specialy Thanks to :
wisatamelayu.com


GERAKAN PEDULI KOTA LAMA KENDARI

Release Photography Kendari


No comments:

Post a Comment